Penginjil
asal Jerman yang juga pendiri Christ for All Nations (Kristus Bagi Segala
Bangsa), Reinhard Bonnke, datang ke Indonesia dan menjadi pengkhotbah dalam
acara Kebaktian Kebangunan Rohani ‘Doa Bagi Bangsa’ yang diadakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada
1 Juli 2004. Sebanyak 100 ribu umat Kristen yang memadati stadion itu juga berdoa untuk kedamaian pelaksanaan Pemilu 5 Juli mendatang.
Reinhard Bonnke dikenal sebagai penginjil yang mempunyai karunia menyembuhkan orang sakit. Ia banyak melayani negara-negara
dunia ketiga seperti Nigeria, Kamboja, Laos, dan sebagainya. Reinhard Willi Gottfried Bonnke lahir pada 19 April 1940 di
Koenigsberg, Jerman Timur. Semasa muda, Reinhard Bonnke sudah mengenal ketakutan dalam peperangan, kelaparan, dan dinginnya kamp tahanan.
Di usia sembilan tahun dia akhirnya menemukan ayahnya dan sebuah rumah.
Sekitar tahun 90-an, dia datang ke Indonesia dan menggelar KKR selama seminggu penuh dimana banyak mukjizat terjadi. Berbagai
penyakit disembuhkan dan banyak orang memberikan dirinya kepada Tuhan.
Akibat pengaruhnya yang besar di tahun 90-an itu, pemerintah saat itu melihat
hal itu sebagai ancaman, sehingga Reinhard Bonnke dimasukkan dalam daftar
blacklist orang-orang yang dilarang masuk ke Indonesia. Oleh karena itu, kedatangan
Reinhard Bonnke ke Indonesia pada awal Juli kemarin adalah suatu hal yang
sangat disyukuri oleh umat Kristiani. Menteri Agama, Prof. Dr. H. Said Agil
Husin Al Munawar, MA dan Ketua Umum Partai Damai Sejahtera (PDS), Ruyandi
Hutasoit, memberikan kata sambutan, pandangan dan harapan tentang bangsa Indonesia
dalam acara ini.
***
Saya dan adik saya (Doan) datang menghadiri acara ini. Saya sendiri baru
tahu acara ini setelah mendapat kabar dari Wempi, dua hari sebelum hari H.
Berhubung selama ini hanya mendengar kisah tentang KKR yang Reinhard Bonnke
adakan di tahun 90-an, saya datang dengan harapan bisa melihat dengan mata
kepala sendiri pelayanan Reinhard Bonnke dalam acara ini.
Satu hal yang saya rasakan adalah ada begitu banyak orang yang merindukan kesembuhan. Saya melihat seorang ibu menggendong anaknya yang
terkena hydrocephalus (penyakit kepala membesar), seorang pria duduk lemah di atas kursi roda, seorang anak yang terbelakang, ada
begitu banyak orang sakit di sana.
Mereka rindu bisa bangkit dari kursi rodanya dan berjalan. Mereka rindu bisa mendengar dan melihat. Mereka rindu agar Tuhan memulihkan kehidupannya. Lautan manusia dari
seluruh pelosok Jakarta memadati Stadion Sepak Bola berharap menemukan jawaban atas setiap pergumulan mereka. Tidak sedikit pula,
di antara mereka yang datang hanya untuk melihat-lihat alias jadi penonton.
Dalam acara itu, terlintas sekejap pikiran saya tentang orang banyak yang mengikuti Yesus 2.000 tahun lalu. Mereka menyambut Yesus ketika Ia memasuki Yerusalem. Tapi, akhirnya orang banyak itu jugalah yang menyalibkan Dia. Saya berpendapat
bahwa tantangannya bukan pada seberapa banyak orang yang berbondong-bondong dalam suatu kebaktian. Tapi bagaimana tiap-tiap
orang menjalani kehidupannya hari demi hari setelah kebaktian itu. Apakah kita mengalami pembaharuan hidup yang kontinu dalam Kristus
atau tidak. Apakah kita menjadi orang yang jujur terhadap diri sendiri dan tidak munafik. Sudah terlampau sering kita bermanis-manis di gereja tapi busuk
dalam keseharian kita.
Kekristenan sebenarnya sederhana yaitu bagaimana menjalani hidup ini dalam terang Firman Tuhan dan belajar menghidupinya
hari demi hari. Bukan seberapa banyak KKR atau seminar yang kita ikuti, bukan pula seberapa banyak pengalaman rohani yang
sudah kita miliki. Rajin mengikuti banyak kebaktian itu bagus, namun kita jangan lupa bahwa kita dipanggil untuk
menjadi penurut-penurut Allah. Hari demi hari kita berperang melawan penguasa-penguasa jahat di udara. Hari demi hari pula kita seringkali
gagal menjadi anak-anak-Nya. Tetapi karena besar kasih-Nya, kita masih dilayakkan oleh-Nya.
Dalam berbagai ibadah besar seperti KKR, hanya satu yang terlintas dalam benak saya tentang diri saya sendiri dan orang-orang
yang datang dalam KKR itu yaitu apa yang akan kita lakukan setelah keluar dari pintu gedung di mana KKR itu diadakan. Apakah
menjadi penurut Kristus atau sekedar menjadi penggembira yang selalu happy di KKR tapi loser di dunia nyata. Doa saya, kita
semua menjadi pelaku-pelaku Firman dan tidak membiarkan kemunafikan menguasai hidup kita. Alangkah indahnya bila kita bisa
‘happy’ di KKR dan ‘happy’ juga dalam dunia nyata menjalani keseharian kita.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.