Tadi
malam saya datang ke acara peresmian The Wahid Institute, sebuah lembaga
kajian Islam dan kebudayaan yang diprakarsai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
bersama rekan-rekannya. Lembaga yang dipimpin oleh putri kedua Gus Dur, Yenny
Zannuba Wahid, ini diselenggarakan di ballroom Hotel Four Seasons (dahulu
Regent), Jakarta, Selasa (7/9/2004) pukul 18.00 WIB.
Acara dimulai dengan makan malam lalu dilanjutkan dengan beberapa kata sambutan. Berhubung belum
makan siang karena siangnya ada wawancara dengan salah satu tim sukses SBY-JK di
sekitar Pancoran, saya langsung beranjak mengambil hidangan makan malam yang
sudah disediakan.
Untuk ukuran makanan hotel, makanannya kali ini termasuk enak dan cocok di
mulut. Berbeda dengan hidangan makan malam di Shangrila Hotel dalam rangka
acara Prakonvensi Calon Presiden Golkar, 21 Oktober 2003 yang lalu atau hidangan yang
disajikan dalam berbagai acara Launching produk Telkomsel yang sudah beberapa
kali saya ikuti.
Secara khusus, UnitedFool.com menyambut hangat berdirinya The Wahid Institute ini. “Tujuan The Wahid Institute sejalan dengan visi Gus Dur,
yaitu membangun pemikiran Islam moderat, yang mendorong terciptanya demokrasi,
pluralisme agama-agama, multikulturalisme dan toleransi di kalangan kaum Muslim
Indonesia,” kata Yenny yang menduduki posisi direktur dalam lembaga
tersebut.
Salah satu program The Wahid Institute, tambah Yenny, antara lain mengkampanyekan
pemikiran Islam yang menghargai pluralitas dan demokrasi. “Selain itu
melalui program pendidikan, kita akan mendidik kyai-kyai muda yang ada di
desa berdasarkan visi Gus Dur tadi,” jelas alumnus Harvard University
ini.
Dalam peluncuran lembaga yang digagas Gus Dur ini, The Wahid Institute mengundang seluruh
capres yang ikut dalam putaran pertama pemilu presiden serta seluruh tokoh
agama dan duta besar negara sahabat. Dalam acara peresmian ini, saya melihat SBY, Luhut Panjaitan,
Try Sutrisno, dan Wimar Witoelar duduk semeja dengan Gus Dur. Di meja-meja yang
lain terlihat Sarwono Kusumaatmaja, Roy BB Janis (PDIP), dan beberapa tokoh
penting lainnya.
Selama kurang lebih dua jam, saya mendengar kata-kata sambutan dari Yenny
Zannuba, SBY, Syafii Maarif (Ketua Umum Muhammadiyah), tokoh intelektual kelahiran
Mesir, Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd yang karena gagasannya yang progresif
tentang Islam, ia diusir dari negerinya dan menetap di Belanda, dan Gus Dur.
Ada begitu banyak pemikiran menarik soal pluralisme yang terlontar dalam
kata-kata sambutan yang mereka sampaikan. Intinya adalah menghargai perbedaan dan kemajemukan
sudah menjadi kenyataan yang harus diterima oleh masyarakat Indonesia.
Sebulan yang lalu, 31 Juli 2004, dalam kunjungan ke Ma’had Al-Zaytun,
Indramayu, Jawa Barat, saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, kehangatan
persaudaraan dan toleransi antar umat beragama – Islam dan Kristen. Sekitar 200 orang
Jemaat GPIB Koinonia, Jakarta mengunjungi pondok pesantren terbesar di Asia
Tenggara ini yang disambut dengan luar biasa oleh seluruh pengurus, eksponen dan santri Ma’had Al-Zaytun.
Beruntung sekali saya mendapat kesempatan untuk menulis secara langsung dan
eksklusif laporan pandangan mata tentang peristiwa bersejarah hari itu.
Anda bisa membaca kisahnya di TokohIndonesia.com:
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.