Divine truth is of the nature of spirit and for that reason can be received only by spiritual revelation. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Realita Hidup

Studi Tur Itu Menuai Maut

Submitted by riel on 10/10/2003 – 10:55 AM | 565 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

“ADA yang namanya Yuli, Bu?” papar seorang wanita bernama Nining Maryani dengan nada gugup.
“Yuli siapa, Bu? Yuli Puspitasari?” ujar seorang petugas di Rumah Sakit Umum Daerah Situbondo,
Jawa Timur, menanggapi pertanyaan itu. Kemudian petugas itu mengarahkan telunjuknya ke daftar
nama korban kecelakaan yang dipegangnya. “Bisa jadi itu!” kata Nining sambil menangis histeris.

Tak urung kejadian ini mengakibatkan banyak petugas kepolisian, rumah sakit, maupun para wartawan yang hadir menjadi tertegun. Banyak di antaranya yang matanya ikut berkaca-kaca, bahkan sebagian di antaranya turut menangis.

Itulah salah satu kejadian yang berlangsung di ruang tengah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Situbondo, di tengah upaya pengidentifikasian korban kecelakaan maut di daerah Banyuglugur, Situbondo, yang mengakibatkan tewasnya 54 penumpang bus PO AO Transport.

Kejadian yang memilukan juga terjadi di dekat kamar mayat. Di sepanjang gang yang membujur tegak lurus dengan pintu muka kamar tadi, terbaring 54 tubuh hangus terbakar yang terbungkus dalam kantong plastik. Sebagian masih jelas menampakkan potongan bentuk tubuh manusia, sebagian lagi hanya merupakan onggokan yang tak terkenali wujudnya.

Berkali-kali terdengar gumaman, ya Allah, astagfirullah al-azim, yang dibarengi dengan genangan air mata. Beberapa ibu tampak membacakan ayat- ayat suci Al Quran dengan khusyuknya.

Tampak bergegas pula seorang biarawati yang gelisah menanyakan ke sana-kemari mengenai kondisi para korban, yang sebagian besar masih berusia muda itu. Tua-muda, lelaki dan perempuan dalam berbagai profesi seolah tersatukan oleh adanya musibah kali ini.

Di dekat pintu kamar mayat, seorang kakek tua diperingatkan seorang polisi untuk menjauhi lokasi yang dibatasi dengan tali rafia. Setelah berjalan beberapa langkah dengan tertatih-tatih, kakek tadi kembali memandangi arah kamar mayat yang terletak di pojok halaman rumah sakit itu.

Kamar mayat berukuran sekitar 7 x 7 meter persegi tersebut memang sedang menjadi pusat perhatian. Di sanalah, Kamis (9/10) dini hari, terbaring tubuh 51 murid Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Yayasan Pembinaan Generasi Muda (Yapemda) I Tanjungtirto, Berbah, Sleman, dua guru pendamping, dan satu pemandu wisata yang hangus terbakar akibat tabrakan bus yang mereka tumpangi dengan truk trailer dan truk pengangkut buah mangga.

Suasana RSUD Situbondo hari itu memang berbeda dengan hari-hari biasanya. “Hari-hari biasa di sini sepi saja,” tutur seorang petugas penjaga keamanan.

Dari dini hari, ketika mayat korban dievakuasi dari lokasi kejadian, hingga malam hari, ribuan orang datang silih berganti memberikan ucapan belasungkawa bagi para korban. Di depan pintu masuk rumah sakit tersebut juga terlihat rangkaian bunga dukacita.

Di tengah persimpangan gang yang menghubungkan antarbangsal, tergolek sebuah kardus air mineral bertulisan sumbangan sukarela untuk para korban. Dan, terulurlah satu demi satu tangan para pengunjung yang menjatuhkan uang ke dalam kotak yang berpesan jelas tadi.

Mussadeq, Ketua Tim Disaster Victim Investigation (DVI), mengakui, kondisi para korban yang hangus terbakar menjadi kendala pengidentifikasian para korban. Oleh karena itu, katanya, pihaknya mengandalkan data susunan gigi dan DNA.

“KALAU bisa menangis, saya ini akan menangis sekeras- kerasnya. Saya sama sekali tidak menyangka kalau mulai hari ini tak bisa lagi mendengarkan omongan anak saya yang senang cerita itu. Terakhir ia bilang, Pak, nanti tak ceritani ya setelah pulang dari sana. Ternyata itulah kata-kata terakhir anak saya,” kata Supriono (46), penduduk Dusun Pundan, Purwamartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

Supriono adalah ayah dari salah satu korban bus pariwisata SMK Yapemda I, yang terbakar karena kecelakaan di Situbondo.

