Rabu Abu (Katolik) 25 Februari 2004 diperingati dengan
pemutaran film ‘THE PASSION OF THE CHRIST’ secara serempak di 2.000 gedung
bioskop di Amerika Serikat dan Australia. Apa keistimewaan film yang
disutradarai oleh Mel Gibson sehingga sangat mengesankan Paus Yohanes
Paulus II dan membuat Billy Graham menitikkan air mata ini?
Menurut harian
Kompas edisi Senin 16 Februari 2004, orang Yahudi menuduh film ini
mengobarkan semangat anti-semit (anti Yahudi) melalui penggambaran betapa
jahat perlakuan kaum Yahudi kepada Yesus, sehingga Yesus harus mengalami
penderitaan yang begitu hebat, bahkan sampai mati di atas kayu salib.
Di
samping itu majalah NEWSWEEK juga memberitakan terjadinya beberapa mujizat
yang terkait dengan film ini, termasuk pengalaman bintang film James Cavi
ezel, 35, yang tersambar petir namun bisa menyelesaikan pembuatan film
ini.
The Passion of The Christ (Sengsara Kristus) menceriterakan tentang 12 jam
terakhir kehidupan Tuhan Yesus sebelum akhirnya mati di atas kayu salib. Yang
membuat film ini berbeda dengan film-film Yesus lainnya adalah penggambaran
secara detail penderitaan Yesus yang begitu memilukan sehingga tubuh-Nya hancur
luluh bermandikan darah.
Produser Mel Gibson (terkenal melalui film Lethal Weapons dan Brave Heart)
sempat mengemukakan alasannya, “Saya ingin menggambarkan betapa dahsyatnya
penderitaan Yesus sehingga penonton menyadari penderitaan macam apa yang dialami
Yesus. Film ini sangat penuh dengan kekerasan, sehingga jika anda tidak suka
(melihat Yesus disiksa sedemikian rupa) sebaiknya jangan menonton. Atau jika
anda ingin keluar pada saat film baru setengah main, silakan!” Tetapi Mel
pun sempat menambahkan argumen lain tentang filmnya, “The Passion of The Christ
bercerita tentang iman, harapan, kasih dan pengampunan.”
Terlepas dari kometar DR. Billy Graham yang menyatakan bahwa “The Passion
of The Christ merupakan kotbah seumur hidup dalam satu film”, banyak orang
Yahudi merasa ketakutan bakal berkobarnya lagi semangat anti-semit (anti
Yahudi) gara-gara film ini. Belum hilang dalam ingatan mereka bagaimana
Hitler secara kejam mencoba melenyapkan bangsa Yahudi dari atas muka bumi
pada masa Perang Dunia II yang lalu.
Pertanyaan: ‘Siapa sesungguhnya yang membunuh Yesus?’ apabila ditinjau dari
fakta sejarah menunjukkan bahwa kekaisaran Romawilah pelakunya. Sementara
dari sudut theologi, dosa seisi dunia yang mengakibatkan Yesus mati di atas
kayu salib.
Namun dalam film ini diperlihatkan bagaimana Kayafas, imam agung Yahudi memimpin
massa yang begitu kesetanan menuntut agar Yesus disalibkan! Untung, akhirnya
Mel Gibson memutuskan untuk membuang adegan yang memperlihatkan bangsa Yahudi
yang haus darah berteriak: “Ia harus disalibkan! Biarlah darah-Nya ditanggungkan
atas kami dan atas anak-anak kami!” (Mat 27:25)
Dibuat berdasarkan ke empat Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes),
film senilai USD $25 juta (Rp. 210 milyar) ini mengambil lokasi di Matera
- Roma, Itali dan dibintangi antara lain oleh James Caviezel sebagai Yesus
(secara kebetulan, sama-sama berinisial JC), Maia Morgenstern (Maria ibu
Yesus), Hristo Jivkov (Yohanes) serta Monica Bellucci (Maria Magdalena).
