Hari ini bisa dibilang aku dua kali makan enak. Tadi siang, aku mampir
ke tempat makan sate kambing dan tongseng yang terkenal enak di seberang Jatinegara
Plaza. Sore, sekitar jam setengah lima, aku duduk santai sambil menyantap
Bigmac dan kentang goreng ukuran medium di McD Atrium Senen.
Tidak peduli entah boros atau tidak, yang pasti sampai malam ini perutku
masih terasa kenyang. Belum lagi satu box besar berisi beng-beng di laci meja
kerjaku banyak yang menganggur.
Aku duduk sendirian di McD Atrium Senen sore tadi memandangi orang-orang
yang lalu lalang. Kebetulan aku duduk dekat pintu masuk di sebelah toko DiscTarra.
Pandanganku tepat berhadapan dengan taman bermain anak-anak yang di dalamnya
terdapat mobil dan pesawat mainan yang bergerak naik turun.
Emang mataku yang sedang jahil, pandanganku juga terkadang mengarah pada
bukit-bukit yang berlalu lalang di situ sambil menebak-nebak ukurannya. Kalau
tidak 32, 34, atau 36. Sendirian itu memang berbahaya. Bisa memicu pikiran
yang macem-macem. Entah itu perasaan tiba-tiba marah, tiba-tiba ngeres, dan
sebagainya.
Aku agak kewalahan memasukkan Bigmac ke dalam mulutku hingga akhirnya aku
putuskan memakan tingkat pertama terlebih dahulu baru kemudian tingkat kedua.
Tahu sendiri kan, Bigmac itu adalah jenis burger yang bertingkat dua alias
daging burgernya dua lapis.
Dengan Bigmac itu saja, aku sudah kewalahan, padahal masih ada tugas lain
yaitu menghabiskan kentang goreng. Daging kambing yang kusantap tadi siang,
masih bertumpuk dalam perutku lalu ditambah lagi dengan sebongkah besar Bigmac.
Aku pikir, daripada bengong, mendingan kuhabiskan saja pelan-pelan Bigmac
dan kentang goreng itu.
Saat duduk selama kurang lebih 45 menit di McD itu, pikiranku sebenarnya terbawa pada kebaktian siang hari Minggu yang lalu, 22 Agustus 2004,
di sebuah gereja di Menara Gracia, Kuningan. Pembicaranya waktu itu adalah Mark Mclendon. Misionaris
asal Amerika Serikat ini berbicara tentang betapa indahnya Tuhan kita, Yesus Kristus. Betapa kita
membutuhkan Tuhan.
Di McD itu, beberapa kali aku menunduk dan berdoa, “Tuhan… biarlah hadirat-Mu
nyata dalam hidupku. Biarlah hatiku tersungkur melihat kemuliaan-Mu. Aku butuh
Engkau Tuhan.” Sepanjang tahun 2004 ini, baru dalam ibadah itu aku tidak tahan
dengan hadirat Tuhan yang begitu kuat. Dalam ibadah itu, sekuat apapun aku
mencoba untuk bertahan, air mataku tetap turun membasahi wajahku. Aku sesunggukan
menangis melihat betapa tidak layaknya diriku di hadapan Tuhan. Tuhan sudah
begitu baik dalam kehidupanku tetapi seringkali aku mengecewakan Dia.
Selama kurang lebih 45 menit dalam ibadah itu, aku diliputi suatu kesadaran
betapa Tuhan itu indah dan tidak bisa dibandingkan dengan apapun di dunia
ini. Apa yang dunia tawarkan, tidak ada artinya dibandingkan dengan betapa
indahnya Tuhan kita, Yesus Kristus.
Meski pikiranku berkelebat nakal melihat perempuan yang lalu lalang di mall
itu, namun hatiku menyadari bahwa apa yang aku lakukan saat itu hanya semakin
menunjukkan keberadaan diriku yang sangat membutuhkan Tuhan.
