Speak only as we are ready to take the consequences. Believe God's promises and obey His commandments. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Kliping

Bakmi GM, Bakmi Japos, Depot 3.6.9

Submitted by riel on 01/10/2003 – 7:17 AM | 2,569 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Tahu nggak, ternyata mi yang kita nikmati seperi Bakmi Gajah Mada, Bakmi Japos, Bakmi Golek,
Depot 3.6.9, punya sejarah yang mengharukan. Sebelum dikenal seperti sekarang, pengusaha mi tersebut,
harus berjuang hidup dan bekerja keras lebih dari orang lain. Artikel Kompas ini memberikan gua
inspirasi dan rasa takjub ketika menyadari bahwa bakmi-bakmi yang gua nikmati itu adalah buah
jerih payah anak-anak manusia yang tak kenal menyerah.


———————————————————————————

BAKMI, atau mi, telah menjadi makanan rakyat. Lihatlah mi dijajakan keliling kampung siang
malam dengan gerobak. Tengok pula warung kaki lima hingga rumah makan ber-AC yang khusus menyajikan mi.
Di balik itu semua, juga terdapat banyak cerita mengenai etos kerja.

TENGOKLAH warung bakmi terkenal yang meriah dikunjungi orang di Jakarta. Kita sebut beberapa saja seperti Bakmi GM (dikenal sebagai Bakmi Gajah Mada), Bakmi Japos, Bakmi Pinangsia, Bakmi Golek, Depot 3.6.9, Bakmi Boy, atau juga bakmi Gang Kelinci. Mereka tidak membangun usaha dalam sehari, tapi dengan keuletan seperti terigu yang diolah menjadi mi itu.

Jika Anda menyantap mi ayam, atau mi pangsit yang disuguhkan Bakmi GM , maka di balik rasa itu tersimpan sejarah panjang kerja keras manusia pembuatnya. Bakmi GM yang kini mempunyai tujuh cabang di kawasan terpandang itu berawal dari warung di emperan rumah keluarga Choi Siu di Jalan Gajah Mada-dulu dikenal sebagai Moolenvliet.

Usaha mi itu berawal dari hidup susah keluarga Choi Siu. Mereka semula mempunyai usaha mebel. Situasi sosial politik pada akhir 1950-an menjadikan usaha mebel bangkrut. Choi Siu (1911-1990) yang harus menghidupi sebelas anak itu kemudian bertahan hidup dengan berjualan mi.

“Kami cuma menggunakan lima meja. Itu pun ala kadarnya yang kami ambil dari meja yang dipakai di rumah,” kenang Julia Widjaja (61), anak keluarga Choi Siu, yang kini menjadi Komisaris PT Griya Miesejati (PT GM) yang membawahi usaha Bakmi GM.

Choi Siu melibatkan anak- anaknya dalam usaha warung mi. Mereka bangun jam empat pagi untuk menyiapkan tetek bengek warung mi. Choi Siu, sang ayah, bermandikan peluh menggenjot bambu untuk menggiling terigu sebagai bahan dasar mi. Ingat, saat itu mereka belum menggunakan mesin pembuat mi.

“Ayah kami membuat mi pakai bambu yang digenjot. Ibu yang merebus mi dan kami sebelum berangkat sekolah bantu-bantu potong ayam dan sayur,” kenang Julia yang ditemui di kantornya bersama adiknya, Peily Dian Lie (55).

Julia yang saat itu berusia 17 tahun mempunyai tugas belanja sayur di pasar Glodok. Sebelum berangkat sekolah di SMA Tung Hua Hui Koan (THHK) di bilangan Blandongan, Jakarta Barat, Julia masih sempat membantu memotong ayam dan sayur. Oleh teman sekolahnya Julia disebut sebagai “tukang tidur” karena dia harus bekerja keras dari jam empat baru tidur pukul sebelas malam.

Sang adik, Dian Lie, yang berumur sepuluh tahun dan duduk di kelas lima sekolah dasar, bertugas sebagai kasir. Ada pembeli yang kadang heran melihat Dian, anak kecil yang sudah menjadi kasir warung mi.

“Saya menghitungnya pakai tangan dan hanya pakai ingatan. Kami waktu itu kan enggak pake mesin hitung,” kenang Dian Lie yang kini menjabat Direktur PT GM.

Meski terlibat dalam kerja yang boleh dibilang keras untuk remaja seusianya, namun Julia dan Dian menyikapi hari-hari dengan sukacita. “Teman-teman saya sampai bilang. ’Kamu kerja kok seneng-seneng banget sih.’ Soalnya kami kerja sambil nyanyi-nyanyi haha….” kenang Dian.

Hari demi hari warung bakmi yang tidak dinamai atau tidak menggunakan cap dagang itu semakin laris dikunjungi pelanggan. Dari lima meja, dua tahun kemudian mereka memasang sebelas meja. Pada 1968, saat Ali Sadikin yang menjadi Gubernur Daerah Chusus Ibu Kota (DCI) Jakarta muncul rencana pelebaran Jalan Gajah Mada. Tempat usaha mi Choi Siu terpapras hingga sebelas meter. Dengan lahan yang menyempit, mereka kemudian membangun rumah dengan tiga lantai. Dua lantai di antaranya digunakan untuk warung mi. Pengurangan lahan itu rupanya malah menjadi berkah tersendiri. Pasalnya, setelah menempati bangunan baru, usaha mi itu semakin laris.

************

KISAH kerja keras juga dilewati keluarga pengusaha mi Depot 3.6.9 di bilangan Jalan Mangga Besar Raya, Jakarta Barat. Usaha yang berpusat di Surabaya ini kini mempunyai enam cabang, termasuk yang di Jakarta yang dikelola oleh Tjitrawati, atau akrab dipanggil Cik Mei-Mei.

Berdiri pada tahun 1958, riwayat awal usaha Depot 3.6.9 hampir mirip dengan Bakmi GM. Orangtua Tjitrawati, keluarga Tjan Pat Yauw, yang berdarah Tionghoa-Kupang, semula adalah guru di sebuah sekolah di Surabaya. Karena situasi sosial politik pada akhir tahun 1950-an itu, sekolah tempat mereka mengajar ditutup dan mereka kehilangan pekerjaan. Keadaan ekonomi Tjan Pat Yauw saat itu sangat payah.

“Kami kadang harus pergi ke rumah saudara untuk meminjam beras,” kenang Tjitrawati.

Ibu dari Tjitrawati yang kebetulan mempunyai resep pembuatan kue dumpling-kue berisi daging-mencoba membuka warung makan di Jalan Embong Malang, Surabaya. Suatu ketika Tjan Pat Yauw bertemu koki pembuat di Pasar Atum. Dari perjumpaan itu terpikirlah untuk menyuguhkan mi di warung yang kemudian diberi nama 3.6.9. Konon nama ini diambil dari merek kue terkenal buatan Cina.

Boleh jadi mi memang bisa menjadi sahabat yang baik bagi orang yang tidak mau menyerah pada kerasnya kehidupan. Hengky Tjoa (45) dari Bakmi Japos harus terseok-seok sebelum kini mengibarkan diri sebagai “Rajanya Mie” Asal tahu saja, Rajanya Mie dijadikan gimmick-pemikat dagang Hengky yang terbaca pada logo Bakmi Japos.

Hengky yang yatim piatu sebelum menginjak usia remaja itu harus menghidupi tiga adik-adiknya. Hengky antara lain pernah berjualan gundu, permen, sampai koran, atau apa saja yang bisa dijadikan uang. Selepas SMA, Hengky menjalani beragam bisnis mulai dari berjualan pakaian, ikan hias, usaha video rental, sampai berjualan ikan bakar, yang semuanya berakhir dengan satu kata: bangkrut.

“Waktu jualan ikan bakar di (Jalan) Radio Dalam setiap hari saya tekor melulu. Sialnya waktu itu hujan deras, tenda ambruk,” kenang Hengky seakan menyempurnakan kisah sengsaranya.

Dia tidak menyerah. Pada tahun 1992, Hengky mengumpulkan apa saja yang tersisa untuk dijadikan bekal melanjutkan hidup. Ia menjual bangku, tenda warung, dan perkakas kerja yang akhirnya terkumpul Rp 750.000. Dari uang itulah lelaki yang senang memasak itu memulai usaha mi.

“Saya jualan pakai gerobak di depan kantor pemasaran perumahan Villa Japos. Saya jualan mi dengan harapan bisa diterima dan syukurlah mi saya diterima,” tutur Hengky yang ditemui di Bakmi Japos, Bintaro Sektor 7.

Hengky yang semula belum mempunyai pengalaman di jagat mi itu bersedia belajar dari nol. Dia mempelajari cara pembuatan bahan dasar mi sekitar satu setengah tahun.

“Waktu pertama saya coba- coba dulu itu rasanya memang enggak karu-karuan. Saya coba terus sampai akhirnya terasa enak. Kalau mi saya tak enak, bagaimana saya bisa meyakinkan pembeli. Lidah saya kan juga mewakili taste banyak orang,” kata Hengky yang memang penggemar berat mi.

Untuk sekadar promosi, Hengky membagikan selebaran kertas fotokopi yang berisi alamat dan menu Bakmi Japos yang saat itu hanya menyediakan mi ayam dan mi pangsit. Bakmi Hengky terbukti laris dan pembeli pun harus antre. Larisnya warung mi mengajarkan Hengky untuk lebih sabar dalam menghadapi manusia.

“Pernah saya ditunjuk-tunjuk dan dikata-katain pembeli. Dia bilang, ’Nanti saya gampar kamu.’ Itu karena dia tidak terlayani dengan cepat,” kenang Hengky.

Nama Bakmi Japos kemudian memang populer di kalangan penggemar jajan. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun, Hengky telah membuka delapan cabang yang dikelolanya bersama adik-adik dan kerabatnya. Pada cabang ke sembilan, Hengky telah menyerahkan ke orang lain dengan sistem waralaba. Kini usahanya tersebar di 20 cabang.

Usaha Hengky memang laris. Ketika membuka cabang di kompleks Bintaro Sektor III, bakmi Hengky menyebabkan lalu lintas macet. Warga Bintaro memprotes Bakmi Japos yang dianggap sebagai biang kemacetan. Oleh pengembang Hengky diminta pindah usaha. Namun, berkahnya, Hengky mendapat tempat lain di Bintaro yang lebih representatif. Berkah lain, orang yang dulu bertugas menutup cabang itu juga kecipratan rejeki dari mi. Kini mereka bergabung sebagai pemegang izin waralaba, alias ikut jualan mi.

************

BEGITULAH, mi telah menjadi penghidupan dan menghidupi banyak orang. Ini pemandangan lain dari para pejuang hidup yang mengandalkan mi. Lihatlah para perajin atau pembuat bahan mi yang bergabung dalam Paguyuban Tunggal Rasa, Jakarta. Mereka mempunyai anggota sekitar 70 orang. Setiap anggota memproduksi mi untuk memasok kebutuhan sekitar 40-400 penjual mi gerobakan.

Bisa dihitung berapa orang yang menggantungkan hidup pada mi. Padahal, jumlah 70 anggota itu adalah yang resmi terdaftar. Konon, jumlah perajin mi di Jakarta saja ada sekitar 120 dan masing-masing mempunyai pasukan mi yang dinikmati rakyat.

Menurut Wakidi, selaku Ketua Paguyuban Tunggal Rasa, para perajin selain memasok bahan mi juga menyediakan gerobak, mangkok dan segala piranti yang dibutuhkan penjual mi.

“Saya juga menyediakan pemondokan bagi pedagang mi yang menggunakan produk saya,” kata Wakidi yang ditemui di tempat kerjanya di bilangan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur.

Organisasi yang menghimpun pembuat mi itu mempunyai program mendidik pedagang mi menjadi perajin mi. Minimal dalam lima tahun mereka menargetkan seorang penjual mi keliling harus mampu menjadi perajin mi. Jakarta bukan satu-satunya bagi paguyuban serupa. Jika di kota lain terdapat paguyuban perajin mi semacam itu, betapa mi diam-diam telah menggerakkan kehidupan rakyat. Mereka menciptakan lahan pekerjaan bagi rakyat.

Etos kerja keras juga terlihat dari bakmi Jawa Gunung Kidul. Usaha yang dimulai 1996 ini bermula dari kebangkrutan pedagang mi di Semanu, Gunung Kidul. Mereka kemudian diberi kesempatan membuka warung di emperan toko di kawasan Jati Bening, Bekasi. Setelah terbukti laris, usaha itu dikelola dengan manajemen yang tertata di bawah Koperasi Usaha Bakmi Jawa yang kini mempunyai 12 cabang di Jakarta dan sekitarnya.

Nama Gunung Kidul, wilayah Kabupaten di Yogyakarta itu memang bagi sebagian orang dikenal sebagai daerah tandus yang mengingatkan orang pada gaplek atau tiwul. Benyamin Sudarmadi dari Bakmi Jawa Gunung Kidul sengaja membawa nama kampung halamannya untuk menunjukkan bahwa kesan minus daerahnya tak identik dengan semangat loyo. Dan menurut pria kelahiran Gunung Kidul, itu semua akan dilawan dengan kerja keras pasukan penjual mi dari Gunung Kidul itu.

************

KISAH perjuangan “tukang mi” adalah kisah pekerti manusia ulet, tekun, dan pantang menyerah dalam merebut kehidupan yang lebih baik. Mereka bekerja dengan sukacita dan kecintaan profesi, dengan gairah, semangat, dan sungguh-sungguh yang diistilahkan “tukang mi” dari Bakmi GM sebagai passion.

“Kami perlu passion untuk bekerja. Kami mencintai benar pekerjaan jualan mi. Tanpa passion kami akan capek dan susah kerja. Dengan mencintai pekerjaan, kami jadi bersemangat mencari sesuatu yang lebih baik untuk pelanggan,” kata Peily Dian Lie dari Bakmi GM.