Percakapan dalam film ini menggunakan bahasa Latin dan Aram, sehingga mencantumkan
sub-titel bahasa Inggris. Adapun fokus dari film ini adalah 12 jam terakhir
kehidupan Yesus yang diselingi beberapa adegan kilas balik masa kecil Yesus,
penduduk Yerusalem sedang mengelu-elukan Yesus yang naik seekor keledai, kotbah
di bukit dan perjamuan terakhir.
Adegan penangkapan, penahanan, penyiksaan serta penyaliban Yesus diperlihatkan
dengan begitu jelas, sangat detail dan terlalu kejam sehingga dikategorikan
sebagai R-rated (Restricted = hanya boleh ditonton oleh orang dewasa). Salah
satu mata Yesus tidak bisa melihat karena tertutup kelopak matanya yang membengkak
akibat pukulan ketika Ia diseret dari taman Getsemani.
Siksaan prajurit-prajurit Romawi, perjalanan panjang menuju bukit Golgota
dengan kayu salib di atas bahu-Nya, dan pemakuan tangan serta kaki Yesus di
kayu salib ditayangkan dengan begitu sabar dan cukup lama. Pengaruh adegan
kekerasan ini pada awalnya membuat shock, lalu mencekam, dan pada akhirnya
memaksa penonton berfikir bagaimana seseorang masih sanggup bertahan hidup
di bawah siksaan jasmani yang begitu berat.
Memang ada juga adegan lembut dari Maria Ibu Yesus dan Maria Magdalena. Ketika
Yesus berseru di atas kayu salib, ‘Sudah genap!”; ibunya, yang menyaksikan
anaknya yang disiksa dengan brutal menghembuskan nafas terakhir, berbisik
lirih, “Amin.”
Dalam beberapa interview, Mel Gibson menceritakan kejadian-kejadian yang
mengagetkan, bahkan mujizat-mujizat yang terjadi selama pembuatan film. “Banyak
perkara supra natural terjadi. Contohnya, orang-orang disembuhkan dari penyakit,
beberapa disembuhkan pendengaran dan penglihatannya. Ada orang yang kena kilat
waktu kami sedang membuat film penyaliban, tetapi dia langsung berdiri dan
melanjutkan pekerjaannya.
Kuasa dari naskah filmnya sendiri sangat menarik. Misalnya, kasus seorang
perempuan berusia 6 tahun, anak dari crew film. Anak perempuan ini selama
sebulan terakhir tidak lagi mengalami serangan epilepsi/ayan. Padahal sebelumnya
ia mengalami serangan sampai 50x sehari. Lalu ketika pengambilan adegan Yesus
menyerahkan nyawa-Nya, diaturlah cahaya terang kilat (lightning) meliputi
bumi. Saat itu, banyak crew dan pemain film melihat cahaya tersebut sangat
terang, melebihi kapasitas cahaya yang ditargetkan.
Seketika itu juga banyak crew dan pemain yang tersentuh hatinya dan bertobat.
Begitu pula saat pembuatan film tersebut, banyak orang sekitar yang menonton
sehingga mereka BERTOBAT dan DISEMBUHKAN! Gibson sangat kagum bagaimana film
ini telah menjamah hampir semua aktor dan artis dalam cara yang menyentuh
dan secara pribadi.
Di Australia, Grace Sihombing yang menyaksikan tayangan TV tentang pembuatan
film The Passion of The Christ juga mengalami hal yang begitu luar biasa:
“Saya baru nonton ‘Making the Passion of the Christ’, semacam ‘behind the
scene on how the movie was made’ (apa yang terjadi di balik pembuatan film).
Tiba-tiba Roh Kudus menguasai saya dan saya menangis sementara menyaksikan
cuplikan film serta komentar para crew dan pemain.
Ketika memandang salib yang tergantung di dinding kamar, saya berseru kepada
Tuhan: “Crucify me Lord, crucify my flesh so I may live!” (=Salibkan aku Tuhan,
salibkan tubuhku supaya aku hidup!). Baru melihat cuplikan adegannya saja
sudah membuat seseorang bertobat. Sungguh suatu karya yang diberkati dan dipakai
Tuhan.
