To discuss the authority of Almighty God seems a bit meaningless, and to question it would be absurd. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Realita Hidup

Mbok Ponirah Mengayuh Becak demi Biaya Sekolah Anaknya

Submitted by riel on 25/05/2004 – 1:13 PM | 320 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Mbok Ponirah, ibu enam orang anak sedang mengayuh becaknya yang
ditumpangi tiga orang anak sekolah yang menjadi langganannya setiap hari sekolah,
di samping mencari penumpang lainnya .

SEPINTAS orang tak akan menyangka kalau sang pengayuh becak ini adalah seorang
perempuan. Ponirah (54) begitu nama warga Desa Njeblog, Madukismo, Bantul
ini. Bentuk potongan rambutnya yang menyerupai laki-laki atau potong cepak
kadang ala tentara, sempat membuat pelanggannya terkesima.

Sambil ngepos di Pojok Benteng Kulon, Jalan Bantul, Ponirah yang lekat dengan
caping, celana panjang, hem lengan panjang, ibu enam anak dan nenek dari dua
cucu ini mengayuh becak untuk mengais rezeki dan mewujudkan cita-citanya.

Sebenarnya cita-citanya cukup sederhana, tapi sangat mulia. Menyekolahkan
anak. Namun karena pendapatan suaminya yang buruh tani itu pas-pasan, Ponirah
nekat kredit becak. Becak merek "Budi" itu dibeli dengan angsuran,
per hari Rp 3 ribu dan kini sudah dilunasinya.

Kasih ibu sepanjang masa, itulah yang dilakonkan istri Supardjo (59) itu
setiap hari dengan memulai mengayuh becak sejak pukul 04.00. Namun baginya
tugas keluarga adalah yang utama. Subuh-subuh, ia sudah menyiapkan sarapan
dan membersihkan rumahnya. Sekitar pukul 07.00 ia mulai melalang buana dengan
becaknya. "Setiap pagi saya mengantar anak juragan saya ke sekolah,"
katanya.

Ponirah bangga bisa dipercayai antarjemput tiga anak sekolah. Perempuan jangkung
dengan postur tubuh layaknya laki-laki ini, sering dipanggil ‘Pak’. Namun
dengan lugu, perempuan yang mengaku tidak pernah mengenyam bangku sekolah
ini menyatakan, apapun panggilan orang kepada dirinya, ia tidak pernah memasalahkan.
Biasanya, katanya setelah tahu ternyata tukang becaknya perempuan, penumpang
lalu minta maaf. "Maaf ya Bu, saya tidak tahu. Saya kira bapak-bapak,"
ujar Ponirah menirukan penumpang yang keliru memanggil dirinya.

Entah karena tiap hari berpanas-panas, kulitnya pun kehitam-hitaman terbakar
matahari. Gayanya yang khas laki-laki terlebih ketika mengisap rokok kreteknya,
sempat membuat siapa saja akan memanggilnya ‘Pak’. Sambil menjawab pertanyaan
wartawan, Ponirah berbicara dengan lugas dan tidak pernah basa-basi.

Bukan hanya penumpang yang keblinger melihatnya. Sesama penarik becak pun
sering salah sangka. Pernah suatu ketika ia ditempeleng oleh penarik becak
lainnya. "Gara-garanya, sehabis menurunkan penumpang di Kotabaru, ada
penumpang lain naik. Saya dikira cari penumpang di daerah itu," paparnya.

Namun tamparan itu tidak pernah menyurutkan nyalinya untuk tetap berkarya.
Jika sepi penumpang, Ponirah selalu pulang menjelang Maghrib. Tetapi kadang
ia harus pulang lewat pukul 20.00

"Beberapa hari lalu saya pulang sampai rumah jam delapan malam. Saya
disuruh mengantar langganan periksa ke rumah sakit. Jadi harus menunggu sampai
selesai," katanya seraya mengaku tidak takut. "Saya sudah biasa
begini,”katanya.

Dia juga menuturkan, beberapa kali diganggu orang tetapi dia biarkan saja.
Saya tidak peduli dengan mereka. "Pernah ada orang mau bayar saya. Orang
itu meminta saya untuk memarkir becak saya, lalu mau mengajak saya pergi.
Tetapi saya tidak pedulikan dan saya tinggal pergi,” ujarnya.

