Memang sudah menjadi bakat alam manusia untuk menilai orang pertama-tama dari
apa yang bisa dilihat oleh mata. Tidak jarang, penilaian yang kita buat jauh
berbeda dengan kenyataannya.
Misalkan saat kita melihat seorang teman yang
baru kita kenal dari pakaiannya yang parlente, kemudian kita menilai teman
itu pastilah orang kaya atau setidaknya dari keluarga yang berada. Padahal
saat kita mengenal teman itu lebih jauh dan berkunjung ke rumahnya, kita dibuat
terkejut setelah melihat kenyataan bahwa teman kita itu tinggal di rumah petak
yang kecil dimana ruang tamu dan dapur bergabung menjadi satu.
Dalam pergaulan, kerap kali kita melihat kenyataan yang jauh berbeda dengan
apa yang kita harapkan dan nilai sebelumnya. Seorang teman yang kita anggap
menyenangkan, setelah sekian waktu lamanya mengenalnya lebih jauh, ternyata
mempunyai ‘karakter’ yang tidak menyenangkan, misalkan perkataannya
tidak bisa dipegang, suka melebih-lebihkan sesuatu, atau suka berbohong.
Tidak cuma dalam pertemanan sebaya, kita juga kerap mendapati orang tua yang
seharusnya memberi teladan menginginkan kita berteman dengan orang yang kriterianya
sesuai aturan mereka. Misalkan saja, orang itu punya jabatan tertentu, kaya
raya, latar pendidikannya oke, penampilannya keren, dan sebagainya. Ribetnya
lagi, kalau maunya orang tua ini juga berlaku buat calon menantunya.
Melihat calon menantunya item sedikit, langsung pasang tampang curiga, jangan-jangan
orang melarat. Kurus sedikit dikirain kurang gizi karena miskin. Ada juga
loh, melihat calon menantunya dari ‘aliran’ karismatik, langsung
dicap sesat, nggak masuk itungan dalam ‘aliran’ yang si ortu percaya.
Atau ada juga ortu yang nggak kalah ‘kampungan’ dengan mempercayai
ramalan-ramalan dari dukun tentang hubungan anaknya dengan si calon menantu.
Macem-macem aja…
Kita semua pernah membuat penilaian yang salah tentang orang lain, terlalu
cepat menilai orang lain, atau bahkan menghakimi mereka. Dua pelajaran berharga
yang perlu kita ingat setiap kali ‘terpancing’ untuk langsung
menilai orang tanpa mengenal dia lebih dahulu, yaitu ‘Apa yang kamu
tabur, itu yang kamu tuai’ dan ‘Apa yang kamu inginkan orang lain
perbuat untukmu, perbuatlah demikian untuk mereka.’
Contohnya simpel aja. Coba perhatikan dalam kehidupan sehari-hari kita. Berapa
banyak kebencian yang kita taburkan, berakhir dengan menuai kebencian. Berapa
banyak kebohongan yang kita taburkan, berakhir dengan menuai kebohongan.
Berapa banyak penghakiman yang kita lontarkan berakhir dengan menuai penghakiman.
Dari mana menuai itu akan datang, itu bisa mengambil banyak cerita. Bisa dari
orang yang kita benci atau bohongi, bisa pula dari orang lain. Menuainya pun
bisa terjadi dalam waktu yang cepat, bisa pula terjadi bertahun-tahun kemudian.
Saat kita menyadari betapa sakitnya dibenci, dibohongi, dan sebagainya, kita
mulai tersadar dan syukur-syukur belajar bahwa bisa jadi ‘sakit hati’
yang kita alami itu berasal dari ‘sakit hati’ yang kita taburkan.
Jikalau kita dengan mudah menilai orang dan menjelek-jelekkannya, jangan heran
bila suatu waktu, kita malah dinilai orang dan dijelek-jelekkan. Di sinilah
kita mulai belajar untuk berhati-hati dalam menilai orang lain.
Sayangnya, kita mulai belajar dan ambil langkah perubahan setelah mengalami
suatu kejadian yang luar biasa di luar kehendak kita. Atau dengan kata lain,
kita harus mengalami ‘shock therapy’ lebih dulu, baru kemudian
punya pikiran untuk berubah.
Menilai orang tidaklah salah sebab manusia rohani menilai segala sesuatu.
