Theology has a tendency to run to modes just as does philosophy. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Kliping

Tetap Sukses Kendati “Salah Jurusan”

Submitted by riel on 09/09/2004 – 8:27 AM | 688 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Seorang rekan kerja dengan heran menceritakan tentang pamannya, seorang guru
SLA di daerah, yang sangat menginginkan anak bungsunya segera pindah pekerjaan
dari bagian PPC (production planning & control) sebuah perusahaan farmasi.

Dengan nada keras, sang paman berkata kepada anak bungsunya, "Kamu ini mbok
ya menghargai pilihan sekolahmu. Kamu kan sudah milih sendiri untuk kuliah di
jurusan teknologi lingkungan. Itu saja kamu kuliahnya lebih dari 4 tahun, biayanya
tidak murah, kok ya sekarang malah ngurus produksi, ngurus hasil pabriknya.
Harusnya kan ngurus dampak proses produksinya bagi lingkungan, sesuai kuliahmu
yang 4 tahun lebih itu. Mau jadi apa sih kamu ini? Cari kerjaan kok ya lain
dari ilmu yang dipelajari ketika kuliah!"

Seorang calon karyawan juga pernah mengeluh ketika diterima sebagai AE (account
executive) bagian pemasaran. Orangtuanya dengan berang mengatakan, "Kamu
ini insinyur! Harusnya kamu itu dihormati orang-orang lain karena insinyurmu
itu, bukan malah harus ngejar-ngejar orang untuk jualan barang yang nggak
jelas! Sudah jadi insinyur kok malah milih pekerjaan jualan segala! Mau berhasil
atau gagal sih kamu ini dalam hidup nanti?"

Jelas, yang merasa ada ketidaksesuaian dalam kasus-kasus di atas adalah para
orangtua. Para pelakunya sendiri, mereka yang menerima keluhan itu, sebetulnya
tidak melihat ada masalah.

Kedua pihak ini sebetulnya mewakili 2 pandangan dari 2 generasi yang berbeda.
Generasi lama yang diwakili oleh para orangtua mempunyai pendapat, pandangan,
atau paradigma pikir bahwa selain, "sudah lama belajar tentang satu ilmu
tertentu kok ya akan bekerja di bidang lain", juga khawatir kalau bekerja
di "luar jalur" yang tak sesuai dengan pendidikan yang ditempuh
akan berbuah kegagalan dalam hidup.

Sebabnya-tentu saja masih menurut orangtua-karena harus ada hal-hal baru
yang dipelajari lagi dari awal, padahal selama ini ("4 tahun lebih",
kata om teman saya itu) sudah dipelajari berbagai teori yang sebetulnya akan
mempermudah proses menghadapi hal-hal baru-kalau tetap bekerja di bidang yang
sesuai dengan teori yang sudah dipelajari di sekolah/ketika kuliah.

Sementara, generasi yang lebih muda, yang menjadi pelaku yang dikhawatirkan
oleh mereka, tahu bahwa bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan jurusan
pendidikannya masih mungkin mencapai kesuksesan.

Mana yang Betul?

Para orangtua ini harus belajar bahwa banyak orang, di Indonesia pun, yang
dapat sukses dalam hidupnya walaupun mempunyai profesi yang jauh kaitannya
dengan bidang yang dipelajari di sekolah.

Hermawan Kartajaya, pakar pemasaran dan pada tahun 2001 merupakan satu-satunya
orang Indonesia yang menulis buku bersama dengan "dewa pemasaran dunia"
Kottler, dulunya seorang guru SLTA dengan latar belakang pendidikan ilmu elektro.

Darwis Triadi, fotografer terkenal itu, lulusan sekolah pilot di Curug. Katon
Bagaskara yang kita kenal sebagai penyanyi itu adalah mantan pramugara yang
pernah punya cita-cita menjadi diplomat.

Sastrawan dan penyair masyhur Taufiq Ismail mempunyai latar belakang pendidikan
kedokteran hewan dan mempunyai pengalaman kerja bertahun-tahun di bidang public
relations.

