IDE-ide para feminis sedikit banyak telah memberikan kontribusi pada perbaikan
kondisi perempuan di berbagai belahan dunia. Namun, di mana pun tempatnya,
feminisme sering kali menjadi kontroversi. Para peneliti feminis masih malu-malu
memberi label feminis pada penelitian mereka meskipun secara terang-terangan
telah mengadopsi teori para feminis. Para perempuan aktivis pun enggan menyebut
dirinya feminis karena begitu buruknya konotasi kata feminis itu sendiri.
STEREOTIP yang salah tentang feminis merupakan faktor penyebab utama munculnya
rasa antipati terhadap feminisme. Feminis identik dengan antilaki-laki. Sebagian
orang berpendapat para feminis adalah sekumpulan perempuan yang membenci laki-laki
(man-hater). Alasannya bermacam-macam, bisa jadi karena punya pengalaman buruk
dengan makhluk tersebut, terutama dikecewakan dalam cinta atau tak laku kawin.
Pandangan tersebut jelas tidak benar. Kenyataannya, banyak orang yang menamakan
dirinya feminis menikah dan punya keluarga bahagia. Stereotip ini muncul bukan
semata-mata kesalahan orang awam. Pada kenyataannya memang ada feminis yang
benar-benar man-hater. Konyolnya, kadang-kadang ada pula yang hanya karena
dia man-hater lantas menamakan dirinya feminis tanpa tahu tentang ide-ide
feminisme secara utuh.
Orang berpikir, karena benci laki-laki, feminis lantas ogah kawin (padahal
perempuan memutuskan tidak menikah bisa jadi karena alasan lain). Institusi
perkawinan dipandang sebagai tak lebih dari pembelenggu kebebasan perempuan
dan lain sebagainya. Yang orang lain mungkin tidak tahu adalah bahwa feminis
juga berpendapat tidak menikah bukanlah satu-satunya solusi untuk membebaskan
diri dari belenggu perkawinan.
Dari stereotip ini kemudian memunculkan stereotip lain, yaitu feminis lebih
suka jatuh cinta pada sesamanya alias menjadi lesbian. Kenyataan bahwa sebagian
feminis adalah lesbian semakin memperkokoh stereotip feminis sehingga tidak
hanya di Indonesia, di negara- negara Barat pun ide-ide feminis masih saja
ada yang menabukan.
STEREOTIP yang kedua adalah bahwa feminis adalah wanita karier yang berani
kepada suami. Sesungguhnya, tidak semua wanita karier bisa dikategorikan sebagai
feminis dan tidak semua feminis adalah wanita karier. Kata berani untuk menunjukkan
perjuangan wanita mendapatkan hak yang setara dari pasangannya menjadi sangat
berbahaya penggunaannya apabila pasangan kita adalah laki-laki yang adil dan
bijak, namun menjadi sangat tepat apabila dalam konteks di mana misalnya perempuan
menjadi pencari nafkah tunggal dalam keluarga, sementara suami kerjanya cuma
tidur di siang hari, kemudian main gaple sampai pagi, sementara semua kebutuhan
keluarga si istri yang menanggung, termasuk mengerjakan tugas rumah tangga
dan mengurus anak.
Bisa jadi apabila si suami "sekadar" main perempuan di luaran,
kata berani bahkan seharusnya memang digunakan. Namun, sangatlah jarang orang
mau mengerti dan berempati terhadap kondisi-kondisi seperti itu. Jika suami
menyeleweng, sering kali malah istri yang disalahkan.
Wanita yang bekerja di luar rumah juga menjadi si kambing hitam kalau anaknya
menjadi pencandu narkoba, misalnya. Orang masih percaya bahwa mendidik anak
adalah melulu tugas seorang istri, sementara ayah bekerja di luar. Akan tetapi,
kalau uang yang dihasilkan si ayah tidak cukup untuk hidup, orang lain cuek
saja. Atau kalau si istri yang cerdas hampir gila karena rutinitas rumah tangga
yang berkisar dari itu ke itu saja, orang lain tidak mau tahu karena memang
sepantasnya, atau sudah kodratnya, wanita ada di situ.
Akhirnya terciptalah stereotip yang lain, yaitu feminis adalah wanita yang
berusaha melawan kodrat, meskipun kata kodrat sendiri masih kurang jelas dalam
konteks mana harus digunakan. Definisi kodrat bisa jadi bermacam-macam, salah
satunya adalah ketentuan atau kapasitas yang diberikan Tuhan kepada satu spesies
yang tidak dimiliki spesies lain, misalnya saja burung bisa terbang, sedangkan
manusia tidak. Jadi, bisa terbang adalah kodrat burung.
Para feminis percaya bahwa biologis wanita adalah kodrat. Haid, mengandung,
melahirkan, dan menyusui adalah kodrat karena ketiga hal itu tidak tergantikan
oleh spesies lain (baca: laki-laki). Tetapi, apakah mengurus anak, memasak,
mencuci, mengepel lantai, dan menyetrika adalah juga kodrat? Sebagian orang
masih percaya hal-hal itu adalah kodrat, sementara para feminis sepakat bahwa
hal tersebut bukan.
