“Greater
love has no one than this, that he lay down his life for his friends”
Film berjudul ‘The Passion of The Christ’, garapan aktor Mel Gibson (47)
yang bertutur tentang beberapa jam terakhir kehidupan Yesus, sudah dilepas
ke khalayak umum. Film berbiaya 30 juta dolar AS ini mencatat rekor penjualan
tiket sebesar 125,2 juta dolar AS dalam lima hari setelah pemutaran perdana
di Amerika, Rabu pekan lalu, 25 Februari 2004. Perolehan itu melebihi The
Lord of the Rings: The Return of The King yang meraih 11 penghargaan Oscar.
Dalam membuat film ini, Gibson (47), seorang penganut Katolik tradisional,
menggunakan gabungan dari 4 Injil Perjanjian Baru (Matius, Markus, Lukas dan
Yohanes) dan beberapa tulisan hasil inspirasi yang tak tercakup di Alkitab
seperti buku harian St. Anne Catherine Emmerich yang terangkum dalam The Dolorous
Passion of Our Lord Jesus Christ , The Mystical City of God oleh St. Mary
Agreda. Untuk menambah kesan otentik, dialog dalam film ini semua dalam Aramaic
dan Latin, dengan judul bahasa Inggris.
Jauh sebelum film ini diputar, The Passion telah menyulut kontroversi. Sebagian
penonton memuji komitmen Gibson, sebagian yang lain menyebut film ini terlalu
berdarah, terobsesi dengan kekejaman, dan memojokkan orang Yahudi. Gibson
mengakui filmnya itu berisi kekerasan dan karenanya masuk kategori untuk 17
tahun ke atas.
Film ini menggambarkan secara detail dan blak-blakan tentang penderitaan
Kristus. Adegan saat Kristus dicambuk yang berlangsung kurang lebih 10 menit
menjadi terasa 1 jam. Hati kita terasa teriris-iris menyaksikan orang yang
kita cintai diperlakukan tidak manusiawi oleh serdadu Romawi dan orang banyak.
Mudah-mudahan, menjelang Paskah nanti, film ini sudah beredar luas di Indonesia.
Mungkin film ini bisa menyadarkan kita betapa Tuhan Yesus sangat mengasihi
kita. Mengingatkan kita kalau penderitaan yang kita alami di dunia tidak sebanding
dengan penderitaan-Nya yang sampai terluka mengeluarkan darah, diolok-olok,
dicaci-maki, dan diludahi.
Seharusnya kita malu pada diri sendiri, ketika menyadari betapa rapuhnya
kita ketika menghadapi ketidakadilan atas diri kita, yang dengan angkuh mendewakan
hak untuk dilayani.
Tuhan Yesus, terima kasih karena Kau sudah datang dalam hidup kami. Bentuk
kami seturut kehendak-Mu. Amin.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.