Malu bertanya, sesat di jalan. Malu menulis, bikin otak enggak jalan. Menulis
adalah mengasah otak dan mengembangkan imajinasi, lho. Ayo nulis dari sekarang!
Bisa jadi, kalau sang guru bahasa Perancis enggak mewajibkan mengarang, Rachmania
Arunita enggak bakal menulis novel Eiffel… I’m in Love. Sebab, berkat
guru SD-waktu itu ia belajar di Perancis-Rachma jadi doyan menulis. Bahkan,
akunya, kemudian ia jadi suka banget menulis.
"Tadinya sih gue selalu plagiat, tapi suatu hari ketauan sama guru gue,
terus gue dimarahin dan dihukum suruh bikin PR mengarang," kisah cewek
yang lagi menggodok ide untuk novel berikutnya itu. Enggak diduga, karangan
hasil hukuman itu mendapat acungan jempol dari gurunya.
"Guru gue malah sampe muji di depan kelas! Nah, dari situ tuh jadi muncul
semangat buat nulis!" lanjutnya.
Lain lagi cerita Fira Basuki. Meski memulainya sama dengan Rachma, Fira mengaku
sudah corat-coret sejak kecil. "Pas kelas 2 SD, sudah bikin puisi sendiri,
hadiah untuk Mama. Sejak itu selalu bikin puisi untuk saya hadiahkan ke keluarga,
atau jika ada yang ulang tahun," katanya.
Tapi kegiatan menulis yang sebenarnya baru ia lakukan ketika duduk di bangku
SMP. Karya yang ia kenang berupa cerpen, berjudul Andri Kamu Nyentrik, Deh….
Karena dorongan teman, cerpen itu akhirnya dimuat di Majalah Hai. Fira jelas
senang bukan main. Teman-teman yang mendorongnya ketiban riang juga. Honor
dari hasil menulis bisa ia pakai untuk mentraktir bakso.
Kegemaran menulis juga dialami Rako Prianto sejak kecil. Nama Rako mencuat
ketika film Ada Apa dengan Cinta? meledak. Ia lah penulis puisi di film layar
lebar itu. Cuma, ada hal khusus yang membuat cowok ini suka menulis waktu
bocah. "Sebenarnya tuh awal nulis karena gue sama keluarga jarak umurnya
jauh. Kalau mau cerita lewat tulisan, cerita sama diri gue sendiri gitu lewat
tulisan," ceritanya.
Menjadi apa?
Begitulah kisah awal para penulis yang belakangan ini hasil karyanya bisa
kita nikmati. Sekarang, begitu banyak karya yang tercipta dari hasil menulis.
Sebutlah novel yang tersebar di toko buku, cerpen atau cerbung yang termuat
di media cetak. Itu adalah karya yang sifatnya umum.
Karya penulis, sadar atau tidak, juga kita nikmati lewat berbagai media.
Film umpamanya, seperti yang dilakukan oleh Rako. Bahkan di film, peran penulis
sangat besar. Misalnya saja untuk urusan naskah. Bukankah sebuah film keren
terukur pertama kali dari bagus tidaknya sebuah script?
Wartawan media cetak atau elektronik juga mesti punya bekal suka menulis.
Karena tugasnya memang melaporkan sebuah peristiwa dengan merangkai kata-kata.
Sama halnya dengan bidang periklanan. Siapa bilang cuma model yang paling
berperan di situ. Tanpa script iklan yang baik, mustahil model bisa membawakan
gaya seperti yang diharapkan. Apalagi untuk iklan-iklan pada media cetak.
Penulis script iklan perannya sangat besar untuk menciptakan image.
Yoga Adhitrisna-lah orang yang merasakan asyiknya kerja di dunia iklan. Ia
merasa waktu SMA enggak punya kemampuan main band, menggambar pun enggak bisa.
Ia menggali diri. Kebetulan doyan baca majalah musik metal. Dari situlah ia
mencoba menjadi penulis di majalah sekolah.
Merasa cocok. Ia menggali lagi, lewat workshop yang digelar Majalah Hai.
Sampai di benaknya tebersit keinginan untuk menekuni dunia ini. Jurusan Komunikasi
ia ambil demi memuluskan niatnya. Hasilnya, kini alumnus SMU Gonzaga ini jadi
script writer pada sebuah biro iklan terkenal.
