COBAAN bagi kehidupan Cecep Muhayat (52) dan istrinya, Enik (43), belum berakhir.
Di samping kehidupannya yang tergolong ekonomi lemah, satu dari dua anaknya
menderita lupa ingatan. Anaknya yang satu lagi terancam putus sekolah karena
ketiadaan biaya.
Cecep mendapat penghasilan dari hasil kerjanya sebagai pedagang asongan rokok.
Ia berkeliling ke segala penjuru menjajakan dagangan rokoknya yang dikalungkan
di lehernya. Enik membantu mencukupi kebutuhan keluarga dengan berjualan sayur.
Eva, anak pertamanya, berhasil menyelesaikan pendidikan SD, SMP, dan selanjutnya
mencoba meneruskan pendidikan ke tingkat SMA. Tetapi sayang, baru dua bulan
mengecap pendidikan SMA-nya, Eva terpaksa berhenti karena ketiadaan biaya.
Itu terjadi sekitar delapan tahun lalu. Tetapi, akibat putus pendidikan di
tengah jalan tersebut terasakan hingga sekarang. Dari "patah semangat",
Eva kemudian mengurung diri, tidak mau makan-minum, tidak bersedia diajak
bicara, dan akhirnya yang terasakan hingga sekarang adalah Eva jadi lupa ingatan.
Sudah beberapa kali Eva dibawa berobat ke rumah sakit jiwa, termasuk ke RS
Hasan Sadikin (RSHS). Dokter di RSHS menyatakan, Eva bisa normal kembali asalkan
pengobatan dapat dilakukan secara terus-menerus dan intensif. "Tetapi
itu suatu yang tidak mungkin karena biayanya besar dan kami tidak punya uang,"
kata Cecep.
UNTUK mengurangi beban kehidupan Cecep, Dana Kemanusiaan Kompas (DKK) mendatangi
mereka dengan membantu dana. Cecep menempati rumah berukuran 2 x 6 meter di
sebuah gang kecil di Jl Inhottank No 60/200 B, RT 01 RW 04, Kelurahan Kebon
Lega, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kodya Bandung.
Ruangan di dalam rumah hanya disekat dengan kain yang sudah sangat lusuh.
Air minum masih minta kepada tetangga, listrik 60 watt diberi sambungan dari
tetangga juga.
Bantuan yang diberikan, kata Cecep, akan digunakan untuk biaya pengobatan
alternatif bagi Eva. Sekali berobat, kata Cecep, sekitar Rp 400.000.
Cecep juga mengatakan, adik Eva saat ini duduk di kelas 1 SMP. Anak itu sudah
diminta untuk tidak usah melanjutkan sekolah karena ketiadaan biaya. "Anak
itu tetap ngotot sekolah, padahal tagihan dari sekolah juga datang terus dan
tunggakan beberapa bulan juga belum dilunasi. Semuanya karena enggak ada biaya,"
kata cecep.
Cobaan bagi Cecep dan keluarga memang belum berakhir. (TIM DKK)
Sumber: Kompas, Kamis, 24 Juni 2004
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.