Bocah berumur tiga tahun itu tergolek lemah di ranjang RSUD Budhi Asih, Jakarta
Timur. Berlembar-lembar selimut menutup tubuhnya yang mungil, tetapi bocah itu
terus menggigil. Mulutnya mengatup rapat. Matanya terus menatap ke arah ibunya
yang hampir tidak pernah berhenti menangis. "Nak…, nak…, kuat ya nak.
Lihat mama, sini," ujar Ny Rustini sambil terus mengompres Dila, nama bocah
tersebut.
Dila tak bisa menyahut. Ia hanya diam sambil terus menggigil. Di hidungnya
terpasang selang oksigen, sementara di tangan kirinya tertancap selang infus.
"Tadi baru saja bercanda dengan ayahnya. Saya sedang nyuapin kakaknya
di lorong. Tiba-tiba dia (Dila) demam," kata Rustini.
Bersama kakaknya yang juga kena demam berdarah dengue (DBD), Dila sebelumnya
dirawat di lorong ruang rawat inap Dahlia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)
Budhi Asih. Di lorong rumah sakit tersebut, belasan pasien DBD lainnya juga
sedang dirawat. Sudah sejak beberapa pekan lalu banyak rumah sakit di Jakarta
kewalahan menerima pasien DBD.
Karena demam dan kejang, Dila kemudian dipindahkan ke ruangan di bangsal
Dahlia. Selang oksigen langsung dimasukkan ke dalam hidungnya. Keran oksigen
pun dibuka penuh agar Dila mendapat pasokan udara segar.
Di ruang Unit Perawatan Intensif (ICU) RSUD Tarakan, Minggu (29/2), seorang
bocah cilik, Baitisipah (2,4 tahun), tertidur lemas. Sejak dua hari lalu,
bocah yang sedang tumbuh lucu-lucunya itu terbaring tak berdaya. Di samping
kanannya juga terbaring seorang bocah, Ajis (3), yang menderita DBD.
Baitisipah yang gemar mengenakan rok itu mendapatkan perawatan ekstra ketat
dari tim medis. Selain tangan kanannya diinfus, pernapasan Baitisipah harus
dibantu dengan oksigen. Bahkan, untuk pembuangan kotoran tubuhnya, selang-selang
juga terpasang di tubuh anak itu. Untuk mengetahui perkembangan kesehatannya,
tim medis memasang alat rekam medik di bagian kakinya.
Beberapa kali dalam sehari ini, kata Ny Ella, anak semata wayangnya itu sempat
terjaga dari tidurnya. "Mak, pulang, mak. Ipah mau pulang mak,"
ujar Ella menirukan celoteh anaknya itu.
Ketika menceritakan permintaan anaknya itu, Ella yang ditemui Kompas langsung
terduduk lemas. Lalu, air matanya pun meleleh tak tertahankan. Berulang kali
Ella yang ditemani mertuanya yang datang dari Sukabumi menyalahkan dirinya.
"Saya yang salah, saya yang salah. Dokter saja sampai memarahi saya
karena terlambat membawa anak saya ke rumah sakit," ujar Ella.
Saat dibawa ke RSUD Tarakan, kata Ella, suhu badan Baitisipah sudah panas
amat tinggi. Badannya lemas. Bintik-bintik merah tampak di bagian dahi dan
kedua tangan anaknya itu.
Ella mengatakan, sebetulnya sejak empat hari lalu, Baitisipah dirawat di
rumah sakit ini. Kesehatan anaknya semakin memburuk.
Ketika masuk ke RSUD Tarakan, Baitisipah harus menjalani perawatan di lorong
rumah sakit. Lalu, dokter memutuskan agar Baitisipah menjalani perawatan di
ruang Melati kelas 3.
Ternyata, kondisi anaknya semakin buruk. Hari Sabtu lalu Baitisipah terpaksa
dirawat di ruang ICU. Di ruangan itulah, kini Baitisipah terbaring, menanti
kesembuhan dengan berbagai pertolongan tim medis.
Ella mengaku, demi anaknya dia rela tidak pulang ke rumahnya di kawasan Petamburan,
Jakarta Barat. "Saya takut ada apa-apa dengan anak saya. Doakan ya,"
ujar Ella.
