The wise man will note that the things we cannot understand have nothing to do with our salvation. We are saved by the truth we know. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Short Story

Kau, Aku, Dia

Submitted by riel on 30/06/2004 – 9:41 AM | 516 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Dari mana sebaiknya kumulai jalinan yang rumit kita ini? Darimu, dariku, dariNya?
Atau, dari hati paling dalam: hatimu, hatiku, hatiNya? Ah, entahlah. Lama kurenung
sepenuh pertimbangan, tetapi sejujurnya, aku belum menemukan arah yang pasti.

Tetapi, sudahlah. Begini saja lebih baik. Kita bersepakat dalam perasaan yang
penuh teka-teki. Bukankah hubungan tak selamanya harus terbuka? Jadi, karena
kau masih menyimpan perasaanmu, sementara Dia tentu saja tahu, bagaimana bila
kumulai dari awal pertemuan kita? Aku tahu, pasti kau tertawa, dan Dia bergumam,
"Ah, ada-ada saja."

Biarkan. Biarkan matahari tersenyum di balik dedaunan. Biarkan burung-burung
berkepakan di reranting hijau. Biarkan alam raya ikut tertawa bersama kita.
Bukankah keindahan pertanda kemesraan menyulam hubungan kita?

Masih jelas terlukis dalam kanvas mata, suatu waktu, matahari mengintip di
dedaunan yang menari-nari dipermainkan angin, di saat itu aku bertemu kau.
Dan, di manakah Dia? Oho, Dia ada di antara kita. Dia melirik kita. Bahkan,
berbaur debur jantung, aku percaya, Dia yang pertemukan kita. Dia yang ciptakan
suasana indah memesona kita. Dia yang menyutradarai semua adegan menakjubkan
di antara kita. Dia yang menentukan aku sebagai pengajar dan kau (sebagai
salah satu dari 30 orang) membutuhkan pengajaran. Bagaimana denganmu? Adakah
perasaanmu juga berkecamuk? Ah, lebih baik kau ingat Dia yang mengajar kita
tentang kehidupan surgawi. Ajaran untuk senantiasa hidup kudus.

Di dalam ruangan ber-AC itu, aku duduk menahan dingin menyusup tulang. Saat
itu sedang berlangsung ibadah singkat dalam mengawali proses belajar mengajar.
Dan kau masuk, lalu tanpa basa-basi duduk di sebelah kananku. Aku tak tahu,
mengapa harus ada kursi kosong di sampingku. Aku juga tak mengerti, mengapa
kau harus duduk di sebelahku. Pertanda apakah ini?

Hatiku terus bertanya-tanya di antara tatapanNya yang menyelidik. Ternyata,
jawabanku berlalu dalam kibasan gigil angin. Hingga acara usai, kau tetap
asyik belajar; cuma sekilas memandangku. Sementara aku harus menyelesaikan
tugas mengajar dengan duduk di kursi depan. Ya, hari pertama itu berlalu dalam
irama ceria. Karena sesekali kau tersenyum dan tertawa. Tahukah kau, bahwa
Dia yang memberi hati cerah, sukacita membasuh kita.

Di hari kedua, ah, demikian juga. Sesekali kau tersenyum dan tertawa. Nah,
pasti Dia geleng-geleng kepala menyaksikan peristiwa gombal kita. Tetapi,
ada satu yang istimewa, yang kemudian baru kusadari, kali ini kau duduk tepat
di depanku. Bukankah kemarin kau duduk di kursi belakang? Kini, kita berhadapan:
muka dengan muka. Dan seharusnya, aku dapat menatap parasmu yang cantik sepuas
ingin. Tetapi, kau tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku tak punya keberanian.
Aku cuma nekat curi-curi pandang. Betapa memalukan! Betapa bodohnya aku!

"Kau memang bodoh!" suara mendengung tiba-tiba, tajam mengejekku.
Suara siapakah? Mungkinkah suara malaikat? Atau, suara peri?

Bukan. Aku tahu itu bukan suaraNya. Pasti bukan Dia yang menegur dengan keras
di tengah siang. Sebab, siapa pun percaya, suaraNya lebih lembut dari dentingan
harpa, lebih merdu dari lagu burung-burung menyambut pagi.

