Orang yang sedang ‘jatuh cinta’ mempunyai ilusi bahwa kekasihnya itu sempurna. Ibunya bisa melihat kekurangan-kekurangan orang itu, tetapi yang sedang dibuai itu sama sekali tidak bisa melihat apa-apa. Teman-temannya juga bisa melihat kekurangan-kekurangan itu, tetapi mereka lebih baik tutup mulut dan kemungkinan besar ia tidak akan bertanya apa-apa karena dalam pikirannya gadis idamannya itu sempurna dan peduli apa dengan pikiran orang lain.
Dr. Dorothy Tennov, seorang psikologis, telah melakukan studi jangka panjang mengenai fenomena ‘jatuh cinta’ ini. Setelah mempelajari berpuluh-puluh pasangan, ia berkesimpulan bahwa daya tahan rata-rata dari obsesi romantis hanyalah dua tahun. Sewatu dalam fase ‘obsesi romantis’, kita selalu ingin bertemu dengan pasangan kita. Kita merasa cocok dan setuju dalam segala hal satu sama lain.
Bagaimanapun juga, kita akhirnya turun dari awang-awang dan menanamkan kedua kaki kita di bumi lagi. Kedua mata kita terbuka, dan kita melihat jerawat-jerawat yang ada pada idaman kita. Kita menyadari bahwa beberapa sifat personalitasnya sebenarnya menjengkelkan. Ia memiliki kemampuan untuk melukai perasaan dan marah, barangkali bahkan mengeluarkan kata-kata kasar dan mencela. Sifat-sifat kecil yang kita kesampingkan waktu kita sedang ‘jatuh cinta’ sekarang jadi pegunungan besar. Kita teringat pada kata ibu dan teman-teman dan bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana aku bisa begitu geblek?” Selamat datang ke dalam dunia nyata… Ada di antara Anda punya pengalaman seperti ini? Setahun romantis, setahun kemudian saling membenci? 
Buku berjudul ‘Lima Bahasa Kasih’ karangan Gary Chapman mengajak kita untuk membuka pikiran dan realistis dalam membina hubungan. Pengalaman saat pertama kali ‘jatuh cinta’ bukanlah cinta sejati karena itu terjadi tanpa usaha. Apapun yang kita lakukan dalam keadaan ‘jatuh cinta’ memerlukan hanya sedikit disiplin atau usaha yang sadar dari kita. Telepon berlama-lama, memberi hadiah-hadiah, berkorban waktu dan uang, semuanya kita lakukan seakan tidak berarti apa-apa bagi kita. Itu semata-mata karena sifat naluri pengalaman jatuh cinta.
Berbeda dengan cinta sejati. Cinta sejati bersifat emosional tetapi tidak obsesional. Itulah cinta yang menyatukan emosi dan pikiran sehat. Cinta sejati memerlukan usaha dan disiplin. Sesungguhnya, cinta sejati tidak bisa mulai sampai pengalaman ‘jatuh cinta’ sudah pudar dan habis.
Dalam bukunya, Gary Chapman mengajarkan lima bahasa kasih yang perlu kita ketahui yaitu kata-kata pendukung, saat-saat mengesankan, menerima hadiah-hadiah, pelayanan, dan sentuhan fisik. Buku ini ditujukan untuk pasangan yang sudah menikah namun bisa diaplikasikan bagi anak-anak dan bagi mereka yang sedang berpacaran. Bila Anda bersungguh-sungguh dalam membina hubungan, ingin meningkatkan atau memperbaiki kualitas hubungan dan tidak ingin terjebak dalam ‘cinta lupa daratan’ (lagi), ada baiknya Anda membaca buku ini.
Judul: Lima Bahasa Kasih
Judul Asli: The Five Love Languages
Penulis: Gary Chapman
Penerbit Bahasa Indonesia: Professional Books, P.O.Box 331, CPA 15418 Jakarta, Indonesia
Popularity: 2% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.