We Christians above all people should value truth, for we profess to belong to the One who is the Truth. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Wow Articles

Rahasia Bintang Bethlehem

Submitted by riel on 23/12/2003 – 6:51 PM | 1,220 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Rahasia Bintang BethlehemSETIAP tanggal 25 Desember, umat Nasrani memperingati hari kelahiran Yesus sang Isa al-Masih. Injil menyebutkan, kelahirannya ditandai sebuah bintang- dikenal sebagai Bintang Bethlehem-yang menunjukkan tempat kelahiran Al-Masih di Kota Bethlehem (Bait al-Lahm) yang berarti kota kelahiran.

NAMUN, keberadaan Bintang Bethlehem sampai saat ini masih menjadi misteri, sehingga manusia terus berupaya mengungkapnya. Sebenarnya dengan mengetahui tanggal kelahiran Yesus sang Isa al-Masih misteri bisa diungkap. Sayangnya, tanggal dan hari kelahiran Al-Masih juga masih teka-teki.

Dengan menganggap Bintang Bethlehem sebagai fenomena alam, pengetahuan astronomi yang berkembang saat ini memungkinkan untuk mereka-ulang fenomena langit yang telah terjadi. Hal ini karena penampakan benda-benda di langit umumnya periodik dan mempunyai keteraturan.

Dalam Injil Mathius disebutkan bahwa Al-Masih lahir pada masa Raja Herodes yang menurut ahli sejarah meninggal sekitar 4 SM. Ini berarti kelahiran Al-Masih terjadi sebelum atau tepat tahun 4M.

Dari Injil yang sama, diketahui paling tidak ada sembilan syarat yang harus dipenuhi oleh benda langit untuk disebut sebagai Bintang Bethlehem. Kesembilan ciri tersebut adalah, obyek mengabarkan kelahiran, mengisyaratkan kerajaan atau keagungan, ada kaitan sejarah dengan bangsa Yahudi, terlihat terbit di arah timur oleh orang-orang Majus, penampakan bintang selalu berpindah, penampakan bertahan selama beberapa waktu, terlihat mendahului orang- orang Majus ketika mereka berangkat menuju Bethlehem di arah selatan, berhenti saat orang-orang Majus berada Kota Bethlehem, dan Herodes tidak mengenalinya.

Kandidat meteor

Dengan berbagai persyaratan itulah astronom bekerja mencari Bintang Bethlehem. Maka, pertanyaan berikutnya adalah, mungkinkah Bintang Bethlehem sebuah meteor?

Meteor adalah kilatan cahaya di langit yang terjadi ketika debu-debu angkasa memasuki atmosfer Bumi dan terbakar. Umumnya meteor yang dilihat hanya seukuran pasir dan akan habis terbakar di atmosfer.

Untuk dapat menjadi Bintang Bethlehem, meteor yang dilihat oleh orang-orang Majus harus muncul di arah timur. Selain itu harus ada meteor lain pada waktu yang berbeda, yang bergerak mendahului orang-orang Majus saat menuju Bethlehem dari Jerusalem dan kemudian berhenti di atas kota kelahiran Al-Masih itu.

Memang kemunculan meteor dapat dari arah mana pun dilihat dari muka Bumi. Penampakannya juga kurang lebih satu detik, meski ada pula meteor besar yang disebut sebagai fireball dengan kecermelangan, seperti Planet Venus, dan dapat bertahan beberapa detik sambil meninggalkan jejak asap di belakangnya.

Penampilan meteor tampaknya sesuai dengan penggambaran di atas, namun durasinya yang singkat membuatnya sukar dikesani sebagai “diam” di atas Kota Bethlehem oleh orang-orang Majus. Bila dikaitkan dengan tradisi, penampakan meteor tidak pernah dianggap sebagai pertanda kelahiran calon pemimpin.

Nova dan supernova

Bagaimana dengan nova atau supernova? Nova, berasal dari Nova Stella yang berarti bintang baru, merupakan bintang yang cahayanya menjadi sangat terang secara tiba-tiba.

Sebenarnya bintang ini sudah ada sebelumnya, hanya saja tidak menarik perhatian karena teramat lemah cahayanya. Kini diketahui nova adalah bintang meledak. Terang cahaya nova bisa 50.000 kali lebih terang daripada Matahari dan mampu bertahan hingga berbulan-bulan sebelum akhirnya meredup kembali.

