Pagi ini, hujan turun deras di luar rumahku. Tepat di depan rumahku, ada sebuah got besar yang kalau setiap kali hujan, seakan berubah menjadi sungai besar dengan suara air yang mengalir deras. Suara itu sama dengan suara air sungai arung jeram di Dufan.
Entah mengapa, setiap kali hujan, pikiranku selalu memutar kembali kepingan CD ingatan akan peristiwa masa lalu. Masa-masa sewaktu SD, SMP, SMA dan mahasiswa. Dalam CD itu, tergambar bayangan anak kecil berseragam putih dan merah sedang melangkahkan kaki menuju sekolah yang tak jauh dari rumah. Pergi ke sekolah pagi-pagi benar meski hujan turun deras. Tidak lama kemudian, tampilannya berubah. Aku melihat seorang laki-laki muda kurus berseragam putih biru, sedang mengayuh sepeda menembus hujan yang deras sepulang sekolah. Sore itu, ia memboceng sahabat karibnya semenjak SD, naik sepeda sembari hujan-hujanan.
Setelah itu, muncul seorang anak muda berseragam putih abu-abu duduk di teras rumah sambil memainkan gitar menikmati hujan yang turun deras. Lagu-lagu gubahan Nirvana, Green Day, semua musik pop saat itu, mengalun lesu dalam pencarian jati diri. Tidak ada kata pengharapan di sana, yang ada hanyalah kebingungan akan tujuan hidup.
Beberapa detik kemudian, tampilan berkedip berganti dengan tayangan seorang anak muda duduk menunduk di kursi gereja sementara jemaat menyanyikan lagu yang tak pernah hilang dalam ingatannya. “Kucari wajah-Mu, temukan kasih-Mu. Kau bukan Tuhan yang jauh dariku. Kupanggil namamu, kudengar jawab-Mu. Kau Tuhan yang selalu dengar seruan hatiku. Sungguh indah Kau Tuhan, penuh kasih dan sayang. Kau tempat penghiburan bagi setiap hati yang terluka. Sungguh indah Kau Tuhan, menara perlindungan. Kau sumber kekuatan bagi setiap orang yang membutuhkan.”
Selama 15 menit, hujan yang turun bukan lagi hujan sunyi tak berpengharapan melainkan hujan airmata yang melegakan dan memberi harapan. Seorang anak muda yang kini menyadari, ‘Tanpa Kristus, aku bukanlah apa-apa.” Tayangan terhenti lalu pikiranku kembali ke masa kini. Kini, hujan yang turun bukan lagi hujan kehampaan. Hari ini dan masa depan, setiap kali hujan turun di depan rumahku, itu berarti hujan pengharapan dan keindahan hidup bersama Tuhan.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.