Anaknya bernama Dwi Astuti (18), kelas II jurusan PJ2 (Penjualan), sangat dibanggakannya karena dinilai paling cerdas di antara saudara-saudaranya. Dwi Astuti tewas dalam kecelakaan tersebut.

“Ketika Dwi, anak saya itu pamit, saya hanya berpikir, kok pergi wisata jauh sekali…. Itu saja,” kata Supriono bercerita. Ia tahu anaknya mengalami kecelakaan setelah mendapat informasi dari para peronda yang lek-lekan (begadang) sambil menonton televisi.

“Para peronda itu memberi tahu sekitar pukul 04.30. Saya dan istri saya benar-benar merasa sangat terpukul dan sedih. Istri saya itu sampai sekarang belum berhenti menangis. Rumah saya penuh, tetangga semua mengerumuni. Istri saya tak mau saya ajak ke sekolah,” tutur Supriono yang pagi itu datang ke SMK Yapemda I dengan diantar saudaranya.

Sebagian besar orangtua korban lebih banyak menunggu di rumah sambil menyediakan seluruh keperluan untuk mengurus jenazah. Untuk memperoleh informasi terakhir tentang anak-anaknya, mereka mengutus sanak saudara. Menurut rencana, jenazah para korban baru akan tiba di Yogyakarta Jumat pagi ini.

GEDUNG SMK Yapemda I ramai sejak Rabu dini hari. Ratusan keluarga dan teman- teman korban berdatangan ke sekolah itu untuk mengetahui kabar terakhir tentang korban kecelakaan. Mereka berkumpul di halaman, teras, dan ruang kelas menanti perkembangan informasi dengan wajah cemas.

Menjelang subuh, mereka baru tahu, bus yang mengalami kecelakaan itu adalah bus kedua dari tiga bus yang membawa rombongan siswa ke Bali. Informasi dari pihak sekolah menyebutkan, di dalam bus itu terdapat 51 siswa yang seluruhnya kelas dua jurusan manajemen penjualan dan akuntansi.

Seluruh korban yang tewas adalah siswa dari (hampir) dua kelas. Selain itu, ada dua guru, yakni Zubaidi dan Tulus Eklas, serta seorang pemandu wisata bernama Wahyu Hadi.

Ketika informasi itu disiarkan di televisi, hujan tangis pun terjadi. Sebagian keluarga korban bahkan histeris dan pingsan. Suasana di SMK Yapemda I berubah menjadi penuh kedukaan.

“Saya tidak percaya sahabat saya, Riyani, meninggal. Saya tidak percaya sampai saya melihat jenazahnya,” ujar Sulastri, siswa SMK Yapemda I kelas III, terbata-bata.

Kecelakaan bus itu sendiri seperti mimpi buruk yang nyata bagi Mahroji, salah seorang guru yang mendampingi siswa di bus yang lain. Sekitar setengah jam setelah kecelakaan, telepon genggamnya dihubungi kantor perusahaan bus AO Transport yang membawa rombongan siswa. Pihak perusahaan mengabarkan, bus di belakangnya mengalami kecelakaan. Mahroji langsung menghubungi Zubaidi, guru pendamping siswa di bus yang naas. Namun, telepon Zubaidi tidak merespons.

Akhirnya, Mahroji memutuskan kembali ke arah Situbondo untuk melihat seberapa parah kecelakaan itu. Sesampainya di tempat kecelakaan, Mahroji hanya bisa menyaksikan bus yang telah hangus terbakar. Dia juga sempat menyaksikan jenazah korban dalam keadaan hangus bertumpukan di dekat pintu belakang bus itu. “Saya hanya bisa tertegun, gemetar, dan lemas. Saya tidak bisa berbicara apa- apa,” katanya dengan suara gemetar.

Kepala Sekolah SMK Yapemda I Edi Wibowo juga tampak sedih. Matanya terlihat begitu lelah, menunjukkan bahwa ia kurang tidur. Sepanjang siang dia hanya duduk menyendiri di salah satu sudut sekolah. Berkali-kali dia menyalahkan dirinya dan berkata, “Saya tidak pantas, saya tidak sanggup menjadi kepala sekolah.”

Setelah agak tenang, Edi baru bisa menjelaskan bahwa studi tur bagi siswa kelas II ini dibagi menjadi dua. “Yang satu ke Jakarta, terdiri dari satu bus, dan satunya lagi ke Bali, terdiri dari tiga bus. Seluruh penumpang dua bus yang selamat sudah kembali. Kami akan mengecek ulang nama-nama korban karena ada nama yang sama namun berasal dari desa berbeda,” kata Edi. (SIR/L07/SIG/BSW)

Sumber: Kompas, Jumat, 10 Oktober 2003

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.