Peristiwa supernova jauh lebih dahsyat daripada nova. Bintang yang meledak bisa miliaran kali lebih terang daripada sebelumnya. Catatan astronomi menunjukkan, sejak penemuan teleskop tahun 1610 hingga kini, belum ditemukan supernova dalam galaksi kita, Bima Sakti.

Supernova terakhir di Bima Sakti ditemukan tahun 1054 (dicatat oleh astronom Cina dan Jepang), 1572 (diamati oleh Tycho Brahe, astronom Denmark), dan 1604 (diamati oleh Kepler).

Dalam catatan astronomi Cina kuno tidak ditemukan supernova pada sekitar 5 SM, hanya sebuah nova pada sekitar tanggal 10 Maret-27 April pada tahun yang sama di rasi Capricornus (Kambing Laut). Nova ini bisa jadi yang dimaksud oleh orang-orang Majus sebagai bintang yang mereka lihat terbit di timur.

Sayangnya, Nova, seperti bintang-bintang lainnya, posisinya relatif tetap dan tidak akan tampak bergerak. Selain itu, penampakan nova di langit malam akan membuatnya menjadi obyek yang mencolok dan mudah dikenali, sehingga semestinya Herodes juga mengetahuinya.

Komet

Teori lain menyebutkan bahwa penampakan bintang di rasi Capricornus tersebut adalah komet. Meskipun manuver yang diperlukan dalam syarat Bintang Bethlehem dipenuhi bintang berekor ini, sayangnya dalam berbagai budaya komet identik dengan pertanda buruk atau bencana. Jadi, komet juga tidak mungkin sebagai Bintang Bethlehem.

Konjungsi Jupiter-Saturnus

Mungkinkah bintang tersebut adalah planet-planet dengan konfigurasi tertentu? Penelusuran jauh ke belakang membawa pada peristiwa konjungsi antara dua planet raksasa di Tata Surya, Jupiter dan Saturnus, yang dimulai Mei 7 SM di rasi Pisces (Ikan).

Peristiwa konjungsi terjadi bila dua atau lebih obyek langit terlihat berdekatan di angkasa. Gerhana Matahari total adalah salah satu contoh peristiwa konjungsi Bulan-Matahari yang spektakuler.

Yang membuat konjungsi pada tahun tersebut menjadi menarik adalah kejadiannya yang tidak hanya satu kali, melainkan tiga kali. Peristiwanya sendiri sudah diprediksikan dalam Almanak Sippur yang ditulis pada 17 SM atau 10 tahun sebelumnya.

Konjungsi pertama antara Jupiter-Saturnus terjadi pada 29 Mei 7 SM di rasi Pisces, yang dalam astrologi dikaitkan dengan Bani Israel. Jupiter dan Saturnus pada tanggal di atas, dari wilayah Jerusalem, muncul setelah lewat tengah malam sehingga akan terlihat di arah timur sebelum Matahari terbit.

Empat bulan berikutnya, tepatnya 1 Oktober 7 SM, kembali terjadi konjungsi Jupiter dan Saturnus. Kali ini kedua planet terbit beriringan di timur pada saat Matahari terbenam sehingga akan teramati sepanjang malam.

Jupiter (magnitudo: -2,9) dan Saturnus (magnitudo: +0,2) yang tampak berdekatan di langit akan dikesani oleh mata telanjang sebagai sebuah bintang yang cemerlang. Sangat dimungkinkan pertanda inilah yang mendorong orang-orang Majus memulai perjalanan mereka ke Jerusalem, sesuai ucapan mereka ketika menjumpai Raja Herodes, “Kami telah melihat bintang-Nya di timur…” (Matius 2:2).

Perjalanannya dari timur Jerusalem, sehingga sangat dimungkinkan orang-orang Majus ini berasal dari wilayah Babilonia yang memang berada di sebelah timur kota ini. Sangat mungkin pula mereka adalah ahli perbintangan yang dihormati, mengingat Raja Herodes menaruh perhatian besar atas berita yang mereka bawa.

Posisi Jupiter yang terbit berlawanan dengan arah Matahari dan berada di rasi Pisces pada konjungsi kedua ini dikenal sebagai King Maker Formation, suatu pertanda bahwa raja baru akan dilahirkan. Ini seperti yang diutarakan para imam dan ahli Taurat kepada Raja Herodes, bahwa Mesias akan dilahirkan di Bethlehem sebagaimana tertulis dalam kitab nabi (Matius 2:5).