Bangsa yang menurut Franz Magnis-Suseno tinggal menunggu waktu masuk jurang ini
sepertinya ada baiknya belajar dari kerja keras praktisi mi. Mereka terbukti telah
bertahan hidup dan menghidupi dengan bekerja ekstra keras-bukan dengan mengeluh dan
banyak mulut (tanpa korupsi pula). Sayang, belum ada Partai Bakmi. (ETA/EDN/LUK/ARN/CP/XAR)

Sumber: Kompas, Minggu, 28 September 2003

Popularity: 5% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

236 Comments »

  • tn_yesus says:

    kutipan dari sdr setan muhamad :

    Saya kira, agama yang paling sesat adalah Islam, kenapa ? Karena islam menghalalkan segala cara untuk memuaskan napsu duniawinya, terutama seks, coba liat, Tuhan hanya menciptakan 1 adam dan 1 hawa, tidak menciptakan 4 hawa , islam memperbolehkan laki-laki memperistri lebih dari 1, itu sama saja bikin rumah tangga dia dan orang lain kacau balau alias berantakan. Belum lagi di surganya islam masih ada hubungan seks, surga macam apa ini….? Dalam ajaran kami, seorang pria hanya boleh menikahi SATU ORANG WANITA saja , tidak boleh lebih, dan di surga, hanya ada kegiatan memuji dan menyembah Tuhan saja, ngga ada kegiatan yang lain, karena surga adalah tempat kudus…..apa tanggapan saudara tentang hal ini…….saya tunggu…….

    Setan Muhammad – May 24, 2005 11:26 AM

    ———————————————————-

    Tanggapan dari saya :
    Saya nilai pendapat anda tentang islam seperti yang anda tuduhkan adalah wajar saja karena memang anda tidak mengenal agama islam yang fitrah = sesuai dengan keadaan manusia dan rahmatan lil alamin/agama yg memberikan rahmat kepada alam semesta beserta isinya.

    memang betul bahwa didalam agama anda beristeri tidak boleh lebih dari satu. tapi yg terjadi kenyataannya bahwa para pria kristen yg beristeri dan isterinya sangat maklum hubungan intim di belakang layar rumah tangga mereka (selingkuh) asal tidak ketahuan oleh pasangan masing2. (tapi ingat Tuhan maha mengetahui). bahkan bisa jadi pasangan selingkuhnya melebihi 4 orang (yg dibatas Islam hanya 4 isteri), nah hal seperti ini jelas haram hukumnya di dalam agama islam. hubungan intim antara pria dan wanita tanpa ikatan nikah hukumnya zinah. dan zinah adalah perbuatan kotor dan keji. makanya diera yg katanya modern ini berbagai penyakit kelamin muncul dikalangan orang2 yg sering bergonta-ganti pasangan.

    Untuk itu islam memperbolehkan beristeri lebih dari satu dengan syarat :
    1. harus berlaku adil dan jujur kepada para isterinya (tidak boleh pilih kasih) 2. cukup belanjanya untuk menghidupi isteri lebih dari satu. dan beristeri hanya dibatasi cuma 4 orang saja.
    Al Qur’an menyatakan bahwa : apabila kamu tidak bisa berlaku adil cukuplah satu isteri saja. karena apabila tidak bisa berlaku adil engkau akan berhadapan dengan hukum ALLAh di akhirat nanti.
    Tetapi ingat yg di contohkan oleh Nabi Muhamad adalah isteri muda haruslah umurnya lebih tua dari isteri yg pertama demikian seterusnya. jadi ikatan nikah itu nantinya adalah artinya seorang pria melindungi kaum wanita yg baik2 (sholehah) agar tidak jatuh ketangan pria yg zholim (kafir). tetapi pemahaman orang sekarang tidak mengikuti syariat yg disunahkan oleh Nabi Muhamad. silahkan saja, nanti akan menanggung resiko di hadapan Allah.

    kenapa pria boleh beristeri lebih dari satu ???
    sudah dinyatakan bahwa agama islam adalah agama fitrah, agama yg mengerti dengan keadaan diri manusia. coba anda lihat saja dari segi biologis antara wanita dan laki2. tentu saja ada perbedaan bukan…???
    wanita dalam satu siklus bulanan cuma mengandung satu sel indung telur didalam rahimnya. jadi dalam 12 bulan (satu tahun) wanita hanya memiliki 12 indung telur. dan setiap bulannya wanita mempunyai penyakit bulanan yaitu menstruasi (pelepasan sel telur yg tidak dibuahi). memang ada kasus wanita yg memiliki 2 atau 3, 4, bahkan yg terbanyak 6 yg mencatat guines record, itu saja sangat jarang.

    berbeda dengan seorang laki-laki. seorang laki-laki dalam satu harinya bisa memproduksi berjuta-juta sel spermatozoa, bayangkan apabila satu sendok teh sperma bisa membuahi wanita2 subur sebanyak 10 kabupaten….!!! itu baru satu sendok… apalagi kalau tiap hari seorang lelaki yg sehat muda dan subur…???? berapa milyar sel sperma dalam satu minggu..??? trus satu tahun..??????

    nah demikianlah islam adalah agama fitrah, semua manusia boleh merasakan kenikmatan hubungan suami isteri yg telah di ciptakan Tuhan. karena itu fitrah. tapi tidak boleh melampui batas…!!!!!!!!!! jadi ada aturannya….

    tidak heran di agama anda ada hukum calibat (pembujangan), padahal ini melawan fitrah manusia. dan dulu pendeta tidak di perbolehkan menikah. tetapi sekarang pendeta sudah diperbolehkan menikah. besok biarawati juga di perbolehkan menikah. makanya ada terdengar skandal antara pendeta dan biara di suatu gereja terlibat skandal sex bebas…!!!!

    demikianlah saudara ku…
    anda boleh mempelajari keindahan agama islam dalam mengatur hubungan antara pria dan wanita yg di ridhoi oleh Allah Swt……

  • pemantau says:

    Sebelumnya saya minta maaf jika pertanyaan saya ajukan semakin membuat anda sekalian para pembaca menjadi jauh dari maknanya.

    Saya tidak bermaksud memperuncing perbedaan pendapat diantara kalian. Yang ingin saya dapatkan adalah tanggapan yang memberikan penjelasan ataupun jikalau tidak tambahan pengetahuan rohani kita di dalam menelusuri, menambah semangat, keyakinan agama masing2.

    Sebab jikalau tidak forum ini jelas akan mengarah ke debat kusir yang tidak ada habisnya. Bahkan bukan mustahil akan semakin menambah bibit2 perpecahan di antara kita/kalian.

    Jadi tolong dalam memberi tanggapan ataupun penjelasan sebisa mungkin tidak memaki dalam bahasa kasar. Mengkritik boleh, memberikan jawaban keberatan/tidak setuju boleh2 saja. Namanya saja dalam bertukar pendapat/pikiran.

    Bagaimana pendapat kalian?

  • tn_yesus says:

    Saya akan mengutip sebuah buku tentang Diskusi antar agama islam dan kristen yg diwakili oleh Antonius- Bahaudin Mudhary.

    saya menulisnya dalam beberapa episode, harap mengikutinya dari episode awal hingga akhir. trims….!

    dan harapan saya sdr2 semua di UF mau membacanya sebagai telaah kebenaran dan akal yg anda pakai.

    silahkan menikmati :

    (EPISODE 1) :

    ASAL MULA TERJADINYA PERTEMUAN
    PERTEMUAN MALAM PERTAMA
    Pada malam selasa tanggal 9 Maret 1970, salah seorang santri dari Pesantren Sumenep Sdr. Marzuki mengadakan sekadar selamatan Tahun Baru Islam (1 Muharram tahun Hijriah) yang dihadiri oleh beberapa santri lainnya. Beberapa saat kemudian datang dua orang saudara bernama Markam dan Antonius Widuri (keduanya adalah tim akuntan) yang oleh kantornya Di Jakarta ditugaskan di PN. Garam Kalianget. Saudara Markan berasal dari Padang beragama Islam dan Saudara antonius Widuri berasal dari Jogjakarta beragama Kristen sejak kecil dan memang dari keluarga Kristen Katolik Roma.

    Kedatangan saudara Markam dan Antonius Widuri pada selamatan tersebut ingin menemui Kyai Bahaudin Mudhari yang memang sudah dikenal sebelumnya. Oleh kawan-kawan, terutama oleh saudara Marzuki selaku tuan rumah, kedatangan dua saudara ini disambut dengan ramah tamah dan rasa gembira.

    Kemudian saudara Markam menerangkan kedatangannya dari Kalianget ke Sumenep menyertai saudara Antonius Widuri, sengaja untuk menemui Kyai Bahaudin Mudhari, berhubung dengan keinginannya yang sudah lama terkandung untuk membandingkan tentang masalah Ketuhanan dalam agama Kristen dan Islam. Juga soal yang berhubungan dengan i’tikat, kepercayaan diantara kedua agama tersebut

    Menurut saudara Markam, karena bapak Kyai sedang tidak berada di sini, kalau bisa di lain waktu saja untuk menemui beliau. Akan tetapi sekiranya bapak Kyai dan Tuan Rumah serta saudara-saudara disini tidak berkeberatan, minta supaya diperkenankan untuk menguraikan isi hatinya agar saudara-saudara tidak salah paham, karena hal tsb, hanya dari hai-kehati saja, yakni soal keyakinan pribadi semata-mata.

    Kawan-kawan tidak berkeberatan asalkan berkisar soal agama saja, dan tidak ada kata-kata singgungan terhadap siapapun. jadi hanya merupakan soal jawab antara pribadi dengan pribadi saja.

    Bapak Kyai Bahaudin menerangkan, sekiranya soal jawab antar pribadi ini tidak selesai malam ini juga, apakah akan dilanjutkan pada malam yang lain. Oleh saudara Markam dan Antonius dijawab bahwa yang penting adalah kepuasan, walaupun memerlukan waktu lama baik siang maupun malam. Kalau begitu menurut Kyai Bahaudin Mudhary, kita dapat menamakan pertemuan ini adalah pertemuan pertama. Dengan catatan pertemuan pribadi semata bukan pertemuan dengan undangan.

    Perlu diterangkan dalam soal jawab ini nama-namanya disingkatkan. Huruf: “BM” untuk bapak Kyai Bahaudin Mudhary dan huruf “AW” untuk Antonius Widuri atau Sdr. Markam, karena saudara Markam sering ikut menjelaskan keterangan saudara Antonius.

    PERSETUJUAN BERSAMA
    BM: Sebelum diadakan pertemuan, saya pandang perlu menentukan sesuatu yang dirasa penting yang patut kita atur terlebih dahulu.

    AW: Hal itu kita serahkan saja kepada bapak Kyai bagaimana baiknya pertemuan kita ini.

    BM: Apakah tidak sebaiknya pertemuan kita ini dicatat saja dan bila perlu kita gunakan tape recorder untuk dijadikan kenang-kenangan.

    AW: Baiklah, kita setuju pendapat bapak Kyai.

    BM: Kalau begitu saya akan minta bantuan kepada seorang saudara untuk mencatat pembicaraan kita masing-masing. Dan apakah saudara tidak keberatan hasil pembicaraan kita nanti sekiranya panjang perlu untuk diketahui umum juga, sebaiknya kita jadikan buku (dibukukan).

    AW: Buat saya tidak keberatan asal membawa manfaat untuk umum.

    BM: Jadi saudara setuju.

    AW: Ya sangat setuju.

    BM: Terima kasih, sekarang saya ingin menanyakan maksud saudara menemui saya. Dan tadi saudara menyebut tentang agama Kristen dan Islam.

    AW: Begini Pak Kyai, secara terus terang dengan hati ikhlas saya sampaikan bahwa saya adalah seorang yang beragama Kristen Katolik. Seringkali juga saya membaca buku-buku agama Islam, dan majalah-majalah Islam, terutama majalah Kiblat yang terbit di Jakarta. Dengan membaca buku-buku dan majalah-majalah tsb, lalu timbul keinginan saya untuk mempelajari dan meneliti agama Islam. Akan tetapi keinginan itu selalu saya sembunyikan saja.

    BM: Dimanakah saudara mendapat buku-buku Islam dan majalah Kiblat?

    AW: Secara tidak sengaja, saya sering menemukan di meja kawan. Mula-mula saya tidak menghiraukan, karena buku dan majalah tersebut berlainan dengan keyakinan saya. Pada suatu malam saya tidak bisa tidur, padahal saya ingin istirahat, lalu saya mondar-mandir di kamar tidur, keluar masuk kamar, lalu saya lihat majalah Kiblat di atas meja, mungkin kepunyaan kawan yang ketinggalan waktu bertamu ketempat saya. Secara tidak sengaja saya ambil majalah tsb, tanpa kesadaran saya bawa ketempat tidur, lalu saya buka-buka lembaran, mungkin ada bacaan atau cerita-cerita yang dapat mendorong saya tidur. Kemudian pada suatu halaman, saya menjadi terkejut melihat suatu artikel tentang “Kristen,” tanpa pikir saya membacanya. Mula-mula hati saya selaku seorang Kristen merasa tersinggung, akan tetapi seolah-olah ada daya tarik yang memerintahkan saya supaya terus membacanya pada saat itulah secara tiba-tiba muncul dorongan hati saya untuk berpikir dan meneliti kebenaran keyakinan saya. Entah karena apa saya lantas ingin membaca buku-buku Islam dan majalah-majalah islam. Malah seringkali saya cari-cari pinjaman majalah Kiblat pada kawan-kawan yang berlangganan. Makin lama, bertambah timbul dorongan hati saya untuk meneliti ajaran Islam dan Kristen, dan ingin membandingkan tentang ketuhanan antara dua agama tersebut Secara diam-diam saya terus membaca-baca buku Islam disamping membaca kitab Injil yang menjadi keharusan saya selaku pemeluk agama Kristen.

    BM: Apakah saudara telah mempelajari Kitab Injil cukup mendalam?

    AW: Menurut perasaan saya, Kitab Injil itu telah saya pelajari dan saya anggap cukup mendalam. Ini hanya menurut ukuran kemampuan yang ada pada saya saja. Entah dalam penilaian orang lain.

    BM: Kemudian bagaimana kelanjutan keinginan saudara?

    AW: Setelah saya meneliti buku-buku Islam dan Kristen yang saya temui maka dorongan hati saya untuk melepaskan keinginan saya tak dapat saya tahan. Lalu saya mulai tanya-tanya tentang agama Islam pada beberapa orang yang saya temui, tetapi keterangannya itu belum ada yang memuaskan hati saya.

    BM: Kepada siapa saja saudara bertanya tentang ajaran Islam?

