Morally the world is like a bombed city. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Daily Life

Senja di Bulan September

Submitted by riel on 10/10/2004 – 7:09 PM | 231 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Minggu pertama bulan September 2004 yang lalu, saya berdoa kepada Tuhan agar diberikan
kepekaan akan kehadiran-Nya dalam hidup saya. Saya ingin melihat firman-Nya dalam kacamata
Ya dan amin, dan tidak ingin bermain logika dalam menjustifikasi segala tindakan saya.

Saya percaya setiap Firman Allah yang kita kenal melalui Alkitab sanggup berbicara secara
spesifik kepada setiap pribadi orang percaya. Saya percaya, mereka yang sudah ditangkap oleh Tuhan,
memiliki kerinduan yang besar untuk dekat dengan-Nya. Hanya saja, kita, terlalu pandai memutarbalikkan
fakta atau merendahkan kebenaran semata-mata untuk kedagingan kita sendiri.

Kita tahu apa yang benar dan apa yang salah. Namun, kita sudah terlampau ahli untuk mengabaikan
suara Roh Kudus dan berjalan dengan kehendak kita sendiri. Dalam perkara inilah kita perlu merendahkan
diri dan bertobat.

Dalam kurun waktu, 9-16 September 2004, doa saya dijawab oleh-Nya. Setiap kali saya menyebutkan,
satu kata, “Yesus…” di saat itu pulalah saya menangis. Kesadaran akan diri saya yang lemah dan berdosa ini,
membuat saya menangis terlebih lagi saat menyadari bahwa Ia selalu mengasihi saya.

Ironisnya, saat saya buang air kecil pun, tiba-tiba saya menangis tersedu-sedu setiap kali mengingat
nama-Nya. Tuhan yang telah berulangkali menyelamatkan saya dari berbagai kesulitan hidup dan pencobaan.
Tuhan yang selalu setia meski saya berlaku tidak setia.

Hadirat-Nya yang begitu nyata, membuat saya menjadi mudah menangis. Yang tidak pernah saya sangka dan
pikirkan, karena tidak bisa saya tahan-tahan lagi, saya sering menangis di hadapan Dhe, yang kebetulan
selama 1 minggu itu pulang ke Jakarta. Tiada hentinya saya bersyukur melihat pemeliharaan Tuhan atas
Dhe dan bisa berjumpa lagi dengannya setelah berpisah selama kurang lebih 5 bulan karena ia harus
bekerja sebagai dokter PTT di Pulau Flores, NTT. Satu hal yang saya yakini, tangan tuhan yang kuat
menopang dan menuntun kehidupan kami berdua. Tuhan sudah begitu baik bagi kami.

Mungkin inilah pengalaman pertama bagi Dhe melihat saya begitu mudah menangis
betapapun saya sudah berusaha keras menahannya. Dalam lingkungan pergaulan, saya dikenal serius dengan
ekspresi yang tidak terlihat nyata. Misalkan saja, dalam suatu kebaktian dimana jemaat sudah meratap,
saya bisa duduk diam seakan-akan tidak tersentuh sama sekali.

Namun bulan September ini, saya menangis sejadi-jadinya meski itu di hadapan Dhe. Di sinilah saya
merasakan suatu pengalaman yang indah dan berkesimpulan bahwa pengalaman terindah yang bisa kita lalui bersama
pasangan kita adalah pengalaman dimana kita berdoa bareng, memuji Tuhan bareng dan menangis bareng dalam hadirat-Nya.

Pengalaman berpacaran yang berupa ‘kesenangan’ (canda rayu, pegangan tangan, berciuman, dsbnya)
bisa mengambil banyak rupa. Namun, saya tahu, keintiman rohani bersama Tuhan yang kita lalui bersama kekasih kita,
adalah pengalaman terindah yang tak akan terlupakan. Tapi di sisi lain, saya juga menyayangkan, banyak di antara
kita yang memberhalakan keintiman fisik dan lupa pada keindahan Kristus yang jauh lebih indah dari apapun di dunia ini.

Sebagai sesama laki-laki, saya menganjurkan, kejarlah keintiman rohani itu bersama kekasih Anda dan tunda dulu keintiman fisik
hingga menikah. Sebab, kita harus membangun pondasi yang kokoh dalam hubungan berpacaran sebelum membangun suatu bangunan
pernikahan. Saya berdoa, kita semua, kaum laki-laki, terus mengarahkan pandangan kepada
Kristus dan belajar untuk mengerti bahwa panggilan Tuhan adalah mengalami Firman-Nya dan semakin serupa dengan Dia.

Hari Kamis, 16 September 2004, saya berkunjung ke rumah Dhe. Ini malam terakhir kami bertemu dan bisa bercakap-cakap karena
esok paginya, ia harus kembali ke NTT. Malam itu, perasaan saya sudah jauh lebih baik. Rasa rindu yang terpendam sudah
terobati dengan jalan bareng, makan bareng, piknik bareng, gereja bareng, puji Tuhan bareng, nangis bareng, dan
sebagainya. Namun, ada satu hal yang tidak akan saya lupakan malam itu.

Sebelum saya pulang, saya mengajaknya berdoa lalu menggenggam tangannya. Tidak sulit untuk berdoa panjang malam itu.
Saya berdoa, agar Tuhan membuat kami semakin mencintai Dia lebih dari apapun. Biarlah cinta kepada-Nya jauh lebih besar daripada
cinta di antara kami berdua. Saya tidak pernah merencanakan akan berdoa dengan tema seperti itu. Namun belakangan saya bersyukur,
isi doa itu, menjadi ‘bahan bakar’ utama di saat saya harus melewati masa-masa sendiri di Jakarta, begitu pula dengan Dhe.

Cinta romantis sudah terlalu banyak menjebak orang (termasuk kami) untuk mengutamakan ‘cinta’ kami daripada mengutamakan
mencintai Tuhan. Mencintai Tuhan Yesus adalah segala-galanya dan ini harus menjadi pondasi dasar dalam setiap hubungan Kristen.
Saya bersyukur Tuhan selalu berbicara dan mengingatkan saya akan kebenaran ini.

Saya tidak akan lupa pengalaman di bulan September 2004 ini. Saya juga tidak akan lupa pengalaman saat melihat senja di sore hari setelah mengantar Dhe, Rabu, 15
September 2004. Dalam senja di bulan September itu, saya melihat kasih setia Tuhan yang begitu besar dan hadirat-Nya
yang melegakan, jauh lebih indah dari apapun yang pernah saya miliki, lihat, dan rasakan. Mencintai Tuhan Yesus adalah prioritas
kita semua. Sebab Dialah yang terindah yang pernah kita miliki dalam hidup ini.

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

3 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.