Ketidaktahuan Raja Herodes perihal waktu kemunculan bintang tersebut juga dialami oleh para penggembala (Lukas 2:8-12). Peristiwa yang terjadi memang hanya melibatkan benda-benda langit yang lazim mereka jumpai, sehingga hanya ahli perbintangan (astrologi) seperti orang-orang Majus itulah yang memahami apa yang terjadi di langit.

Penuhi persyaratan

Sejauh ini enam syarat pertama dipenuhi oleh konjungsi Jupiter-Saturnus. Bagaimana dengan tiga syarat lainnya?

Dari Jerusalem, orang-orang Majus menuju ke Bethlehem di arah selatan, tempat Al-Masih dilahirkan. Mereka mengamati bahwa bintang yang awalnya mereka lihat di timur itu kini mendahului mereka dan berhenti di atas kota di mana Al-Masih berada (Matius 2:9).

Bahwa orang-orang Majus masih dapat melihat obyek yang sama dengan yang pertama kali mereka amati (konjungsi kedua, pada awal Oktober 7 SM), hal ini secara langsung menunjukkan bahwa penampakan obyek tersebut bertahan beberapa waktu.

Konjungsi ketiga Jupiter-Saturnus terjadi pada 5 Desember 7 SM. Posisi kedua planet pada konjungsi kali ini berada di sebelah selatan khatulistiwa langit, sehingga tidak mengherankan bila orang-orang Majus melihatnya sebagai bintang yang bergerak mendahului mereka di arah selatan.

Simulasi pemandangan langit juga menunjukkan bahwa keduanya mencapai zenit (titik tertinggi yang dapat dicapai dalam peredaran harian di bola langit) setelah terbenamnya Matahari. Bila orang-orang Majus dapat tiba di Bethlehem pada saat kedua planet mencapai zenit, tentunya mereka akan mendapati Jupiter dan Saturnus seolah-olah berhenti di atas kota Daud tersebut, sebab tidak mungkin lagi bagi Jupiter dan Saturnus untuk beranjak lebih tinggi.

Teori lain

Michael Molnar, astronom dari Rutgers University, berteori bahwa Bintang Bethlehem adalah okultasi Jupiter oleh Bulan. Peristiwa okultasi terjadi bila Bulan melintas di depan benda langit lainnya dan menutupinya untuk sementara waktu. Teori Molnar muncul setelah mempelajari sebuah koin yang berasal dari Antioch bertahun 13 M. Pada koin tersebut tergambar seekor domba jantan yang sedang memandang sebuah bintang terang di dekat bulan sabit.

Molnar menyimpulkan bahwa peristiwa okultasi memiliki makna yang besar bagi orang- orang zaman dulu. Penelusurannya ke masa silam menunjukkan dua peristiwa okultasi Jupiter oleh Bulan pada 6 SM yang dapat diamati dari kawasan Timur Tengah. Menghilangnya Jupiter di balik Bulan dan kemunculannya kembali beberapa saat kemudian, memberi pertanda pada orang- orang Majus perihal kelahiran seorang raja baru. Rasi tempat terjadinya peristiwa langit ini, Aries (domba jantan), dalam astrologi dikaitkan dengan wilayah Palestina.

Namun, keberatan muncul karena dalam teori konjungsi ada lebih dari satu obyek langit yang terlibat. Padahal, orang-orang Majus menyebut Bintang Bethlehem dalam bentuk tunggal.

Mungkin hakikat Bintang Bethlehem tidak akan benar- benar dipahami. Terkadang sebuah misteri lebih baik tetap menjadi misteri karena di baliknya tersimpan tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Selamat merayakan Natal 2003 dan semoga kedamaian senantiasa ada di negeri ini.

Judhistira Aria Utama SSi, Himpunan Astronom Amatir Bandung (HAAB), Forum Kajian Ilmu Falak “ZENITH”

Sumber: Kompas, Selasa, 23 Desember 2003

Popularity: 2% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

10 Comments »

  • vincent says:

    ehm… interesting… but does it matter which theory is true? If God wanted a star to show where he was going to be born, He’ll get one – Won’t He?

  • Bintang Bethlehem, Keajaiban atau Peristiwa Kosmis Biasa?

