To believe on Christ savingly means to believe the right things about Christ. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Kliping

Bisikan dari Pondok Nabi

Submitted by riel on 12/11/2003 – 9:31 AM | 424 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

STEVI pun lunglai. Gadis berusia 25 tahun berkulit kuning itu terduduk letih
di lantai keramik bangsal Gereja Bethel Tabernakel, Bandung. Ia mengerang lalu
berteriak-teriak histeris sambil mengangkat kedua tangannya, “Kami tidak gila, kami tidak gila….”

Hampir setengah jam tubuh Stevi, sang nabiya-sebutan perempuan pemimpin dalam sekte Pondok Nabi yang tengah bikin heboh di Bandung-berputar-putar di tengah bangsal kosong. Ia melakukan “ritual” seorang diri. Seiring dengan teriakan Stevi, nabiya lainnya bernama Henny berdiri di belakang 283 anggota jemaat dan meminta agar mereka tidak tertidur dan berkonsentrasi pada kedatangan “Hari Kiamat”.

Mata jemaat dipaksa tetap melek sampai jam “pengangkatan ke langit”. Jika ada yang tertidur langsung dibangunkan, tak terkecuali belasan anak-anak. Mungkin takut kalau tertidur bakal “tak terangkut kereta”.

Mereka tidak peduli suara berisik yang muncul dari atas balkon dan ratusan orang di balik kaca ruangan yang menyaksikan ritual tersebut. Tessa, salah seorang nabiya senior, menegur anggota jemaatnya yang keluar-masuk ruangan prosesi meski alasan kencing sekalipun. “Di luar banyak orang. Kita sudah dicaci-maki,” katanya.

Detik-detik menuju pukul 24.00, sebagai batas akhir “Kiamat 10 November 2003″ yang mereka percayai, terasa mendebarkan bagi anggota jemaat sekte pimpinan Mangapin Sibuea ini. Sejak pukul 22.00, prosesi kesiapan menuju pengangkatan tampak nyata.

Dengan sisa tenaga setelah empat hari berpuasa menuju hari-H, mereka bernyanyi dengan kepala tertunduk. Sebagian di antaranya menangis dan menjerit-jerit meminta Tuhan segera datang.

Di tengah kepasrahan jemaatnya, di deretan belakang dekat pintu masuk gereja itu, seorang nabiya berusia sekitar 20 tahun tampak sibuk ber-SMS (pesan singkat melalui telepon seluler).

Tak berapa lama ia berdiri, lalu mengungkapkan penundaan hari kiamat. “Ada bisikan Tuhan, kita menunggu pengangkatan sampai pukul 02.00,” katanya. Jemaat pun lebih khusyuk.

Denny (16), jemaat asal Kupang, menyatakan bisa memahami “bisikan Tuhan” itu. Ia tak peduli dengan peristiwa penundaan hari kiamat. “Saya yakin kiamat akan datang, tetapi kita sudah dimurnikan,” katanya datar.

Anggota jemaat sekte ini memang sangat akrab dengan kata “bisikan”. Hidup dalam sistem kepercayaan mereka sejak berada di Pondok Nabi bertahun-tahun penuh dengan bisikan-bisikan. Istilah bisikan bagai obat mujarab untuk menyiasati kehidupan yang anomali.

Ketika Kompas bertemu Pemimpin Pondok Nabi Pendeta Mangapin Sibuea di Rumah Tahanan Kebon Waru, kemarin, kata “bisikan” juga banyak terlontar dari mulutnya. Ditanya mengenai biaya untuk memberi makan ratusan pengikutnya selama bertahun-tahun di Pondok Nabi, Sibuea menjawab, “Melalui bisikan Tuhan.” Artinya, ada “arahan Tuhan” untuk mendapatkan sesuatu di tempat tertentu.

Sibuea mengaku untuk membeli beras sebulan mereka mengeluarkan biaya Rp 7 juta lebih. Belum biaya hidup lainnya seperti membayar listrik, air, ataupun membeli lauk-pauk. Konon, biaya yang diperoleh Sibuea itu berasal dari jemaatnya yang menyetor sejumlah uang setelah menjual harta benda mereka. “Ada yang memberi,” katanya diplomatis.

Sibuea dilahirkan di Tapanuli, 17 Oktober 1944. Ia menamatkan pendidikan sekolah dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama, sampai sekolah kejuruan (STM) di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Dari sana ia masuk sekolah Alkitab di daerahnya, kemudian dilanjutkan ke Beji, Malang, Jawa Timur, sampai tahun 1966. Selama 16 tahun dia menjadi pendeta Gereja Pantekosta di Indonesia, dan menjadi pendeta jemaat Filadelfia sampai tahun 1999. Ia keluar dari jemaat itu dan membentuk sekte Pondok Nabi.

WIDODO, seorang anggota sekte Pondok Nabi yang keluar dari keanggotaan pada Januari 2003, mengatakan, ia tertarik dengan ajaran Sibuea karena cara bertutur katanya yang sangat baik. Saking “cintanya” jemaat kepada Sibuea, mereka rela berkorban apa saja.

