September lalu ternyata menjadi bulan yang penuh takhayul. Hujan dan panas
berganti tanpa pasti, angin serta udara yang sumuk datang dan pergi tanpa izin
seperti layaknya jin lagi mondar- mandir.
Ada yang senyumnya semringah di bulan September dengan semangkin rampungnya pembangunan busway, serta dimulainya renovasi patung senilai Rp 4 miliar. Itulah karena mereka percaya takhayul tentang sukses pembangunan Ibu Kota, yang bolak-balik hanya terjadi mulai dari Monas sampai ke Jalan Sudirman saja.
Banyak juga yang hatinya mulai ketar-ketir selama bulan September karena khawatir bahaya banjir. Hari Minggu lalu, Jakarta bagaikan sungai yang mengalir setelah dibasahi hujan selama dua jam. Kasihan mereka yang tinggal di daerah rawan banjir karena keburu bertakhayul bahwa gubernur dan DPRD-nya pasti akan memikirkan nasib mereka.
Penderita penyakit “takhayulistis” semakin marak di bulan September. Ada yang bertakhayul mau jadi jutawan dengan membuat surat tanda nomor kendaraan (STNK) berfoto pemilik atau mengerjakan kir kendaraan. Dan tidak sedikit yang bertakhayul jadi konglomerat tukang ngutang dengan menggusur tanah rakyat.
Tentu juga ada orang-orang yang sewot karena di bulan September partai mereka enggak lulus verifikasi sehingga gagal ikut Pemilu 2004. Mereka bertakhayul bahwa mendirikan partai, atau jadi anggota parlemen, atau jadi calon presiden, merupakan pekerjaan gampang bagaikan membalikkan telapak tangan.
Di bulan September, menjelang datangnya bulan suci Ramadan, pasti banyak yang bertakhayul kapan Republik ini beres dari beribu macam masalah? Lagi enak-enak bertakhayul, tiba-tiba di layar televisi ada siaran langsung tentang ulah para praja di Jatinangor dan dua alumnus di Kampus Depok.
Seperti ditayangkan SCTV, mereka yang di Jatinangor memang tidak pantas disebut sebagai praja-lebih tepat dipanggil “prajagoan” yang tega memukuli seorang yuniornya sampai tewas. Seperti juga yang ditayangkan di Metro TV, dua alumnus atau bekas “mahasiksa” di Kampus Depok bagaikan sedang menyaksikan konser musik grunge, dengan histeris menjambaki rambut dua dosen perempuan.
Dulu mereka mungkin menjadi pelajar pengecut karena beraninya cuma tawuran ramai- ramai untuk mengeroyok orang lain. Tidak heran kalau para prajagoan di Jatinangor gemar memukuli adik-adik kelasnya sampai mati. Yang bekas mahasiksa di Kampus Depok pun berlaku seperti lulusan taman kanak-kanak (TK) karena doyan lomba adu jambak melawan perempuan.
Takhayul yang ditanamkan di Jatinangor meyakini bahwa jadi pamong enggak perlu ngemong. Takhayul di Kampus Depok mengajarkan bahwa debat intelektual tidak melulu mengandalkan otak, tetapi juga boleh memakai tinju.
Itulah akibatnya kalau kita terlalu lama hidup di alam takhayul. Dari kecil kita diajarkan agar jangan duduk di atas bantal atau guling, katanya nanti bisulan. Kenapa sih enggak bilang aja nanti bantalnya kotor?
Sama dengan larangan duduk di bawah kusen pintu karena katanya nanti masuk angin setelah ditabrak setan lewat. Kenapa enggak bilang aja duduk di bawah kusen itu mengganggu kelancaran lalu lintas orang yang lalu lalang?
“Kalau kamu menabrak kucing, kubur almarhum baik-baik dan makamnya mesti dikelilingi tujuh kali. Kamu enggak boleh menyopir selama 40 hari,” kata ayah yang percaya takhayul. Namun, begitu menabrak orang menyeberang, kamu kabur cepat-cepat sebelum dibakar massa yang ngamuk!
Kalau lewat jembatan angker berpohon beringin raksasa, harap jalan pelan-pelan sembari membunyikan klakson tujuh kali sebagai tanda permisi kepada sang penunggu. Tetapi, kalau ada tanda huruf S (dilarang berhenti) atau P (dilarang parkir) di pinggir jalan, jangan takut.