    KALAU KASIH BERITA YANG BENAR..DASAR TUKANG BOHONG..MALU SAMA TUHAN LO.. INI BERITA DARI KOMPAS YG SEBENARNYA…!!! TENTANG KERAGUAN HARI KELAHIRAN YESUS..
    Jakarta, Selasa

    Kirim Teman | Print Artikel

    Bintang yang diikuti orang-orang majus di Bethlehem. Konjungsi planet atau penampakan Ilahi?

    Hari kelahiran Yesus Kristus baru saja diperingati umat Kristiani di seluruh dunia. Berbagai cerita lama pun dikisahkan kembali. Salah satunya adalah mengenai orang-orang majus atau sarjana dari timur yang mendapat penampakan bintang terang menjelang kelahiran Isa al Masih. Bintang itulah yang membawa mereka ke lokasi kelahiran Yesus di Bethlehem.

    Sampai kini, benda langit yang disebut bintang Bethlehem itu masih menjadi teka-teki yang dipertanyakan, bahkan oleh para astronom. Apakah sebenarnya ’bintang’ itu? Sebuah meteor, komet, nova, planet, ataukah sesuatu yang ilahi?

    Pemahaman baru dari ilmu astrologi, dibantu perhitungan komputer modern, barangkali bisa menguak tabir misteri yang sejak lama menjadi pertanyaan itu. Namun sebelum mencoba mencari jawabannya, kita selayaknya mengetahui beberapa kerumitan di balik pemecahan masalah di atas.

    Bila ditilik secara cermat, banyak hal yang membuat teka-teki ini tidak mudah dipecahkan, termasuk ketidakpastian waktu kelahiran Yesus dan terminologi yang digunakan untuk melukiskan peristiwa langit pada saat munculnya bintang Bethlehem 20 abad lalu. Sebagai contoh, saat itu semua objek angkasa yang cukup terang untuk menarik perhatian selalu disebut sebagai bintang. Meteor dikatakan sebagai bintang jatuh, komet dikenal dengan bintang berekor, nova sebagai bintang baru, dan planet sebagai bintang beredar.

    Menentukan tanggal yang pasti

    Berkaitan dengan kelahiran Yesus, sejauh ini kitab suci tidak pernah menyebutkan tanggal pastinya. Yang ada hanya petunjuk berdasarkan peristiwa sejarah atau masa pemerintahan seseorang. Dituliskan, Yesus lahir pada masa pemerintahan Herodes, perwakilan Romawi di Israel. Penelitian sejarah menunjukkan bahwa Herodes meninggal antara tahun 4 dan 1 sebelum Masehi berdasar sistem kalender yang kita pakai sekarang. Sementara para sarjana majus diceritakan mengunjungi Herodes sebelum raja itu mati, sehingga diasumsikan kelahiran Yesus dan penampakan bintang Bethlehem terjadi beberapa waktu sebelum itu.

    Sementara mengenai tanggal dan bulannya, sesungguhnya sangat disangsikan bahwa Yesus lahir di akhir bulan Desember. Alasannya, selain karena tanggal itu diadopsi dari perayaan bangsa Romawi, salah satu ayat dalam Injil Lukas menulis, “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.” Kalimat tersebut mengindikasikan waktu musim semi –yang tidak jatuh pada bulan Desember– saat gembala-gembala Yudea menggembalakan ternaknya.

    Tanggal 25 Desember sendiri, pada masa lalu merupakan hari perayaan Saturnalia oleh bangsa Romawi, dimana matahari muncul di daratan Eropa setelah musim dingin melanda. Dalam perayaan tersebut orang-orang berbagi hadiah, menghiasi rumah dan jalanan, dan pesta-pesta diselenggarakan. Disebutkan, perayaan Saturnalia itulah yang digunakan orang-orang Kristen awal untuk merayakan kelahiran Yesus, dengan tujuan agar tidak menarik perhatian, mengingat agama ini pada mulanya dilarang penguasa Romawi.

    Tanggal 25 Desember baru dipakai secara luas untuk merayakan kelahiran Yesus setelah kaisar Roma, Konstantin, secara resmi memeluk Kristen pada abad 4. Mulai saat itu, tanpa memperhatikan kebenarannya, tanggal tersebut dianggap sebagai hari lahirnya sang juru selamat.

    Perbedaan penanggalan

    Hal lain lagi yang juga perlu diperhatikan adalah perhitungan bahwa kelahiran Yesus sepertinya tidak terjadi 2002 tahun lalu. Hal ini akibat adanya perbedaan perumusan penanggalan masa itu, dengan apa yang kita gunakan sekarang.

