Jumat kemaren
(19/12/03), aku, Dhe, Anyes, Nana, dan Lina dateng ke perayaan Natal Batak
Bermazmur yang diadakan di Tennis Indoor Senayan, Jakarta. Di selebaran, acara
dimulai pukul 18.00 WIB, tapi kenyataanya acara baru dimulai pukul tujuh kurang lima.
Konsep acara terasa begitu singkat. Kidung Natal yang dibawakan dalam bentuk narasi berlalu begitu
saja. Yang sangat menarik dalam acara ini adalah ekspresi dan ucapan dari belasan anak-anak yang berganti-gantian
menyuarakan suara hati mereka tentang orang tua dan kehidupan anak muda masa kini.
“Orang tua selalu berkata, jangan ini, jangan itu. Kamu harus begini, kamu harus begitu. Kalau
kami dulu seusia kalian, sudah kerja,” sahut anak-anak itu disambut derai tawa dan tepuk tangan dari jemaat.
“Berikan kami kebebasan untuk memilih,” kata seorang yang lain menutup ‘drama’ singkat yang unik ini.
Tidak mengherankan memang, bila jemaat ikut tersenyum, tertawa dan bertepuk tangan setiap kali mendengar kalimat-kalimat
yang lugu, lucu, dan jujur dari anak-anak yang sedang beranjak dewasa. Orang tua sering kali memaksakan kehendaknya
sendiri tanpa pernah mendengarkan isi hati anak-anaknya. Peran orang tua tidak lagi membimbing tapi merongrong.
Tidak jarang pula, ada orang tua yang menganggap anak-anaknya adalah media investasi. Si anak yang
sudah disekolahkan tinggi-tinggi, diberi fasilitas sebanyak mungkin, harus ‘tahu diri’ dengan menuruti semua kemauan orang tuanya.
Jaman sudah berubah dan diperlukan pikiran yang lebih terbuka yang dilandasi oleh kasih untuk bisa mengerti anak-anak masa kini.
Aku banyak belajar dari kedua orang tuaku. Mereka membuka diri untuk menerima masukan dan kritikan atas setiap
keinginan mereka terhadap anak-anaknya. Kedewasaan seorang anak akan tumbuh bila orang tua memberikan kesempatan
kepada anaknya untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya itu.
Entah keputusan itu baik atau salah menurut ‘versi’ orang tua, sepanjang orang tua sudah menanamkan nilai-nilai yang baik
pada anaknya, menjadi teladan, dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan,
saya percaya, anak-anak akan semakin menghargai dan mengasihi orang tuanya. Mempercayai seorang anak itu berarti menghargainya sebagai
seorang manusia/individu. Kira-kira begitulah kesan yang kudapat dari ‘drama’ singkat itu.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penyalaan lilin, khotbah oleh Pdt. Erastus Sabdono, M.Th, lalu kesaksian pujian oleh beberapa
penyanyi Batak yang sudah tidak asing lagi seperti Hutauruk Sisters, Naras Sisters, Jan Berlin Panjaitan. Tidak ketinggalan
juga Hotma Sitoempul, pengacara kondang bersama rekan-rekannya yang juga pengacara ikut bernyanyi dengan memakai nama Paduan Suara
Nabirong (yang hitam). Kostum mereka waktu itu memang berwarna hitam. Dari kesaksiannya, Hotma Sitoempul mengaku banyak dibimbing oleh
guru spritualnya, Pdt. Tohap Sihotang.
Berhubung sudah jam 10 malam sementara acara belum juga berakhir, aku dan empat orang cewek
Batak yang manis-manis keluar dari gedung itu. Di luar, Anyes memesan tiga bungkus nasi goreng untuk dimakan di rumah.
Tapi berhubung Nana sudah lapar, dia sikat nasi goreng itu di pinggir jalan ketika kami menunggu taksi yang kosong. Lumayan
sulit juga mencari taksi malam itu.
Setelah mengantar Dhe, aku pulang ke rumah dengan perut kosong. Rencananya
sih mau makan nasi goreng kesukaan Dhe di dekat rumahnya, tapi batal karena
sudah terlalu malam. Di rumah, dengan semangat emat lima, aku lahap ikan teri
kacang plus nasi yang sudah ditaburi kecap manis ABC.
Maklumlah, makanan orang
Batak itu nggak jauh-jauh dari ikan teri kacang, sayur singkong, sayur labu,
ikan rebus, ikan asin, tauco, dan sebagainya. Buat aku sendiri, makanan paling
lezat sedunia, mulai aku dari kecil hingga sekarang, adalah makan ikan teri
ditemani sayur singkong. Nyam…nyam…nyam… enak banget. 
Bila ditanya lebih enak mana, masakan Italia atau ikan teri + sayur singkong,
dengan mantap pasti kujawab, “Masih lebih enak ikan teri sama sayur singkong
lah!” 