Ternyata begitu luas ya pekerjaan menulis. Enggak hanya berkisar menjadi
novelis atau cerpenis. Sayangnya, budaya menulis itu sendiri tampaknya juga
belum cerah betul. Menulis, bagi sebagian kita barangkali hanya merupakan
pekerjaan yang berkaitan dengan sekolah, seperti menulis PR atau mencatat
pelajaran. Itu pun sering kali bikin kita bete.
Enggak aneh sih. Soalnya, memang budaya masyarakat kita dalam berkomunikasi
kebanyakan dilakukan secara verbal. Untuk menyampaikan pesan lebih kerap dipakai
dengan cara ngomong. Menonton film juga lebih asyik dilakukan ketimbang baca
buku. Sebagai perbandingan, coba simak kata Rachma, "Orang Indonesia
dari kecil enggak dibiasain mencintai tulisan. Kalau di Perancis, anak umur
tiga tahun sudah harus diajak ke perpustakaan. Enggak peduli dia belum bisa
baca dan cuma bisa lihat-lihat gambar di buku doang, pokoknya diajak ke perpustakaan."
Sekarang, apalagi. Ketika banyak tempat bisa disatroni untuk meluangkan waktu,
maka waktu untuk menulis tentulah jadi nyaris enggak ada. Kata Fira, "Para
remaja, misalnya, terbiasa meluangkan waktu senggang dengan jalan-jalan ke
mal atau nonton film, bukan ke perpustakaan atau menulis."
Artinya, bagaimana bisa menjadi sebuah kebiasaan kalau niat saja enggak ada.
Mengemukakan pendapat juga mesti lewat bicara. Menurut Yoga, cara mengemukakan
pendapat lewat tulisan memang enggak dibiasakan buat kita-kita.
Padahal, asal tahu saja, dulu zaman negeri kita belum jadi republik, budaya
menulis itu sudah ada, lho. "Lihat di sejarah, manuscript-manuscript
Majapahit, Sriwijaya semua tuh kita pelajari dari tulisan, kan? Bahkan orang-orang
dulu tuh sudah bikin prasasti tentang Indonesia. Jadi, gue pikir Indonesia
itu sangat akrab dengan tulisan," terang Rako.
Jadi salahnya di mana?
"Sistem pendidikan kita," ujar Yoga. "Pendidikan kita yang
tidak mengajarkan murid sekolah mengarang, membuat esai atau mengirim surat,"
terusnya.
Menunggu "mood"
Terlepas dari siapa yang benar atau salah, mengapa kita enggak melihat kepada
diri kita sendiri. Mengapa enggak dari sekarang kita angkat pena dan mulai
menulis.
Susah? Memang sih.
Memulai menulis itu kadang enggak gampang. Menunggu ide mengalir biasanya
kerap jadi hambatan. Seorang Rachmania saja perlu mengamati tingkah laku orang.
Kadang ia mengobrol dulu untuk mengoleksi ide. Yoga sering jalan sendiri naik
mobil dan menemukan berbagai latar untuk merumuskan ide. Sementara Fira punya
cara sendiri. "Apa yang dipikirkan langsung dituangkan, takut lupa,"
katanya singkat.
Baginya, mau ketemu bagian akhir, pertengahan, atau awal, enggak jadi masalah.
"Yang penting nulis," sahut Fira. Ia enggak peduli, asal ada ide
langsung ia catat. Kelak, potongan-potongan ide itu akan terekat seperti sebuah
puzzle. "Tapi tentu nanti harus diperhalus," sambungnya. Diperhalus
maksudnya tentu dirapikan, dijalin, sehingga enak dibaca.
Yoga punya langkah yang kira-kira serupa. Katanya, banyakin hal-hal yang
dimasukin ke otak. Karena menulis itu sebenarnya adalah mengeluarkan isi pikiran.
Kalau masih rumit, Fira punya dua rumusan yang layak kita coba. Menurut Fira,
penulis yang kemarin baru saja melahirkan novel berjudul Rojak yang merupakan
karya kelimanya, rumusan itu adalah mencintai menulis dan menjadi diri sendiri.
Wow, kok kayaknya mudah sekali, ya?
