God's Word is true whether we believe it or not. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Kliping

Kapan Aku Harus Tes HIV

Submitted by riel on 01/03/2004 – 5:33 PM | 810 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 5.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Sebenarnya HIV itu apa sih? Mengapa kita harus takut? Memangnya kita potensial
tertular? Lalu, mengapa harus ngecek segala?

HIV adalah singkatan dari human immunodeficiency virus, yaitu sejenis retrovirus
(virus yang dapat menggandakan dirinya sendiri pada sel-sel yang ditumpanginya)
yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia atau sel-sel darah putih (limfosit).
Sel darah putih ini menjadi pertahanan dalam tubuh kita untuk menyerang kuman,
basil, bakteri, virus atau penyakit yang masuk ke dalam tubuh kita.

Kalau seperti itu, bagaimana cara penularan HIV?

1. Melalui hubungan seksual yang tidak aman, baik heteroseks (laki-laki-perempuan),
biseks (laki-laki/perempuan dengan kedua jenis kelamin lain), seks anal dan
seks oral di dalam dan di luar pernikahan yang sah, serta homoseks (laki-laki
dengan laki-laki) dengan seseorang yang HIV positif

2. Melalui transfusi darah yang tercemar HIV

3. Melalui jarum suntik yang tercemar HIV (pengguna narkoba suntikan, termasuk
tato, jarum tindik, akupunktur, dan lain- lain)

4. Dari seorang wanita yang HIV positif ke bayi yang dikandungnya terutama
pada saat persalinan dan menyusui anaknya dengan ASI.

Ketika HIV masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan tubuh kita memproduksi
antibodi dan mendorong antibodi lain untuk melawan HIV. Tatapi, pada saat
masuk ke aliran darah, HIV "berubah" wujud menjadi protein sehingga
sel-sel darah putih tidak melihatnya sebagai musuh. Karena tidak ada perlawanan
dan HIV telah masuk, maka sel-sel darah putih menerimanya dengan terbuka.

Setelah HIV masuk ke sel-sel darah putih, HIV pun kemudian menggandakan dirinya
pada sel yang ditumpanginya. Virus yang baru diproduksi pun dilepaskan dari
sel tersebut. Sel itu kemudian rusak atau mati. HIV yang baru dilepas tadi
mencari sel-sel darah putih lain sebagai tumpangan baru. Begitu seterusnya
sehingga sel-sel darah putih pun rusak semua. Ketika jumlah sel darah putih
yang rusak semakin banyak, maka kita pun mencapai masa AIDS.

Lalu, AIDS sendiri apa dong?

AIDS adalah singkatan dari acquired immune deficiency syndrome, yaitu cacat
pada sistem kekebalan tubuh yang bukan karena keturunan, tapi karena terinfeksi
atau tertular virus HIV. AIDS merupakan salah satu penyakit yang disebut infeksi
oportunistik, di mana AIDS menyerang seseorang karena sistem pertahanan (sistem
kekebalan tubuh)-nya sudah dirusak oleh HIV.

Sebenarnya seorang yang terinfeksi HIV baru dapat mencapai masa AIDS antara
5-10 tahun. Namun masalahnya, kita tidak dapat mengetahui kapan kita terinfeksi
HIV. Terkadang kita terkena AIDS setelah kita sudah tidak lagi melakukan aktivitas
yang berisiko tertular tersebut. Karenanya, kita perlu melakukan tes HIV.

Tes HIV adalah satu tes terhadap darah untuk mengetahui status HIV seseorang.
Dilakukan dengan mendeteksi keberadaan virus atau antibodi terhadap virus
di dalam darah. Tes dilakukan di laboratorium kesehatan berdasarkan standar
prosedur operasi tes HIV yang baku. Maksudnya sebelum melakukan tes HIV, kita
akan menjalani konseling sebelum dan sesudah tes tanpa mempertimbangkan hasilnya.

Konseling sebelum tes diperlukan untuk menjelaskan hal-hal yang terkait dengan
HIV/AIDS dan tes HIV itu sendiri. Misalnya tentang pengertian HIV, AIDS, penularannya,
pencegahannya, dan lain-lain. Termasuk apa dan bagaimana tes HIV dan risiko
jika hasilnya positif.

Setelah kita memahami semua penjelasan pada saat konseling itu, maka kita
diminta untuk memberikan pernyataan kesediaan menjalani tes HIV secara lisan
dan tulisan (hal ini dikenal sebagai informed consent). Setelah menjalani
rangkaian tes, kita kembali akan melakukan konseling.

Proses konseling setelah melakukan tes HIV tidak tergantung pada hasilnya.
Walaupun hasilnya negatif, kita tetap diberikan penjelasan tentang bagaimana
cara-cara melindungi diri dengan aktif agar tidak tertular HIV. Selain itu,
dianjurkan kepada kita untuk melakukan tes HIV ulang setelah enam bulan dari
waktu terakhir melakukan kegiatan berisiko, karena hasil negatif itu bisa
saja negatif palsu karena kemungkinan kita sedang dalam masa jendela (antibodi
belum terbentuk-hasil tes HIV negatif- tetapi sudah dapat menularkan kepada
orang lain). Namun jika hasilnya positif, penjelasan lebih terarah pada upaya-upaya
untuk menumbuhkan kepercayaan diri, menawarkan terapi, dukungan, dan lain-lain.

Dalam prosedur pelaksanaan tes HIV berlaku asas anonimitas dan asas konfidensialitas,
di mana pada contoh darah hanya dicantumkan kode yang hanya diketahui oleh
konselor atau dokter.

Lalu siapa saja yang berisiko tertular HIV?

Sebenarnya bukan siapa atau kelompok mana yang berisiko tinggi tertular HIV,
tetapi pada apa yang telah kita lakukan. Risiko tertular HIV tergantung pada
apa yang kita lakukan, bukan siapa kita.

Sebenarnya apa manfaat melakukan tes HIV?

Dengan mengetahui status HIV lebih awal, maka akan dapat dirancang langkah-langkah
yang akan ditempuh untuk mengatasi masalah-masalah yang mungkin timbul. Selain
itu, apabila status HIV diketahui sebelum memasuki fase AIDS, dokter dapat
memberikan obat-obat antiretroviral untuk menekan laju penggandaan HIV di
dalam darah. Dapat pula diberi masukan agar kita dapat menjaga kondisi kesehatan
agar tidak mudah diserang infeksi oportunistik.

Lalu, kapan kita harus melakukan tes HIV???

Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Mungkin kita dapat melihat apa
yang (sudah) kita lakukan (maksudnya kegiatan yang berisiko tertular HIV).
Jika kita merasa sudah pernah melakukan salah satu atau beberapa kegiatan
berisiko tertular HIV tersebut, maka lebih baik kita menjalani tes HIV secara
sukarela tanpa harus menunggu gejala-gejala yang terkait dengan AIDS.

Jadi langkah yang paling realistis dalam menghadapi epidemi HIV adalah dengan
bertanya pada diri sendiri:

Apakah saya pernah melakukan kegiatan berisiko tertular HIV?

Kalau jawabannya "YA" maka sebaiknya kita memikirkan untuk melakukan
tes HIV secara sukarela.

Sri Oktaviani PKBI Jawa Tengah Sumber: Kapan Anda Harus Tes HIV, Syaiful
W Harahap, Jakarta 2002

Sumber: Kompas, Jumat, 13 Februari 2004

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

Comments are closed.