Truth is not a thing for which we must search, but a Person to whom we must hearken. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Realita Hidup

Paskah dan Mereka Yang Terlupakan

Submitted by riel on 10/04/2004 – 10:40 AM | 485 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

PEMILIK muka bulat dengan keripun di hampir seluruh permukaan wajahnya itu
bernama Maria Magdalena, yang akrab disapa Oma Maria. Perempuan itu berusia
84 tahun. Sejak dua tahun lalu ia sering merasakan ngilu pada tulang persendiannya.
Jalannya pun bongkok, seperti Semar dalam tokoh pewayangan.

Kemana pun dia pergi, ember plastik berwarna biru tidak pernah tertinggal
dari jinjingannya. Di dalam ember biru itu tersimpan balsam, minyak telon,
obat tetes mata, salonpas, tanchoplas, serta perlengkapan menyulam. "Kalau
nggak ada tancoplas ini, tulang sakit dan saya nggak bisa jalan," keluh
Oma Maria, Jumat (9/4).

Pendengaran perempuan jompo itu sudah tidak berfungsi sama sekali sejak dua
tahun lalu. Penglihatannya juga sangat terbatas, hanya bisa membaca huruf
capital pada jarak lima sentimeter. Bila berjalan, seluruh tubuhnya bergetar
dan bergoyang-goyang.

Oma Maria adalah penghuni tertua di Panti Jompo Marfati di Jalan Sitanala,
Kota Tangerang. Ia tinggal bersama 14 teman jompo lainnya. Oma Maria tinggal
di sana sejak 12 tahun lalu. Dengan biaya tidak tentu, termasuk sering kali
mendapat sumbangan dari pihak gereja dan lingkungan setempat, Oma Maria tidur
di kamar bersama tiga temannya.

Oma Maria merasa sangat berbahagia tinggal di panti jompo ketimbang di rumah
sendiri di Depok. Ia tidak pernah membayangkan kembali ke rumah. Apalagi putra
satu-satunya telah meninggal 15 tahun lalu. Saat ini, memang, ia masih memiliki
tiga cucu, dua lelaki dan satu perempuan.

Dua cucu lelakinya bekerja di sebuah perusahaan swasta dengan gaji, yang
kata Oma Maria, cukup besar. Cucu perempuannya bekerja sebagai sekretaris
di sebuah perusahaan swasta, sembari kuliah. Mereka biasa datang setahun sekali.
Biasanya pada Hari Raya Natal. Selebihnya, jika tidak disurati mereka tidak
pernah datang.

Pada Paskah kali ini, Oma Maria tidak yakin kalau ketiga cucunya akan datang.
Apalagi ia lupa mengirim surat. "Sejak jatuh dari tangga beberapa tahun
lalu, saya jadi sering lupa," kata Oma Maria.

"Saya nggak pernah mau ngrepotin cucu-cucu," kata Oma Maria. Meski
tubuhnya lemah, karena dua hari lalu diare, di panti jompo itu ia masih saja
membuat sleyer yang ia jual seharga Rp 50.000 per lembar. Sepanjang hari,
ia tekun membuat sleyer dari sulaman selain tidak lupa pula berdoa. "Kita
harus terus berdoa kepada Allah supaya diberi sehat," katanya.

Menurut Suster Lucia, yang sehari-hari merawat para jompo, kehidupan para
jompo sangat menyenangkan. Perilaku mereka seperti anak kecil yang tak jarang
menggelikan.

Sebagai contoh, setiap hari ada seorang dokter rutin memeriksa kesehatannya.
Sekali saja dokter itu melewatinya karena menganggap dia sehat, lain kali
dia tidak akan mau diperiksa. Bahkan obatnya dikembalikan sama dokter, dengan
alasan sudah sembuh.

Demikian pula ketika mereka berminat ingin meberikan suatu benda kepada kita,
mereka tidak bisa dicegah. "Tadi pagi ada seorang yang pamitan mau keluar
wisma dan mau jual kompor bekas. Harganya Rp 5.000, sedangkan naik becaknya
bisa Rp 10.000. Tapi itulah orang tua," kata Suster Lucia.

Menurut dia, ada banyak alasan mengapa anak dan keluarga mereka menitipkan
orang tua jompo.

Contohnya, Oma Theresia (83). Perempuan asal Purworejo ini tinggal di panti
jompo sejak sembilan tahun lalu. Semua keluarganya habis saat perang melawan
Jepang tahun 1942. Sepanjang hari kegiatannya membuat alas kaki dari potongan
pakaian bekas. Semangat hidupnya patut dihargai.

HANYA berselang 50 meter dari Panti Jompo Marfati, masih banyak warga tak
mampu yang terlupakan di masa Paskah kali ini.

Impian Yuliana (20), sejak Agustus 2003, sebenarnya tidak terlalu berlebihan.
Ia ingin memiliki sebuah kaki kanan palsu dari kayu yang harganya tak lebih
dari Rp 700.000. Namun, apa daya. Kakinya yang diamputasi akibat digerogoti
kuman Microbacterium leprae, penyebab kusta membuat perempuan asal Pemalang,
Jawa Tengah ini tidak bisa berkutik.

Sepanjang hari ia hanya duduk-duduk saja di kursi roda pinjaman. Hasratnya
untuk lekas memiliki kaki palsu agar bisa belajar menjahit hingga saat ini
hanya berbuah impian. "Sering sekali saya mimpi punya kaki palsu, terus
jalan-jalan dan menjahit," kata Yuliana.

Yuliana bercerita, dulu, ketika kakinya hendak diamputasi ia pernah dijanjikan
akan dibelikan kaki palsu oleh seorang fotografer freelance dari sebuah media
massa. Syaratnya, Yuliana bersedia difoto dengan berbagai pose yang membuat
orang tergerak hatinya.

Hampir setahun, "perjanjian" tidak tertulis tersebut disepakati
di antara mereka. Namun, hingga saat ini lelaki yang menjanjikan hendak membelikan
kaki palsu tidak muncul.

Upaya Yuliana memendam keinginannya untuk memiliki kaki palsu, sepertinya
tidak sebanding dengan harapannya untuk segera bekerja sebagai penjahit. Namun
tidak jarang, impiannya berbuah ledekan dari sesama penderita kusta, misalnya
tentang (maaf) jari-jarinya yang "keriting" (kiting).

Bila diamati sepintas, jemari tangan kanan Yuliana terlihat normal. Namun,
bila dilihat lebih serius lagi, jemarinya ternyata tidak lurus.

Ledekan temannya ditanggapi Yuliana dengan enteng dan penuh percaya diri.
"Kalau saya punya kaki, saya bisa belajar. Tangan saya yang begini (kiting
dan tidak bisa lurus jemarinya) akan terus saya latih supaya bisa untuk menjahit,"
tukas Yuliana tak mau kalah.

Namun, ketika pikirannya melayang pada pemahaman umum bahwa seorang penjahit
harus pandai menggunting bahan pakaian, optimisme Yuliana surut. Ia berpikir,
apakah ia bisa memotong bahan pakaian?

Di tengah hiruk pikuk Pemilihan Umum 2004 dan masa Paskah kali ini, masih
banyak masyarakat yang terlupakan. Mereka adalah masyarakat yang lemah, uzur,
cacat, namun masih memiliki semangat hidup dan perjuangan yang tinggi. Akankah
kita terus melupakannya? (HERMAS EFENDI PRABOWO)

Sumber: Kompas, Sabtu, 10 April 2004

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

5 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.