——————————————————————————-
Batak Bermazmur
Kompas – “Di surga, Nomensen menangis melihat orang-orang Batak tak bertobat,”
kata Pendeta Erastus Sabdono M Th dalam khotbahnya pada perayaan Natal Batak
Bermazmur yang diselenggarakan di Stadion Tennis Indoor Senayan, Jakarta,
Jumat (19/12).
Bisa dipahami mengapa Pendeta Erastus memilih nama Nomensen untuk mengingatkan orang Batak dalam perayaan Natal. Nomensen adalah misionaris Jerman yang menyebarkan agama Kristen pertama di tanah Batak, tepatnya di sekitar Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Di sana, ia pernah bermimpi melihat orang menggunakan ulos (pakaian adat Batak) memenuhi gereja.
Saat ini, apa yang dimimpikan Nomensen menjadi kenyataan. Huria Kristen Batak Protestan (Gereja Kristen Protestan Batak) yang mayoritas jemaatnya orang Batak merupakan gereja terbesar di Indonesia, bahkan diklaim sebagai gereja terbesar di Asia Tenggara. Selain itu, banyak gereja lain yang jemaatnya mayoritas orang Batak.
“Sebagai orang Batak, saya mengajak saudara-saudara untuk bertobat. Tahun depan, tidak ada lagi copet orang Batak, tidak ada lagi Minggu pergi ke gereja, tetapi Senin main togel (toto gelap),” lanjut Pendeta Erastus. Ajakan itu disambut tepuk tangan 5.000 lebih orang Batak yang hadir dalam perayaan Natal malam itu.
Erastus sendiri adalah seorang pendeta yang sebenarnya berasal dari suku Jawa. Ia sangat kagum dengan keindahan Danau Toba dan kesuburan Tapanuli, tanah orang Batak. Ia juga kagum melihat potensi yang dimiliki orang-orang Batak. Kekagumannya itu sekaligus membuatnya heran mengapa Tapanuli yang begitu subur dicap sebagai salah satu peta kemiskinan di Indonesia.
“Saya yakin jika pertobatan hadir dalam kehidupan orang- orang Batak, dengan segala potensi sumber daya manusia dan alamnya, cap Tapanuli sebagai peta kemiskinan akan hilang,” katanya.
Oleh karena itu, pada tahun 1999, Pendeta Erastus beserta rombongan yang berjumlah 125 orang mengadakan pelayanan rohani ke berbagai daerah di Sumatera Utara, seperti Tarutung, Siborong-borong, Balige, Laguboti, Prapat, Pematang Siantar, dan Medan. Sejak itu, pelayanan dilakukan setiap tahun.
Pelayanan itu berkembang bagi orang Batak yang berada di Jakarta. Pada tanggal 10 April 2003, Ibadah Batak Bermazmur dilakukan di Panin Hall, Jakarta, yang dihadiri lebih kurang 2.000 orang. Ibadah ini kemudian dilakukan setiap bulan tanpa membentuk gereja baru karena jemaat diharapkan tetap melakukan ibadah Minggu di gereja masing-masing.
Ketua Panitia Perayaan Natal Batak Bermazmur Hatta Simanjuntak mengatakan, perayaan Natal Batak Bermazmur didasari atas kerinduan jemaat merayakan Natal. “Ini merupakan perayaan Natal pertama Batak Bermazmur,” katanya.
Perayaan Natal yang mengangkat tema “Terang Itu Telah Datang” yang diambil dari Injil Yohanes 12:46 dihadiri lebih dari 5.000 orang Batak se-Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tanggerang, dan Bekasi). Diisi dengan acara pujian dan penyembahan, khotbah, serta acara hiburan.
Dalam pujian dan penyembahan, jemaat menyanyikan lagu-lagu rohani dalam bahasa Indonesia dan Batak. Beberapa jemaat mengatakan sangat terharu dengan perayaan Natal ini karena merayakan Natal seraya di kampung halaman.
Lagu Malam Kudus, yaitu lagu yang biasanya dinyanyikan untuk mengiringi penyalaan lilin, dinyanyikan dalam lima bahasa Batak, yaitu bahasa Batak Tapanuli Utara (Toba), Simalungun, Angkola, Dairi Pakpak, dan Karo. Ke lima bahasa Batak itu merupakan representasi lima subsuku dalam suku Batak.
Dalam acara hiburan, puluhan lagu Natal dinyanyikan artis-artis Batak, seperti Tarida Hutauruk,
Dakka Hutagalung, Yan Berlin Panjaitan, Hutauruk Sisters, dan Jessica Nainggolan. (K04)
Sumber: Kompas, Jumat, 26 Desember 2003
Popularity: 3% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.