Dulu waktu SMP, dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita sering banget dikasih
PR atau ulangan tentang kalimat atau kata yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan
(EYD). Buat yang pekerjaannya nulis, pelajaran bahasa Indonesia tentang EYD
di sekolah jelas-jelas membantu banget kala sudah dewasa.
Tapi di dunia pergaulan, Bahasa Indonesia juga punya versi lain, tetap EYD
tapi dengan kepanjangan Ejaan yang Dikacaukan. Entah dari mana datangnya atau
siapa pembuatnya, bermunculan berbagai istilah atau kata yang diplesetkan
baik pengucapan maupun maknanya untuk mengekspresikan perasaan atau mempertegas
keinginan.
“Asik… gretong…,” kata seorang teman gembira. Pada awalnya mendengar
dan mengucapkan kata itu terasa asing. Tapi lama-lama mengucapkannya terasa
lebih mantap dan gurih dibandingkan mengucapkan kata aslinya, gratis.
Ada lagi, plesetan lain, napsong. Waktu pertama kali denger, kirain artinya
lagu (song). Nggak taunya plesetan dari nafsu. Buat anak-anak muda ‘napsong’
jadi istilah lucu buat melucu atau sedikit memperhalus pengucapan, padahal
sih mengucapkan kata napsong lebih mantap dan gurih dibandingkan mengucapkan
kata aslinya, nafsu. Begitu dengan kata ‘ember…’, ’serebu…’, dan sebagainya.
Ada lagi yang lebih aneh dan tak punya makna langsung. Suatu kali seorang
teman dijodohin dengan seseorang. Reaksi spontannya, “Ih.. jijay bajay..”
Entah ini perpanduan kata dari bahasa India dan kata ‘bajaj’, kendaraan roda
tiga di Jakarta, saya kurang mengerti.
Tapi yang pasti bagi mereka yang mengucapkannya, rasanya lebih plong, afdol,
mantap, gurih untuk mengekpresikan rasa jijik atau ketidaksudian.
Bicara soal pengucapan memang punya kepuasan tersendiri. Plesetan kata yang
diucapkan membuat si pengucap lega, afdol, puas, mantap, gurih, dan sebagainya.
Bahkan tidak sedikit menjadi latah mengucapkan berbagai macam kata untuk mengekspresikan
rasa kaget. “Eh..kodok..kodok…” atau “Eh.. monyet…monyet…” 
Bahkan ada yang parah loh. Kalau nggak salah waktu saya masih SMP, sepulang
sekolah naik mikrolet Trans Halim jurusan Cilitan-Jengki. Beberapa saat sebelum
mobil berangkat, masuk seorang ibu mengisi satu tempat yang masih kosong.
Yang membuat saya terkejut, begitu duduk sang ibu dengan latah ngomong jorok,
“Eh…konxol.. konxol…” Parahnya lagi, sepanjang perjalanan di dalam mobil,
sang ibu tanpa rasa bersalah, berulang kali latah mengucapkan kata betawi
itu. Kontan saja, semua penumpang cuma geleng-geleng kepala senyum sendiri.
Mungkin si ibu terasa lega, plong, puas, mantap, gurih ketika mengucapkan
kata itu untuk mengekspresikan perasaannya. Edan…
Bila kita jujur, kita juga ikut terseret menggunakan kata-kata plesetan dalam
pergaulan sehari-hari. Sepanjang pengunaannya wajar dan pada tempatnya, tidaklah
masalah. Jangan seperti ibu dalam mikrolet itu, yang dengan mantapnya menyebut-nyebut..
“Eh…konxol… konxol…” Sobat UF nggak ada yang ‘parah’ seperti itu kan?
Atau ada? tapi dengan kata lain yang juga jorok? Kalau memang ada, udah saatnya
tuh untuk bertobat… 
Malu sama kucing tetangga. Kecuali kalau kamu udah nggak punya kemaluan, sehingga
dengan pedenya ngomongin kemaluan sendiri. He…he..he.. Yang ini juga termasuk
jokes yang sering dilontarkan dalam pergaulan. Rasa malu diplesetkan menjadi
‘kemaluan’. 
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.