Duh. Benarkah aku bodoh? "Kau memang bodoh! suara itu kembali mendesing
di telingaku. Nyaring dan menusuk jantung. Demi keinginan semu, kau membuang
hal terbaik yang telah kau terima."

Aku terpana. Lama mereka-reka makna kebodohan yang ditujukan kepadaku. Dan,
aku menghempas resah, menyadari kebodohanku. Ah, entah mengapa, aku malah
grogi saat mengajar. Ya, di depanmu, saat itu, aku jadi kurang konsentrasi.
Rasanya aku ingin memukuli kepalaku sembari mengutuk diri: "Keparat!
Bedebah! Jahanam! Berhentilah untuk memikirkan keindahan tubuh perempuan yang
bukan milikmu! Berhentilah bermimpi!

Ayo, bangunlah!"

Seketika aku terjaga. Aku terhenyak dari keinginan yang gila. Betul, aku
harus bangun dari lumpur kebusukan yang hendak menghisapku. Angan-angan durjana
untuk bergelut dan rebah dalam rangkulan perempuan

lain harus kusingkirkan jauh, sejauh aku bisa. Malah, aku harus terus bangun
dasar-dasar kokoh pernikahanku yang suci. Tentu aku tak ingin buah-buah pernikahanku
membusuk oleh nafsu tololku. O, mengapa aku jadi begini? Haruskah aku selemah
ini? Maka, kuserukan agar Dia mengerbangkan tangan, membungkusku dalam kuasaNya.

"Untuk apa kau ditolong?" tiba- tiba suara itu kembali menegurku.

"Agar aku tidak tersesat!"

"Edan! Bukankah selama ini kau tersesat?"

"Ya, aku adalah domba yang tersesat di lorong kekelaman."

Bahkan, kau senantiasa bangga atas kesesatan itu, dan menari-nari dalam lumpur
kesesatan yang menenggelamkanmu.

"Aku tahu…"

"Lalu, mengapa kau menadah pertolongan?"

"Karena domba ini ingin kembali. Tak kuasa domba keluar dari lubang
lumpur jika Sang Gembala tak menolong," jawabku serak. "Tanpa Dia,
aku akan semakin tersesat. Itu sebabnya, kumohon dengan sangat, Dia mengulurkan
tangan," lanjutku mulai terisak-isak. Tanpa kusadari airmataku mengalir
mencari muara.

Kau tersenyum. O, dalam senyummu, kulihat paras istriku. Dan, kau tertawa.
O, dalam tawamu, kudengar tawa anakku.

Olala, betapa gembira aku, sesuatu yang nyaris hilang oleh ketololanku telah
kembali. Aku tak ingin melepasnya. Aku tak ingin terhempas ke batu-batu padas.
Istri dan anakku adalah anugerah tak terhingga.

Rumah tanggaku adalah jejak langkahku menuju hari esok yang lebih baik. Keluargaku
adalah ikatan suci kehidupanku. Lalu, mengapa harus kutepis basuh keindahan?
Mengapa harus kunodai selendang putih dengan gelitik berselingkuh? O, dosa
laknat, terkutuklah!

Maka, di hari ketiga, hari terakhir aku mengajar, aku mulai agak tenang.
Hatiku tak berkecamuk lagi, tak seperti sapi gila. Apalagi kau duduk di kursi
belakang, seperti hari pertama kita bertemu. Dan kau lebih banyak diam dan
menunduk. Aneh, benar-benar aneh. Sikap itu kembali menimbulkan tanda tanya:
ada apa gerangan?

Kucoba membuat kehangatan, kau tak tersenyum. Kucoba membuat kelucuan, kau
tak tertawa. Bah! Mati aku! Siapakah yang menculik senyum dan tawamu?

"Biarkan saja!" suara itu mencegahku untuk bertindak lebih jauh.
Seketika aku tersadar. Ya, kembali kuingat Dia, lalu kuingat paras istri dan
anakku. Kuingat bunga kemesraan yang kami pupuk dalam taman rumah tanggaku.
Maka, aku tersenyum dalam balutan senyum istri dan anakku. Dan, aku menyelesaikan
tugas mengajar dengan cerah. Aku merasa dapat mengatasi gejolak perasaanku
yang konyol, merasa berhasil melewati godaan yang teramat kuat. Aku telah
berhasil menepis gelitik iblis.