    AW: Kepada siapa saja yang saya temui, disamping pembicaraan lain. Jadi saya bertanya-tanya merupakan selingan-selingan dari pada yang menjadi pokok pembicaraan. Jadi tidak secara langsung.

    BM: Setelah itu adakah suatu pengaruh pada saudara?

    AW: Ya, anehnya saya mulai tidak rajin lagi pergi ke gereja. Mungkin inilah pengaruhnya.

    BM: Kemudian bagaimana?

    AW: Oleh karena saya tidak merasa puas dari orang-orang yang memberikan keterangan tentang Islam, lalu saya bicarakan kepada saudara Markan. Oleh saudara Markan saya diajak kerumah bapak Kyai Baha. Maka saya perlukan datang kemari diantar oleh saudara Markan.

    BM: Mungkin saudara belum mendalam mempelajari kitab Injil. Apakah tidak sebaiknya saudara meneliti kembali ajaran-ajaran agama Kristen sebelum diadakan pertemuan lebih lanjut.

    AW: Kalau begitu apakah orang yang bukan pemeluk Islam tidak dibolehkan mempelajari agama Islam?

    BM: Bukan begitu, maksud saya agama Islam itu bersikap toleransi terhadap semua agama dan pemeluknya. Memang para pemeluk Islam diwajibkan berdakwah kepada siapa saja yang mau menerimanya. Tetapi Islam melarang pemaksaan pada orang lain untuk memeluk agama Islam.

    AW: Akan tetapi, saya pun memeluk agama Kristen bukan karena ikut-ikutan. Pendirian saya setiap orang bebas memilih agama menurut keyakinanya dan berpindah agama menurut keyakinannya pula, yang tentu sebelumnya didahului oleh penelitian dan pertimbangan-pertimbangan yang mendalam sesuai dengan kemampuannya, baik dengan perantaraan buku-buku, Kitab-kitab, maupun soal jawab (diskusi) atau lainnya.

    BM: Betul akan tetapi asalkan dengan cara yang wajar sehingga tidak menimbulkan salah penafsiran antara pemeluk suatu agama dan penganut agama yang lain.

    AW: Itulah yang saya maksudkan agar kedatangan saya kepada bapak Kyai tidak sampai timbul sangka-sangka dan dugaan-dugaan yang tidak wajar melainkan dengan tujuan mencari kebenaran dalam memeluk suatu agama diatas dasar penelitian dari segi rasio maupun ilmu jiwa, dari segi ilmiah, sehingga menimbulkan keyakinan yang kokoh dalam jiwa saya. Keyakinan yang teguh dan kokoh tentunya tidak mungkin menjadi ikut-ikutan.

    BM: Memang seharusnya demikian.

    AW: Ada saya jumpai, penganut suatu agama disebabkan karena keturunan karena ayah dan ibunya menganut suatu agama, karena pengaruh pergaulan, lingkungan, pengaruh keadaan atau bisa jadi maksud untuk berlindung atau lainnya. Oleh karenanya saya berani bersumpah bahwa saya tidak termasuk pada orang-orang yang saya sebutkan diatas.

    BM: Saya hargai pendirian saudara.

    AW: Oleh karena itulah saya menemui bapak Kyai untuk menguraikan isi hati saya yang telah lama saya kandung. Akan tetapi apakah tidak sebaiknya bapak Kyai memberikan waktu kepada saya. Terserah menurut kesempatan bapak Kyai, karena sekarang sudah tengah malam. Akan tetapi sebisa-bisanya secepat mungkin.

    BM: Baik, besok malam saja saudara datang lagi, dengan catatan tidak usah memberitahukan dulu pada orang lain. Saya usahakan tempatnya.

    AW: Akan tetapi bagaimanakah kalau ada orang yang datang ingin mendengarkan saja.

    BM: Pokoknya pertemuan kita usahakan supaya tidak sampai diketahui orang lain, tetapi kalau dipandang perlu saya kira boleh saja, daripada hasil pertemuan kita beritahukan. Sekiranya besok malam ada orang datang hanya ingin mendengarkan, hal itu terserah kepada mereka sendiri, pokoknya kita tidak mengundang mereka dan mereka tidak mengganggu ketertiban dan kelancaran dalam pertemuan kita.

    AW: Baiklah, semoga pertemuan kita dapat diatur antara pribadi dengan pribadi bukan untuk umum.

    BM: Memang demikianlah rencana saya dan supaya saudara-saudara yang ada disini tahu.

    AW: Saya setuju pendapat bapak Kyai.

    BM: Adakah saudara mempunyai kitab Injil.

    AW: Ya, saya mempunyai kitab: Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan yang berbahasa Inggris “The Holy Bible” dan ada juga kitab bahasa Belanda “Bijbellezingen voor het Huisgezin” dan ada juga “Alkitab” terbitan tahun 1968 dan yang terbitan tahun 1970 dan kitab “Zabur.”

    BM: Saya harap kitab-kitab yang saudara sebutkan itu dibawa semuanya besok malam.

    AW: Ya saya akan bawa semuanya. Apakah bapak Kyai juga mempunyai kitab tersebut

    BM: Dulu pernah mempelajarinya, tetapi dipinjam oleh kawan yang sampai sekarang belum dikembalikan, namun saya telah membacanya.

    AW: Kalau begitu saya akan bawa semua kitab-kitab Kristen yang ada pada saya.

    BM: Harapan saya memang demikian.

  • tn yesus says:

    EPISODE 2.

    MALAM KEDUA
    BM: Sejak kapan saudara beragama Kristen?

    AW: Sejak saya dilahirkan.

    BM: Apakah saudara benar-benar mempelajari bahwa agama Kristen itu suatu agama yang paling benar?

    AW: Ya, memang saya menyadari.

    BM: Apakah saudara berkeyakinan bahwa Kitab Injil itu suci?

    AW: Ya, saya yakin sekali.

    BM: Dari siapakah pengertian saudara bahwa Bibel itu dari Tuhan Yang Maha Suci?

    AW: Guru saya menerangkan bahwa Bibel adalah Kitab Suci berisi pengajaran Tuhan Yesus, yang dicatat oleh Rasul-Rasul Matius, Lukas, Yohanes dan Rasul Markus.

    BM: Apakah yang dimaksud suci pada Bibel itu mempunyai arti bahwa Bibel Bersih dari pada kesalahan-kesalahan.

    AW: Betul demikian. Tetapi kesalahan yang bagaimana yang bapak maksudkan.

    BM: Misalnya: Pada suatu saat ada orang mengabarkan pada saudara si A sakit, sedangkan orang lain memberitahukan bahwa pada saat itu si A tidak sakit. Kedua berita itu apakah benar semuanya atau salah semuanya, atau salah satunya yang benar?

    AW: Di antara keduanya itu tentu salah satu yang benar atau keduanya salah dan mustahil kedua-duanya benar.

    BM: Satu misal lain, si A mempunyai 3 orang anak dan orang lain mengatakan si A mempunyai 10 anak. Apakah dua perkataan itu benar semuanya atau salah semuanya atau salah satu yang benar?

    AW: Tidak mungkin benar semuanya, melainkan salah satunya yang benar atau salah semuanya.

    BM: Kalau saya mengatakan benar semuanya, bagaimana pendapat saudara?

    AW: Itu adalah mustahil, karena ternyata ada perselisihan diantara keduanya.

    BM: Andaikata ada suatu kitab suci, akan tetapi ayat-ayat didalamnya diantara yang satu dengan yang lain terdapat perselisihan, apakah kitab itu akan dinamakan Kitab suci?

    AW: Tentu bukan kitab suci, karena yang dinamakan kitab suci itu adalah ilham (wahyu) dari Tuhan, yang mustahil terdapat kesalahan atau perselisihan.

    BM: Jadi kalau begitu bukan Kitab suci lagi?

    AW: Betul, kesuciannya telah batal.

    BM: Kalau demikian, tentu isinya tidak dapat dipercaya, kesuciannya atau kebenarannya, karena diantara ayat-ayatnya terdapat perselisihan.

    AW: Yang jelas diantara ayat-ayatnya pasti bukan dari Tuhan, atu sudah dicampur adukkan dengan karangan manusia, sehingga kesuciannya ternoda. Ringkasnya sudah tidak suci lagi.

    BM: Kalau misalnya Bibel terdapat selisih antara satu ayat dengan ayat lain apakah saudara masih berkeyakinan Bibel itu kitab suci?

    AW: Saya tidak yakin kalau Kitab Bibel tidak suci. Terkecuali kalau ada bukti-bukti nyata yang menunjukkan ayat-ayatnya berselisih antara yang satu dengan yang lain, yang dapat menimbulkan keraguan saya tentang kesuciannya. Menurut penelitian bapak, apakah ayat-ayat Bibel ada yang berselisih?

    BM: Ya, banyak yang berselisih.

    AW: Di Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru.

    BM: Dua-duanya terdapat beberapa perselisihan antara satu ayat dengan ayat yang lain.

    AW: Di bab apa dan pasal serta ayat berapa?

    BM: Supaya berurutan saya atur dalam beberapa pasal: Pertama soal Ketuhanan Yesus, karena soal ketuhanan adalah termasuk kepercayaan pokok pada tiap-tiap agama. Jadi soal ini perlu sekali didahulukan. Sesudah itu kita berpindah kepada soal yang lain yang berhubungan dengan soal agama Kristen yang termaktub dalam kitab Bibel. Bagaimana pendapat saudara?

    AW: Baik, saya menyetujui pendapat bapak.

    BM: Sekarang saya ingin bertanya, apakah alasan saudara bahwa Yesus menjadi anak Tuhan?

    AW: Dalam “Matius,” pasal 3 ayat 17 menyebutkan demikian: “Maka suatu suara dari langit mengatakan: “Inilah anakku yang kukasihi. Kepadanya aku berkenan.” Juga di Lukas pasal 4 ayat 41, bahwa “Yesus itu anak Allah.”

    BM: Kalau begitu silahkan buka “Matius” pasal 5 ayat 9.

    AW: Baik. Dalam pasal dan ayat itu menyebutkan: “Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang, karena mereka itu akan disebut anak-anak Allah.”

    BM: Berdasarkan ayat tersebut yang dimaksudkan ” Anak Allah” itu ialah orang yang dihormati seperti Nabi. Kalau Yesus dianggap anak Allah, maka semua orang yang mendamaikan manusia pun menjadi anak-anak Allah juga. Jadi bukan Yesus saja Anak allah tetapi ada terlalu banyak.

    AW: Dalam “Yohanes” pasal 14 ayat 9 disebutkan “Siapa yang sudah tampak Aku, ia sudah tampak Bapa,” dan di ayat 10 disebutkan: “tiadakah engkau percaya bahwa aku ini didalam Bapa, dan Bapapun didalam Aku? Segala perkataan yang aku ini katakan kepadamu, bukanlah Aku katakan dengan kehendak sendiri, melainkan Bapa itu yang tinggal didalam Aku. Ia mengadakan segala perbuatan itu.”

    BM: Baiklah. Silahkan saudara periksa “Yohanes” pasal 17 ayat 23.

    AW: Baik. Di pasal ini disebutkan bahwa: “Aku di dalam mereka itu, dan Engkau didalam Aku; supaya mereka itu sempurna di dalam persekutuan.”

    BM: Perhatikan di ayat ini ada tersusun kata “Aku di dalam mereka.” Kata “mereka” di ayat ini ialah sahabat Yesus. Sedang yang dimaksudkan “dengan aku” ialah Yesus. Jadi kata “AKU” beserta mereka artinya Yesus beserta sahabat-sahabatnya. Jadi Tuhan itu beserta Yesus dan para sahabatnya. Kalau saudara percaya hal kesatuan Yesus dengan Bapa maka saudara pun harus percaya tentang kesatuan Bapa itu dengan semua sahabat Yesus yang berjumlah 12 orang itu. Jadi bukan Yesus dan Roh suci saja yang menjadi satu dengan Tuhan,melainkan harus ditambah 12 orang lagi. Ini namanya persatuan Tuhan atau Tuhan persatuan bukan hanya Tritunggal tetapi 15-tunggal. Jadi berdasarkan perselisihan ayat-ayat tsb, yang manakah yang benar. Tiga menjadi Tunggal atau 15 menjadi Tunggal. Ayat manakah yang akan saudara yakini, yang tiga menjadi tunggal ataukah yang 15 itu?

    AW: Tunggu dulu Pak, ini agak membingungkan saya.

    BM: Tentu akan lebih membingungkan saudara kalau saya tunjukkan ayat yang lain. silahkan periksa “Yohanes” pasal 17 ayat 3.

    AW: Baik! Disini menyebutkan: “Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka mengenal Engkau, Allah yang Esa dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu.”

    BM: Di ayat ini menyebutkan Tuhan adalah Esa. Dalam Kamus bahasa Indonesia oleh E. St. Harahap, cetakan ke II disebutkan bahwa Esa itu berarti satu, pertama (tunggal) dan di ayat itu juga disebutkan bahwa Yesus Kristus adalah Pesuruh Allah (Utusan/Rasul). Kalau demikian, manakah yang benar. Di satu ayat menyebutkan Tuhan dengan Yesus menjadi satu di lain ayat 15 menjadi satu dan yang lain lagi Tuhan itu Tunggal, sedangkan di ayat itu pula menyebutkan bahwa Yesus itu pesuruh Allah bukan Tuhan. Menurut pengakuan saudara suatu Kitab suci yang kandungan ayat-ayatnya bertentangan antara yang satu dengan yang lain tentu sulit sekali dipercaya kesuciannya, karena yang disebut suci itu bersih dari kekeliruan dan perselisihan.

    AW: Masih adakah ayat yang menyebutkan demikian?

    BM: Ayat yang bagaimana yang saudara maksudkan?

    AW: Ayat yang menyebutkan bahwa Tuhan itu Esa (Tunggal), bukan tiga menjadi satu.

    BM: Silahkan buka di “Ulangan” pasal 4 ayat 35.

    AW: Baik. Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka kepadamulah ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itulah Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi.”

    BM: Jelas di dalam Bibel sendiri menerangkan bahwa Tuhan itu Esa, Tunggal.

    AW: Tetapi itu di dalam Kitab Perjanjian Lama. Apakah terdapat juga di Perjanjian Baru?

    BM: Saudara minta di Perjanjian Baru, baiklah. Silahkan saudara buka Markus pasal 12 ayat 29.