Pendapat bahwa wanita dikaruniai kelembutan, kasih sayang, sehingga ia bisa
mengurus anak dengan kesabaran lebih daripada laki-laki, sebenarnya tidak
sepenuhnya benar. Penyiksaan terhadap anak juga bisa dilakukan secara bersama-sama
baik laki-laki maupun perempuan. Sebaliknya, tidak jarang kita temukan laki-laki
ternyata lebih telaten dalam mengurus anak-anak.
Para feminis psikoanalis percaya bahwa kelembutan dan kasih sayang telah
dimiliki baik perempuan maupun laki- laki sejak dalam kandungan. Pada perempuan
kemampuan tersebut lebih terasah karena sejak kecil mereka dibiasakan untuk
berpartisipasi pada hal-hal tersebut oleh lingkungannya, sementara anak laki-laki
pada usia yang sama sedang asyik bermain bola. Jadi, laki-laki tidak mengerjakan
pekerjaan rumah tangga bukan karena tidak bisa, melainkan karena tidak mau.
Kenyataan bahwa bentuk biologis wanita lebih mungil juga menjadi alasan bahwa
ia lebih pantas bekerja di dalam rumah, padahal pekerjaan di dalam rumah sering
kali lebih berat secara fisik dan mental daripada pekerjaan di luar rumah.
Selain itu, ternyata tidak semua wanita lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki
karena tubuhnya yang kecil. Buktinya, belum tentu suami saya yang sehari-hari
cuma berkutat dengan komputer sampai tak sempat berolah raga itu mampu mengangkat
tenggok simbok bakul beras yang sering lewat di depan rumah saya dan membawanya
sampai ke pasar kabupaten sendirian. Latihan adalah jawabannya.
KARENA orang telanjur menilai bahwa feminis melawan kodrat, maka sudah jelas
feminis adalah tidak agamis. Saya kira agama apa pun yang ada di Indonesia
setuju bahwa praktik homoseksualitas adalah tidak boleh. Kenyataan bahwa ada
feminis yang juga lesbian/aktivis lesbian mungkin menguatkan anggapan bahwa
feminis tidak agamis. Seorang teman dari Mesir dengan mantap mengatakan bahwa
seorang feminis pastilah bukan seorang Muslim. Benarkah feminis tidak bisa
menjadi Muslim sekaligus?
Teman sekelas saya, pada diskusi mengenai spritualitas, dengan pede mengaku
bahwa spiritualitasnya adalah feminisme, teman saya yang lain mengaku menjalankan
spiritual feminisme tetapi masih takut meninggalkan agamanya. Teman-teman
saya yang lain mengaku masih memegang teguh agama-agamanya dan menggunakan
feminisme sebagai pembanding. Sampai akhir kuliah, saya tetap merasa sebagai
seorang Muslim meski saya juga merasa bahwa saya juga seorang feminis.
Saya kira, sebagai feminis kita tidak perlu mentah-mentah menerima seluruh
ide feminisme karena feminisme sendiri tidak satu dan seragam. Buat saya,
Islam dan feminisme bukanlah suatu yang setara untuk disejajarkan. Pernyataan
kelompok New York Radical Women dan Redstocking Manifesto, yang memproklamasikan
bahwa mereka memperjuangkan apa yang terbaik bagi wanita dan tidak mengakui
sesuatu yang bersifat moral, bukanlah merupakan pernyataan keharusan bagi
setiap feminis.
Perasaan ambivalen sering kali muncul apabila berhadapan dengan isu-isu lesbianisme.
Seorang teman saya yang lesbian mengatakan bahwa berbeda dengan kaum gay yang
beranggapan bahwa menjadi homoseksual adalah takdir, kaum lesbian menganggap
menjadi lesbian adalah pilihan.
Bagi saya, segalanya menjadi jelas, jika teman Muslim saya memilih untuk
tidak berpuasa di bulan Ramadhan, saya tidak akan memaksanya untuk berpuasa
karena saya sama sekali tidak berhak atas diri orang lain. Dan untuk keputusannya
itu, ia tidak lantas tidak lagi menjadi teman saya.
Jika ideologi feminisme ternyata tidak monolitik, maka apa benang merahnya
sehingga orang bisa disebut feminis atau bukan feminis? Keberpihakan pada
memperbaiki kondisi perempuan agar jadi lebih baik jelas menjadi kuncinya.
Bagaimana caranya, bagaimana formatnya, terserah kita. Seorang teman bule
saya menyimpulkan: feminism is x, di mana x adalah sebuah definisi yang ditentukan
oleh kualitas personal yang dibentuk oleh pengalaman dan latar belakang sosial,
budaya, ekonomi, religi…, dan entah apa lagi.
Penulis: Siti Y Mazdafiah Ibu Rumah Tangga, Sedang Menyelesaikan Program
Master pada Women’s Studies Department, Memorial University of Newfoundland,
Kanada
Sumber: Kompas, Selasa, 04 Mei 2004
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.