Bagimana halnya dengan komentar tokoh-tokoh Kristen tentang film ‘The
Passion of The Christ’? Banyak orang yang sempat menyaksikan film ini
berkata bahwa ‘The Passion of The Christ’ bukan sekedar film, melainkan
suatu pengalaman. Suatu pengalaman yang harus dibagikan kepada orang lain!
Rick Warren, pendeta dari gereja Saddleback Valley Community
dan penulis buku The Purpose Driven Life berkata, “Saya tidak bisa membayangkan
film lain yang telah membuat saya begitu bersukacita dalam 20 tahun terakhir.”
Pastor Warren mempromosikan film ini di gerejanya dan sudah memborong 18.000
tiket (bandingkan dengan jemaat di gereja kita masing-masing).
Don George, pastor dari Calvary Temple of Irving, Texas
berkata, “Saya sarankan anda menonton film yang masuk kategori R-rated ini.”
Banyak umat Tuhan melihat bahwa melalui film ‘The Passion of The Christ’
akan terbuka kesempatan menjangkau orang-orang yang selama ini belum pernah
mendengar nama Yesus. Pastor Dan Marler dari Oak Lawn First
Church of God berkata, “Film ini menimbulkan gelombang tsunami yang akan memacu
orang-orang tertarik kepada pribadi Yesus.”
Outreach, sebuah perusahaan Kristen, menangani pemasaran
film ini. Tidak cuma sekedar sebuah film, melainkan juga sarana penginjilan.
Perusahaan ini menggunakan semua jenis alat promosi seperti gantungan pintu
sampai poster.
Bahkan NASCAR (organisasi lomba balap mobil Amerika Serikat)
ikut-ikutan hanyut dalam kehebohan ‘The Passion of The Christ’. Dalam lomba
Daytona 500, kap mesin mobil Bobby Labonte nomer 18 ditempeli iklan film ini.
Jemaat gereja pun sudah ada yang ancang-ancang memenangkan jiwa melalui
film ini. Harmony Moses, jemaat gereja Baptis Prestonwood
berkata, “Saya sudah mendapatkan beberapa nama yang akan saya doakan dengan
sungguh-sungguh supaya mereka mau pergi nonton bersama kami. Siapa tahu akan
terjadi perubahan mendasar dalam hidup mereka?”
Pastor Ted Haggard, presiden Asosiasi Penginjilan Nasional
sekaligus gembala New Life Church yang gerejanya dipakai untuk memutar film
‘The Passion of The Christ’ di depan 800 pendeta Kristen, berkata, “Kami sama
sekali tidak meragukan. Kami telah menyaksikan film yang begitu akurat menggambarkan
apa yang tertulis di dalam alkitab. Selama 18 tahun saya menggembalakan New
Life Church, sudah ada ratusan bahkan ribuan orang yang berdiri di mimbar
sebagai pembicara. Tapi saya belum pernah melihat rasa takut dan hormat akan
Tuhan, kerendahan hati dan perasaan berdosa yang begitu mendalam ada di atas
mimbar seperti yang saya lihat ketika Mel Gibson berdiri di sana sebagai pembicara.”
100 pemimpin Kristen lain sempat berkumpul di Burbank, California untuk
menyaksikan tayangan khusus ‘The Passion of The Christ’. Dr. Paul
Cedar, pejabat Mission America Coalition (MAC- peng-organisir pertemuan
ini) sangat percaya bahwa film ini memberi kesempatan yang begitu besar kepada
umat Kristen Amerika untuk memperkenalkan Yesus kepada masyarakat. “Puluhan
ribu orang akan datang untuk percaya kepada Yesus melalui film ‘The Passion’
ini.”
