
Bandung, Kompas – Sebanyak 283 anggota jemaat sekte yang sedang menunggu kiamat di
rumah peribadatan mereka di Jalan Siliwangi, Bale Endah, Kabupaten Bandung,
Senin (10/11) dievakuasi aparat Kepolisian Resor Bandung.
Tindakan evakuasi petang itu diambil menyusul protes warga sekitarnya. Selain itu, ada kekhawatiran para anggota jemaat-di dalamnya banyak anak-anak-akan melakukan upaya bunuh diri.
Sekte pimpinan Mangapin Sibuea yang sebenarnya telah dilarang Kantor Wilayah Departemen Agama Jawa Barat pada tahun 1999 dan dinyatakan sebagai aliran sesat itu percaya bahwa kiamat akan terjadi tanggal 10 November 2003 pukul 15.00.
Mereka juga percaya jika berkumpul di rumah peribadatan di Bale Endah itu, mereka akan “diangkat” ke langit dan masuk surga.
Meskipun kegiatan sekte ini berpusat di pinggiran Kota Bandung, pengaruh “ajaran” sekte ini agaknya telah menyebar luas. Hal itu terlihat dari pengakuan sejumlah anggota jemaat yang menyatakan mereka berasal dari Medan, Batam, Palu, Ambon, bahkan dari Papua. Mereka umumnya sudah diberi tahu jauh-jauh hari mengenai akan terjadinya kiamat 10 November 2003 sehingga ada yang sudah berada di Bandung sejak Januari 2003.
Selain mengevakuasi paksa jemaat sekte ini, jajaran kepolisian juga memeriksa 12 pengurus sekte yang disebut “Pondok Nabi” itu. Tindakan pengamanan terhadap 12 pengurus sekte tersebut diambil sebagai upaya represif polisi, menyusul tuduhan menghasut jemaat dan masyarakat atas peristiwa hari “Kiamat 10 November”. Pemimpin Sekte Pondok Nabi Pendeta Mangapin Sibuea termasuk yang telah ditahan, pekan lalu.
Kepala Kepolisian Resor (Polres) Bandung Ajun Komisaris Besar Eko Hadi mengungkapkan, 12 pengurus itu tengah dimintai keterangan oleh pihak Polres Bandung. “Mereka tengah kami sidik. Apabila terdapat indikasi kuat melanggar undang-undang, akan diikuti penahanan,” katanya.
Dalam penyidikan Senin malam, polisi mengarahkan pada Pasal 378 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan aturan hukum mengenai aliran sesat.
Mengenai penahanan Sibuea, Kepala Kejaksaan Negeri Bale Endah, Munthe, mengatakan, penahanan dilakukan karena adanya laporan masyarakat. “Ada orangtua yang melapor kepada polisi karena anaknya tidak pulang ke rumah dan mengikuti ajaran Sibuea,” kata Munthe.
Kasus Sibuea dalam proses penuntutan di Pengadilan Negeri Bale Endah dan terdakwa tetap ditahan kejaksaan.
Petunjuk Dewan Gereja
Eko Hadi membenarkan bahwa kemarin suasana di Bale Endah pada petang hari menjelang pukul 15.00 kurang kondusif, dengan berkumpulnya puluhan warga masyarakat yang umumnya keberatan tentang adanya aktivitas jemaat di sekitar lingkungan mereka itu. Dari dalam rumah ibadah Pondok Nabi yang berlantai dua itu sendiri terdengar nyanyian dan tangis jemaat.
Pada pukul 15.30, aparat Bimbingan Masyarakat Polres Bandung memutuskan mengevakuasi jemaat Pondok Nabi ke Gereja Bethel Tabernakel di Jalan Lengkong Besar, Bandung, dengan menggunakan mobil pengendalian massa (dalmas). Evakuasi ke gereja itu atas petunjuk Dewan Gereja Jawa Barat, agar jemaat itu bisa dibina kembali.
Jemaat Pondok Nabi tersebut dievakuasi dengan didampingi Tim Crisis Center Forum Komunikasi Kristen (TCC FKK) Jawa Barat. Para pengurus FKK membagikan minuman dan makanan kepada jemaat, khususnya anak-anak. Menurut TCC FKK, jumlah jemaat yang dievakuasi seluruhnya 283 orang.
Sebagian jemaat duduk di lantai gereja, sebagian lainnya duduk di kursi lipat. Sirkulasi udara di ruangan gereja kurang baik sehingga udara terasa pengap dan berbau tak sedap. Belasan anak-anak tampak kelelahan dan menangis menjerit-jerit.
Suara Tuhan
Semua jemaat mengaku selalu mendengar suara Tuhan yang menyuruh datang ke Bandung pada 10 November 2003 karena jiwa mereka akan diangkat Tuhan ke surga.
Mereka meyakini pengangkatan tersebut akan terjadi pukul 09.00-15.00 di Pondok Nabi, Bale Endah, Bandung. Pengangkatan itulah yang mereka istilahkan sebagai kiamat. Menurut mereka, dunia yang mereka tinggalkan akan tetap ada, tetapi manusia yang tidak diangkat akan semakin sengsara.
Namun, sampai lewat pukul 15.00, ternyata tidak terjadi apa-apa. Meskipun demikian, jemaat berkeyakinan kuat pengangkatan akan tetap terjadi sebelum 10 November 2003 berlalu. Mereka masih bertekad menunggu hingga pukul 24.00.
“Tidak mungkin Tuhan berbohong. Tidak mungkin suara-suara Tuhan itu berbohong. Kuatkan iman kalian dan yakinilah suara Tuhan itu,” kata Thomas (22), yang datang dari Kupang sejak Januari lalu.
Guncangan psikologis
Salah seorang pengurus TCC FKK, Pendeta Theo Christi STh, mengatakan, pihaknya akan menjaga dan mendampingi jemaat Pondok Nabi tersebut hingga waktu yang belum ditentukan.
Ia mengkhawatirkan akan terjadi guncangan psikologis berat jika ternyata hingga pukul 24.00 pengangkatan yang mereka impikan tidak terjadi. Guncangan tersebut dikhawatirkan berujung pada upaya bunuh diri.
Sejumlah reaksi masyarakat atas peristiwa hari kiamat versi Pondok Nabi itu pun bermunculan. Ketua Jemaat Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Maranatha Bandung di Jalan Cibeunying, Pendeta Julli Rompis, menyatakan sangat khawatir dengan ajaran Sibuea yang dinilainya sesat. (zal/SF)
Sumber: Kompas, Selasa, 11 November 2003
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.