Setiap hari adalah upaya untuk mencari kebenaran. Saya tidak tahu model kebenaran seperti
apa yang Anda cari. Tetapi ada satu hal yang saya tahu tentang kebiasaan banyak orang termasuk
kita yang mengaku sebagai orang percaya kepada Kristus.
Apa yang kita lakukan saat mencari kebenaran lewat ajaran Alkitab? Apa yang kita
harapkan saat mendengarkan khotbah dari orang-orang yang memberitakan Firman? Seringkali kita mendengarkan
bukan untuk menemukan, melainkan untuk mencari sesuatu yang menguatkan pemikiran kita sendiri. Kita
berargumentasi bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk mempertahankan pendapat kita. Suatu
pendapat yang mungkin tidak benar dan fanatik membabi buta.
Hidup ini mempunyai sejuta pertanyaan dan entah saya perlu menyesalinya atau tidak, kita sering
kali menarik kesimpulan lebih dulu baru kemudian mencari premis-premisnya.
Sama seperti seorang jago tembak yang selalu menembak tepat di sasaran dan terkenal di sebuah kota.
Ketika ditanya bagaimana ia melakukannya, ia menjawab, “Saya menembak dulu, setelah itu, baru saya menggambar
lingkarannya.”
Bukankah hal seperti ini yang sering kita lakukan? Kita berlagak tahu tentang sesuatu lalu buru-buru
menarik kesimpulan. Baru setelah itu menyusun suatu rangkaian pemikiran yang bisa mendukung kesimpulan yang
kita ambil. Tidak jarang pula, kesimpulan yang kita ambil sebenarnya bertentangan dengan Alkitab, tetapi
dengan berbagai dalih dan alasan, kita memutarbalikkan semuanya dengan premis-premis yang kita buat sendiri.
Bukankah begini cara kita memegang agama, kepercayaan dan ideologi?
Ada banyak contoh tentang hal ini. Bisa seputar masalah free sex, hubungan pacaran beda iman,
gaya hidup dugem, kebiasaan buruk, yang kita lakukan, atau argumentasi tentang topik-topik seputar pengetahuan teologia, doktrin, denominasi, dan sebagainya.
Kita berlomba-lomba mencari pengkhotbah yang ‘cocok’ dengan pemikiran dan gaya hidup kita. Saat seorang pengkhotbah melontarkan
kata-kata yang tegas tetapi bertujuan baik, kita segera menarik diri karena kata-katanya seperti peti kemas
yang berisi binatang-binatang liar dan buas yang dikirimkan langsung dari hutan ke kebun kecil kita. Kita mulai
berpikir untuk mencari pengkhotbah lain yang ‘menyenangkan’ padahal kata-kata pengkhotbah baru itu mengirimkan
tulang-belulang putih bersih dari kuburan satu ke kuburan yang lain.
Entah saya yang sudah gila atau belum, sering kali saya harus berjuang menangkis serangan-serangan dari si jahat
yang mencoba memutarbalikkan kebenaran Firman Allah. Sesuatu yang sesungguhnya benar, setelah melalui proses dan
pemikiran dalam suatu jangka waktu, bisa berubah menjadi abu-abu bahkan terkesan tidak sepenuhnya benar. Yang
seperti ini biasanya kita lakukan kalau kita terjebak melakukan suatu kesalahan atau dosa tertentu yang sulit
untuk dilepaskan atau sudah berlangsung bertahun-tahun.
Sangat menyebalkan melihat orang lain mengutak-atik sesuatu yang sakral menjadi murahan. Tetapi, jauh lebih
menyebalkan ketika menyadari bahwa kita sendiri menjadi pelaku yang getol melakukannya, membuat kesimpulan baru
kemudian membuat premis-premisnya demi keuntungan dan kepuasan diri sendiri.
Saya sedang malas mencari solusi tentang hal ini. Kalaupun saya memilikinya, saya juga malas untuk membagikannya.
Sebab sepanjang yang saya tahu, bicara itu lebih mudah daripada bertindak. Sampai kapanpun, kita akan terkungkung
dalam subyektivitas dan kebiasaan membenarkan diri sendiri lewat premis-premis ciptaan kita sendiri. Yah, setidaknya
saya tahu dan sadar kalau saya sedang tersesat dan berusaha kembali kepada kebenaran yang sederhana dan miskin dari berbagai
alasan dan dalih.
Yang gawat adalah, bila ada orang yang tersesat tetapi menganggap kesesatannya itu adalah kebenaran
atau orang yang sudah tahu sesat tetapi tetap membiarkan dirinya tersesat dan terus berlagak
bahwa kesimpulan dan premis-premisnya tidaklah salah dan tidak bertentangan dengan kebenaran. Lagipula, kebenaran itu apa sih?
Kalau lubuk hati Anda yang paling dalam (hati nurani) kebingungan dalam mencari jawabnya atau berdalih dengan sejuta alasan, mungkin Anda sedang tersesat.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.