Dua minggu terakhir ini, boleh dikatakan laju atau percepatan aktivitas
yang aku kerjakan menurun. Aku memilih lebih banyak tidur. Biasanya aku tidur
pukul 11 malam, belakangan ini aku sudah terkapar di kasur pukul 8 atau 9
malam. Jujur saja, ada dua kebiasaan (pelarian) yang aku lakukan dikala berbeban
berat, bingung, jenuh dan lelah menjalani rutinitas keseharian.
Pertama, tidur. Ketika stres datang, aku memilih tidur.
Entah tidur lebih awal atau bangun lebih siang. Kebiasaan ini mulai muncul
semenjak aku masih SMP. Daripada pusing mikirin PR atau tugas sekolah, aku
pergi tidur. Parahnya lagi, kebiasaan ini sangat mendominasi ketika di bangku
kuliah. Kala UTS (Ujian Tengah Semester) atau UAS (Ujian Akhir Semester) tiba,
aku bukannya belajar tetapi malah tidur. Banyak temanku dalam belajar memilih
Sistem Kebut Semalam (SKS), kalau aku malah STS (Sistem Tidur Semalam).
Dengan entengnya aku malah belajar di pagi hari, beberapa jam sebelum ujian
dimulai. Aku pikir daripada belajar sambil terkantuk-kantuk dengan resiko
lupa lagi, lebih baik aku tidur. Enggak heran, nilai yang kukumpulkan selama
kuliah membentuk ikatan C (Carbon) yang sangat panjang. Kalo soal ikatan Carbon,
kayaknya K’Purnama lebih jago deh.
Kedua, belanja buku (mampir ke toko buku). Pelarianku adalah
toko buku atau tempat-tempat baru yang isinya buku. Bisa berjam-jam aku mondar-mandir
melihat-lihat buku. Kalau lagi tongpes (kantong kempes), aku harus puas cuci
mata saja. Kalau lagi punya duit meski pas-pasan, aku bela-belain belanja
buku. Pernah suatu ketika, aku belanja buku hingga ratusan ribu rupiah tanpa
ada perencanaan sebelumnya. Ada buku yang menurutku bagus, aku comot. Masa
bodoh, dengan pertanyaan “Apakah aku masih bisa bertahan hidup hingga akhir
bulan”. 
Buku adalah jendela dunia. Kita bisa mengetahui banyak hal dan belajar banyak hal lewat buku. Perubahan paradigma juga bisa diperoleh dari membaca buku. Mungkin inilah beberapa keuntungan dari membaca buku. Bagi sebagian orang, membeli buku justru boros alias membuang-buang uang. Tapi bagiku, uang yang dikonversi menjadi buku adalah bentuk investasi jangka panjang. Uang yang dikeluarkan akan berguna kelak, cepat atau lambat.
Jangan heran, kalau aku paling senang pergi ke pameran buku untuk mengumpulkan
buku-buku yang menarik bagiku. Sesuai dengan perkembangan usia dan pemikiran,
buku-buku yang kubeli juga mengalami transisi. Dulu sewaktu SD suka membaca
buku-buku cerita seperti Trio Detektif. Masuk SMP, aku malas baca buku. Masuk
SMA, aku mulai rajin membaca buku-buku psikologi dan buku rohani. Maklum,
sedang dalam proses pencarian jati diri. Masuk dunia universitas, buku-buku
penulis dan pemikir terkenal jadi santapan harian. Mulai dari buku tentang
motivasi, iman, karakter, inspirasional, sejarah, dan sebagainya. Sekarang,
aku lebih menggemari buku yang bisa membuat hidupku lebih baik, produktif
dan efisien. Intinya sih, buku-buku yang bersifat praktis dan bisa dipraktekkan.
Sekarang ada lima buku yang baru kubeli dan sedang dibaca diantaranya buku
Philip Yancey berjudul ‘Kabar Burung tentang Dunia Lain’, ‘Tokoh-tokoh Kristen
yang Mewarnai Dunia’ karya Rudy N. Assa, ‘Don’t Sweat the Small Stuff in Love’
karya Richard Carlson, Ph.D., ‘When Bad Things Happen to Good People’ karya
Harold S. Kushner, dan ‘Sang Utusan’ karya Kahlil Gibran.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.