It is time that we Christians awake to the fact that the world cannot help us in anything that matters. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Realita Hidup

Dalam Kegelapan Aku Melihat Berkah

Submitted by riel on 25/06/2004 – 9:54 AM | 356 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

DALAM kegelapan aku melihat berkah. Begitu ungkapan Joko Warianto dan istrinya,
Suradiyah, ketika menerima sumbangan Rp 3 juta dari Dana Kemanusiaan Kompas
(DKK) pada awal Juni, atau tepatnya Rabu (9/6). Suami-istri tunanetra yang keduanya
berprofesi tukang pijat itu memang sedang dirundung malang.

Joko Warianto kini menderita kanker usus dan harus menjalani operasi, sementara
dana sepeser pun dia tak punya. Duka itu masih ditambah dengan kontrak rumahnya
yang sebentar lagi habis dan harus membiayai pendidikan dua anaknya, Eko Waluyo
Nugrahanto (SMP) dan Desi Setyorini (SD).

Semenjak menderita sakit, praktis Joko tidak bisa bekerja. Meskipun Istrinya
juga tukang pijat, hasilnya tidak selancar sang suami. "Perempuan itu
jarang pijat sehingga sudah bagus kalau saya mendapatkan pasien empat orang
sebulan," kata Suradiyah.

Ternyata penderitaan itu terasa bukan beban yang membingungkan, ketika banyak
tetangga memberikan bantuan, baik materiil maupun moril, agar Joko senantiasa
tabah. Joko lantas menunjuk nama Budi Sardjono, Bambang Triyanto, dan Sugiarto
, tetua Dusun Jamban, Desa Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, tempatnya
tinggal selama ini, banyak memberi pertolongan penderitaan Joko dan keluarganya.

Menurut Joko, ketiganya yang mengumpulkan uang dari warga dusun untuk memeriksakan
penyakitnya. "Waktu itu terkumpul Rp 700.000. Dengan uang itu saya diantar
ke RS Bethesda. Karena belum ada dana, saya menempuh berobat jalan. Untuk
operasi biayanya mahal. Dokter juga menganjurkan untuk minum obat jalan dulu,"
tegasnya.

SEBELUM menderita penyakit, kehidupan keluarga ini berjalan normal, meskipun
hanya pas-pasan. Sebagai tukang pijat Joko bisa memijat 80-90 orang per bulan.
Setiap kali memijat dia memasang tarif Rp 12.000 per orang sehingga dalam
sebulan bisa mengantongi Rp 800.000 sampai Rp 900.000. "Makanya saya
bisa menyekolahkan anak yang lelaki di SMP dan yang perempuan di SD. Saya
juga bisa mengontrak rumah, sekaligus untuk tempat praktik," kata Joko.

Akan tetapi, setelah dirinya menderita sakit sudah hampir enam bulan ini,
kehidupannya sekarang benar-benar seret. "Saya sudah tak mampu pijat
lagi, tetapi saya paksakan walau seminggu hanya mendapat empat orang. Saya
mudah capek dan perut saya juga sakit kalau terlalu capek," kata Joko.

Keterampilan memijat diperoleh Joko dari panti asuhan milik Dinas Sosial
Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Selepas dari pendidikan itu, Joko yang kelahiran
Solo ini berkelana dari kota ke kota. Sampai akhirnya dia terdampar di panti
pijat tunanetra di daerah Gowongan, Yogyakarta. Di tempat itulah dia bertemu
dengan Suradiyah yang kemudian dinikahinya.

Hidup dengan Suradiyah dijalani dalam perjalanan derita yang tak kunjung
habis. Setelah menikah mereka mandiri membuka praktik pijat di kawasan Pugeran,
Yogyakarta. Setelah kontrakan habis, mereka pindah ke Bugisan. Di tempat baru
ini mereka tak bertahan lama karena sepi pasien.

Mereka akhirnya menemukan tempat baru di kawasan Bantul. Seusai kontrak di
Bantul, Joko dan istrinya mulai limbung karena mereka tak mampu lagi menyewa
rumah. Penghasilan tukang pijat tak lagi mampu berpacu dengan kebutuhan hidup
yang makin membesar. Joko kemudian ditolong pengurus Persatuan Tuna Netra
Indonesia (Pertuni) Yogyakarta yang mengontrakkan rumah di wilayah Ngaglik,
Sleman, sekaligus sebagai tempat praktik pijat.

Timbal baliknya, keluarga Joko harus menyerahkan Rp 3.000 dari ongkos pijat
ke Pertuni. Dari pertolongan Pertuni inilah Joko mulai bisa menapaki kehidupannya,
namun kini penyakit datang menghadang. (TH.PUDJO WIDIJANTO)

Sumber: Kompas, Kamis, 24 Juni 2004

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.