The life of God in the soul of a man is wholly independent of the social status of that man. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Faith

Kereta Kehidupan

Submitted by riel on 20/05/2004 – 6:33 PM | 261 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Aku tidak tahu mengapa aku ada di dalam kereta itu. Desis lokomotif tak henti-hentinya meraung-raung sementara
kereta membawaku melewati sejarah masa lalu. Aku melihat seorang anak kecil berlari lalu memukul anak lain. Tidak
berapa lama kemudian, aku melihat seorang pria muda hidup dalam ketakutan setiap hari, takut pada masa depan.

Masih dalam kebingunganku, aku melihat seorang pria tua berjanggut duduk tepat di sampingku. Senyumannya begitu segar,
pandangan matanya penuh kasih. Aku berpura-pura melihat ke arah lain karena tidak tahan menatapnya. Sepuluh meter dari tempatku,
tiga orang sedang menangis melihat ke luar jendela. Pakaian mereka sederhana, bahkan seorang diantaranya
berpakaian lusuh bak pengemis dan tubuhnya penuh dengan luka.

Sejenak aku mengamati mereka. Setelah lima tarikan nafasku, aku melihat mereka sujud lalu menengadah penuh senyum keindahan.
Mereka tertawa penuh kebebasan. Sebuah tawa bahagia yang tak bisa kugambarkan karena aku sendiri belum pernah tertawa seperti itu.
Aku iri melihat mereka mempunyai tawa itu.

“Salam sejahtera,” seseorang memegang bahuku. Rupanya, pria tua dengan senyumnya yang penuh arti itu. “Emm…,” aku
hanya bergumam karena sedikit kaget. “Kita hendak kemana? Mengapa aku ada di sini?” tanyaku kepada orang itu. “Selamat
bergabung, anakku. Hidupmu tidak akan pernah sama lagi,” kata orang itu. “Apa maksudnya?” tanyaku semakin bingung.

Barangsiapa percaya kepadaku, ia akan hidup. Aku datang supaya kamu mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.
Maut tidak dapat menguasaiku. Terang itu telah datang dan mengalahkan kegelapan,” kata orang itu penuh wibawa.

Sepertinya aku pernah mendengar kalimat-kalimat itu. “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Firman itu telah datang ke dunia, dan menjadi manusia. Jangan takut, sebab aku telah mengalahkan dunia,” kata orang itu
sambil menatapku dalam-dalam.

Aku merasa takut dan berdosa. Betapa berdosanya aku manusia yang lemah ini. Tangannya memegang daguku lalu mengarahkan mataku menatap matanya. Mata
yang begitu tenang dan penuh kedamaian.

“Aku tidak akan menghukummu. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi. Taatilah perintah-perintahku, percayalah,
kamu akan melakukan perkara-perkara yang lebih besar daripada yang pernah aku lakukan. Ketahuilah, aku akan
menyertaimu hingga kesudahan zaman.”

Air mataku mengucur deras. Beban dosa yang menghajarku setiap hari terangkat sirna. Jiwaku menjadi baru dan kehampaan yang
selama ini kurasakan tidak pernah ada lagi. Kilatan-kilatan masa lalu yang membuatku tertunduk malu kini tergantikan
dengan kilatan-kilatan masa depan yang bercahaya. Kemudian dia memegang tanganku lalu mengajakku melihat
ke luar. Kereta berjalan begitu cepat. Dari kejauhan, di depan, aku melihat cahaya putih keemasan berkilau-kilauan.

“Masa depanmu ada di tanganku. Percayalah, aku menjadikanmu baru seperti rajawali yang terbang tinggi. Jangan takut,
sebab aku mengasihimu,” kata pria tua berjanggut itu. Aku sujud lalu menengadah ke arahnya. Betapa bahagianya jiwaku yang
kini tersenyum indah. Aku tertawa… Dalam tawa yang tak pernah kualami sebelumnya. Tawa yang merangkul kemerdekaan,
diterima dan diampuni. Aku bebas…

Dalam sukacitaku itu, mataku menangkap sebuah tulisan di lantai kereta tempat aku berpijak, ‘Kereta Kehidupan’.
Jiwaku menari-nari bersama jiwa semua manusia yang ada dalam kereta itu. “Kami bebas, kami hidup..,” semua penumpang
bernyanyi bersahut-sahutan.

Berjam-jam lamanya aku menari dalam kereta yang akan membawaku menuju cahaya putih keemasan itu. Karena agak lelah,
aku kembali duduk lalu memejamkan mata. Jiwaku melayang meresapi manisnya pengampunan dan penerimaan. “Aku mengasihimu,”
seseorang berbisik padaku. Aku buka mata, lalu melihat seorang pendeta sedang berdiri di atas mimbar gereja yang berdiri gagah.
Tiba-tiba semua orang bangkit berdiri, lalu bernyanyi, “Semua.. telah berubah… dan aku… tahu… Yesus jamah… kujadi… baru…”

Semenjak hari itu, aku tidak pernah sama lagi. Pria tua berjanggut yang kutemui itu adalah Yesus. Ia memanggil semua kita
yang terhilang untuk kembali ke pangkuan Bapa. Betapapun berdosanya kamu, betapapun kamu merasa tidak layak, ketahuilah
Tuhan mengasihimu. Kembalilah kepada-Nya dan mulailah hidup baru bersama Dia. Bersama Dia, masa depanmu penuh damai sejahtera.

Kamis, 20 Mei 2004, Hari Kenaikan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku.

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

One Comment »

  • triana says:

    ketika kita msk kedlm keretaNya yg pasti Dia memberikan sesuatu yg indah yg tdk dpt diberikan oleh siapapun juga, sekalipun itu orang yg paling dkt dgn kita sekalipun. Dia pribadi yang tidak tergantikan dengan apapun dan oleh siapapun juga. GBU.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.