    Seperti diketahui, sekitar tahun 523 Masehi, biarawan Romawi Dionysius Exiguus menyusun penanggalan yang kita pakai saat ini. Dalam susunannya, Dionysius membedakan antara tahun Masehi (AD atau anno domini, tahun Tuhan setelah Yesus lahir) dan sebelum Masehi (BC atau Before Christ). Sayang sekali ia membuat dua kesalahan signifikan dalam perhitungannya tersebut.

    Kekeliruan pertama adalah penempatan tahun 1 Masehi (AD) tepat sesudah tahun 1 sebelum Masehi (BC), yang sama sekali tidak menghiraukan keberadaan nol di antaranya. Di Eropa jaman dahulu, nol bukanlah angka, sehingga tidak diperhitungkan. Akibatnya, masa yang kita sebut sebagai tahun 3 sebelum Masehi, pada kenyataannya adalah tahun -2.

    Kedua, Dionysius menganut pernyataan Clement dari Alexandria yang menyebutkan Yesus lahir pada tahun ke 28 pemerintahan Kaisar Agustus. Iaa tidak memperhitungkan bahwa selama empat tahun pertama kekuasaannya, Agustus dikenal sebagai Oktavianus, sampai senat Roma memproklamirkan sebutan Agustus. Di sini kita menemui empat tahun kesalahan dalam menentukan kelahiran Yesus.

    Nah, berdasar koreksi-koreksi di atas, banyak astronom dan peneliti Kitab Suci percaya bahwa penampakan bintang Bethlehem sesungguhnya terjadi antara tahun 7 dan 2 sebelum Masehi. Maka bila kita ingin mencari tahu objek langit apakah yang diikuti para sarjana dari timur, inilah rentang waktu yang harus kita cermati.

    Meteor, komet, bintang, atau planet?

    Apakah bintang itu merupakan meteor, komet, supernova, atau planet?
    Setidaknya ada empat teori yang dimunculkan untuk menjelaskan sosok bintang Bethlehem dari sudut pandang astronomi. Gagasan pertama menyebutnya sebagai meteor yang menyala terang melintasi cakrawala. Namun seperti diketahui, objek seperti itu hanya terlihat selama beberapa detik saja, padahal diceritakan orang-orang majus berjalan dari timur menuju Bethlehem mengikuti bintang itu selama beberapa hari bahkan berbulan-bulan. Jadi teori ini dianggap mustahil.

    Teori kedua menduga bintang tersebut adalah sebuah komet. Penampakan komet bisa berlangsung selama beberapa minggu, dan bukan tidak mungkin sebuah komet memiliki kepala seterang bintang serta ekor memanjang yang seolah menunjuk ke suatu arah, dalam hal ini ke Bethlehem.

    Komet Halley yang terkenal, yang terlihat terakhir awal tahun 1986, menurut catatan, tampak pula sepanjang bulan Agustus dan September tahun 11 sebelum Masehi. Meski begitu, banyak astronom meragukannya sebagai bintang Bethlehem karena waktu penampakan yang tidak cocok. Sedangkan teori yang menyebut adanya komet lain yang terlihat di tahun-tahun itu namun tidak tercatat, cenderung membawa kita pada ketidakpastian dan reka-reka tanpa dasar.

    Di samping itu, komet dipandang sebagai pertanda buruk atau bencana seperti datangnya banjir dan kelaparan, ataupun kematian –bukan kelahiran– orang-orang penting. Bangsa Romawi, dalam mengingat kematian Jendral Agrippa misalnya, menggunakan penampakan komet Halley tahun 11 sebelum Masehi sebagai tonggaknya. Artinya, penampakan komet kemungkinan besar tidak akan dipandang sebagai pertanda baik masa itu.

    Nova dan supernova

    Barangkali jawaban paling gampang untuk menentukan objek misterius itu adalah nova atau ledakan supernova, suatu ’penampakan’ bintang baru yang ditandai dengan pancaran tenaga dan cahaya amat dahsyat. Peristiwa ini jarang terlihat dengan mata telanjang sehingga dianggap istimewa, serta tidak meninggalkan jejak di masa mendatang.