    AW: Baik. Di pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Maka jawab Yesus kepadanya. hukum yang terutama ialah: Dengarlah olehmu hai Israel, adapun Allah Tuhan kita ialah Tuhan yang Esa.”

    BM: Periksa lagi di Perjanjian Lama di “Ulangan” pasal 6 ayat 4.

    AW: Baik, di sini disebutkan: “Dengarlah olehmu hai Israel, sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya.”

    BM: Apakah belum jelas bahwa Bibel sendiri yang menjadi Kitab Sucinya Orang Kristen menyebutkan seterang-terangnya bahwa Tuhan itu tunggal, bukan tiga menjadi satu atau satu menjadi tiga. Taruh kata di Bibel ada ayat yang menyebutkan Tuhan itu tiga menjadi satu, saya ingin bertanya yang manakah di antara kedua ayat itu yang benar, yang Tunggalkah atau yang tiga menjadi Tunggal. Jadi salah satu dari dua ayat tersebut pasti ada yang benar, karena sudah jelas dua ayat itu tidak sama. Kalau salah satu atau dua-duanya salah, maka kandungan Kitab suci itu ada yang salah; jadi bukan Kitab suci namanya.

    AW: Betul, salah satu pasti salah atau kedua-duanya salah.

    BM: Kalau demikian apakah dapat diyakini kebenarannya sebagai kitab suci, kalau kitab suci itu mengandung kesalahan atau tidak benar isinya.

    AW: Ya, yang disebut kitab suci itu harus bersih dari kesalahan-kesalahan kalau tidak demikian maka batallah kesucian kitab suci itu.

    BM: Menurut kepercayaan saudara, apakah Yesus bersatu dengan Allah?

    AW: Ya demikian.

    BM: Kalau demikian tentu Yesus adalah selalu bersama Allah dan Allah selalu bersama Yesus?

    AW: Betul demikian sebagaimana tersebut dalam “Yohanes” 10, 30 yang bunyinya sebagai berikut: “Aku dan Bapa itu satu adanya.” Demikian juga Roh suci sebab Roh suci itu menjadi satu dengan Yesus, sebagaimana tersebut dalam injil, ialah setelah Yesus berumur 30 tahun turun roh suci kepadanya dan dibaptiskan oleh pembaptis yaitu Yohanes. Jadi jelas bahwa Yesus, Roh suci, Tuhan adalah Tunggal.

    BM: Kalau begitu silahkan buka “Matius” pasal 27 ayat 46.

    AW: Baik, dipasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Maka sekira-kira pukul tiga itu berserulah Yesus dengan suara yang nyaring katanya: “Eli, Eli lama sabaktani,” artinya “Ya Tuhan, apakah sebabnya Engkau meninggalkan Aku.”

    BM: Berdasarkan seruan Yesus di ayat itu, jelas bahwa Yesus tidak bersatu dengan Tuhan, yakni Tuhan meninggalkan Yesus, waktu akan disalibkan. Mestinya kalau Tuhan menjadi satu dengan Yesus, disaat itulah saat tepat untuk menolong Yesus, tetapi kenyataannya Tuhan tidak bersatu dengan Yesus sehingga Yesus sendiri minta tolong.

    AW: Tetapi Yesus itu hidupnya memang untuk disalib guna menebus dosa manusia.

    BM: Kalau hidupnya Yesus memang untuk disalib, mengapa Yesus tidak bersedia dan menolak untuk disalib. Buktinya ia berseru dengan suara nyaring minta tolong pada Tuhan agar ia terlepas dari disalibkan. Dengan kata lain Yesus tidak bersedia selaku penebus dosa.

    AW: Betul, saya lantas tidak mengerti mengapa ayat-ayat Bibel itu ada simpang siur.

    BM: Dari sebab itulah mengapa saudara menyembah Yesus selaku Tuhan yang tidak berkuasa menyelamatkan dirinya sendiri, malah minta tolong. Pantaskah ada Tuhan demikian. Dan saya lanjutkan pertanyaan, apakah manusia-manusia yang menyalibkan Yesus itu dilaknat?

    AW: Pasti dilaknat.

    BM: Mestinya tidak dilaknat, malah Yesus harus berterima kasih kepada mereka yang menyalibkan dia, bahkan mereka itu seharusnya mendapatkan ganjaran, karena menurut keterangan saudara, kehidupan Yesus itu harus disalib untuk menebus dosa-dosa. Jika tidak ada manusia yang bersedia menyalibkan Yesus, maka dosa-dosa manusia tentu tidak ada yang menebusnya. Jadi manusia-manusia yang telah menyalib Yesus itu berjasa kepada Yesus dan penganut-penganut kristen. Akan tetapi mereka yang sudah terbukti berjasa itu malah dilaknat. Mestinya mereka itu masuk surga dan dipuji-puji atas jasanya.

    AW: Ini memang tidak masuk akal atau sekurang-kurangnya memang sulit dimengerti; akan tetapi Roh Tuhan bersatu dengan Yesus itu tidak mustahil. Sebagaimana banyak manusia yang kesurupan hantu, jin malaikat atau makhluk-makhluk halus lainnya, sehingga tindakan tindakan dan perbuatannya menurut kehendak makhluk halus tersebut. Demikian juga ada yang kemasukan Roh suci seperti roh malaikat sehingga tindakan-tindakan dan perbuatannya adalah suci.

    BM: Kalau demikian baiklah saya bikin pertanyaan; Manusia yang bersatu (kesurupan) jin itu apakah dia disebut jin.

    AW: Tidak!

    BM: Yesus yang bersatu (menerima) Roh Tuhan itu apakah ia disebut Tuhan?

    AW: Mestinya tidak juga.

    BM: Seharusnya begitu. Jadi jelas bahwa Yesus yang menerima Roh ketuhanan tentunya bukan Tuhan. Manusia yang menerima wahyu Tuhan itu bukan Tuhan melainkan adalah utusan (pesuruh) Tuhan. Sessuai dengan pengakuan Yesus sendiri sebagaimana tersebut dalam “Yohanes’ pasal 17 ayat 3 yang berbunyi: “Supaya mereka itu mengenal Engkau. Allah Yang Maha Esa dan Benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu.”

    AW: Saya lantas tambah tidak mengerti tentang Ketuhanan Yesus itu.

    BM: Menurut keterangan saudara tadi, bahwa manusia yang bersatu dengan (kesurupan) makhluk halus seperti roh-roh, jin dan malaikat, maka tindakan dan perbuatannya pasti menurut kehendak atau menyerupai perbuatan makhluk-makhluk halus itu?

    AW: Benar begitu.

    BM: Kalau demikian maka Yesus yang saudara akui bersatu dengan Tuhan mestinya tindakan-tindakan dan perbuatannya menyerupai perbuatan Tuhan.

    AW: Mestinya begitu.

    BM: Akan tetapi kenyataannya tidak demikian. Tuhan tidak tidur tetapi Yesus tidur, Tuhan tidak makan tetapi Yesus makan, Tuhan tidak sakit tetapi Yesus sakit, Tuhan tidak menyembah kepada siapapun tetapi Yesus menyembah Tuhan. Tuhan tidak mati tetapi Yesus mati, walaupun menurut Doktrin Kristen hidup kembali tetapi ia mati.

    AW: Menurut anggapan orang Kristen salah satu yang mneyebabkan Yesus bersatu dengan Tuhan, karena ia mengetahui yang gaib.

    BM: Kalau begitu silahkan buka “Markus” pasal 13 ayat 31, 32.

    AW: Baik, ayat itu menyebutkan: “Sesungguhnya langit dan bumi akan lenyap tetapi perkataanku kekal. Tetapi akan harinya atau ketikanya itu tidak diketahui oleh seorang juapun, baik segala malaikat yang di sorgapun tidak, anak itu pun tidak, hanyalah Bapa saja.”

    BM: Jelas di Bibel sendiri tertulis, Yesus sendiri mengaku tidak ada yang tahu kapan hari kiamat, melainkan hanya Tuhan sendiri. Jadi tegas Yesus sendiri tidak mengetahui waktunya hari kiamat, yang termasuk suatu yang gaib. Yang tidak tahu itu pasti bukan Tuhan.

    AW: Tetapi Yesus menyebutkan dirinya di ayat ini dengan kata: “Anak,” yang berarti ia anak Tuhan.

    BM: Silahkan buka “Matius” pasal 1 ayat 16.

    AW: Baik. Disitu disebutkan: “dan Yakub memperanakkan Yusuf, yaitu suami Maria; ialah yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.”

    BM: Jelas bahwa yang diperanakkan itu pasti bukan Tuhan sebagaimana tersebut dalam ayat tersebut Silahkan periksa lagi “Keluaran” pasal 4 ayat 22.

    AW: Baik. Di situ disebutkan: “Maka pada masa itu hendaklah katamu kepada Fir’aun demikian: ‘Inilah firman Tuhan: Bahwa Israil itulah anakku laki-laki,yaitu anakku yang sulung’.”

    BM: Di ayat ini disebutkan bahwa Israil adalah anak tuhan yang sulung, sedangkan Yesus tidak disebutkan anak yang keberapa. silahkan buka lagi “Yeremia” pasal 31 ayat 9.

    AW: Ayat ini menyebutkan, “Akulah bapak bagi Israil; dan Afraim itulah anak yang sulung.”

    BM: Jelas sekali bahwa berdasarkan Bibel sendiri Anak Tuhan itu banyak,bukan Yesus saja, padahal sebenarnya yang dimaksudkan dengan “Anak” dalam ayat itu ialah mereka yang dikasihi oleh Tuhan, termasuk Yesus jadi bukan anak yang sebenarnya.

    AW: Tetapi dalam “Matius,” pasal 1 ayat 18, menyebutkan sebagai berikut: “Adapun kelahiran Yesus Kristus demikian adanya: Tatkala Maria, yaitu ibunya, bertunangan dengan Yusuf, sebelum keduanya bersetubuh, maka nyatalah Maria itu hamil dari pada roh kudus.” Roh kudus artinya Roh Tuhan.

    Oleh karenanya maka Yesus itu adalah anak Tuhan, sebagaimana juga di “Matius” pasal 1 ayat 20 menyebutkan: “Yusuf bermimpi seorang Malaikat, Tuhan berkata: “Hai Yusuf, anak Daud janganlah engkau kuatir menerima Maria itu menjadi istrimu karena kandungan itu terbitnya dari pada Roh kudus.”

    BM: Kalau begitu silahkan buka: “Kisah Rasul,” pasal 6 ayat 5.

    AW: Baik, ayat itu menyebutkan: “Maka perkataan ini diperkenankan oleh sekalian orang banyak itu, lalu memilih Stephanus, yaitu seorang yang penuh dengan iman, dan Roh kudus, dan lagi Philippus, dan Prokhorus dan Nikanor dan Simion dan Parmenas dan Nikolaus yaitu mualaf asalnya dari negeri Antiochia.”

    BM: Jadi berdasarkan ayat Bibel sendiri menunjukkan bahwa Roh Kudus itu bukan pada Yesus saja. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus itu Roh Suci, atau Roh Kesucian yang maksudnya roh yang bersih dari roh-roh kotor, bukan seperti roh setan atau hantu. Sebagaimana halnya para Nabi lainnya dengan roh sucinya. Menurut Al-Qur’an, Roh Kudus (roh suci) itu berarti “Jibril.” Di Bibel sendiri menyebutkan bahwa para nabi yang terdahulu adalah Kudus.

    AW: Di Bibel pasal berapa menyebutkan demikian?

    BM: Silahlan periksa surat petrus yang kedua pasal 3 ayat 2.

    AW: Baik. pasal dan ayat ini menyebutkan: “Supaya kamu ingat perkataan yang sudah disabdakan, dahulu oleh nabi yang kudus dan akan hukum Tuhan lagi juru Selamat, dengan jalan rasul-rasul yang disuruhkan kepadamu.”

    BM: Jelas di Bibel sendiri menyebutkan bahwa Roh Kudus itu bukan Tuhan dengan kata lain bahwa Yesus dalam kandungan Maria itu bukan Tuhan atau Roh Tuhan, melainkan adalah roh bersih, suci, dengan izin atau perintah Allah yang dikaruniakan kepada hamba yang dikehendakinya. Lebih jelas harap saudara periksa dalam “Kisah Rasul,” pasal 5 ayat 32.

    AW: Ayat tsb menyebutkan: “Dan kami inilah saksi atas segala perkara itu,” demikian juga Roh Kudus yang dikaruniakan Allah kepada sekalian orang yang menurut Dia.”

    BM: Silahkan periksa lagi dalam ‘Lukas’, pasal 1 ayat 41.

    AW: Pasal ini menyebutkan bahwa: “Maka berlakulah tatkala Elisabet mendengar salam Maria itu, meloncatlah kanak-kanak yang didalam rahimnya itu dan Elisabet penuh roh kudus.”

    BM: Sudah jelas sekali bahwa arti Roh kudus adalah Roh Suci yang dikaruniakan oleh Allah kepada siapapun yang dikehendakinya. Kalau sekiranya Roh Kudus itu diartikan dengan Allah atau Roh Allah maka bukan Yesus saja menjadi Tuhan atau anak Tuhan, melainkan segala orang yang taat kepada Tuhan, para Nabi dan Elisabet (istri Zakaria) pun mestinya Tuhan juga.

    AW: Yesus dianggap Tuhan oleh karena ia mempunyai ro Ketuhanan, terbukti dengan pangkat Ketuhannnya sehingga ia dapat menghidupkan orang mati. Inilah kesamaan Allah dengan Yesus.

    BM: Kalau begitu, silahkan periksa di “Kitab Raja-raja yang kedua” pasal 13 ayat 21.

    AW: Baik, disini ada menyebutkan: “Maka sekali peristiwa apabila dikuburkannya seorang Anu, tiba-tiba terlihat mereka itu suatu pasukan lalu dicampakkannya orang mati itu kedalam kubur Elisa, maka baru orang mati itu dimasukkan ke dalamnya dan kena mayat Elisa itu, maka hiduplah orang itu pula, lalu bangun berdiri.”