Almarhum budayawan Asrul Sani yang juga anggota DPR itu kuliahnya pindah-pindah
dari Kedokteran Hewan, Sastra, dan kembali lagi ke Kedokteran Hewan.

Masih banyak lagi nama yang dapat dijajarkan di sini, yang semuanya menimbulkan
tanda tanya besar kalau dikaitkan dengan latar belakang pendidikan formalnya.

Jika menyimak pernyataan di atas, seolah-olah mereka ini telah membuang waktu
(atau biaya) secara sia-sia: bekerja jauh di luar bidang yang pernah dipelajari
dalam pendidikan formalnya.

Sesungguhnya, "Guru hanya memberi dasar dalam mendidik murid,"
kata Psikolog Sartono Mukadis ketika menjadi pengasuh acara Trend Perilaku
suatu radio swasta.

Kita sendiri yang wajib mengembangkannya kalau tidak mau disebut sebagai
katak dalam tempurung.

Jadi, latar belakang pendidikan bukan dimaksudkan untuk membatasi seseorang
untuk maju. Melalui pendidikan seseorang diharapkan untuk mendapat fasilitas
(dalam hal intelektual) untuk maju.

Semakin tinggi pendidikan, seharusnya semakin mudah pula seseorang diharapkan
untuk maju. Semakin tinggi pendidikan, memang diharapkan seseorang akan semakin
"lincah" melakukan olah pikir sehingga semakin mudah atau semakin
mampu menerima hal-hal yang bagi orang lain sulit diterima.

Banyak pejabat perekrutan (pencari tenaga kerja/pewawancara calon karyawan)
di berbagai perusahaan yang berpendapat bahwa tingginya tingkat pendidikan
seharusnya mencerminkan juga tingkat mutu olah pikir seseorang.

Orang seperti mereka ini pasti akan mudah mendeteksi siapa yang mendapat
ijazah karena berhak mendapatkannya (sudah belajar dengan baik dan karenanya
berhak atas ijazah tersebut) dan siapa yang mendapatkannya dengan (katakan)
hanya membayar saja (seperti yang banyak bertebaran sekarang ini).

Kemauan

Tetapi, tentu saja, itu semua bergantung pada orang yang memperoleh pendidikan
tersebut. Apakah ia akan mau melaksanakan penerapan teori yang sudah diterimanya
atau tidak.

Faktor kemauan ini memang yang sangat berpengaruh bagi perjalanan karier
seseorang. Ir Krisnayana Yahya, dosen matematika dari Universitas Petra, Surabaya,
pernah mengatakan bahwa sampai saat ini masih banyak orang yang berpandangan
keliru tentang ilmu. Padahal menurut Krisnayana, "Kalau kehidupan harus
selalu didasarkan pada pendidikan formal yang dimiliki, kehidupan akan kering.
Karena tidak akan terjadi keterbukaan ke arah perubahan yang signifikan."

Krisnayana sendiri saat ini dikenal sebagai pembicara seminar yang andal
di bidang manajemen. Ilmu manajemen, katanya, ia dapatkan melalui proses learning
by doing. "Saya tidak hanya learning management, tetapi juga doing management."
Proses melakukan manajemen itu dimulai sejak menjadi Ketua OSIS SLTA sampai
menjadi ketua senat di universitas.

Pendidikan pascasarjana manajemen juga tidak mempersyaratkan mahasiswanya
harus berasal dari lulusan S1 jurusan Ekonomi Manajemen. Pada tingkat pimpinan
seperti ini berbagai latar belakang malah akan memperkaya pandangan para pesertanya.

Institut Pertanian Bogor (IPB) pernah disebut sebagai sekolah pemakan segala
(omnivora) karena lulusan IPB "bertebaran" di berbagai jenis bidang
pekerjaan: komputer, perbankan, wartawan, pialang saham dsb – dan mereka berhasil
dengan baik. Padahal, seharusnya lulusan IPB menjadi pakar pertanian yang
tersohor, kan?

