Maman (35), warga Jalan An Nur Raya Kayuringin, Bekasi Selatan, tak kuasa menahan
emosi saat mendengar anak lelakinya, Femmy Mahendra Kamal (17), meninggal karena
demam berdarah dengue, Minggu (21/3) di RS Bakti Kartini Bekasi. Maman berteriak
histeris dan mengahamburkan kertas-kertas di salah satu ruangan RS. Dia mengaku
kecewa dengan penanganan dokter yang sebelumnya mendiagnosis Femmy sakit tifus.
Di rumah, Maman masih terlihat seperti orang linglung dan kerap memukulkan
kepalan tangannya ke dinding, bahkan bicara sendiri seolah Femmy ada di dekatnya.
"Femmy itu kesayangan bapaknya. Setelah lulus SMU, dia mau masuk polisi,"
ujar Ny Ari (33), ibu Femmy.
Menurut dia, Femmy pernah dirawat di RS Bakti Kartini selama lima hari dengan
diagnosa sakit tipes. Pengobatan pun dibantu dengan obat tradisional. Kondisi
Femmy memang sempat membaik.
Akan tetapi, Selasa (16/3) lalu, suhu tubuh Femmy meninggi dan langsung dibawa
kembali ke RS Bakti Kartini. Dari hasil tes kemudian diketahui, Femmy menderita
DBD. Kondisinya semakin parah sampai tidak sadarkan diri hingga akhirnya meninggal.
Kasus di Bekasi itu barangkali hanya contoh dari sekian kasus yang ada. Karena
diagnosis dokter berubah-ubah, penanganan terhadap pasien pun berubah. Meski
kematian akhirnya dianggap sebagai takdir, tak urung terbersit rasa tak percaya
di benak orangtua akan keseriusan dokter menangani pasiennya.
Kejadian yang mirip menimpa Antonius Gelu Deo Boro (26), warga Jalan Poncol
Jaya Gang VIII Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Dia meninggal
di RS Budhi Asih Jakarta Timur, Sabtu (20/3) lalu karena penyakit leptospirosis
yang ditularkan lewat kencing tikus.
Kesedihan masih terbayang di wajah Bene Raga Boro (72), ayahanda Anton ketika
ditemui Senin lalu. "Kami masih penasaran, penyakit apa yang diderita
anak bungsu saya ini, sehingga dia meninggal," kata Bene, yang didampingi
istrinya, Ny Harti (61), dan anak tertuanya, Ny Helena. Rasa penasaran ini
tak lain karena sejak Anton masuk rumah sakit hingga meninggal, keterangan
dari dokter RS terus berubah.
Awalnya, lanjut Bene, Anton dinyatakan sakit demam berdarah dengue (DBD).
Setelah itu, mendiang Anton sempat dideteksi menderita malaria tertiana. Belakangan,
analisis terhadap penyakit aktivis pencinta alam itu berubah, yakni sakit
leptospirosis.
Ibu Anton, Ny Harti, juga mengaku gemas dengan perawatan pihak RS. Dikisahkanya,
saat Selasa (8/3) anak bungsunya masuk RS, kondisinya masih tergolong bagus.
Trombositnya mencapai 1.480 per mililiter. Anton juga masih bisa diajak bicara.
Kamis (11/3), suhu tubuh Anton terus naik dan makin gawat hingga Selasa (16/3).
Tubuhnya menguning dan nafasnya berat sekali.
Melihat kondisi itu, keluarga meminta agar Anton segera dipindahkan ke ICU.
"Suster-suster cuma menjawab, ‘Sabar ya, Bu’". Keadaan Anton menurun
drastis pada Sabtu (20/3), ketika Ny Harti menandatangani surat persetujuan
dimasukkannya selang ke tenggorokan. Namun, Anton keburu meninggal.
Kepala Seksi Pelayanan RS Budhi Asih Budiarto mengatakan, pihaknya akan mempelajari
lagi kasus tersebut. Namun, apa yang dilakukan RS adalah satu pelayanan maksimal
yang bisa diberikan.
KIsah sedih juga mendera keluarga Sutinah, guru SLB Yayasan As-Syafiiyah
Pondok Gede. Putri keduanya, Dwi Latifa (5) meninggal di RS Haji Pondok Gede
setelah sebelumnya didiagnosis DBD. Namun, Dwi meninggal bukan karena DBD
melainkan radang usus buntu.
Rumahnya yang sempit di kompleks guru As-Syafiiyah Pondok Gede terlihat sepi
Senin lalu. Menurut beberapa tetangga sesama guru, Sutinah masih berada di
Yogyakarta, tempat anaknya dimakamkan. "Bu Sutinah memang asli Yogyakarta.
Jadi, anaknya pun dimakamkan di sana, dekat dengan keluarga yang lain,"
jelas seorang tetangga.
Menurut Salamah, tetangga dekat Sutinah, Dwi dirawat di RS Haji selama sepekan
sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir. "Awalnya, Dwi dibawa ke
RS karena panas dan kondisinya lemah. Trombositnya turun drastis. Setelah
dirawat, tombositnya naik namun kondisinya masih lemah," katanya.
Namun, dokter juga mendiagnosa Dwi sakit usus buntu sehingga harus dioperasi.
"Karena tidak ada yang paham mengenai kedokteran, anjuran dokter pun
dituruti. Usus buntu Dwi akhirnya dioperasi. Namun, setelah itu, Dwi meninggal,"
kata salamah.
Tetangga lain mengaku tidak habis pikir, mengapa dokter mengoperasi Dwi dalam
kondisi lemah, setelah sebelumnya didiagnosis DBD. "Bahkan, saat Bu Sutinah
mau meminta hasil pemeriksaan Dwi, tidak pernah dikasih sampai sekarang. Ini
yang membuat kami bertanya-tanya," katanya.
Yang saat ini sedang dipikirikan Sutinah, menurut Salamah, adalah biaya pengobatan
dan perawatan Dwi yang mencapai jutaan rupiah dan belum terbayar. Gaji guru
sebesar Rp 250.000 per bulan hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari
sehingga tidak sempat menabung. Apalagi, Sutinah harus pula membiayai sekolah
anak sulungnya, Kurnia, yang masih kelas lima SD.
"Suaminya sopir angkot. Mungkin penghasilannya tidak mencukupi,"
kata tetangga yang lain.
Euis, petugas bagian keperawatan RS Haji mengatakan, selama ini belum ada
pasien yang meninggal karena DBD di RS Haji. "Bahkan, belum ada yang
benar-benar DBD, baru tersangka saja. Kalau pun ada pasien DBD yang meninggal,
itu karena penyakit lain yang sudah parah," jelasnya.
Kematian Femmy, Anton, dan Dwi tentu lah menyisakan kepedihan yang mendalam
bagi keluarga yang ditinggalkan. Apalagi, kematian mereka juga menyisakan
pertanyaan. (ELN/OSA/IVV/ADP)
Sumber: Kompas, Rabu, 24 Maret 2004
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.