Surat ini aku tulis khusus untukmu. Jauh dari lubuk hatiku yang terdalam
aku ingin mengatakan betapa aku mengerti perasaanmu. Perasaan ditinggalkan, tertuduh,
dikecewakan, disalahpahami, dan tidak menerima kasih yang lengkap selama belasan bahkan puluhan
tahun dalam hidupmu.
Kamu takut melihat masa depan. Kamu takut mengambil langkah yang menuntutmu untuk berjanji
dan mengikat diri. Kamu bingung dan ragu terhadap keputusan penting yang akan kamu ambil
dalam hidupmu.
Kamu tidak sendiri. Aku juga mengalaminya termasuk sahabat-sahabatmu. Cinta memang rapuh dan
perlu dirawat setiap hari. Cinta memang indah, namun bisa berubah menjadi petaka bila melawan kehendak
Sang Pencipta. Kamu bingung hendak memutuskan siapa teman hidupmu, seorang sahabat yang kau pilih
untuk menghabiskan sisa hidup bersama-sama. Kamu tidak ingin mengulang kesalahan generasi sebelumnya
yang dengan mudahnya merusak bahtera cinta dan memporak-porandakan kehidupan di dalamnya.
Sakit. Pedih. Perih. Ketika rumah kosong melompong kala kamu pulang dari sekolah.
Di kala orang yang kau cintai mengepak pakaiannya lalu pergi meninggalkanmu. Di kala dua manusia
bersatu karena cinta akhirnya berpisah meninggalkan buah cinta dua anak manusia.
Aku katakan aku mengerti. Aku bisikkan aku memahami. Aku teriakkan aku terluka. Tidak ada
seorangpun yang tahu akan menjadi seperti apa dia di masa depan. Hanya satu yang perlu
kamu lakukan, mencari Tuhan setiap hari. Mengetuk pintu hingga pintu dibukakan bagimu. Jangan
ceroboh dan gegabah mengambil keputusan. Jangan terjebak emosi dan hawa nafsu. Jangan terkungkung
dalam perangkap membenarkan diri sendiri. Bila hati nuranimu berkata salah, maka salahlah keputusanmu.
Bila hati nuranimu berkata benar, biarkanlah Tuhan menerangi jalan-jalanmu.
Jangan keraskan hatimu dan jangan bebal. Belajarlah kebenaran Firman-Nya, berserah kepada-Nya,
dan berpegang teguhlah pada Firman-Nya. Ingatlah, dalam setiap keputusanmu, selalu lihat
hingga tiga generasi setelahmu. “Apa yang harus aku lakukan agar generasi setelahku tidak mengalami
kejadian pahit yang aku alami.” Jawabannya cuma satu, Andalkan Tuhan dalam setiap langkahmu,
sebab sia-sialah orang yang membangun tembok siang dan malam, bila Tuhan tidak menghendakinya. Berkat
Tuhan turun bagi mereka yang mengasihi Dia, bahkan dalam tidur lelap, Tuhan memberkati kita.
Aku doakan kamu berhasil dalam pekerjaanmu, pelayananmu, keseharianmu, persekutuanmu, dan masa
depanmu. Ketika ragu datang menghadang, berdoalah. Ketika takut mulai menggerogotimu, tersungkurlah.
Ketika rasa perih di hatimu mengusik, menangislah, berlarilah kepada salib dimana DIA, YESUS KRISTUS,
pernah mati bagimu. Lihatlah, salib itu sudah kosong sebab DIA kini tinggal dalam hidupmu. DIA MENANG,
MAKA ENGKAUPUN MENANG. Haleluyah!
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.