Jakarta, Kompas – Malang benar nasib Sumaryono (24). Pemuda pengangguran yang
menderita kanker usus ini harus berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan Jakarta pada
bulan Mei 2003 dengan berbekal surat miskin. Tidak itu saja, dia juga harus meninggalkan
rumah sakit sehari setelah operasi sehingga mengalami peradangan. Bahkan, sebagian ususnya
yang kemarin masih dibungkus kantong plastik hitam tampak menyembul dari anus buatan di bagian
perutnya dengan warna merah kebiruan.
Di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan itu, ia menjalani operasi pengangkatan bagian usus yang terkena kanker. Dokter yang menolongnya kemudian membuatkan anus buatan bagi Sumaryono.
Namun, akibat kesulitan ekonomi dan atas saran pihak rumah sakit, sehari setelah operasi Sumaryono mau tidak mau harus pulang ke rumah.
Pihak RSUD Tarakan memberi surat rujukan kepada ibunda Sumaryono, Ny Iis (45), yang isinya agar Sumaryono melanjutkan pengobatan ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). RSUD itu memberi surat kepada RSCM agar menerima Sumaryono.
Akan tetapi, di RSCM surat miskin Sumaryono tak berlaku. Penolakan itu membuat pengobatan kanker Sumaryono terhenti. Akibat lebih lanjut, peradangan terjadi di sekitar anus buatan di perut Sumaryono. Lalu sebagian ususnya “keluar” dari anus buatan itu.
Menyingkap usus
Ketika ditemui, Sumaryono yang berada dalam kondisi mengenaskan sedang duduk di depan pintu sebuah gubuk. Sumaryono yang mengenakan sarung menyingkap kausnya, memperlihatkan jahitan operasi di bagian tengah perutnya.
Hal yang menggetarkan hati adalah ia menggunakan kantong plastik hitam kecil untuk “menggantung” dan membungkus ususnya pada lubang anus buatan di samping kiri perut. Sekilas terlihat warna ususnya itu merah kebiruan. Besarnya sekepal tangan orang dewasa.
“Tadinya cuma kecil, enggak lebih seujung jempol. Sekarang jadi membesar dan sangat sakit, sampai saya susah jalan,” kata Sumaryono lirih.
Ia menjadi perhatian dan tontonan masyarakat luas sepanjang Senin (13/10) siang kemarin. Hal itu terjadi setelah penderitaannya disiarkan langsung oleh Irfan, wartawan Radio Suara Metro, radio resmi Polda Metro Jaya. Radio tersebut semula akan meliput pembongkaran gubuk liar di bantaran kali Kanal Barat, di Jalan Administrasi Negara I, Kelurahan Penjernihan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Ny Iis menuturkan, anaknya semula sakit mag. “Lalu kata dokter usus buntu. Setelah lama di rumah sakit, terus dioperasi,” katanya.
Tidak punya biaya
Baharudin (50), ayah tiri Sumaryono yang sehari-hari sebagai tukang parkir, menambahkan, mereka benar-benar tidak punya uang untuk pengobatan lanjutan Sumaryono.
Setelah pulang dari RSUD Tarakan, katanya, dokter menyuruh Sumaryono datang untuk kontrol atau berobat jalan. “Dia beberapa kali kontrol juga. Tapi oleh dokter RSUD Tarakan enggak diapa-apain, cuma diberi resep. Resepnya enggak saya tebus. Uang dari mana? Buat makan saja susah. Saya cuma tukang parkir. Iis dan Yono (Sumaryono) enggak kerja. Dulu sebelum sakit, Yono ikut orkes dangdut keliling,” katanya.
Kanker usus
Ny Eti Suharti, Kepala Bagian Humas RSCM, yang dihubungi per telepon semalam, tidak dapat memberi penjelasan rinci seputar dugaan penolakan RSCM terhadap Sumaryono. “Saya sedang cuti besar. Silakan Anda hubungi staf saya besok. Tapi prinsipnya, kalau persyaratan yang dibutuhkan lengkap, tidak ada alasan menolak pasien miskin itu,” katanya.
Direktur Utama RSUD Tarakan dr Soekirman Soekin, menjelaskan, Sumaryono dirawat di RSUD Tarakan sejak 25 Mei hingga 6 Juni 2003, dengan biaya jaring pengaman sosial (JPS). Sumaryono terdeteksi bukan pasien yang menderita usus buntu (peradangan usus buntu/apendiks), tetapi kanker usus.
“Ususnya benar-benar sudah buntu sehingga saluran pembuangan kotorannya tersumbat. Karena itu dilakukan lubang saluran pembuangan di kulit perut atau kolonstomi, lalu dibuatkan anus preter (anus buatan) untuk pembuangan kotoran sementara,” katanya menjelaskan.
Mengenai latar belakang pasien meninggalkan rumah sakit satu hari setelah operasi, Soekirman mengatakan, itu untuk kepentingan pasien sendiri karena Tarakan tidak memiliki peralatan untuk melanjutkan pengobatan kanker usus Sumaryono.
“Kami memberi surat rujukan ke RSCM yang peralatannya lebih lengkap. Kami tidak punya alat kemoterapi yang dibutuhkan pasien. Di RSCM lengkap. Karena itu kami beri surat rujukan ke sana. Kalau RSCM menolak, itu bukan wewenang saya lagi,” katanya.
Soekirman menambahkan, RSUD sudah melayani Sumaryono sesuai dengan prosedur medis. Selain itu, mereka juga telah menangani administrasi pembayaran sesuai dengan ketentuan JPS.
Ke RS St Carolus
Oleh sebuah tim relawan yang dipimpin Nono Suwarno alias Kang NN, Sumaryono pada Senin sore dibawa ke RS St Carolus, Jakarta Pusat, untuk perawatan lebih lanjut. Belum jelas siapa yang akan menanggung biaya pengobatan itu. (RTS)
Sumber: Kompas, Selasa, 14 Oktober 2003
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.