Menurut Dokter Sutirto Basuki, Wakil Direktur Pelayanan RSUD Tarakan, kondisi
Baitisipah sangat parah. Tim medis RSUD Tarakan akan berupaya semaksimal mungkin.
"Doakan saja agar tim medis berhasil memulihkan kesehatan anak itu,"
ujar Basuki.
Di lorong-lorong rumah sakit, juga di bangsal rawat inap, suasana mencekam
tampak menyelimuti keluarga korban DBD. Ketegangan dan kecemasan tampak di
wajah-wajah orangtua ataupun kerabat lain yang tengah menunggui pasien DBD
di lorong-lorong maupun ruang rawat inap rumah sakit.
"Kami ini seperti dikejar-kejar maut. Dalam hitungan menit, nyawa anak
kami bisa melayang," kata Dewanto yang tengah menunggui anaknya di Rumah
Sakit Pasar Rebo.
Kecemasan pantas menyelimuti keluarga pasien karena banyak penderita DBD
yang akhirnya meninggal dunia. Padahal, dia baru masuk rumah sakit atau dirawat
selama beberapa hari. Biasanya mereka meninggal setelah mengalami demam dan
kejang-kejang.
Seperti dialami Rustini. Wajah Rustini tampak tegang ketika Dila demam dan
tubuhnya sedikit mengejang. Ia terus meminta doa kepada setiap orang yang
datang menengok Dila meskipun orang itu tidak dikenalnya.
Dibantu oleh keluarga pasien lain, Rustini mencoba mengusir demam dan kejang
yang menerpa tubuh mungil putrinya. "Angka trombositnya terus merosot,"
kata Rustini.
Merasa senasib sepenanggungan, keluarga pasien DBD di rumah sakit atau di
tempat penampungan pasien lainnya bekerja sama saling membantu dalam merawat
penderita DBD. Di bangsal anak ruang Dahlia, ada semacam kepercayaan antara
keluarga pasien satu dengan lainnya. "Kami biasa saling nitip anak (mengawasi
kondisi pasien) kalau ada yang pergi nebus obat," kata Warsini, anggota
keluarga pasien DBD.
Sementara ruang-ruang perawatan di rumah sakit terus kewalahan menerima pasien
DBD. Di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Budhi Asih, dua pasien cilik
bernama Roy Handika (5) dan Halimah (5,5) harus dirawat inap.
Petugas di bagian penerimaan pasien masuk kemudian dihubungi petugas di bagian
IGD dan dinyatakan sudah tidak tersedia lagi tempat untuk dua pasien tersebut.
Ini termasuk tempat di lorong-lorong ruang perawatan yang sudah menggunakan
26 tempat tidur lapangan milik TNI.
Persoalan pasien melebihi daya tampung rumah sakit sudah diprediksikan sebelumnya.
Ketidaknyamanan tempat membuat pasien DBD sedikit pesimistis mendapatkan perawatan
yang intensif. Mereka berharap, jika rumah sakit pemerintah tidak mampu menampung
lagi, seharusnya pasien DBD dipindahkan ke rumah sakit lainnya.
Ironisnya, banyak rumah sakit swasta yang enggan merawat pasien DBD secara
gratis. Banyak pasien DBD ditolak dengan alasan tempat perawatan sudah penuh.
Sedangkan di rumah sakit pemerintah, banyak keluarga pasien ketar-ketir tidak
akan mendapatkan obat. Pasalnya, banyak keluarga pasien yang tak membawa surat
keterangan dari RT/RW yang menjelaskan mereka tidak mampu.
Di rumah sakit pemerintah, keluarga pasien hanya diberi resep kemudian harus
menebus/mengambil obat-obatan yang diperlukan pasien.
Sebelum ada instruksi dari Gubernur DKI Sutiyoso bahwa seluruh biaya obat-obatan
ditanggung pemerintah, banyak rumah sakit yang tidak mau memberikan obat sebelum
ada surat keterangan dari RT/RW. Akibatnya, banyak pasien dirawat, tetapi
tidak mendapatkan obat-obatan, termasuk infus. Padahal, pasien DBD sedang
diburu maut. (IND/OSA/NAW)
Sumber: Kompas, Senin, 1 Maret 2004
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.