Lalu, aku dan kau berpisah. Lega. O, lihat, Dia pun lega.

"Bolehkah aku menghubungi Mas?" tanyamu sesaat sebelum aku berlalu
bersama waktu larut.

Aku terdiam. Di dalam hati aku bilang, tidak. Tetapi, edan, kepalaku mengangguk.
Boleh. "Silakan," tanggapku.

Seminggu kemudian, kala hujan gerimis menghias jendela senja, kuterima SMS
darimu: "Mas, aku ingin menjadi penulis. Ajari aku." Bah! Pesan
singkat itu ternyata memperpanjang hubungan kau dan aku. Sehingga Dia jadi
geleng-geleng kepala. Maka, godaan kembali menggelitikku. Bisikan iblis kembali
menyeruak dada. O, di manakah Dia? Tolong, datanglah dengan sayap-sayap kudus.

Tetapi, entah kenapa aku semakin larut dalam lautan kelabu. Penulis? Cita-cita
sableng apa itu? Mengapa kau tidak memilih menjadi diplomat, bankir, atau
sekretaris? Parasmu cantik. Tubuhmu tinggi langsing.

Kulitmu kuning langsat, mulus selembut sutra. Rambutmu panjang, agak pirang.
Matamu bulat cemerlang. Apa lagi yang kurang? Mengapa tidak menjadi model
saja? Malah,meski aku belum tahu bakatmu, aku yakin, kau dapat menjadi artis
sinetron, dan bakal sejajar dengan bintang-bintang lainnya yang berpendaran
di langit jingga.

Tanpa kusadari, aku kembali terayun-ayun di ujung tali kebimbangan. Haruskah
kujawab? Atau, kudiamkan saja? Ah, aku memutuskan untuk tidak merespons, tetapi
konyolnya, tanganku malah meraih HP dan membalas via SMS.

Sejak itu, aku dan kau terus saling berbalas kabar, mencoba tak peduli atas
kegelisahanNya. Astaga! Jika istriku tahu, wah, bisa berabe. Aku bisa dinilai
kurang ajar, lelaki brengsek, suami tak bermoral, makhluk hidung belang. Ah,
untunglah istriku tak pernah mengutak-katik HP-ku. Tak pernah bercuriga.

Selalu percaya. Dan, kian sempurna kebejatanku karena tega menepis segala
kepercayaan istriku untuk godaan selingkuh yang tak jelas. Tetapi, oh, lihat,
kita tak bisa lari dari tatapanNya. Sejauh kita pergi, lari, sembunyi, Dia
senantiasa mengawasi.

Tahukah kau makna hubungan kita ini? Benarkah aku dan kau berselingkuh? Hubungan
saling bertukar informasi dan pendapat tergolong selingkuh? Dapatkah kau jelaskan
padaku? Sebab, aku tak tahu. Sama sekali tak kupahami. Demikian aku berusaha
berkelit, seperti penyamun. Lihat, Dia tertawa parau. Burung-burung tertawa,
kupu-kupu tertawa — mengejekku.

"Sebaiknya memang tak perlu kau pahami," tanggap suara itu tiba-tiba,
kembali menyergapku.

Sial! Suara siapakah itu yang selalu saja hadir kapan dan di manapun aku
berada? Suara itu selalu tahu apa yang ingin aku lakukan, bahkan yang masih
dalam pikiranku. Betapa hebatnya! Seperti tak ada tempat bersembunyi bagiku.

"Mengapa harus begitu?" tanyaku sinis.

"Karena kau harus menjadi seperti anak kecil untuk dapat memahami kehidupan
ini."

"Anak kecil? Usiaku saat ini sudah 37 tahun, bagaimana mungkin?"

"Tak ada yang tak mungkin!"

"Apa maksudmu?"

"Kedewasaan tak selamanya memberi kebahagiaan!" tegas suara itu.
"Apa lagi dalam memahami kehidupan, bertindaklah seperti anak kecil.
Polos, jujur, dan tak pernah menuntut."

"Ah, tak perlu berteori di depanku."

"Semakin dewasa keinginanmu, semakin sulit kaumengendalikan dirimu."

Aku termangu. "Menuduhku?!"