Major Charles F. Gillies, Jr., sekretaris penginjilan,
doa dan rohani dari Bala Keselamatan wilayah barat Amerika berkata, “Film
ini terlalu kejam tetapi realistis – bila hal ini tetap tidak menyentuh hati
seseorang, saya tidak tahu hal apa lagi yang bisa bikin seseorang bertobat.”
Rev. Wayne Pederson, presiden MAC berkata bahwa film ‘The
Passion’ bisa jadi merupakan sarana penginjilan yang paling kuat yang ada
di pasaran karena “hari yang paling penting dalam sejarah adalah hari di mana
Yesus mati di atas kayu salib untuk menanggung dosa seisi dunia. ‘Sengsara
Yesus’ secara efektif dan kuat mengungkapkan harga mahal yang harus dibayar
oleh Anak Manusia atas ketidaktaatan kita.”
Lebih dari 5.000 pendeta dan pemimpin Kristen yang mewakili lebih dari 80
denominasi dari 43 negara sempat bertatap muka dengan Mel Gibson serta menyaksikan
‘The Passion of The Christ’ dalam konferensi Global Pastors Network (GPN)
yang diselenggarakan pada 21 – 23 Januari 2004 di Calvary Assembly, Orlando.
GPN merupakan gabungan pelayanan Kristen yang bekerja sama untuk melatih,
memperlengkapi, dan membantu hamba-hamba Tuhan di seluruh dunia.
Pertemuan selama 3 hari tersebut berpusat pada topik pembahasan “Tujuh langkah
menuju pelayanan yang maksimal” yang dimaksud agar bisa menolong para gembala
bekerja lebih efektif. Pembicara dalam konferensi ini antara lain D. James
Kennedy, pendiri Evangelism Explosion; Reinhard Bonnke, pendiri Christ for
All Nations (Kristus Bagi Segala Bangsa); Kay Arthur, pendiri Precept Ministries;
Jack Graham, presiden Southern Baptist Convention; Bishop Eddie Long, pastor
New Birth Cathedral; Tommy Barnett, penulis dan pastor; Ted Haggard, presiden
National Association of Evangelicals; Chuck Norris, actor sekaligus juru bicara
Max.com; serta Bishop David Oyedepo of Nigeria.
Dr. Erwin Lutzer, pastor Moody Church di Chicago menambahkan, “Kita yang sering
skeptis/tidak percaya (dengan apa yang dihasilkan Hollywood) benar-benar merasa
disegarkan dan diberkati karena bisa menyaksikan film Mel Gibson ini.”
“Film ini tidak malu mengungkapkan kebenaran”, kata pastor Sunday Adelaje
dari Kiev, Ukraina (dulu bagian dari Uni Soviet). “Saya sudah berkotbah
selama 20 tahun dan tidak pernah melihat kisah tentang penderitaan dan
penebusan yang diceriterakan dengan begitu meyakinkan seperti yang
dilakukan oleh Mel Gibson. Film ini tidak hanya akan merubah hidup, tetapi
juga akan merubah gereja, merubah bangsa dan merubah dunia!”
“Setiap orang Kristen harus menonton film ini", kata Rick Joyner. The
Passion of The Christ memiliki kuasa untuk membawa perubahan dalam kekristenan.
Ada urapan dan kuasa dalam film ini. Bahkan sebelum saya menyaksikannya, saya
tahu bahwa film ini mempunyai kuasa untuk mulai merubah kekristenan. Memang
kedengarannya terlalu dilebih-lebihkan, tetapi saya percaya bahwa hal ini
akan menjadi kenyataan. Merupakan doaku yang sungguh-sungguh agar setiap orang
Kristen bisa menonton film ini.”
Mari kita berdoa untuk film ini agar tidak dicekal di negara manapun di dunia
ini, karena akan membawa tuaian yang sangat sangat sangat banyak. Injil akan
diberitakan ke seluruh dunia melalui ‘The Passion of The Christ”. (PW)
* Artikel ini dikirimkan ke UF lewat e-mail dari David R.
Popularity: 2% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.