Biar Sekolah

Seperti ibu-ibu yang lain, Ponirah juga berharap anaknya bisa menuntut ilmu
setinggi mungkin. "Saya ini bekerja untuk biaya sekolah anak-anak. Agar
anak saya pintar, modal saya hanya jujur dan halal. Karena itu saya tidak
pernah mau macam-macam," ujarnya.

Ponirah tahu bahwa bekerja di luar rumah, memang penuh risiko. Namun empat
belas tahun menjadi tukang becak, Ponirah tidak pernah menyerah. Apa lagi
hanya karena ditempeleng rivalnya.

"Selama saya kuat dan anak-anak masih butuh biaya sekolah saya akan
terus mbecak. Juragan saya baik-baik, anak-anak yang saya antar sekolah memanggil
saya ‘mak’. Mereka kadang minta dibelikan minum," ucapnya sambir cengar-cengir.

Dituturkan, saat ini ia tinggal membiayai anak bungsunya. Ponirah menceritakan
lima anak yang lain begitu selesai SMA langsung bekerja.

Dua bekerja di hotel, satu buruh, satu bekerja di kerajinan kulit dan satu
lagi bekerja di kerajinan patung. Anaknya terkecil masih duduk di kelas III
SMP. "Saya kebrojolan anak terakhir. Setelah punya lima anak, saya KB
streril. Lima tahun kemudian kok saya hamil lagi. Ya sudah memang sudah kehendak
Allah," ujarnya.

Walau demikian, Ponirah tidak rela bila anak-anaknya kelak mengikuti jejak
ibunya. "Biar aku sendiri saja yang seperti ini. Anak-anak tidak boleh.
Mereka harus sekolah, kalau sudah besar bisa bekerja yang lain," ujar

Penghargaan

Mungkin nasib Ponirah tidak seberuntung perempuan lainnya. Tetapi perempuan
‘perkasa’ ini adalah satu dari sepuluh perempuan penerima penghargaan "Ibu
Tahan Banting", yang diberikan ibu-ibu Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
(PKK) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Penghargaan itu diberikan dalam rangka peringatan Hari Kartini, Kamis (29/4)
yang lalu.

"Anak-anak saya waktu itu tidak ada yang tahu kalau saya mau terima
penghargaan," katanya.

Sesampainya di rumah, anak-anaknya malah menanyainya. "Saya malah diejek,
tadi naik mobil polisi ya? pakai dike-crek (diborgol) enggak? Waduh senangnya
salaman dengan Sultan dan Ratu Hemas," kenang Ponirah pada ejekan anak-anaknya.

Hadiah yang diterima Ponirah memang tidak besar, uang Rp 100 ribu dan sebuah
seprei. Namun penghargaan dan kesempatan bertatap muka dan bersalaman dengan
Sri Sultan dan Gusti Kanjeng Ratu Hemas yang membuat Ponirah bangga.

"Saya ini orang miskin yang tidak bisa baca kok ya diberi hadiah. Yang
paling senang, saya bisa salaman dengan Gusti Ratu dan Sri Sultan," katanya
dengan mata berbinar.

Ponirah tidak bisa menduga. Sampai di mana kekuatannya untuk menyekolahkan
anak bungsunya itu. "Biaya pendidikan sekarang ini mahal sekali. Yang
jelas selama saya kuat, tidak akan putus asa karena tidak ingin anak saya
putus sekolah. Saya bekerja agar anak-anak saya jadi anak pinter dan bisa
bekerja dengan baik, tidak seperti ibunya," kata Ponirah.

Ponirah memang benar-benar seorang ibu yang sejati. Ia pantas mendapat penghargaan.
Ponirah pun tidak ingin dikasihani, tapi kalau ada yang tergerak hatinya meringankan
beban beratnya mengayuh becak setiap hari demi sekolah anak-anaknya, tentu
Ponirah tidak akan menolak uluran tangan dari siapa saja. Semoga. PEMBARUAN/FUSKA SANI EVANI

Sumber: Suara Pembaruan, Sabtu, 22 Mei 2004 (Rubrik Nusantara)

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.