"Orang yang serong hati adalah kekejian bagiNya." Otakku membatu.

Di langit, malam tak berbintang. Lampu temaram memoles wajahmu. Angin mengusap
dedaunan, memberiku keberanian. Aku menatapmu dalam-dalam. Aku nikmati bolamatamu
yang segar, ingin memetik bibirmu yang ranum. Sementara ular mulai liar, menggerogotiku.
Beberapa pekan lalu ular itu menyusup ke dalam jantungku, dan bersarang. Beberapa
hari lalu, ular itu menggeliat, gelisah. Kini ular itu meronta ingin memangsa.
Oh, di manakah Dia? Mengapa Dia masih diam? Mengapa Dia tidak segera datang
menjamah, memutus jalinan busuk ini?

Kau tersenyum teramat sulit kuartikan. Matamu bekerjapan mengalahkan kecantikan
kerlap-kerlip lampu. Aku terpana. Semakin mabuk anggur jingga.

"Betapa senang hatiku, Mas. Atas bantuan Mas, mengajariku menulis, kini
sudah beberapa cerpen yang berhasil kutulis, lapormu," ceria, saat kita
kembali bertemu di kafe, tempat pertemuan yang kerap kita sepakati. Dan, aku
tak ingat, ini pertemuan yang ke berapa. Pertemuan dengan alasan belajar menulis
yang terus kita lanjutkan, entah sampai kapan. Terima kasih, ya, Mas,"
bisikmu.

Aku tersenyum juga tak kumengerti maknanya. Sebab, jalinan ini mulai kunikmati.
Bahkan, aku mulai berani memunggungiNya, dan sering pura-pura tidak tahu kehadiranNya
dalam keperihan. Padahal aku tahu, ke langit pun kita terbang, dengan sayap-sayap
fajar kita melayang, Dia pasti tahu. Ah. Betapa terluka hatiNya atas kekejian
yang kulakukan. Beberapa kali Dia menangis getir berbaur gelegar petir. Sementara
aku tetap berharap kau juga tidak memedulikanNya. Biarkan saja Dia terseret
gelombang nestapa. Dan kita merajut jalinan teka-teki ini dalam keringat biru
kelabu.

"Orang bebal tidak suka kepada pengertian," suara itu kembali terdengar
kali ini mendengus.

Aku tak peduli. Bahkan mencibir. Dan, hubungan antara kau dan aku — tanpa
Dia — terus kita pacu hingga embun berjatuhan di ujung rerumputan.

Dan, dalam dusta keletihan, aku tiba di rumah. Betapa terkejutnya aku karena
di pintu terpampang tulisan: Hai, kau yang serong hati, lebih baik bagi lehermu
diikatkan batu kilangan, dan kau diceburkan ke dalam laut.

Aku terperangah, teramat terpukul. Betapa keinginan telah merajaiku. Sudah
kubiarkan iblis menguasaiku. Terkutuklah aku! Dengan perasaan kalut, kupukuli
kepalaku, bahkan kubentur-benturkan kepalaku ke tembok. Biarlah aku mati!
Biarlah si bejat ini mati, membusuk dan dimakan cacing!

Di saat itulah, cinta kasih kepada istri dan anakku mengguyurku. Mendadak
aku sangat merindukan mereka. Ingin mendekap erat mereka. Segera aku menghambur
masuk, mencari mereka ke kamar, ingin menumpahkan sepenuh cinta yang tersisa.
Tetapi, mereka tak ada. Kamar kosong. Semua ruang, kosong. Di mana mereka?
Ke mana mereka? Aku mulai kalut, mencari-cari sambil memanggil-manggil dengan
keras. "Istriku…!

Anakku…!" tangisku, kehilangan.

Kekalutanku memuncak, salah seorang tetanggaku buru-buru menghampiriku, bicara
dengan gugup, "Maaf,Pak Darius. Istri dan anak Bapak tadi sakit keras.
Karena Pak Darius tak ada, kami berinisiatif melarikan mereka ke rumah sakit…"

Seketika langit runtuh menimpaku. Dan aku jatuh terhempas ke batu, terkapar…
terkekeh-kekeh…

Jakarta, 2004

Sumber: Suara Pembaruan, 27 Juni 2004

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.