Philip Yancey hidup dalam lingkungan gereja yang kaku dan fundamentalis. Philip Yancey muda dipaksa untuk memandang Tuhan sebagai pribadi yang keras, legalistik, pemarah dan siap mengetuk palu bagi setiap kesalahan. Barangkali, bagian paling membingungkan bagi Yancey di tahun-tahun pertama adalah sisa-sisa belas kasihan yang tertinggal dalam gerejanya.
Jika rumah seorang saudara terbakar, jemaat gerejanya menjadi pihak pertama yang tampil menunjukkan sumbangan, jika, rumah itu adalah milik orang kulit putih dan seseorang yang sepakat dengan teologi gerejanya. Para pemimpin gerejanya juga memaksa ayah Yancey yang sakit-sakitan untuk melepaskan mesin paru-paru yang membantunya untuk bernafas, dengan mengatakan bahwa ia akan disembuhkan. Ayah Yancey meninggal seminggu kemudian, ketika Yancey masih berumur satu tahun.
Pemahaman Yancey akan dunia nyata sebagai orang muda adalah melalui membaca. Jadi, ia tenggelam membaca berbagai buku yang membuka pikirannya, menantang latar belakang pendidikannya dan mulai mempertanyakan semua yang diajarkan padanya. Semakin banyak ia membaca, semakin frustasi dia. Perasaan dikhianati menguasainya. “Saya adalah orang yang marah dan terluka oleh gereja yang menyesatkan, dan saya mulai dipulihkan sejak itu,” kata Yancey. “Saya melewati suatu masa di mana saya bereaksi terhadap segala sesuatu yang telah diajarkan pada saya dan bahkan benar-benar membuang iman saya di satu titik. Saya memulai perjalanan menuju iman pada dasarnya dengan menghadapi dunia yang sedikit berbeda dengan apa yang diajarkan pada saya; sebuah dunia yang penuh dengan keindahan dan kebaikan. Saat saya mengalami itu, saya menyadari bahwa mungkin Tuhan telah ditunjukkan secara salah kepada saya. Jadi, saya kembali menekuni dengan hati-hati seputar iman.
Sementara Yancey melakukan penelitian, perenungan dan mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan penting tentang iman, ia menulis – membawa jutaan pembaca bersamanya dimana ia dengan penuh gairah menghasilkan buku-buku terlaris, seperti Kekecewaan Terhadap Allah (Disappointment with God) dan Di Manakah Tuhan Saat Kita Menderita? (Where is God When it Hurts?). Buku-bukunya sudah dicetak lebih dari 14 juta. Dalam perjalanannya, ia menemukan kebebasan untuk mengeksplorasi isu utama tentang iman Kristen, sebuah judul buku yang memperoleh penghargaan, seperti Bukan Yesus yang Saya Kenal (The Jesus I Never Knew) dan Keajaiban Kasih Karunia (What’s So Amazing About Grace?).
Dalam bukunya, Kabar Burung Tentang Dunia Lain (Rumours of Another World), ia tidak ingin fokus pada gereja-gereja yang menyesatkan dan agama-agama yang abusif. “Saya mengakui bahwa saya pada suatu waktu adalah seorang Kristen yang apatis, dipenuhi oleh keraguan dan ‘dalam proses pemulihan’ dari pengaruh gereja yang buruk. Saya sudah mengeksplorasi pengalaman-pengalaman ini dalam buku-buku lain, dan saya memutuskan untuk tidak memasukkan pengalaman saya lagi dalam buku ini. Saya sangat berhati-hati terhadap segala alasan ketidakpercayaan. Buku Rumors adalah cara saya untuk menemukan kembali diri saya tentang mengapa saya percaya.”
“Saya menulis buku untuk diri saya,” katanya. “Saya menulis buku untuk mengatasi hal-hal yang merisaukan saya, hal-hal yang tidak saya miliki jawabannya. Buku saya adalah sebuah proses akan eksplorasi dan investigasi. Jadi, saya cenderung menangani masalah-masalah yang berbeda berkaitan dengan iman, hal-hal yang menarik perhatian saya, hal-hal yang saya pertanyakan dan khawatirkan.” Yancey menulis dengan mata seorang jurnalis tentang detail dan sikap skeptis yang ironis.
Yancey menghabiskan banyak masa mudanya di Chicago, menulis di berbagai majalah seperti Reader’s Digest, Saturday Evening Post, National Wildlife dan Christianity Today. Ia melakukan wawancara dengan berbagai orang yang yang hidup oleh iman pribadinya seperti President Jimmy Carter, Millard Fuller, Pendiri Habitat for Humanity, dan seorang humanis, Dame Cicely Saunders. Ia memperoleh gelar sarjana di bidang Komunikasi dan Bahasa Inggris dari Wheaton College dan University of Chicago.
Jadi, bagaimana seseorang yang telah melalui semua yang Yancey alami, kembali mendekat kepada Allah yang tadinya ia takuti? Ia menghabiskan rata-rata satu jam setiap pagi membaca buku-buku spiritual yang membangun, bermeditasi, berdoa, dan menikmati hadirat Allah. Saat pagi ini, ia katakan, adalah meluangkan waktu bersekutu dengan Tuhan untuk hari itu. Lalu siang harinya, ia membaca Alkitab, rata-rata satu bab per hari. “Saya berusaha meminimalkan usaha mempelajari, dan lebih kepada, “Apa yang bisa saya terima tentang Tuhan yang berbicara kepada saya?”
“Saya cenderung kembali kepada Alkitab sebagai dasar, karena saya tidak tahu apakah ada buku lain yang murni.” Yancey menjelaskan, “Saya tidak bisa berpikir tentang argumen apapun tentang Allah yang belum dimuat dalam Alkitab. Jadi, bagi mereka yang mempertanyakan buku-buku saya, saya hanya mengatakan, ‘Jadi, Anda sebaiknya tidak membaca buku-buku itu.’ Tetapi beberapa orang memerlukan jenis buku-buku yang saya tulis. Mereka telah dikecewakan oleh gereja atau mereka begitu kesal tentang aspek-aspek tertentu dalam Kekristenan. Saya merasa terpanggil untuk berbicara bagi mereka yang berada di garis perbatasan akan iman.”
Diterjemahkan oleh UnitedFool.com dari Zondervan.com.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.