Banyak yang berpendapat bahwa yang berjasa dalam hal ini adalah Prof Andi
Hakim Nasution, yang semasa menjadi Rektor IPB memutuskan bahwa di semester
1 semua mahasiswa IPB harus ikut mata kuliah bersama: humaniora, yang mempelajari
dasar dari segala ilmu. Dasar semacam ini membantu paradigma pikir para mahasiswanya
bahwa ilmu yang dipelajarinya selama kuliah hanyalah merupakan ranting terkecil
pohon ilmu pengetahuan, yang masih punya ribuan ranting kecil semacam ini.

Akibat selanjutnya, mereka ini tidak saja hanya memelototi atau mengagung-agungkan
ranting kecilnya, tetapi juga sudah mempunyai gambaran bahwa menghadapi dunia
profesional (atau katakan saja dunia kerja) ranting kecilnya harus mengalami
penyesuaian.

Kemauan untuk menjalani penyesuaian (adaptasi diri) inilah yang mempermudah
mereka memasuki berbagai bidang kerja (walaupun jauh dari ilmu yang dipelajari
selama sekolah/kuliah) dan berhasil di situ.

Ini disetujui oleh para pejabat perekrutan yang sudah disebut di atas. Mereka
juga berpendapat bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, hendaknya orangnya
juga mempunyai fleksibilitas pikir tinggi. Artinya dapat mempertimbangkan
suatu hal dari berbagai segi, dapat menerima pendapat yang berlainan dengan
pendapatnya sendiri, dan harus juga mampu mencari jalan untuk menyamakan persepsi
yang berlainan.

Kalau memang toh perbedaan itu tak dapat ditemukan kesamaan persepsinya,
juga harus dapat menerima perbedaan pendapat itu (wow, kalau itu terjadi,
tak akan terjadi peristiwa Poso, Ambon dan yang lain-lain, kan?)

Pasar Kerja

Dalam membicarakan hubungan latar belakang pendidikan dan pekerjaan ini yang
juga harus dimasukkan dalam pertimbangan adalah pasar kerja. Lapangan pekerjaan
yang tersedia tentu saja tidak bakal dapat menampung kalau dipersyaratkan
dengan ketat bahwa yang bekerja di suatu bidang tertentu haruslah mereka yang
mempunyai latar belakang pendidikan yang sejenis.

Para pejabat rekrutmen tahu persis bahwa oranglah yang harus menyesuaikan
diri dengan jenis pekerjaan yang akan ditanganinya. Jadi akan dicari orang
yang sesuai untuk jenis pekerjaan tertentu (melalui tes, wawancara dsb), syukur
kalau latar belakang pendidikannya mendukung.

Jadi, sepanjang yang bersangkutan mampu menikmati profesi "baru"-nya,
meskipun "bekal" pendidikan formalnya tampak tidak berkaitan secara
langsung, tentunya pekerjaan yang melenceng jauh dari alur pendidikan formal
tidak menjadi aneh lagi.

Peran pendidikan formal memang sangat menentukan. Tetapi jenis pendidikan
bukan hanya satu-satunya jalan yang tersedia untuk mencapai suatu keahlian,
sehingga dapat dinilai oleh lingkungan sebagai "sukses". Saat ini
bukan lagi zamannya you’re certified, so you’re qualified.

Artinya, kalau sudah mempunyai ijazah di satu bidang, Anda masih juga harus
membuktikan bahwa Anda memang betul-betul memenuhi kualifikasi di bidang tersebut
dibandingkan mereka yang tidak certified (mempunyai ijazah / sertifikat kelulusan)
seperti Anda.

Jadi kalau ijazahnya saja membeli (atau dipalsukan seperti para caleg yang
digugurkan KPU itu), pasti cara olah pikir Anda ya seperti itu-itu saja (maksudnya
juga palsu, juga mudah dibeli siapa pun yang mampu membeli Anda!)

Widyarto Adi Ps Psi MM, Psikolog, Trainer

Sumber: Suara Pembaruan, Minggu, 29 Agustus 2004

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

Comments are closed.