Manusia rohani berani dengan lantang mengecam setiap perbuatan-perbuatan yang
salah dan menyerukan pertobatan. Namun, bagaimana caranya dan kapan? Menurut
Alkitab, kita dimampukan melakukan itu, saat KETAATAN kita sudah sempurna.
Kita sudah belajar untuk taat, konsisten dan setia berpegang pada kebenaran
Firman Allah. Bahkan menurut Alkitab kita bisa menjadi hakim atas para malaikat.
Sayang sekali, banyak anak muda bahkan orang tua merasa kesulitan memperingatkan
bahkan menasehati orang yang dikenalnya karena ia mendapati dirinya sendiri
tidak becus atau belum taat melakukan kebenaran. Itulah mengapa, banyak orang-orang
Kristen ‘chicken’ yang pura-pura tidak tahu, pura-pura
tidak lihat, atau pura-pura cuek, saat menyaksikan teman atau keluarganya
sedang berjalan menuju ambang kehancuran.
Mereka pikir, ”Balok di mataku aja belum beres, ngapain ngurusin selumbar
di mata saudaraku? Kan kata Alkitab kayak gitu!” Mental seperti ini,
pada akhirnya, membuat kita terus menerus meratapi diri sendiri yang gagal
menyingkirkan balok dalam kehidupan kita dan membiarkan orang lain semakin
terpuruk dengan masalahnya. Kalaupun kita ambil sikap dan menasehati orang
yang kita anggap salah itu, kita hanya menjadikan diri kita seorang yang munafik.
Bahkan tidak jarang kita mendengar atau mengucapkan untuk membenarkan tindakan
orang lain atau kita sendiri dengan berkata, “Yah… gak usah belagak
malaikat. Semua orang pasti punya kelemahan.”
Memang benar kalau semua orang punya sisi gelap atau kelemahan, namun itu
sudah menjadi alat iblis yang ampuh untuk membuat pasif anak-anak Tuhan untuk
berdiri membela generasinya. Kalau memang kita sependapat dan sering kasih
alasan ‘kelemahan’ ini, bisa jadi kita belum menjadi anak-anak-Nya
yang taat dan sering berkompromi.
Dosa menghalangi kita untuk menjadi penasihat-penasihat ilahi. Dosa menghalangi
kita untuk menilai orang lain dari kacamata kasih karunia Allah. Dosa menghalangi
kita untuk menjadi saksi Kristus. Dosa menghalangi kita untuk dengan penuh
keberanian menegur saudara-saudara kita yang berbuat salah. Bahkan dosa membuat
kita menghakimi orang lain sebagai pelampiasan atas kegagalan yang kita hadapi
sendiri.
Seringkali, penilaian yang kita buat terhadap orang lain merupakan cermin
bagaimana kita menilai diri sendiri. Hati-hati, frustasi pada diri sendiri
bisa membuat kita jadi seorang munafik yang suka menghakimi orang lain.
Hari ini kita belajar beberapa hal yaitu jangan terlalu cepat menilai orang
lain karena penampilan luarnya saja. Kalaupun kita menilai orang lain, kita
harus senantiasa ingat dan bertanya pada diri sendiri, “Apakah aku sudah
taat melakukan kebenaran?” Kalau jawabannya ‘ya’, berdoalah
dengan sepenuh hati agar Tuhan membantu kita menilai (melihat) orang lain
dari kacamata kasih karunia Allah. Kalau dia salah, kita menegurnya. Kalau
dia benar, kita mendukungnya.
Kalau jawabannya ‘tidak’, bahkan sudah terbiasa ‘tidak’,
ini waktunya untuk berubah. Karena orang yang paling malang di dunia ini,
adalah orang yang tahu apa yang benar dan harus dikerjakan, tapi selalu kalah
dengan melakukan apa yang salah.
Kalaupun kita sudah berusaha dan mendapati kita malah berbuat yang salah,
ini suatu pertanda, kita harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Dia yang
akan memampukan kita. Kekuatan kita sendiri tidak akan pernah bisa membuat
kita berubah. Hanya Kristus melalui kasih dan setia-Nya yang akan memampukan
kita. Ia sudah menganugerahkan segala yang kita perlukan untuk hidup saleh.
Tidak ada yang mustahil bagi Dia. Inga..inga… jangan terlalu cepat menilai
orang lain.
* ‘Menilai Orang Lain’ menjadi salah satu pelajaran berharga yang saya alami
tahun ini.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.