    BM: Disini menyebutkan malah tulang-tulang Elisa dapat menghidupkan orang mati. Jadi bukan Yesus saja dapat menghidupkan orang mati bahkan tulang-tulang Elisa dapat menghidupkan orang mati. Yang berarti tulang-tulang Elisa adalah tulang-tulang ketuhanan. Kalau Yesus di waktu hidupnya dapat menghidupkan orang mati, akan tetapi Elisa di waktu tak bernyawa, malah hanya dengan tulang-tulangnya, yang di dalam kubur dapat menghidupkan orang mati. Kalau perbuatan Yesus dikatakan ajaib maka Elisa lebih ajaib dari pada Yesus. Jadi seharusnya Ilyaspun dianggap Tuhan juga. Periksa lagi di “Kitab Raja-Raja yang pertama,” pasal 17 ayat 22.

    AW: Ya, disini menyebutkan:

    “Maka didengar akan Do’a Elisa itu, lalu kembalilah nyata kanak-kanak itu kedalamnya sehingga hiduplah ia pula.”

    BM: Kalau secara adil, seharusnya Elisa dianggap Tuhan juga.

    AW: Tetapi Yesus dapat menyembuhkan orang buta sehingga melihat.

    BM: Kalau begitu periksa “Kitab Raja-Raja yang kedua,” pasal 6 ayat 17 dan 30.

    AW: Ya di pasal itu menyebutkan yang maksudnya bahwa Elisa dapat menyembuhkan orang buta, sehingga dapat melihat.

    BM: Kalau begitu, Elisa pun harus diangap tuhan juga, karena menyamai Yesus dan menyamai sifat Tuhan.

    AW: Sekali lagi Yesus dapat menyembuhkan penyakit lepra (penyakit kusta).

    BM: Silahkan periksa kitab Raja-Raja yang kedua pasal 5 ayat 10 dan 11.

    AW: Baik. Di pasal dan ayat itu menyebutkan yang maksudnya bahwa Elisa dapat menyembuhkan orang sakit kusta bernama Naaman.

    BM: Jadi Elisa pun dapat menyembuhkan orang buta dan penyakit kusta malah dapat menghidupkan orang mati. Mengapa tidak diangkat juga menjadi Tuhan?

    AW: Akan tetapi pasal kejadian Yesus tanpa pencampuran laki-laki dengan istrinya. Inilah kelebihan rohnya Yesus daripada rohnya Elisa.

    BM: Asal kejadian Nabi Adam tanpa bapak dan ibu. Mengapa Adam tidak dianggap Tuhan. Juga Hawa asal kejadiannya tanpa ibu, iapun bisa dianggap juga Tuhan Wanita.

    AW: Tetapi Adam dan Hawa kedua-duanya berdosa.

    BM: Kalau begitu Yesuspun berdosa, karena Yesus keturunan Maria, sedang Maria keturunan Adam dan Hawa. Yesus sendiri pernah dibawa oleh Iblis ke puncak gunung. Pantaskah Tuhan dibawa oleh Iblis.

    AW: Dimana cerita itu disebutkan?

    BM: Di Bibel. Silahkan saudara periksa”Lukas” pasal 4 ayat 5.

    AW: Baik. Disitu menyebutkan: “Maka Iblis pun membawa dia ke puncak gunung.”

    BM: Nah, suatu kejadian aneh, Tuhan dibawa iblis yang berarti ia tunduk kepada kemauan iblis.

    AW: Walaupun demikian Yesus tetap suci daripada dosa.

    BM: Para Nabi lainnya pun suci dari pada dosa. Akan tetapi mereka tidak menganggap dirinya selaku Tuhan, malah Yesus sendiripun tidak juga mengaku Tuhan, sedangkan pengikut-pengikutnya mempertuhankan dia.

    AW: Tidak demikian, Nabi-nabi berbuat dosa tetapi Yesus tidak.

    BM: Nabi-nabi yang berbuat dosa atau kesalahan itu telah bertobat, lalu diberi ampun oleh Tuhan, sebagaimana juga Yesus pernah minta ampun dan diberi ampun oleh Tuhan. Mereka para Nabi diberi ampun, artinya dosanya telah habis karenanya, lalu mereka disebut bersih dari dosa dan kesalahan-kesalahan.

    AW: Dimanakah menyebutkan bahwa Yesus merasa ia minta ampun kepada Tuhan?

    BM: Silahkan saudara periksa sendiri di “Matius” pasal 6 ayat 12.

    AW: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Dan ampunilah kiranya kami segala kesalahan kami, seperti kami ini sudah mengampuni orang yang berkesalahan kepada kami.”

    BM: Jelas Yesus sendiri meminta ampun akan kesalahannya. Jadi dia pernah berbuat kesalahan.

    AW: Tetapi di ayat ini juga ada menyebutkan bahwa Yesus suka memberikan ampun semua kesalahan orang kepadanya.

    BM: Kalau hanya begitu, kitapun bisa. Kitapun bersedia memberikan ampun kepada orang-orang yang berbuat kesalahan kepada kita.

    AW: Tetapi tidak ada manusia selain Adam yang dilahirkan kedunia ini tanpa Bapak, melainkan Yesus saja. Jadi masih dapat dibenarkan kalau Yesus disebut “Putera Tuhan” atau “Tuhan Anak.”

    BM: Kalau misalnya ada seorang manusia yang dilahirkan tanpa Bapak dan Ibu, maka orang itu pasti akan diakui oleh saudara bahwa ia lebih berhak menduduki jabatan Tuhan daripada Yesus dilahirkan tanpa Bapak saja.

    AW: Tetapi dalam sejarah manusia belum pernah ada, dan mustahil adanya.

    BM: Kalau kiranya ada, maka yang manakah diantara keduanya yang lebih tinggi derajat Ketuhanannya antara Yesus yang dilahirkan hanya tanpa bapak saja dengan manusia yang dilahirkan tanpa Bapak dan Ibu.

    AW: Menurut akal tentunya manusia yang dilahirkan tanpa Bapak dan Ibu itu lebih tinggi derajat ketuhanannya. Oleh karena ia dilahirkan lebih ajaib keadaannya dari pada kelahiran Yesus.

    BM: Benarkah demikian pendapat Saudara?

    AW: Ya, saya akui, manusia yang demikian lebih ajaib dari pada Yesus; akan tetapi saya minta supaya Bapak tunjukkan di Kitab; dan Bapak harus mengambil dari Kitab yang terkenal, bukan dari buku-buku dongengan atau ceritera-ceritera khayalan saja.

    BM: Supaya lekas beres urusan ini, silahkan saudara periksa di Kitab Bibel atau Injil, Kitab Suci saudara sendiri.

    AW: Di Bab dan pasal berapakah ada menyebutkan?

    BM: Silahkan saudara periksa di “Ibrani” pasal 7 ayat 1, 2 dan 3.

    AW: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan seperti berikut: “Adapun Melkisedek itu, yaitu raja di Salem dan Imam Allah taala, yang sudah berjumpa dengan Ibrahim tatkala Ibrahim kembali daripada menewaskan raja-raja, lalu diberkatinya Ibrahim.”

    “Kepadanya juga Ibrahim sudah memberi bahagian sepuluh Esa. Makna Melkisedek itu kalau diterjemahkan, pertama-tama artinya raja keadilan, kemudian pula raja di Salem, yaitu raja damai.” Yang tiada berbapak dan tiada beribu dan tiada bersilsilah, dan tiada berawal.”

    BM: Cukup, saudara telah membaca di kitab suci saudara sendiri, bahwa Melkisedek seorang raja di Salem tanpa Bapak dan Ibu, malah tiada silsilahnya. Sesuai dengan pendapat saudara, apakah cerita yang disebutkan dalam kitab suci saudara ini berupa dongengan atau cerita-cerita khayalan. Kalau dikatakan dongeng atau cerita khayalan, maka apakah saudara akan terima kalau ada yang mengatakan bahwa kitab suci saudara ada mengandung cerita-cerita khayalan atau dongengan yang dibuat-buat. Dan kalau saudara masih mempertahankan kesucian kitab saudara itu mengapakah saudara tidak mengangkat Melkisedek menjabat Tuhan juga, malah jabatan ketuhanannya tentunya lebih tinggi daripada Yesus. Dan berpegang dengan pendirian saudara sendiri bahwa kelahiran Melkisedek itu lebih ajaib dari Yesus, oleh karena Yesus dilahirkan tanpa Bapak sedangkan Melkisedek dilahirkan tanpa Bapak dan Ibu. Selain itu Melkisedek masih mempunyai kelebihan lagi daripada Yesus, oleh karena Yesus dilahirkan dengan bersilsilah, yaitu dari Maria, sedangkan menurut Bibel sendiri Melkisedek dilahirkan tanpa silsilah sama sekali. Apakah saudara masih akan mempertahankan ketuhanan Yesus?

    AW: Saya lantas tidak mengerti dan menjadi bingung!!

    BM: Tidak mengerti itu tidak apa-apa, dan bingung sebenarnya tidak apa-apa, karena kalau sudah mengerti rasa bingung akan lenyap dengan sendirinya.

    AW: Ya, saya membenarkan keterangan Bapak. Tetapi dalam kitab Injil Johanes pasal 1 ayat 1 dan 2 menyebutkan: “Maka pada mulanya ada itu Kalam maka Kalam itu, serta dengan Allah, dan Kalam itu Allah, dan kalau itu Allah. Ia itu pada mulanya serta dengan Allah.” Kata “Ia” di ayat ini maksudnya ialah “Yesus.” Jadi Yesus beserta dengan Allah.

    BM: Dalam susunan ayat tersebut di atas ada kata penghubung ialah: “Serta” atau beserta. Kalau ada orang berkata “Si Salim dengan si Amin” maka susunan kalimat ini semua orang dapat mengerti bahwa si Salim tetap si Salim bukan si Amin jadi berdasarkan ayat Bibel yang Saudara baca dengan susunan “Ia” (Yesus) beserta Allah, langsung dapat dimengerti bahwa Yesus bukan Allah, dan Allah bukan Yesus. Jelaslah bahwa Yesus tidak sama dengan Allah: dengan kata lain kata Yesus bukan Tuhan. Dan di ayat itu juga disebutkan bahwa Kalam itu Allah. Padahal Kalam itu bukan Allah dan Allah bukan Kalam. Jadi Allah dan Kalam-pun lain.

    AW: Bagaimana kalau Yesus disebut saja Anak Tuhan.

    BM: Saya sudah jelaskan tentang itu pada saudara dalam pembicaraan kita yang lalu. Dan saudara telah mengakui kebenaran keterangan saya. Sekarang saya tambah, Kalau Tuhan itu beranak, baik anaknya berupa manusia seperti Yesus atau lainnya, maka ke Esa-an Tuhan sudah ternoda karenanya. Sedang kita-pun tidak mungkin menodai ke Esa-an Tuhan.

    AW: Tetapi dalam kitab: “Wahyu,” pasal 22 ayat 13 menyebutkan: “Maka Aku inilah Alif dan Ya, yang terdahulu dan yang kemudian. Yang Awal dan Yang Akhir.”

    BM: Rangkaian perkataan itu bukan perkataan Yesus sendiri, melainkan firman Allah kepada Yesus. Bukti kebenaran perkataan saya ini silahkan saudara periksa di Kitab “Wahyu” tersebut pasal 21 ayat 6.

    AW: Baik, pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka firmannya kepadaku: “Sudahlah genap; Aku inilah Alif dan Ya, yaitu yang awal dan yang Akhir.”

    BM: Jelas di ayat itu menyebutkan: “Maka firmannya kepadaku,” Siapakah yang berfirman kepadaku (kepada Yesus) di ayat ini?

    AW: Tentu Allah yang berfirman.

    BM: Jadi yang berfirman Aku inilah Alif dan Ya, yang Awal dan Yang Akhir, bukan perkataan Yesus sendiri, tetapi firman Allah kepada Yesus.

    AW: Di Johanes pasal 8 ayat 58 Yesus berkata: “Sebelumnya Ibrahim aku sudah ada.” Jadi bisa dianggap Yesus itu permulaan.

    BM: Kalau Yesus dikatakan “Permulaan.” maka diapun tidak benar. Karena pada mulanya Yesus itu tidak ada, lalu diperanakkan oleh Maria dan sesudah itu Yesus mati. Walaupun ia dikatakan hidup lagi. Dan orang sudah mati itu tidak bisa dikatakan: “seorang yang terkemudian,” dan kalau Yesus itu hidup lagi, tidak bisa dikatakan: “Permulaan,” bukan pula “yang terkemudian,” bukan yang “awal,” maupun: “yang akhir.”

    AW: Saya lantas makin tidak mengerti, malah tambah membingungkan saya karena pada mulanya Yesus itu tidak ada, lalu diperanakkan oleh Maria dan sesudah itu Yesus mati. Yang pada mulanya tidak ada, tidak bisa disebut: “permulaan.” Kalau Yesus diperanakkan, mustahil bisa disebut “permulaan” dan kalau Yesus pernah mati, mustahil bisa disebut “yang terkemudian.”

    BM: Supaya lebih jelas kepada saudara maka saya hadapkan pertanyaan: Andaikata Yesus itu disebut “permulaan,” maka apa dengan dasar inikah saudara mengakui Yesus itu Tuhan.

    AW: Ya, betul begitu.

    BM: Kalau demikian, bagaimanakah anggapan saudara, kalau sekiranya dalam kitab suci saudara ada menyebutkan bahwa ada seseorang manusia Yesus, yang tidak ada permulaannya dan tidak ada kesudahannya. Apakah manusia itu akan diakui Tuhan juga oleh saudara.

    AW: Di pasal manakah menyebutkan demikian?

    BM: Sebelum saya tunjukkan, apakah saudara masih tetap berpendirian akan mengakui Tuhan kepada seorang yang tidak ada permulaan dan kesudahannya, sebagaimana saudara bertuhan kepada Yesus.

    AW: Kalau betul ada, tentu saya bimbang atau sekurang-kurangnya meragukan saya atas kebenaran Yesus selaku Tuhan.

    BM: Mestinya saudara mengakui Tuhan dua-duanya, dengan lain kata disamping Yesus ada lagi Tuhan Tambahan.

    AW: Ya, bisa juga begitu. Akan tetapi tentu saja keyakinan saya lantas tambah tidak karuan. Di pasal manakah ada menyebutkan ada seorang manusia yang tidak ada permulaan dan kesudahannya.