Betul! Ketika kita mencintai menulis, maka apa pun suasana yang terjadi,
kita jadi geregetan pengin menulis. Bahkan, Fira kalau lagi stres, menulis
bisa jadi obat. "Pokoknya menulis jadi seperti ajang rekreasi, tempat
saya menumpahkan rasa stres," serunya.
Meski begitu, kadang kita juga perlu tahu diri. Seterpaksa-terpaksanya menulis,
kalau mood lagi enggak jalan, jangankan merangkai kalimat, menulis satu kata
pun kadang susah. Pengalaman Rachma berbunyi, mood itu penting. Ujung-ujungnya
pengaruhnya ke suasana. Seperti halnya Fira yang bilang, "Pas sedih juga
lancar menulis, he-he-he…. Capek di pekerjaan, relaksasinya dengan menulis.
Jadi menulis justru tempat pelampiasan untuk menyenangkan diri sendiri, hadiah
untuk diri sendiri."
Artinya, pada keadaan atau suasana tertentu, seperti mood, menulis justru
lebih bisa mengalir. Suasana sedih, biasanya juga menghadirkan tulisan-tulisan
yang sedih pula. Begitu sebaliknya, ketika kita happy, buah tulisan juga ikutan
riang.
Penghargaan menulis
Kalau sudah begitu, agaknya kita juga perlu punya tempat yang mampu mewujudkan
suasana dan mood. Bagi Rachma, tempat yang paling indah adalah di kamarnya.
Kamar adalah daerah kekuasaannya. Atau semacam Fira yang merasa paling nyaman
menulis di rumah, di kamarnya.
"Tempat yang paling enak juga di kamar gue. Sering lho gue bawa kerjaan
ke kamar gue biar dapat suasananya," bilang Yoga.
Walaupun kadang, menulis juga bisa dilakukan di mana saja, sembari melakukan
apa saja. "Gue bisa nulis di kantin, saat jam istirahat! Jadi temen-temen
gue rame ngobrol di samping gue, gue sih nulis aja," kata Rachma yang
kini mahasiswi D3 Sastra Perancis UI itu. Fira bahkan bisa lho menulis sambil
makan. Wah, asal jangan menulis sambil nyetir mobil saja.
Kini, para penulis ini sudah merasakan hasil dari menulis tidak hanya secara
materi. Menulis menjadi profesi baginya. Menulis adalah panggilan jiwa Fira.
"Dengan menulis, apa yang saya pikirkan dan angan-angankan bisa saya
tuangkan. Hati dan jiwa saya merasa tenang," ujarnya memberi alasan.
Secara materi, tentu saja karya mereka yang telah dinikmati banyak orang
mendapat penghargaan yang layak. Sebagai gambaran seorang copywriter starter
alias masih baru yang bekerja di advertising agency kelas menengah, standar
gajinya adalah Rp 3 juta. Wah, lumayan tuh.
Rako mendapat royalti dari puisi karyanya. "Kalo script (film-Red) itu
ya lebih lumayan lagi. Bisalah untuk hidup tiga sampai empat bulanlah,"
kata cowok yang kini lagi bikin naskah cerita film Semusim dan Ultraviolet.
Ini, lebih dari lumayan.
Sedangkan Rachma yang juga sedang menyiapkan novel baru itu mendapat pembayaran
royalti atas karyanya, Eiffel… I’m in Love. Makin laku, makin deras
pula uang yang diterimanya. Menurut Fira, jika karya cerita dimuat di media
cetak, bagi penulis yang sudah cukup dikenal biasanya mendapat imbalan dari
Rp 500.000. Tapi bila yang meminta medianya, biasanya lebih besar lagi.
Toh, imbalan materi mungkin cuma sedikit hal. Dan itu juga bisa saja cepat
melayang. Yang justru lebih penting bagi kita adalah soal kepuasan. "Kepuasan
batin yang terutama, rasanya hati berbunga-bunga, dari proses mengolah ide,
menuliskannya, sampai jadi buku atau novel misalnya, bisa diibaratkan mengandung
dan melahirkan. Segala perasaan tercampur, bahagia dan terharu. Rasa sakit
yang dilewati tidak akan terasa," tandas Fira.
Menurut Rako, "Kalau elo bisa ngeliat orang meng-appreciate tulisan
elo. Ya itulah kepuasan buat gue." (AYU/TESSA/YORGI/ANDRA Tim MUDA)
Sumber: Kompas, Jumat, 20 Februari 2004
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.