NTT adalah provinsi yang memiliki penganut Kristen terbesar di Indonesia
(Katolik 53,9 persen dan Protestan 33,8 persen), total 87,7 persen.
Yang membuat saya sedih adalah kemiskinan masih menjadi persoalan utama
bagi masyarakat di NTT. Dengan kata lain, banyak sekali saudara-saudara kita
seiman yang hidup serba kekurangan.
Tercatat hingga Februari 2004, sebanyak 30 persen dari sekitar 4 juta jiwa
penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Pendapatan per kapita per hari hanya
berkisar Rp 3.500 hingga Rp 5.000 saja, Kinerja pendapatan per kapita di Nusa
Tenggara Timur adalah yang paling rendah (paling buruk) di Indonesia.
Untuk informasi tambahan, menurut studi yang dilakukan oleh Vincent Gaspersz
dan Esthon Foenay yang dilaporkan dalam Jurnal
Ekonomi Rakyat, Pengeluaran per kapita pada tahun 2001 dari penduduk Provinsi
Nusa Tenggara Timur atas dasar harga yang berlaku adalah sebesar Rp 1.125.240
per tahun atau Rp 93.770 per bulan. Pengeluaran per kapita dari penduduk perkotaan
di NTT adalah sebesar Rp 1.728.408 per tahun atau Rp 144.034 per bulan, sedangkan
pengeluaran per kapita dari penduduk pedesaan di NTT adalah sebesar Rp 1.015.380
per tahun atau Rp 84.615 per bulan. Hal ini berarti pengeluaran per kapita
per tahun dari penduduk perkotaan di NTT lebih tinggi sekitar Rp 713.028 (70,22%)
daripada pengeluaran per kapita per tahun dari penduduk pedesaan di NTT.
Pada tahun 2001 atas dasar harga yang berlaku terdapat sekitar 90,15% penduduk
NTT (3.493.298 orang) yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang
dari Rp 150.000 per bulan atau kurang dari Rp 5.000 per hari. Kelompok penduduk
yang memiliki tingkat pengeluaran per kapita kurang dari Rp 150.000 per bulan
atau kurang dari Rp 5.000 per hari ini terbanyak berada di daerah pedesaan
NTT yaitu sebanyak 3.104.959 orang (94,72%), sedangkan yang berada di daerah
perkotaan NTT adalah sebanyak 388.339 orang (65,04%).
Sangat sulit membayangkan betapa parahnya tingkat kemiskinan masyarakat di
Nusa Tenggara Timur, terutama di daerah pedesaan NTT di mana mayoritas penduduknya
(94,72% dari total penduduk pedesaan) hanya memiliki tingkat pengeluaran per
kapita kurang dari Rp 5.000 per hari pada tahun 2001 atas dasar harga yang
berlaku pada saat itu. Berdasarkan studi ini dapat disimpulkan bahwa telah
terjadi pemerataan kemiskinan di Nusa Tenggara Timur yang ditunjukkan melalui
rendahnya tingkat pengeluaran per kapita dari mayoritas penduduk di NTT.
Tidaklah mengherankan bila kemiskinan, yang akrab dengan NTT sejak zaman
Belanda hingga sekarang, membuat banyak anekdot tentang provinsi ini. NTT
dijadikan singkatan "Nasib Tak Tentu, Nanti Tuhan Tolong, Nasib Tambah
Terang, Ngalor-ngidul Tidak Tentu, Numpang Tanda Tangan, Negeri Tidak Tentram",
dan masih banyak lagi bentuk pelesetan yang akhirnya hanya memberi kesan begitu
kental tentang betapa terbelakangnya daerah ini dalam hampir semua aspek kehidupan.
Selain kemiskinan, pengangguran juga merajalela di wilayah seluas empat puluh tujuh ribu kilometer persegi ini. Kurangnya lapangan kerja di wilayah ini pada akhirnya membuat persoalan kemiskinan bagai lingkaran setan yang menurunkan tingkat kesejahteraan sektor lainnya.
Sedihnya lagi, tingkat kematian ibu hamil masih tinggi, 550 ibu di antara 100.000 proses kelahiran, demikian pula kematian bayi, 50 bayi di antara 1.000 kelahiran. Saya percaya dengan statistik ini karena belum 3 minggu Dhe melayani di sana, tanggal 23 Mei 2004, Dhe bercerita kalau ia sudah menangani kematian bayi saat lahir. Katanya bayi itu meninggal karena pendarahan.
Di bidang pendidikan, lebih tiga per empat penduduk masih berpendidikan tingkat sekolah dasar (SD) dengan angka buta huruf yang juga tinggi. Masih ingat kasus TKI Nirmala Bonat? Secara tidak langsung, kisah Nirmala mencerminkan kondisi riil tanah kelahirannya yang serba kekurangan. Ia harus pergi dari desanya yang terpencil, miskin, dan tandus agar bisa bermasa depan. Tidak angkutan umum seperti bus yang beroperasi ke sana. Hidup masyarakatnya sangat sulit terutama selama musim kemarau April-November.
Kondisi NTT semakin diperparah dengan minimnya sumber daya alam, maraknya korupsi dan migrasi tenaga-tenaga terdidik keluar wilayah ini yang menyebabkan laju pembangunan daerah berjalan lambat dibandingkan provinsi-provinsi lainnya. Belum lagi masih ditambah sisa-sisa persoalan keamanan berkaitan dengan wilayah perbatasan dengan Timor Timur.
***
Saya berharap informasi tentang NTT ini bisa membuka hati dan pikiran kita
untuk berdoa bagi saudara-saudara kita di NTT. Sungguh sukacita yang besar,
kalau ada di antara kita yang terbeban untuk membantu baik secara materi ataupun
terjun melayani di sana.
“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” (Gal 6:10)
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu
senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Matius 28:19-20
Artikel lainnya tentang NTT:
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.