    BM: Saya telah katakan dikitab suci saudara sendiri. Silahkan buka Ibrani pasal 7 ayat 2 dan 3.

    AW: Baik, seperti tadi sudah saya bacakan sampai baris pertama ayat ketiga dari pasal tersebut sebagai berikut: “Melkisedek yang tiada berbapa dan tiada beribu dan tiada bersilsilah dan tiada berawal dan berkesudahan hidupnya, melainkan ia diserupakan Anak Allah. maka kekallah ia selama-salamanya.”

    BM: Bagaimana perasaan saudara dengan susunan ayat ini. Berdasarkan ayat ini bukan Yesus saja yang menjadi permulaan tetapi juga Melkisedek.

    AW: Keyakinan saya memang jadi bimbang terhadap Ketuhanan Yesus.

    BM: Bimbang atau tidaknya terserah saudara, yang jelas tidak ada niat sama-sekali untuk mengajak saudara meninggalkan Agama Kristen. Yang penting adalah diskusi dan penelitian semata-mata. Meneliti dan menganalisa terhadap sesuatu adalah hak semua orang, asalkan penelitian itu benar-benar tidak mengganggu ketentraman umum.

    AW: Terimakasih, dan saya masih akan bertanya lagi pada Bapak; maklumlah saya ini sedang mencari kepuasan yang dapat menimbulkan keyakinan saya dalam memeluk agama.

    BM: Silahkan saudara bertanya, keyakinan itu timbul setelah menyelidiki dan meneliti dengan kepuasan. Di dalam Agama Islam tidak ada paksaan. Yang penting menyampaikan (da’wah), tidak lebih dari itu. Teruskanlah pertanyaan saudara.

    AW: Setelah kita bersoal jawab tentang Ketuhanan Yesus timbullah keraguan dalam hati saya, namun apakah bapak masih bersedia menunjukkan ayat-ayat Bibel yang menyatakan bahwa Yesus itu bukan Anak Tuhan.

    BM: Walau telah saya tunjukkan ayat-ayat Bibel sendiri, tentang pengakuan Yesus sendiri bahwa Tuhan itu Tunggal, namun demi pengharapan saudara akan saya penuhi juga. Akan tetapi apakah tidak sebaiknya kita lanjutkan besok malam saja oleh karena waktu sudah malam (Jam 12.25).

    AW: Ya, terima kasih, besok malam saja kita lanjutkan.

    BERLANJUT KE EPISODE 3

  • tn yesus says:

    EPISODE 3

    PERTEMUAN YANG KETIGA
    BM: Sebagaimana kita telah rembuk kemarin malam, apakah akan dilanjutkan juga musyawarah kita ini?

    AW: Memang demikian, karena kedatangan kami kemari khususnya untuk melanjutkan pertemuan kita kemarin malam.

    BM: Kalau tidak khilaf, pembicaraan kita masih berkisar dalam soal ketuhanan Yesus dalam Bibel.

    AW: Betul begitu. Kemarin malam saya mengharapkan agar bapak menunjukkan ayat-ayat dalam Kitab Injil; apakah Yesus itu Tuhan atau bukan.

    BM: Kemarin malam, telah saya tunjukkan. Agar berurutan sebaiknya kita ulangi lagi ayat-ayat Injil tersebut, lalu akan saya tunjukkan lagi ayat-ayatnya yang lain; setujukah saudara pendapat saya ini.

    AW: Memang sebaiknya begitu, agar berurutan dan bertambah jelas baiklah diulangi lagi.

    BM: Silahkan Buka Matius pasal 1 ayat 16.

    AW: Baik, dalam pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Dan Yakub memperanakkan Yusuf, yaitu suami Maria ialah yang melahirkan Yesus, yang disebut Kristus.”

    BM: Di sini jelas, ayat ini menyebutkan sendiri, bahwa Yesus diperanakkan oleh Maria. Jadi Yesus adalah anak manusia, bukan anak Tuhan, sebagaimana telah saya terangkan dalam pertemuan pertama.

    AW: Ya, pada pertemuan pertama bapak telah terangkan dan saya telah mengerti. Menurut pendapat bapak, apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan kata: “Yesus dan Kristus.”

    BM: Apakah saudara belum mengetahui arti daripada dua buah kata tersebut?

    AW: Saya mengerti. Tetapi hanya untuk mencocokkan saja dengan penafsiran bapak.

    BM: Baik, Yesus adalah bahasa Yunani, yang berarti: “Melepaskan,” melepaskan manusia daripada dosa.

    AW: Darimanakah adanya keterangan bahwa Yesus itu berarti melepaskan dosa.

    BM: Sebetulnya susunan pertanyaan itu timbul dari saya. Tetapi saya mengerti mungkin saudara akan menguji saya tentang Injil, walaupun begitu saya penuhi juga pengharapan saudara. silahkan periksa di Matius pasal 1 ayat 21.

    AW: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka ia akan beranakkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau namakan Dia, Yesus, karena ialah yang akan melepaskan kaumnya dari pada segala dosanya.”

    BM: Itulah ayatnya, Arti Kristus ialah Almasih, Sang Sabda, Adil, Ratu Salem dan ada beberapa lagi artinya yang lain: Kata Almasih dalam Injil bahasa Inggris disebut: “Christ the Lord,” didalam Injil bahasa Arab disebut: “Almasih Ar-Robb.” Kata “Lord dan Robb” artinya tuanku, paduka tuan, dan ada juga dengan arti Tuhan, dan lain-lain lagi. Akan tetapi karena Yesus sendiri mengaku bahwa ia bukan Tuhan melainkan utusanNya bagaimana tersebut dalam kitab Injil Johanes pasal 17 ayat 23, dan ia diperanakkan oleh manusia, sebagaimana tersebut dalam Injil Matius pasal 1 ayat 16 dan 21, malah ia sendiri yang berkata dan mengakui bahwa Tuhan itu Esa (Tunggal), sebagaimana disebutkan dalam Injil Markus, pasal 12 ayat 29 dan di ayat-ayat Injil yang lain-lain, maka berdasarkan pengakuan Yesus itu, jelas Yesus itu bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan.

    AW: Benar yang bapak maksudkan itu.

    BM: Selanjutnya harap periksa lagi di Markus pasal 12 ayat 29

    AW: Di sini menyebutkan: “Maka jawab Yesus kepadanya: ‘Hukum yang terutama inilah: dengarlah olehmu hai Israil, adapun Allah Tuhan Kita, ialah Tuhan Yang Esa’.”

    BM: Jelas bahwa Tuhan itu Esa, artinya satu, Tunggal, jadi Yesus bukan Tuhan sebagaimana telah saya terangkan.

    AW: Ya, sudah bapak terangkan kemarin malam.

    BM: Periksa lagi Ulangan pasal 4 ayat 35.

    AW: Di sini menyebutkan: “Maka kepadamulah Ia itu ditunjuk, supaya diketahui olehmu bahwa Tuhan itu Allah, dan kecuali Tuhan yang Esa tiadalah yang lain lagi.”

    BM: Kitab Injil saudara sendiri yang menyebutkan dan Yesus sendiri yang menyampaikan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah yang Esa. Jadi tegas sekali Yesus sendiri tidak mengaku menjadi Tuhan. Inipun telah saya terangkan pada pertemuan kita kemarin malam.

    AW: Ya, saya sudah mengerti dan menerimanya.

    BM: Periksa lagi di Ulangan pasal 6 ayat 4.

    AW: Di Ulangan pasal dan ayat tersebut menyebutkan demikian: “Dengarlah olehmu hai Israil! Sesungguhnya Hua Allah kita, Hua itu Esa adanya.”

    BM: Jelas di kitab Injil sendiri menyebutkan Allah itu Esa, Tunggal. Yesus telah mengakui sendiri bahwa dia bukan Tuhan. Bagaimana pendapat saudara. Kaum Kristen mengatakan Yesus itu tuhan, sedangkan Yesus sendiri menolak disebut dirinya Tuhan.

    AW: Ya, saya tidak mengerti dan tambah bingung.

    BM: Biarlah tidak apa-apa. Marilah kita teruskan lagi. Periksa di Matius pasal 27 ayat 1.

    AW: Baik, di sini menyebutkan: “Setelah hari siang, maka segala kepala iman dan orang tua-tua kaumpun berundinglah atas hal Yesus, supaya dibunuh Dia.”

    BM: Kalau betul Yesus itu Tuhan, mustahil ada manusia merencanakan untuk membunuh Dia. Silahkan buka lagi di Matius pasal 26 ayat 38.

    AW: Di ayat ini ada menyebutkan: “Kemudian kata Yesus kepada mereka itu: ‘Hatiku amat sangat berdukacita, hampir mati rasaku; tinggallah kamu disini dan berjagalah sertaku.’”

    BM: Di ayat ini menyebutkan bahwa Yesus amat sangat berduka cita pantaskah ada Tuhan berduka cita. Ini menunjukkan bahwa Yesus bukan Tuhan. Periksa lagi di Lukas pasal 2 ayat 11.

    AW: Baik di ayat ini menyebutkan: “Sebab pada hari ini sudah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan itu di dalam negeri Daud.”

    BM: Wajarkah Tuhan dilahirkan oleh manusia (Maria). Terus periksa di Johanes pasal 5 ayat 30.

    AW: Baik, di sini menyebutkan: “Maka aku tidak boleh berbuat satu apa dari mauku sendiri, Seperti aku dengar begitu aku hukumkan, dan hukumku itu adil adanya, karena tidak aku coba turut mauku sendiri, melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus aku.”

    BM: Ayat itu Yesus sendiri yang berkata bahwa ia tidak berkuasa berbuat sekehendaknya. Wajarkah Tuhan tidak berkuasa berbuat sekehendaknya. Di ayat itupun Yesus mengaku sendiri bahwa kehendaknya itu menurut kehendak Tuhan yang mengutus dia. Kalau Yesus betul Tuhan, tentu tidak dapat diperintah oleh siapapun. Di ayat ini juga Yesus mengaku, bahwa dia bukan Tuhan melainkan diutus oleh tuhan. Yang diutus itu tentu bukan Tuhan.

    AW: Kalau berdasarkan ayat tersebut, memang benar keterangan Bapak.

    BM: Kalau begitu jelas bahwa:

    Yesus Datang kedunia ini bukan kemauannya sendiri tetapi utusan Tuhan atas kehendak Tuhan, sebagaimana juga Tuhan telah mengutus Nabi-nabi dan rasul-rasul yang lain.
    Yesus menghidupkan orang mati bukan maunya sendiri melainkan atas kehendak Tuhan, sebagaimana juga Ilyas dapat menghidupkan orang mati.
    Yesus dapat menyembuhkan penyekit kusta (lepra), bukan kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak Tuhan sebagaimana Ilyas dapat menyembuhkan penyakit lepra.
    Keterangan saya ini berdasarkan pengakuan Yesus sendiri di ayat tadi bahwa “Tidak aku coba mauku sendiri, melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus Aku.”

    Apakah Saudara memerlukan lagi ayat-ayat Bibel yang menerangkan pengakuan Yesus sendiri bahwa Ia bukan Tuhan.

    AW: Buat saya masih memerlukan lagi, bukankah telah saya sampaikan kepada Bapak, bahwa saya ingin mencari kepuasan dalam meneliti ajaran-ajaran agama, terutama dalam hal Ketuhanan yang hakiki. Tetapi saya ingin bertanya, dan maaf sebelumnya, bagaimanakah bapak bisa hafal diluar kepala tentang ayat-ayat Bibel, dan keistimewaan bapak ini saya merasa kagum.

    BM: Itu adalah petunjuk Tuhan. Alhamdulillah saya memang mempelajari bermacam agama, akhirnya saya bertambah yakin akan kebenaran Agama Islam. Kalau saudara merasa kagum kepada saya, maka sayapun lebih merasa kagum lagi kepada saudara selaku pemeluk agama Kristen berhasrat meneliti ajaran-ajaran agamanya. Juga dengan bantuan bapak Markam ini. Baiklah kita lanjutkan, periksa lagi di Ulangan pasal 4 ayat 39.

    AW: Baik, di pasal dan ayat ini disebutkan sebagai berikut: “Maka sekarang ketahuilah olehmu dan perhatikanlah ini baik-baik, bahwa Tuhan itulah Allah, baik di langit yang di atas, baik di bumi yang di bawah, dan kecuali ia tiadalah lain lagi.”

    BM: Tegas sekali, dikitab Injil sendiri yang menyebutkan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Yesus sendiri pula yang berkata bahwa tiada tuhan melainkan Allah. Jadi Yesuspun bukan Tuhan. Ayat ini tentu tidak dapat diputar-putar lagi. Kalau ada penganut agama Kristen mengakui Yesus itu Tuhan, maka pengakuannya bertentangan dengan kitab sucinya sendiri, dan bertentangan pula dengan ajaran Yesus.

    AW: Tetapi dalam Injil Johanes pasal 10 ayat 38 ada menyebutkan: “Supaya kamu dapat tahu dan percaya, yang Bapa ada di dalam aku, dan aku ada di dalam Bapa.” Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam Yesus, maksudnya Tuhan dan Yesus itu satu adanya atau singkatnya bahwa Yesuspun Tuhan. Juga dalam Johanes pasal 14 ayat 11 ada menyebutkan: “Percayalah yang aku ini dalam Bapa, dan Bapa dalam aku.”

    BM: Kalau saudara berpegang dengan ayat tersebut, bahwa Yesus itu Tuhan, makasaudara harus mengakui juga bahwa Tuhan itu Yesus dan Yesus itu Tuhan.

    AW: Tidak demikian, tetapi Yesus dan Tuhan itu satu.

    BM: Kalau begitu, saya ingin bertanya: “Di ayat itu ada dua rangkaian kata ialah “Yesus dan Tuhan.” Siapakah yang lebih berkuasa di antara keduanya. Tuhan Bapakah atau Yesus.

    AW: Tentu Tuhan Bapa.

    BM: Kalau masih ada yang lebih berkuasa dari Yesus, maka Yesus tentu bukan Tuhan, lebih jelas periksa di Injil Johanes pasal 14 ayat 28.

    AW: Baik, di ayat ini ada menyebutkan: “Kamu sudah dengar aku bilang, yang aku pergi serta datang kembali sama kamu. Coba kamu cinta sama aku, hati, sebab aku sudah bilang: ‘Yang aku pergi sama Bapa, karena bapaku itu lebih dari aku.’”

