Bulan April ini detak waktu terasa mendebarkan. Bukan hanya karena larinya yang terasa
terlalu cepat namun juga karena meningkatnya kesadaran bahwa waktu yang dimiliki semakin terbatas.
Waktu itu dimana-mana sama saja. Entah aku sedang duduk menikmati nasi goreng kambing di Brimob,
Pasar Minggu atau sedang duduk menikmati hidangan hotdog di Frankfurter Hotdog, Cilandak Town Square,
waktu selalu berkata bahwa dunia ini mempunyai keterbatasan yang mengikat. Ada masanya
menanam, ada masanya menuai, ada masanya tertawa, dan ada masanya menangis.
Meski demikian, aku bersyukur kepada Tuhan bahwa kasih setianya tidak terbatas oleh waktu dan
ruang. Kesetiaan-Nya memenuhi seluruh alam semesta, merangkul segala isinya terlebih lagi manusia ciptaan-Nya
yang untuk sementara waktu terkukung dalam kemah yang fana, dibalut daging dan darah.
Aku bersyukur kepada Tuhan karena Firman-Nya terus bercahaya menerangi setiap langkahku. Aku
bersyukur kepada Tuhan karena anugerah-Nya yang mau menerimaku apa adanya, melihat jauh ke dalam,
menembus kubangan lumpur dalam hatiku menuju pusat keberadaan diriku di tengah alam semesta ini.
Aku bersyukur bahwa Kristus telah mati bagiku dan bangkit memberiku kemenangan, kemenangan
akan maut termasuk kemenangan terhadap kungkungan keterbatasan waktu. Aku bersyukur karena Dialah
Allahku, gunung batuku, tempat perlindunganku, dan sumber pertolonganku. Bersama Dia, aku takkan goyah.
Aku bersyukur karena Tuhanku selalu tahu apa yang terbaik untukku. Tiada ragu lagi, aku berkata,
“Bukan kehendakku yang jadi, tapi kehendak-Mu lah yang jadi”. Amin.
* Rangkaian Tulisan Pembuka menjelang bulan Mei 2004, sebuah awal
perjalanan…
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.