    Walau sebutan nova bermakna suatu penciptaan baru, namun peristiwa spektakuler itu sesungguhnya merupakan proses kematian suatu bintang. Terjadinya nova tidak dapat diramalkan, meski nova yang sangat terang selama ini terlihat sekali tiap 25 hingga 30 tahun. Berdasarkan asumsi tersebut, kita seharusnya bakal melihat nova pada saat-saat ini, mengingat nova terakhir terlihat dengan mata telanjang pada tahun 1975, tidak jauh dari bintang terang Deneb di gugusan Cygnus.

    Kebanyakan nova yang terang tampak secara tiba-tiba di langit malam, sehingga menarik perhatian para pengamat perbintangan. Tetapi setelah beberapa hari atau minggu, penampakan itu perlahan-lahan akan menyusut dan lenyap dalam kegelapan.

    Pemandangan lebih hebat akan kita dapatkan bila terjadi supernova, bintang yang meledak dan hancur lebur dalam proses yang menghasilkan energi sangat besar. Pada puncak ledakannya, sebuah supernova dapat memancarkan cahaya terang yang terlihat bahkan di siang hari, suatu hal yang bisa dikaitkan dengan peristiwa besar seperti kelahiran seorang raja. Dalam galaksi Bima sakti kita, selama berabad-abad telah terjadi empat supernova yang luar biasa terang, yakni pada tahun 1006, 1054, 1572 dan 1604.

    Walau nova ataupun supernova bisa menjadi penjelasan yang masuk akal mengenai bintang Bethlehem, namun ada masalah dengan teori itu, yakni tiadanya catatan astronomi yang menyatakan munculnya nova atau supernova pada waktu sarjana-sarjana dari timur memulai perjalanannya. Satu nova sebenarnya nampak di antara gugusan Capricornus dan Aquarius pada musim semi tahun 5 sebelum Masehi. Tetapi catatan para ilmuwan Cina menyebutkan objek itu redup dan tidak cukup menarik perhatian.

    Konjungsi planet

    Konjungsi Jupiter dan Saturnus di gugusan bintang Pisces tahun 7 sebelum Masehi
    Nah, kemungkinan terakhir adalah sebuah planet atau beberapa planet yang berada dalam posisi sedemikian rupa sehingga terlihat amat terang. Bahwa para sarjana kesulitan membedakan antara bintang dengan planet memang sesuatu yang aneh. Namun kadang kala dua atau lebih planet berada dalam satu garis konjungsi sehingga menimbulkan pemandangan istimewa seolah mereka bintang yang berkedip-kedip. Hal inilah yang barangkali terjadi antara tahun 7 dan 2 sebelum Masehi, dan membuat para sarjana merasa perlu mengistimewakannya.

    Kebetulan peristiwa konjungsi memang pernah terjadi pada sore hari tanggal 25 Februari tahun 6 sebelum Masehi. Kejadian tersebut melibatkan Mars, Jupiter, dan Saturnus, dan terjadi di gugusan bintang Pisces. Catatan dan perhitungan astronomi menyebutkan pula ada tiga konjungsi berbeda antara Jupiter dengan Saturnus sekitar bulan Mei hingga Desember tahun 7 sebelum Masehi. Waktu itu Jupiter terlihat melintas satu derajat di utara Saturnus pada 29 Mei, 30 September, dan 5 Desember.

    Bila itu yang dilihat, maka para sarjana pada awalnya barangkali melihat kedua planet nyaris sebagai satu planet. Namun selama delapan bulan perjalanan –waktu yang harus ditempuh untuk berjalan sejauh 800 kilometer antara Babilonia ke Yudea– kedua planet, Jupiter dan Saturnus, akan makin renggang dan berjarak sekitar 3 derajat sejak akhir April tahun 7 sebelum Masehi hingga awal Januari tahun 6 sebelum Masehi, sehingga keistimewaannya sebagai satu bintang terang juga disangsikan.

    Jika teori di atas gagal, masih ada peristiwa konjungsi lain antara Venus dengan Jupiter untuk menjelaskan misteri bintang Bethlehem. Konjungsi ini jauh lebih terang dibanding konjungsi kelompok planet sebelumnya. Kejadiannya sesuai dengan tulisan Matius, yang menyebutkan ada dua kali penampakan bintang. Penampakan awal terjadi saat para sarjana memasuki Bethlehem, dan kedua pada akhir perjalanan mereka.