    BM: Di ayat ini Yesus sendiri mengatakan: “Bapaku itu lebih dari aku,” ini menunjukkan bahwa, kalau Yesus itu Tuhan, maka ialah tuhan yang tidak sempurna, oleh karena masih ada yang melebihi tingkatnya. Yang tidak sempurna itu tentu bukan Tuhan. Harap saudara periksa lagi di Injil Johanes pasal 12 ayat 45.

    AW: Baik, di pasal dan ayat tersebut menyebutkan sebagai berikut: “Dan barangsiapa yang melihat aku, dia melihat sama Dia yang mengutus aku.”

    BM: Pantaskah tuhan diutus. Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa ada Tuhan yang diutus. Maksud ayat tersebut siapa yang melihat Yesus, seolah-olah ia melihat Tuhan yang mengutus Yesus. Jadi perkataan Yesus diatas menunjukkan bahwa ia bukan Tuhan, melainkan utusan Tuhan.

    AW: Saya belum meneliti maksud ayat di Johanes pasal 10 ayat 38 dan pasal 14 ayat 11 yang menyebutkan bahwa “Bapa dalam aku dan aku dalam Bapa,” seperti yang telah saya bacakan tadi. Akan tetapi dalam ayat ini saya berpendapat ada dua macam penafsiran:

    1. Yesus adalah Tuhan.

    2. Berdasarkan Injil Johanes pasal 12 ayat 45 yang kita baca itu menyebutkan, Yesus itu adalah utusan Tuhan. Utusan disini maksudnya selaku Tuhan ia menyampaikan sendiri ajarannya kepada manusia.

    BM: Ayat itu bukan berarti mempunyai dua macam penafsiran, tetapi diantara dua ayat tersebut yakni di Johanes pasal 10 ayat 38, dan pasal 14 ayat 11 dan Johanes pasal 12 ayat 45 itu adalah bertentangan. Di satu ayat ditafsirkan Yesus itu Tuhan, dan di ayat lain disebutkan bahwa Yesus itu utusan Tuhan. Jadi di dalam Injil sendiri terdapat ayat-ayatnya antara yang satu dengan yang lain bertentangan. Kita perlu ingat kembali pada pembicaraan kita semula kalau ada kitab suci yang isinya berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain, maka apakah kitab suci itu masih akan dipertahankan kesuciannya?

    AW: Betul, kita telah bicarakan hal itu pada pertemuan yang lalu.

    BM: Andaikan saudara masih juga mempertahankan ketuhanan Yesus dengan berdasarkan ayat Bibel yang menyebutkan: “Yesus dalam Bapa dan Bapa dalam Yesus” sebagaimana tersebut dalam Johanes pasal 10 ayat 38 dan pasal 14 ayat 11 itu maka saudarapun akan dijawab oleh kitab Injil saudara sendiri, bahwa penafsiran saudara itu tidak benar.

    AW: Dimanakah menyebutkan demikian?

    BM: Silahkan saudara periksa di Injil Johanes pasal 17 ayat 21.

    AW: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Supaya semua jadi satu, ia Bapa! seperti Bapa dalam saya dan saya dalam Bapa dan supaya dia orang jadi satu dalam kita, biar dunia percaya Bapa sudah mengutus saya.”

    BM: Jelas di ayat ini kalau Yesus sendiri berkata bahwa Yesus dalam Bapa dan Bapa dalam Yesus dan muridnya pun ada dalam Bapa. Kalau begitu harus saudara akui bahwa murid-murid Yesuspun Tuhan juga.

    AW: Kalau begitu bagaimana arti yang sebenarnya ayat itu menurut Bapak.

    BM: Kalimat, “Bapa dalam saya,” dan muridnya jadi satu dengan kita (Allah dan Yesus) di ayat tersebut maksudnya, supaya Yesus senantiasa tidak melupakan Allah (Bapa) demikian juga muridnya tidak melupakan Yesus dan Allah (Bapa). Dan di akhir ayat tersebut Yesus berkata “biar dunia percaya yang Bapa mengutus saya.” Rangkaian kata-kata ini tegas sekali Yesus mengakui bahwa ia bukan anak Allah, melainkan utusannya, dan teruskan saudara baca di Johanes pasal 17 ayat 23.

    AW: Baik, ayat tersebut menyebutkan: “Saya dalam dia orang, dan Bapa dalam saya, supaya dunia boleh tahu yang Bapa sudah mengutus saya.”

    BM: Apakah susunan ayat tersebut belum jelas bahwa Yesus sendiri yang berkata dan mengaku bahwa ia bukan Tuhan, melainkan utusan Tuhan. Apakah saudara masih belum puas tentang ayat-ayat Injil yang menunjukkan bahwa Yesus bukan Tuhan, karena saya anggap telah cukup banyak tunjukkan kepada saudara.

    AW: Sebagaimana telah saya sampaikan kepada bapak, saya ingin kepuasan. Sebetulnya keterangan-keterangan bapak telah memuaskan saya, namun demikian kalau masih ada ayat-ayatnya lagi harap bapak tunjukkan.

    BM: Baik saya penuhi pengharapan saudara silahkan saudara periksa di kitab Samuel yang kedua pasal 7 ayat 22.

    AW: Pasal dan ayat tersebut menyebutkan sebagai berikut: “Maka sebab itu besarlah Engkau, ya Tuhan Allah karena tiada yang dapat disamakan dengan dikau dan tiada Allah melainkan Engkau sekedar yang telah kami dengar dari telinga kami.”

    BM: Di ayat ini jelas bahwa Yesus sendiri menghadapkan kata-katanya kepada Allah, bahwa tiada yang dapat disamakan dengan Allah. Jadi Yesus sendiri mengakui bahwa dirinya tidak sama dengan Tuhan, dengan kata lain ia bukan Tuhan dan ditengah-tengah ayat itu Yesus sendiri berkata: “Tiada Allah melainkan engkau.” Jadi Yesus termasuk yang lain, yakni ia bukan Tuhan Allah. Rangkaian ayat tersebut, Yesus sendiri yang berkata bahwa, “tiada Tuhan melainkan Allah” mengapa kaum kristen mengangkat Yesus selaku Tuhan. Silahkan periksa lagi Injil Yahya pasal 17 ayat 8.

    AW: Baik, sebutan ayat tersebut adalah sebagai berikut: “Karena segala firman yang telah Engkau firmankan kepadaku, itulah Aku sampaikan kepada mereka itu, dan mereka itu sudah menerima dia, dan mengetahui dengan sesungguhnya bahwa Aku datang dari Ada-Mu, dan lagi mereka itu percaya bahwa Engkau yang menyuruh aku.”

    BM: Di ayat ini Yesus sendiri berkata bahwa ia menerima firman dari Allah. Kalau Yesus Tuhan, tentunya tidak membutuhkan firman dari siapapun juga. Di akhir ayat itu juga Yesus sendiri berkata bahwa “Engkaulah yang menyuruh aku.” Jadi Yesus itu bukan tuhan, melainkan pesuruh Tuhan, sebagaimana Nabi-nabi dan utusan-utusan Allah yang lain-lain juga. Teruskan saudara periksa Injil Matius pasal 26 ayat 2.

    AW: Baik, disini menyebutkan: “Kamu memang mengetahui bahwa dua hari lagi akan ada hari raya Paskah, dan Anak manusia akan diserahkan supaya ia disalibkan.”

    BM: Yang dimaksud dengan anak manusia di ayat itu ialah Yesus sendiri. Jadi jelas Yesus mengakui bahwa ia bukan anak Tuhan, melainkan anak manusia. Lanjutkan periksa Injil Matius pasal 5 ayat 45.

    AW: Baik, ayat ini menyebutkan: “Supaya kamu menjadi anak-anak Bapamu yang disurga…”

    BM: Cukup sampai di situ. Di ayat ini saudara saksikan sendiri, bahwa Yesus sendiri yang berkata kepada murid-muridnya, supaya kamu menjadi anak-anak bapamu yang di surga; yakni apabila murid-muridnya taat atas perintah-perintah Tuhan, menurut Yesus mereka akan jadi anak Tuhan juga. Berdasarkan ayat Bibel tersebut tentunya anak tuhan akan menjadi banyak jumlahnya, bukan Yesus saja.

    AW: Tetapi di Injil Johanes pasal 1 ayat 34 menyebutkan: “Maka aku sudah melihat itu, serta bersaksi yang dia inilah anak Allah.” Juga di Injil Matius pasal 3 ayat 17 menyebutkan: “Maka suatu suara dari langit mengatakan: ‘Inilah Anakku yang kukasihi, kepadanya aku berkenan.’”

    Di Injil Lukas pasal 1 ayat 32 juga menyebutkan: “Maka ia akan menjadi besar, dan Ia akan dikatakan anak Allah yang Maha Tinggi, maka Allah, Tuhan kita akan mengaruniakan kepadanya takhta Daud, nenek moyangnya itu.” Di Ibrani pasal 4 ayat 14 menyebutkan: “Sedangkan ada kepada kita seorang Imam Mahabesar yang sudah melintas segala langit, yaitu Yesus Anak Allah, maka hendaklah kita memegang pengakuan itu.”

    Dan masih banyak lagi ayat-ayat Bibel yang menerangkan bahwa Yesus Anak Allah. Kalau Bapak memerlukan akan saya tunjukkan ayat-ayatnya.

    BM: Saya mengerti, bahwa ayat-ayat Bibel yang menyebutkan Yesus Anak Allah sebagaimana tersebut di:

    Matius : Pasal 3 ayat 17, pasal 4 ayat 3, pasal 14 ayat 33, pasal 26 ayat 63 dan Pasal 16 ayat 17.

    Johanes : Pasal 3 ayat 16, pasal 1 ayat 34 dan 40, pasal 17 ayat 1, pasal 19 ayat 7, pasal 16 ayat 27 dan ayat 30, pasal 15 ayat 23 dan beberapa ayat lainnya di Johanes.

    Rum : Pasal 1 ayat 9, pasal 5 ayat 10, pasal 8 ayat 3, pasal 29 ayat 32.

    Galitiah: Pasal 1 ayat 16, pasal 4 ayat 4 dan 6.

    Lukas : Pasal 1 ayat 32 dan 35, pasal 3 ayat 22, pasal 4 ayat 3 dan 9, pasal 4 ayat 43 dan 41.

    Ibrani : Pasal 1 ayat 2,5 dan 8, pasal 3 ayat 6, pasal 4 ayat 14, pasal 5 ayat 5 dan 8.

    Matius : pasal 2 ayat 15, pasal 3 ayat 17, pasal 4 ayat 3 dan ayat 6, pasal 14 ayat 33, pasal 26 ayat 63, pasal 16 ayat 17.

    Korintus I: Pasal 1 ayat 9. Dan masih ada beberapa ayat lain di kitab Injil yang menyebutkan Yesus itu Anak Allah tetapi maksudnya bukan anak Allah yang sebenarnya, karena Yesus sendiri mengaku di kitab Injil bahwa ia adalah utusan Allah, bukan Anak Allah. Dan ia sendiri berkata: “anak manusia” bukan anak Tuhan. Jadi jumlah ayat-ayat di kitab Injil yang menyebutkan Yesus itu anak Allah tidak menjamin kebenarannya bahwa ia anak Allah betul-betul, sebagaimana kita sering mendengar ucapan-ucapan “Anak Kapal,” “Anak Sekolah,” tidak berarti bahwa kapal dan sekolah itu beranak, melainkan mempunyai arti bahwa orang itu selalu terikat oleh peraturan-peraturan kapal dan pelajaran-pelajaran di sekolah. Periksa lagi Yahya pasal 5 ayat 30.

    AW: Ayat tersebut demikian bunyinya: “Suatu pun tidak aku dapat berbuat menurut kehendakku sendiri melainkan aku menjalankan hukum sebagaimana yang aku dengar, dan hukumku itu adil adanya, karena bukannya aku mencari kehendak diriku, melainkan kehendak Dia yang menyuruhkan aku.”

    BM: Di sini jelas sekiranya Yesus itu Tuhan, tentu dapat berbuat sekehendaknya sendiri. Tetapi di Bibel sendiri menyebutkan bahwa perbuatan Yesus itu adalah kehendak Tuhan. Dan sekiranya Yesus itu Tuhan, tentunya tidak ada yang mengutus. Mustahil Tuhan menjadi utusan Tuhan, atau dengan lain kata “Utusan Tuhan itu adalah Tuhan,” bisakah terjadi demikian.

    AW: Sudah jelas dan terima kasih.

    BM: Silahkan periksa lagi di Yahya pasal 3 ayat 13.

    AW: Baik, disini menyebutkan: “Seorang pun tiada naik kesurga, kecuali ia yang sudah turun dari surga, yaitu anak manusia.”

    BM: Jelas di Bibel sendiri menyebutkan bahwa Yesus sendiri adalah anak manusia bukan anak Tuhan.

    AW: Betul berdasarkan ayat tersebut Yesus adalah anak manusia.

    BM: Periksa lagi di Matius pasal 27 ayat 30.

    AW: Baik, disini menyebutkan: “Maka mereka itupun meludahi Dia, serta mengambil buluh itu memalu kepalanya.”

    BM: Kalau Yesus itu betul Tuhan, bagaimana Tuhan bisa diludahi dan diperolok-olokkan. Mengapa ada Tuhan yang begitu lemah. Sesuai dengan pengharapan saudara supaya puas dengan soal ketuhanan Yesus menurut Bibeldan perkataan Yesus sendiri ada menyebutkan Ia bukan Tuhan, sekali lagi periksa di Matius pasal 21 ayat 18 dan 19.

    AW: Baik, di sini menyebutkan: “Pada pagi-pagi harinya, apabila Ia kembali kenegeri itu, ia merasa lapar. Serta dipandangnya sepohon ara di sisi jalan, pergilah ia kesitu dan didapatinya suatu apapun tiada dipohon itu, melainkan daun sahaja. Lalu berkatalah Ia kepadanya: ‘Janganlah jadi buah dari padamu lagi selama-lamanya. Maka dengan seketika itu juga layulah pohon ara itu.’”