Mobil dan motor sekarang canggihnya minta ampun. Ada yang ibarat kantor mewah berjalan, ada yang model sport atau coupe yang supermewah dan gagah menawan. Semuanya pasti ada asbak atau tong sampah, tetapi setiap hari ada saja yang jorok membuang sampah atau puntung rokok ke jalan.
Wajar Bu Mega kesal dengan ulah sebagian mahasiswa yang anarki ketika melancarkan demonstrasi dengan menginjak- injak potret besar presiden. Kalau mahasiswa ingin menikmati kebebasan kebablasan, kenapa enggak sekalian bugil saja, begitu kira-kira kata Bu Mega.
Bu Mega tentu setuju dengan demokrasi. Makanya dia bilang, “Ayo adakan jajak pendapat. Kalau mayoritas rakyat setuju anak kecil menaruh kaki di atas meja waktu berbicara dengan orangtuanya, atau mahasiswa melancarkan demo sembari bugil, silakan!” Saya sih setuju-setuju saja dengan gagasan Bu Mega.
Itulah nikmat dan hikmah era demokrasi di masa reformasi ini. Setiap warga wajib menghargai hak asasi manusia, termasuk hak anak menaruh kaki di meja, atau hak mahasiswa berbugil ria. Salah satu anugerah demokrasi kita, ya, itu tadi, yakni mengadakan jajak pendapat di mana pendapat mayoritas harus dijunjung tinggi.
Oleh sebab itu, kalau mayoritas menghendaki, mari ramai- ramai mengajarkan budi pekerti kepada putra-putri kita untuk menaruh kaki di atas meja. Mahasiswa kalau perlu diajarkan membuat kampung bugil, dibuatkan mata kuliah cara mengeroyok yunior-yuniornya sampai mati, dan dibikinkan diktat mata kuliah Ilmu Menjambak Dosen Perempuan.
Mungkin Bu Mega, dan juga kita, sebal menyaksikan merosotnya budi pekerti. Seperti Bu Mega bilang, mungkin sudah waktunya anak-anak dibekali lagi dengan perilaku yang berbudi pekerti baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat. Tujuannya agar para prajagoan dan bekas mahasiksa di Jatinangor serta di Depok tidak pernah muncul lagi di muka bumi ini.
Bu Mega dan saya-maaf, kami generasi tua bangka-sempat memetik pengalaman berharga ketika belajar budi pekerti sejak di bangku SD. Kami diajarkan menyapa dengan sopan orang-orang yang lebih tua, mengucapkan tabik atau spada kalau masuk rumah orang, atau belajar menyeberang jalan lewat zebra cross.
Berkat budi pekerti, dulu kami berkelahi secara jantan dengan “duel” satu melawan satu, hanya dengan tangan kosong, dan di tempat yang sudah disepakati seusai sekolah. Setelah selesai, teman-teman yang ikut bersorak atau meledek memaksa yang duel berjabat tangan tanda dimulainya sebuah awal pertemanan baru.
Di saat Lebaran, yang putra Kristen datang ke rumah yang anak Aceh untuk makan ketupat. Waktu malam Natal, ganti yang dari Aceh membantu yang anak Ambon menyiapkan keluarga mereka menyantap makan malam.
Kalau dulu dibilang Indonesia bangsa yang ramah, itu bukan takhayul. Sekarang kita dibilang galak karena suka ngebom turis asing atau gemar menggorok leher saudara-saudaranya sendiri.
Juga bukanlah takhayul kalau dulu rakyat Indonesia disebut suka gotong-royong. Sekarang perempuan dirampok sopir taksi gelap di siang bolong, siapa yang peduli?
Begitu banyak orang yang bertakhayul di sekitar kita. Ada yang bertakhayul mampu menjadi presiden meskipun menjadi terdakwa kasus korupsi, ada pula yang bertakhayul seolah- olah cocok jadi guru bangsa, dan banyak juga wakil rakyat yang bertakhayul dipercaya dan didukung rakyatnya.
Jangan-jangan, kita memang hidup di Republik Takhayul! (bas2806@kompas.com)
Sumber: Kompas, Selasa, 7 Oktober 2003
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.