    Konjungsi yang amat dekat antara Venus dan Jupiter ini dapat dilihat di langit pagi Timur Tengah sebelah timur, antara pukul 03.45 hingga 05.20 waktu setempat tanggal 12 Agustus tahun 3 sebelum Masehi. Lokasinya yang berada dalam gugusan bintang Leo atau singa makin menambah keistimewaannya, mengingat bangsa Israel kuno memandang gugusan itu sebagai bagian sakral di langit.

    Saat pertama muncul di atas cakrawala timur, kedua planet hanya dipisahkan sejauh 12 menit arc. Sebagai perbandingan, jarak antara bintang Mizar dan Alcor dalam gugusan bintang biduk juga 12 menit arc bila dilihat dari Bumi. Planet dalam jarak pandang seperti itu akan tampak seperti satu planet, bila kecemerlangannya tidak terlalu berbeda.

    Konjungsi Jupiter dan Venus di gugusan Leo tahun 3 sebelum Masehi
    Kenyataan bahwa konjungsi terlihat di timur, sesuai lagi dengan tulisan Matius bahwa orang-orang majus sempat berkata pada Herodes, “Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Tidak jelas apakah mereka melihat bintang itu di langit timur atau mereka melihatnya sejak berada di negaranya di timur. Faktanya, pada tanggal 12 Agustus tahun 3 sebelum Masehi, konjungsi antara Venus dengan Jupiter terjadi di langit timur, yang juga terlihat dari negara-negara di timur.

    Venus kemudian tenggelam dalam pancaran sinar Matahari, namun Jupiter dan gugusan Leo tetap menghiasi langit malam selama sepuluh bulan ke depan. Sepanjang waktu itu, beberapa konjungsi planet terjadi, dan semuanya memiliki arti penting bagi para ilmuwan masa itu.

    Kemudian sepanjang bulan Juni tahun 2 sebelum Masehi (sepuluh bulan sejak penampakan pertama atau kira-kira pada waktu orang-orang majus melakukan perjalanan pulang), Jupiter dan Leo mulai tenggelam di cakrawala langit barat, namun Venus kembali muncul di lokasi yang sama di langit. Para majus pastilah melihat bahwa pada tanggal 17 Juni sore, Jupiter dan Venus tampak makin berdekatan dibanding saat menampakkan diri di bulan Agustus sebelumnya. Keduanya terlihat seperti satu planet ketika secara perlahan turun ke cakrawala.

    Nah, berdasar kenyataan di atas, apakah konjungsi Jupiter dan Venus dalam gugusan bintang Leo itulah yang disebut bintang Bethlehem, atau sang bintang benar-benar suatu mukjizat ajaib? Kita hanya dapat menerkanya. Faktanya ilmu astronomi modern dibantu perhitungan komputer canggih telah menunjukkan pada kita bahwa peristiwa konjungsi planet tersebut memang sungguh terjadi.

    Akan tetapi apakah pada saat itu ada yang mengamatinya, dan apakah peristiwa tersebut mendorong orang-orang majus untuk melakukan perjalanan bersejarah, kita semua tidak tahu. Yang jelas ilmu astronomi telah mengungkapkan apa yang mungkin terjadi saat itu, namun keputusan akhirnya tetap terletak pada Anda sekalian… (space.com/wsn)

  • YG BISA DIPERCAYA says:

    BUKAN MASALAH BINTANG JATUHNYA.. TAPI YANG JADI MASALAH PEMOTONGAN2 BERITA DARI KOMPAS YANG TDK BENAR YG ANDA LAKUKAN. SAMA SEPERTI YANG KAUM KRISTIAN LAKUKAN (DALAM SUATU ARTIKEL DI MISA “JALAN MENUJU SHIROTUL MUSTAKIM”) YG MENGAMBIL AYAT2 KAMI DAN MEMOTONGNYA SEHINGGA TERLIHAT BAHWA YESUS YG BENAR DAN NABI KAMI YG MULIA MUHAMMAD SAW YG SALAH..TOLONG JANGAN JADI PENDUSTA AGAMA.. BELAJAR DARI HAL YG KECIL. JADILAH PENYAMPAI AGAMA YG BENAR DAN BISA DIPERCAYA SEPERTI PENYAMPAI INJIL ZAMAN DULU… GBU

  • peace says:

    buat YG BISA DIPERCAYA, kok kurang baik yah cara menegurnya. Terkesan menghakimi. Klo memang ada kesalahan pemotongan yang dilakukan Riel. Adlh lbh baik memberi kritik dgn baik. Bukannya menghujat dgn kata2 yg penuh penghakiman. Jesus love U.

