Suatu hari, saat kita merasa haus, kita mampir ke kedai es kelapa kesukaan kita atau gerobak dorong yang sering mangkal dekat rumah, kantor atau kampus.
Minum es kelapa memang menyegarkan apalagi bila harganya murah meriah, seribu perak. Dengan semangat kita meneguk air kelapa sambil mencomot sedikit demi sedikit parutan buah kelapa lalu mengunyahnya. Sambil minum, kita menyaksikan gelas-gelas bekas pembeli mulai dirapikan oleh si abang. Banyak dari antara gelas-gelas itu masih terisi air dan daging kelapa.
Dengan cekatan si abang membuang sisa isi gelas-gelas itu ke dalam ember penampung lalu membilas seadanya gelas-gelas itu. Kita pikir, “Jorok juga, tapi nggak apa-apa, cuma dipake buat minum doang, itu juga pake sedotan.” Setelah dahaga hilang, kita langsung melenggang pergi lalu melupakan peristiwa singkat yang kita saksikan tadi.
Kemarin aku berbincang-bincang dengan seseorang yang mengetahui sedikit banyak strategi berjualan para abang-abang dalam menjajakan es kelapa atau minuman dalam kemasan botol seperti teh botol, sprite, coca-cola, dan sebagainya. Dalam perbicangan itu aku tertawa sambil geleng-geleng kepala.
Menurut cerita orang itu, ada di antara abang-abang pedagang itu yang berlaku ‘nakal’. Pedagang es kelapa dalam cerita di atas misalnya. Saat sepi dan persediaan es kelapanya sudah menipis, si abang tanpa ragu menjual kembali es kelapa sisa dalam ember itu, seolah-olah es kelapa yang masih baru. Kita berpikir es kelapa sisa dalam ember itu akan dibuang tapi rupanya ia jual lagi. Bagi pembeli tentu tidak ada bedanya karena tidak tahu kalau es kelapa yang dia minum itu adalah es kelapa sisa yang dikumpulkan dari gelas-gelas bekas pembeli sebelumnya.
“Yaks…,” kataku sambil geleng-geleng kepala. Modus operandi ini juga berlaku untuk pedagang minuman dalam kemasan botol. Ada pedagang teh botol yang menampung sisa air teh botol bekas pembeli lalu diisi ulang ke botol lain hingga penuh lalu ditutup kembali, seolah-olah teh botol asli. Padahal teh botol itu adalah teh botol hasil kumpulan dari sisa-sisa air teh botol. Bagi mereka, daripada rugi membuang sisa-sisa minuman itu, lebih ditampung, dikemas lagi, lalu dijual. “Nggak ada yang tahu ini…,” kata si pedagang dalam hati.
Yah, ini cuma sekedar info saja. Aku nggak bermaksud membuat sobat UF jadi parno setiap kali melihat pedagang es kelapa. Lain kali, coba amati tindak-tanduk pedagang minuman lalu perhatikan dibuang kemana air-air sisa itu. Siapa tahu pedagang langganan kamu punya praktek ‘ilegal’ seperti itu. Siapa tahu juga, kamu sudah bertahun-tahun minum air sisa es kelapa, teh botol dan sebagainya. Tapi, namanya jajan di pinggir jalan, pasti ada resikonya, entah nggak bersih, nggak sehat, dan sebagainya. Selamat mengamati!
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.