Dua hari yang lalu, 16 Juni 2004, aku bersama adik dan nyokap menjenguk Mul – tukang
ojek depan gang rumah yang mencoba bunuh diri dengan minum baygon – di Rumah Sakit Agung,
Manggarai, samping McDonnald, Pasaraya Manggarai.
Saat dijenguk, Mul sudah sadar dan bisa duduk di tempat tidur. Badannya masih lemah dan
wajahnya terlihat lelah sekali. Mul merupakan anak sulung dari tujuh bersaudara. Ibunya sudah
meninggal dan ayahnya menikah lagi. Sebagai anak paling tua, Mul menanggung biaya hidup
keenam adiknya termasuk bapaknya. Dari cerita yang aku dengar, bapaknya seorang pengangguran.
Beban hidup Mul semakin berat karena ia berjuang setiap hari mengais rejeki hanya dengan
menjadi tukang ojek untuk menopang keluarganya.
Rumah Sakit Agung terbilang rumah sakit murah karena biaya inap satu hari
cuma Rp 50.000, berbeda dengan rumah sakit swasta lainnya. Meski demikian,
pelayanannya sudah cukup memadai dan tempatnya layak untuk merawat orang sakit.
Saat berkunjung itu, aku teringat betapa kontrasnya perbedaan hidup antara orang kaya dengan
orang sederhana seperti Mul. Banyak orang kaya dengan angkuh mengandalkan segala fasilitas
kedokteran yang canggih dan menganggap semuanya akan baik-baik saja karena didukung oleh
tenaga medis yang profesional. Sedangkan Mul harus berjuang mengumpulkan uang untuk biaya
rumah sakit.
“Lebih enak jenguk orang sederhana kayak Mul yah…,” kata adikku saat pulang. “Daripada
jenguk orang kaya, udah sakit, belagu lagi..,” lanjut adikku spontan. Saat itu aku hanya
tersenyum saja mengerti apa maksud adikku.
Melihat kehidupan Mul dan keluarganya, saya semakin mengerti bahwa banyak
saudara-saudara kita yang hidup dalam keprihatinan. (Di dunia, setiap hari
25.000 orang meninggal karena kemiskinan dan kelaparan. Setiap lima detik
ada seorang bayi yang meninggal. Itulah buah dari kegagalan dunia memerangi
kemiskinan). Bukannya saya mengganggap diri saya tidak mempunyai masalah.
Setiap kita mempunyai ‘keprihatinan’ dalam diri kita entah itu dari segi psikologi,
kesehatan, lingkungan, keluarga, dan sebagainya. Namun, saya belajar bahwa
melayani orang lain membantu kita mengatasi ‘keprihatinan’ kita sendiri. Melayani
orang lain membantu mengobati luka-luka batin dan secara perlahan melatih
kita untuk tidak melulu egois, mementingkan diri sendiri.
Banyak orang merasa kesepian meski sudah memiliki apa yang ia inginkan. Banyak orang merasa sendiri
meski di tengah keramaian. Mengapa? Karena dia melayani dirinya sendiri. Melayani orang lain
sudah menjadi kebutuhan primer dalam hidup ini. Tentu kamu setuju, bila saya mengatakan bahwa
memberkati orang lain membuat hati ini bahagia penuh sukacita.
Bagi saya kita harus satu langkah lebih maju dari pernyataan “Diberkati supaya memberkati” yaitu Memberkati, memberkati, memberkati.”
Mengapa? Sebab dengan memberkati kita sudah diberkati. Tidak peduli upah apa yang akan kita terima
dari pemberian kita, yang penting kita menjadi pelayan Tuhan yang tulus hati. Diberkatilah orang
yang memberkati!
Setelah setengah jam menjenguk Mul, kami bertiga meluncur ke Carrefour Ambassador Mal. Rasanya belanja
ke Carrefour sudah menjadi ritual keluarga minimal sekali sebulan. Menyenangkan sekali bisa ramai-ramai
belanja bareng keluarga. Oh yah, waktu kami duduk makan siomay di foodcourt, kami melihat Mawar AFI dan
Stinky lagi antri di kasir. Tidak lama kemudian muncul Cut Keke yang seksi. Kayaknya, Carrefour Ambassador
Mal jadi tempat belanja para selebritis. Tapi tetap aja, sukacita karena Mul selamat dari usaha bunuh diri
lebih dominan malam itu. Semoga Mul memeluk terang dan hidup di dalamnya.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.