Menurut Widodo, sebagian anggota dari luar Jawa Barat mengaku sudah pasrah dengan kemiskinan harta. “Seorang kawan dari Kupang, Nusa Tenggara Timur, mengatakan telah menjual rumahnya untuk ke Bandung,” kata Widodo.

Sibuea, lanjut Widodo, punya “senjata ampuh” dalam setiap pertemuan. Ia juga mengumbar harapan-harapan hidup anggota jemaatnya berikut pemujaan atas hari kiamat 10 November 2003.

Setiap khotbah pagi, Sibuea tak lupa mengucapkan kalimat, “Tuhan tadi malam berbicara kepada saya,” kata Widodo menirukan kalimat Sibuea.

Widodo hanya enam bulan di dalam sekte itu dan memilih keluar karena adanya anjuran hidup yang anomali dari sang pendeta. Menurut Widodo, ajaran Sibuea telah jauh masuk pada privasi anggota jemaatnya, misalnya, menganjurkan hidup tanpa harta benda.

“Punya rumah, mobil, disuruh jual. Sampai sekolah pun dianjurkan berhenti. Tetapi, pendeta Sibuea ke mana-mana pakai mobil pribadi,” katanya.

Sitti Nurjanah (32), pengikut sekte bersuamikan Ir Hosian Simanjuntak, melarang Reza sekolah. Padahal, usia anaknya itu telah sembilan tahun. Karlina (54), ibu Sitti, terheran-heran dengan sikap Sitti.

“Kok sekolah dilarang. Saya tak bisa berbuat apa-apa karena yang punya anak adalah Sitti,” katanya.

Hal yang sama dilakukan Simanjuntak, sarjana jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB), yang kemudian memilih keluar dari perusahaan tempatnya bekerja, Krakatau Steel Cilegon.

Karlina berkisah, ia harus menanggung biaya hidup setelah suaminya menceraikan dirinya puluhan tahun silam ketika Sitti masih kecil. “Mungkin anak kami, Sitti, korban perceraian orangtua,” katanya.

Seperti halnya para nabiya, Sitti pintar menjawab pertanyaan wartawan. “Saya tidak berganti nama karena Nurjanah itu artinya cahaya surga. Ini hanya persoalan bahasa saja,” katanya. Soal agama? “Agama itu organisasi manusia,” katanya.

Gindo Silalahi (47) yang mengaku pernah dekat dengan pemimpin Pondok Nabi mengungkapkan, ia pernah dikutuk Sibuea karena melontarkan kritik atas ajaran hidup yang ia nilai menyimpang.

“Saya tiga kali dikutuk pendeta karena mengkritik dia. Pak Sibuea dipuja jemaatnya karena pernyataan Alkitabiah yang sangat dalam disertai harapan-harapan hari kiamat,” kata Gindo. Tetapi, Gindo mengatakan tak sependapat dengan ajaran-ajaran Sibuea yang menabrak kehidupan umum, seperti menuntut pendidikan.

Selama berada di Pondok Nabi, lanjut Widodo, ritual keagamaan dilakukan sepanjang hari. Mulai bangun pagi pukul 05.00 sampai tengah malam pukul 23.00. Sehari bisa empat sampai lima kali pertemuan. “Kami sepertinya tidak ada kegiatan selain berdiskusi atau mendengar khotbah dari Pak Pendeta,” katanya.

PAKAR sekte berbahaya, Ron Enroth, dalam buku How to Identify a Dangerous Religious Group (Bagaimana Mengenali Sekte Berbahaya) menulis 15 teknik indoktrinasi sebuah sekte berbahaya.

Di antaranya merusak ketahanan tubuh seseorang oleh banyaknya pertemuan dan jam kerja yang terus bertambah. Lalu melakukan permainan rumit (diskusi) untuk menciptakan ketergantungan terhadap pemimpin yang suka memberi peraturan. Lebih dari itu, orang-orang yang direkrut diisolasi dari keluarga, teman, dan media massa sehingga terhindar dari pendapat yang bertentangan.

Sibuea membenarkan adanya rutinitas dan banyaknya pertemuan wajib dilakukan jemaat Pondok Nabi. Di samping mendengarkan khotbah, jemaat dianjurkan berpuasa dan berdiskusi. Sibuea membantah bahwa ajarannya menyimpang dari Alkitab.

“Anda bisa membuka Injil Tesalonika bahwa mengenai bisikan-bisikan kedatangan Tuhan kedua kali. Kami beruntung mendapat karunia itu,” katanya.

Yang jelas, kalkulasi mengenai hari kiamatnya kemudian memang meleset. Bagaimanakah mereka menyikapi “miskalkulasi” ini? Sebagai “penundaan” ataukah mereka bakal menggugat yang disebut “bisikan”? Hanya mereka yang tahu. (ZAL)

Sumber: Kompas, Rabu, 12 November 2003

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.