  • phing says:

    UNTUK YANG BISA DIPERCAYA : Mengapa anda menuduh kaum kristiani sebagai penyebar berita yang dikarang-karang, atau mengapa anda yakin sekali jika kami kaum kristiani tukang mengopi ayat-ayat kalian, toh lagipula, masalah kelahiran yesus baik tgl 25 Des ato bukan apa urusannya dengan anda,urus diri masing-masing ajalah!dan juga bukan masalah tgl berapa Yesus lahir tetapi makna yang dapat diambil dari kelahiran tersebut.Betul tidak?????Betul yang dikatakan Riel, seandainya anda mau mengkritik harap yang sopan dan jangan menimbulkan perpecahan agama. Kalaupun berita yang disebutkan Riel kurang tepat, harap maklum,kan cerita dari media satu dan yang lainnya juga berbeda-beda.Jadi biarkan Bintang Betlehem menjadi Sebuah MISTERI dan KEAJAIBAN bagi orang yang mempercayainya.Thx.Hargai setiap kepercayaan orang masing-masing karena Negara sudah menjaminnya dalam Pasal 29 ayat 2 UUD 45.Saran saya : Jangan mencari-cari kesalahan agama orang lain karena tidak ada yang sempurna.

  • vincent says:

    Agama bukan tentang siapa yang benar atau siapa yang salah, tetapi lebih kepada ‘iman’, kepada apa yang kamu percayai. Sebagai bandingannya, ada orang yg suka makanan asin lalu mengatakan makanan asin itu paling enak, lalu ada yang suka makanan pedas mengatakan yang pedas paling enak. Lalu siapa yang benar?

    Riel hanya menyampaikan fakta yang merupakan penggalan dari berita, teori-teori yang ada. Apa yang dia sampaikan tidak salah karena dia mengambil sumber dari berita. Dia juga tidak mengubah berita dan kesimpulan tiap teori. Seperti seharusnya seseorang yang mengambil informasi dari hasil tulisan orang lain, dia menyebutkan sumber untuk menghormati penulis artikel yang mula2.

    Harus diakui kadang ada orang yang mempermasalahkan hal yang sebenarnya, menurut saya, tidak penting dan mencoba berargumentasi tentang hal tersebut. Harus diakui ada orang Kristen yang kadang berkomentar tentang agama lain (menurutku ini hanya buang2 tenaga saja, dan mencari masalah), tapi orang seperti ini ada juga di agama-agama yang lain. Tetapi ‘bukan’ berarti semua orang Kristen seperti itu.

    Generalisasi seperti ini sangat berbahaya, karena tentu ‘yg bisa dipercaya’ juga tidak rela khan kalo karena sedikit orang yang bertindak buruk semua umatnya dikatakan dan digeneralisasi sebagai teroris?

    Tentang tanggal yang ditetapkan sebagai tanggal kelahiran Tuhan, menurutku itu juga bukan hal yang penting. Karena apa yang kita imani itu yang penting. Apa yang ada di dalam hati itu yang penting. Aku percaya Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan aku dan siapa saja yang mau diselamatkan. Tentang kapan tepatnya Dia datang, Who cares? I know I don’t.

  • emon says:

    ada berita tentang bintang betlehem nih………

  • Joni says:

    Tidak bisa dengan hanya percaya..
    Iman bukan sekedar percaya, tapi iman juga berarti berpikir tentang kebenaran. Tuhan memberikan manusia pikiran dan logika bukan hanya untuk memikirkan diri sendiri, tapi untuk memikirkan kebenaran tentang-Nya.
    Dialah Allah Tuhan sekalian alam, tiada Tuhan selain Dia yang maha Tunggal. Untuk itu berbahagialah orang-orang muslim karena mereka menjadi satu-satunya yang berkeyakinan Tunggal pada Allah didunia ini. 1 is everything and for all of everything, thats Allah.
    Allah is not 3 but 1..for everlasting, Islam in The World.

  • SUNARDI says:

    KALO BUKAN IMAN = PERCAYA, APA ARTINYA KEBENARAN TENTANG TUHAN ALLAH.IMAN ITU BUKAN “9 WIFE” BUT 1. JADI JANGAN SOK MUNAFIKLAAHHHHH! MAKANYA BELAJAR DARI IMAN.BELAJAR… BELAJAR…. GINI HARI KOK MASIH EO !!!

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.