Semenjak, 23 Mei 2004, Dhe tinggal di Lembor, 2 jam perjalanan dari Labuhanbajo, ibukota Kabupaten
Manggarai Barat. Dua minggu sebelumnya, ia tinggal sementara di Labuhanbajo bersama Dokter Maria dan keluarga sambil
menunggu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten kembali dari Jakarta untuk mengantarnya ke Lembor. Selama 2 tahun,
di Lembor, ia akan menjalani pekerjaan sebagai dokter PTT yang mengepalai sebuah puskesmas di sana.
Di Labuhanbajo, suasana kota cukup ramai dan sinyal HP cukup jernih. Namun berbeda dengan
Lembor, di kota ini sinyal HP lenyap tak berbekas. Otomatis, komunikasi kami terputus, tidak
ada lagi SMS dan telepon lewat HP. Sayangnya lagi, telepon juga belum ada di rumah dinas tempat ia
tinggal.
Alternatif yang ada adalah, ia harus mampir ke wartel yang letaknya cukup jauh dari rumah dinas.
Kalaupun ia hendak menelepon, ia harus menelepon agak malam sekitar pukul 9, untuk menghemat biaya.
Perbedaan zona waktu juga cukup mempengaruhi. Saat di Jakarta pukul 8 malam, di Lembor sudah pukul
9 malam.
Rasanya sepi sekali tanpa SMS dan telepon. Perubahan ini cukup drastis mengingat kami selalu
ber-sms minimal 3 kali sehari bahkan pernah lebih dari 20 SMS sehari. Untungnya, berbagai kesibukan
bisa mengalihkan perhatianku sejenak dan memanfaatkan waktu yang luang untuk menjadi orang yang
semakin berkembang dan lebih baik.
Di satu sisi, aku bersyukur mengalami keadaan ini. Selama dua tahun ini, aku diberi kesempatan,
untuk menikmati ‘kebebasan’ mempersiapkan diri untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi, sebuah
kehidupan baru yang disebut keluarga. Kerap kali pikiran-pikiran negatif menghantui soal hubungan
kami ini, namun, setiap kali, aku mengarahkan hati kepada Tuhan, damai sejahtera dan pikiran
positif mengatasi rasa takut dan khawatir.
Ada banyak orang yang mengaku lebih baik menyerah daripada menjalani suatu hubungan jarak jauh. Mereka
berpendapat, hubungan jarak jauh tidak akan pernah berhasil. “Jauh di mata, jauh di hati,” kata
sebagian orang. Well, aku cuma bisa menjawab, “Kalau
belum dicoba bagaimana kita bisa tahu berhasil atau tidak? Lagipula, model hubungan jarak jauh
bukan untuk sembarangan orang. Jadi, suatu kehormatan istimewa bila Tuhan mengijinkan seseorang
menjalani hubungan jarak jauh.” Kira-kira beginilah keyakinanku. Ibuku juga kerap berkata, “Biarpun jauh-jauhan, kalau sudah jodoh, tidak akan
lari kemana-mana, pasti jadi. Dekat-dekatpun, sering bertemu pun, kalau nggak jodoh nggak jadi.”
Aku setuju dengan pernyataan ibuku ini.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh rekan-rekan kita yang menjalani hubungan jarak jauh
lintas negara dan lintas benua. Aku mendengar cerita dari tetanggaku, kalau ada saudaranya yang sudah menikah
harus berpisah dari suaminya yang sedang studi di Jepang. Atau seorang saudari yang kekasihnya sedang
pelayanan di pedalaman Sumatera Utara. Komunikasi hanya sekali sebulan dan pertemuan dalam setahun
bisa hanya satu kali.
Namun, mereka bisa bertahan menjalani keadaan ini. Memang tidak mudah, namun ada yang berhasil.
Daripada kita pusing-pusing memikirkan kemungkinan gagal, lebih baik kita mengarahkan pikiran,
dengan bertanya setiap hari, bagaimana kalau berhasil?
Rasanya proses penyesuaian diri belum berakhir. Baru seminggu ini, kami tidak lagi berkomunikasi.
Lama-kelamaan juga terbiasa. Lagipula, aku harus senantiasa ingat bahwa ini ‘Baik untuk Kami’. Tiada
putusnya aku bersyukur kepada Tuhan untuk penyertaan dan perlindungan-Nya. Aku tidak tahu apa yang
Ia siapkan untukku tentang hubungan ini di tahun-tahun mendatang. Namun, aku yakin, semua potongan
kisah masa lalu dan masa kini, suatu saat nanti akan menyatu dan membentuk sebuah lukisan kehidupan yang
indah di mata-Nya. Aku berdoa, Tuhan memberiku kekuatan.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.