Di masa muda ini aku ingin menyenangkan hati Tuhan yang sudah berkenan menunjukkan
kemuliaan-Nya dalam hidupku. Ia telah membawaku dari kemuliaan
yang satu ke kemuliaan yang lain, dan itu meninggalkan kesan yang mendalam
di hatiku. Ia juga telah membawaku keluar dari padang gurun kesulitan hidup
dan menunjukkan bahwa Ia senantiasa setia.
“Tuhan… aku mau menjadi manusia langka-Mu di dunia ini. Tiada yang lebih indah selain
memiliki-Mu dalam hidupku. Tuhan.. Kau tahu kan lagu yang dinyanyikan dalam ibadah hari Minggu
kemarin? I’m desperate for you. I’m lost without you…”
Hadirat-Nya yang kuat hanya semakin menunjukkan betapa rentannya saya dengan
pengaruh dunia ini. Setiap detik saya membutuhkan Tuhan. Seperti kata pemazmur,
lebih baik satu hari di pelataranmu, daripada seribu hari di tempat lain.
Tiada tempat yang lebih indah selain bersama-sama Tuhan dalam hidup ini. Di
sana ada sukacita, damai sejahtera, iman, pengharapan dan kasih.
“Tuhan… celikkanlah mataku sehingga bisa melihat keindahan-Mu. Aku tahu
kalau Kau sangat setia dalam kehidupanku, aku juga ingin menjadi setia kepada-Mu.
Beri aku kekuatan untuk menjadi pelaku firman-Mu dan melakukan apa yang berkenan
di hadapan-Mu. Meski aku punya kesempatan untuk berbuat dosa, tetapi aku punya
kekuatan lalu memilih apa yang Kau kehendaki yaitu setia melakukan perintah-perintah-Mu.”
“Terima kasih buat kesetiaan-Mu yang tiada habisnya. Terima kasih buat pengampunan-Mu.
Kemurahan-Mu membuat hidup menjadi baru. Hanya Kau Tuhan yang aku ingini. Biarlah hatiku
menari-nari karena-Mu. Biarlah sukacitaku penuh melihat perbuatan-Mu yang ajaib dalam
hidupku. Aku sangat membutuhkan-Mu. Tuhan… aku sudah putus asa… Aku butuh Engkau… “
Sembari menatap keluar, sementara kentang goreng di hadapanku mulai habis,
dua kata ini terngiang-ngiang di pikiranku. Manulang… manusia langka…
Manulang… manusia langka… “Tuhan… aku mau tetap menjadi manusia langka-Mu…
Teguhkan hatiku, tunjukkan jalan-Mu, jadikan aku pelaku Firman dan berdiri
bagi generasi ini dan generasiku selanjutnya. Aku mau menjadi saksi-Mu bahkan
bagi anak-anakku kelak. Tuhan… tolong aku…”
Setelah kurang lebih 45 menit duduk di situ, ibuku datang juga. Ia habis
berbelanja keperluan dapur dan membeli bahan celana untuk acara wisuda adikku
tanggal 4 September nanti. Keluargaku bersukacita atas kelulusannya yang molor
dua tahun dari Fakultas Ilmu Komunikasi UI. Sembari menunggu ibuku makan dulu,
percakapan batinku selama 45 menit sebelumnya bermuara pada satu tujuan…
aku mau menjadi manusia langkanya Tuhan… manusia yang menempatkan Tuhan
segala-galanya dan menjadi generasi yang berani berbeda dengan jaman ini.
Generasi yang memberi contoh, bukan sekedar memperkatakan iman, tetapi hidup
dalam iman itu sendiri. Sebab satu hal yang kita tahu, jawaban atas berbagai
permasalahan dalam generasi kita sekarang ini adalah munculnya generasi-generasi
Allah yang memberikan contoh meski ia masih muda. Adakah kita semua ingin
menjadi manusia langkanya Allah? Kiranya, Tuhan memberikan kita anugerah yang
kita perlukan, anugerah untuk mengampuni, anugerah untuk mengasihi, anugerah
untuk hidup kudus, dan sebagainya. Manulang… manusia langka…
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.