    BM: Kalau Yesus itu Tuhan tentu ia tidak akan mengutuk pohon itu supaya tidak berbuah melainkan ia akan menciptakan buah pada pohon itu dengan kekuasaannya selaku Tuhan. Akan tetapi pohon yang tidak berbuat kesalahan apa-apa kepada Yesus dan pohon yang tidak tahu apa-apa itu malah dikutuk oleh Yesus. Wajarkah Tuhan mengutuk makhluk yang tidak bersalah. Padahal kalau betul Yesus itu Tuhan tentu Ia berkuasa menciptakan pohon itu supaya mengeluarkan buahnya seketika itu juga, tidak lalu mengutuknya.

    AW: Bapak hafal betul tentang ayat-ayat di Kitab Injil, jadi sudah jelas berdasarkan ayat-ayat Injil yang bapak sebutkan dan dikuatkan lagi dengan beberapa ayat lainnya, nyatalah bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan.

    BM: Persoalan Yesus anak Tuhan itu telah kita bicarakan pada pertemuan pertama, dan sudah dibereskan oleh Injil sendiri yang menyebutkan bahwa selain Yesus masih banyak lagi beberapa manusia yang harus diakui Anak Tuhan, dan seharusnya mereka itu diakui juga oleh golongan Kristen, menjabat anak tuhan, bukan Yesus saja, karena berdasarkan Kitab Injil sendiri anak Tuhan itu banyak.

    AW: Ya betul kita telah bicarakan tentang itu.

    BM: Supaya lebih Jelas, baiklah saya ulangi, di Injil ada menyebutkan bahwa:

    1. Daud anak Allah yang sulung (Mazmur, pasal 89 ayat 27)

    2. Yakub (Israil) adalah anak Allah yang Sulung (Keluaran pasal 4 ayat 22 dan 23)

    3. Afraim adalah anak Allah yang Sulung (Yeremia pasal 31 ayat 9)

    Jadi Daud anak Allah yang sulung, Yakub anak Allah yang sulung, dan Afraim juga anak Allah yang sulung. Ketiga-tiganya atau kesemuanya adalah anak sulung. Yang manakah yang betul-betul sulung. Apakah ayat ini benar semuanya atau salah semuanya. Karena itu saya jelaskan bahwa Anak Allah yang tersebut dalam Bibel itu, tidak berarti anak Allah yang sebenarnya melainkan maksudnya ialah kekasih Allah, atau mereka yang taat kepada perintah-perintah Tuhan.

    AW: Saya sudah mengerti terima kasih.

    BM: Tetapi saudara mungkin belum mengerti betul tentang arti “Anak dan Bapa” dalam bahasa Ibrani, atau susunan bahasa yang terpakai dalam Bibel.

    AW: Kalau begitu bagaimanakah arti yang sebenarnya.

    BM: Dalam bahasa Ibrani kata “Bapa” itu dipakai buat Tuhan, sedangkan kata “anak” dipakai buat mereka yang dihormati, seperti para Nabi dan para Rasul.

    AW: Dasar apakah yang dipergunakan oleh Bapak tentang keterangan itu.

    BM: Saya sudah sebutkan pada pertemuan yang pertama ialah tersebut dalam Injil Matius.

    AW: Saya tidak ingat, di pasal dan ayat berapa.

    BM: Silahkan buka Matius, pasal 5 ayat 9.

    AW: Baik, di sini disebutkan: “Berbahagialah segala orang yang mendamaikan orang karena mereka itu akan disebut anak Allah.”

    BM: Jelas siapa saja mendamaikan manusia akan disebut akan menjabat “Anak Allah,” kalau begitu anak Allah itu ratusan, ribuan malah mungkin jutaan orang, jadi bukan Yesus saja.

    AW: Apakah tidak sebaiknya kita lanjutkan besok malam saja, karena sudah larut malam.

    BM: Terserah saudara, tetapi baiklah besok malam saja kita lanjutkan.

    BERLAJUT KE EPISODE 4

  • tn_yesus says:

    EPISODE 4 :

    PERTEMUAN YANG KE EMPAT
    Yesus Penebus Dosa
    BM: Betulkah Kepercayaan Kristen bahwa datangnya Yesus adalah untuk menebus Dosa.

    AW: Memang demikian.

    BM: Dimanakah menyebutkan

    AW: Dalam kitab Perbuatan Rasul-rasul pasal 5 ayat 31

    BM: Tolong bacakanlah.

    AW: Baik, di sini ada menyebutkan: “Ia inilah ditinggalkan oleh tangan kanan Allah menjadi Raja dan Juru Selamat akan mengaruniakan tobat kepada Bani Israil dan jalan keampunan dosa.”

    BM: Susunan kata ini diucapkan oleh Petrus, bukan perkataan Yesus dan bukan wahyu dari Tuhan.

    AW: Tetapi dalam Injil Lukas pasal 2 ayat 10 dan 11 juga ada menyebutkan.

    BM: Bacakanlah.

    AW: Disini menyebutkan: “Maka kata malaikat itu kepada mereka itu: ‘Jangan takut, karena sesungguhnya Aku memberikan kepadamu suatu kesukaan besar yang akan jadi bagi segenap kaum. Sebab pada hari ini sudah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan itu, di dalam negeri Daud.’”

    BM: Malaikat itu berkata kepada siapa menurut ayat itu.

    AW: Di Lukas pasal 2 ayat 8 dan 9 menyebutkan bahwa malaikat berkata kepada orang gembala yang tinggal di padang, menjaga kawan binatangnya pada waktu malam.

    BM: Tidak ada keterangan bahwa yang berkata itu malaikat, dan tidak ada pernyataan dari orang gembala sendiri mengenai peristiwa tersebut.

    AW: Buat saya tidak perlu memeriksa lebih mendalam lagi, karena di Injil menyebutkan Yesus adalah Juru Selamat dan penebus dosa, itu sudah cukup.

    BM: Baik, kalau saudara tidak perlu memeriksa kembali ayat tersebut tidak apa, saya ikuti kemauan saudara, namun saya ingin memberitahukan kepada saudara, bahwa dalam kitab Kisah Rasul pasal 5 ayat 31 yang saudara baca tadi ada menyebutkan bahwa Yesus, hanya penebus dosa bagi Bani Israil saja, bukan untuk semua manusia. Dan saudara sendiri selaku penganut agama Kristen tentunya tidak tertebus dosanya oleh Yesus, oleh karena saudara bukan turunan Bani Israil. Demikianlah kalau saudara betul-betul berpegang pada Kitab Suci saudara kitab Injil saudara, yang telah saudara baca sendiri.

    AW: Diwaktu itu mungkin hanya Bani Israil saja yang ada. Karena itulah Yesus berkata begitu, tetapi pada hakekatnya untuk semua manusia.

    BM: Kalau benar sanggahan saudara, silahkan saudara buka di Matius pasal 1 ayat 21.

    AW: Baik, di Matius pasal 1 ayat 21 menyebutkan: “Maka Ia akan beranakkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamakan Ia Yesus, karena Ia-lah yang akan melepaskan kaumnya dari pada segala dosanya.”

    BM: Apakah belum Jelas, Bibel sendiri yang menerangkan bahwa kedatangan Yesus hanya untuk melepaskan dosa kaumnya saja bukan untuk semua manusia, sebagaimana kita telah bicarakan.

    AW: Akan tetapi dapat juga saya artikan: “Kaum” itu dengan “Bangsa,” ialah bangsa manusia. Jadi yang dimaksudkan ialah untuk semua bangsa.

    BM: Dengan dasar apa saudara memberi arti begitu. Di Bibel sendiri nyata-nyata menyebutkan dengan kata “Kaumnya.” Taruh kata saudara alihkan kata: “Kaum” dengan arti “Bangsa,” maka yang demikianpun tidak dapat diartikan lain, kecuali hanya bangsanya Yesus sendiri saja ialah bangsa Ibrani (Israil).

    AW: Saya masih belum yakin keterangan bapak selama di Bibel sendiri tidak menyebutkan dengan tegas, bahwa kedatangan Yesus untuk Bani Israil saja.

    BM: Sekiranya di Bibel ada menyebutkan, betulkah saudara akan menjadi yakin, bahwa kedatangan Yesus itu bukan untuk semua bangsa.

    AW: Ya, saya yakin, dan demikianlah pendapat saya.

    BM: Apakah saudara sudah periksa di Bibel.

    AW: Saya sudah periksa, tetapi saya tidak hafal ayat-ayat Bibel yang ratusan malah mungkin ribuan ayat itu.

    BM: Kalau begitu, silahkan periksa Injil Matius pasal 15 ayat 24.

    AW: Baik, disini menyebutkan: “Maka jawab Yesus, katanya ‘Tiadalah aku disuruhkan yang lain hanya kepada segala domba yang sesat diantara Bani Israil.’”

    BM: Bukankah ayat ini sudah jelas, dan tidak bisa diputar-putar lagi, Yesus sendiri mengakui bahwa ia di Utus untuk Bani Israil saja, bukan untuk semua manusia atau lain. Jadi kalau penganut Yesus (umat Kristen) yang bukan golongan Bani Israil, tentunya tidak termasuk umatnya Yesus, dan dosanya tidak bisa ditebus/tertebus, karena Yesus hanya menjadi Juru Selamat untuk Bani Israil saja, sedangkan saudara sendiripun bukan dari golongan Bani Israil.

    AW: Ya, kalau demikian bagi saya agak repot. Entah bagaimana ini semestinya.

    BM: Nah, kalau begitu orang bisa berpendapat apakah faedahnya orang-orang Kristen menyebarkan agamanya kepada manusia yang bukan Bani Israil. Sedangkan Yesus sendiri tidak berbuat demikian. Apakah cara yang demikian tidak bisa dinamakan melangkahi ajaran Yesus. Dan di Injil Matius yang saudara baca baru-baru ini ada menyebutkan juga susunan kata Yesus sendiri “Tiadalah aku disuruhkan kepada yang lain.” Jelas disini Yesus sendiri ia mengakui ia disuruh. Kalau Yesus itu dikatakan Tuhan, maka pantaskah Tuhan itu jadi pesuruh. Jadi Yesus itu bukan Tuhan, melainkan pesuruh Tuhan sesuai dengan pengakuan Yesus sendiri, yang menyebutkan dalam Kitab Injil saudara sendiri.

    AW: Betul begitu, akan tetapi maaf terlebih dulu apakah misalnya tidak mungkin ayat itu ada salah cetak. Ini hanya kira-kiraan saya sendiri saja, tetapi sekali lagi saya minta maaf.

    BM: Tidak apa saudara bersikap ragu-ragu, tetapi untuk menghilangkan keragu-raguan baiklah kita periksa kitab yang berbahasa Belanda ini yang kebetulan saudara bawa. Kitab ini berjudul: “Bijbellezingen voor het Huisgezin.” Setujukah saudara.

    AW: Baiklah, dan memang demikian maksud kami sebelumnya, agar dapat kita periksa bersama-sama apakah ayat Bibel yang berbahasa Indonesia, ada bersamaan maksudnya dengan yang berbahasa Belanda.

    BM: Silahkan saudara periksa di bab: “De onderdanen van het koningrijk” halaman 834, ayat 12 apakah sudah diketemukan ayatnya.

    AW: Sudah ini dia.

    BM: Nah mari kita periksa, di ayat ini menyebutkan: “Toen de vrouw van Kanaan tot Christus kwan, Hem om smehende haar dochter te genezen, wat zei Hijtoen?. Maar Hij antwoordende, zeide: ‘Ik ben niet gezenden dan tot de verloren schapen van huis Israel.’” Kalau kita salin kedalam bahasa Indonesia: “Ketika seorang perempuan dari Kanaan datang di hadapan Kristus mengemis-mengemis padanya supaya mengobati (menyembuhkan) anaknya, lalu apakah katanya?. Maka jawab Yesus, katanya: ‘Tiadalah aku disuruhkan yang lain, hanya kepada segala domba yang sesat dari antara Bani Israil.’”

    AW: Yah terus terang saja, tampaknya pendirian saya sudah mulai condong kepada keterangan-keterangan bapak.

    BM: Alhamdulillah, saya bersyukur, karena saudara sudah tambah bimbang dalam keyakinan saudara. Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membaca susunan ayat di Injil Matius pasal 26 ayat 1 dan 2.

    AW: Betul saya ingat, saya akan menjelaskan ayat tersebut.

    BM: Baik, kalau saudara masih merasa perlu memberikan penjelasan.

    AW: Saya akan bacakan lagi bunyi ayat tersebut.

    BM: Baik, pada pertemuan yang lalu telah saya terangkan. Mungkin saudara masih perlu membantah (membantah keterangan saya tersebut). Silahkan saudara membacanya.

    AW: Ayat tersebut berbunyi sebagai berikut: “Setelah Yesus menyudahi ucapan itu, maka bertuturlah pula ia kepada murid-muridnya: ‘Kamu memang mengetahui bahwa dua hari lagi akan ada hari raya Paskah, dan Anak manusia akan diserahkan supaya ia disalibkan.’” Jadi kedatangan Yesus memang untuk disalib. Berdasarkan ayat ini.

    BM: Mengapa Yesus berteriak minta tolong kepada Tuhan di waktu akan disalib, kalau memang benar kedatangan Yesus untuk disalib. Mestinya dia bersedia untuk disalib. Seruan Yesus minta-minta tolong itu, sebagaimana saya telah sebutkan pada pertemuan kita yang pertama, ialah di Matius pasal 27 ayat 46: yang bunyinya sebagai berikut: “Maka sekira-kira pukul tiga itu, berserulah Yesus dengan suara yang nyaring, katanya: ‘Eli, Eli, lama sabachtani.’” artinya ‘Ya Tuhanku, Ya Tuhanku, apakah sebabnya Engkau meninggalkan Aku.”

    AW: Di ayat yang dibacakan tadi menunjukkan badan ketuhanan Yesus sudah mengetahui lebih dahulu bahwa badan kemanusiaannya akan di salib. Jadi yang berteriak itu bukan anak Tuhan, melainkan badan kemanusiaannya Yesus, oleh karenanya itu ia menyerah untuk disalib.

    BM: Kalau begitu, diwaktu Yesus di Salib ada dimanakah badan ketuhanannya Yesus itu. Kalau saudara menjawab terpisah, maka hal itu menunjukkan bahwa tidak selamanya Yesus menjadi satu dengan Tuhan. Tetapi kalau saudara menjawab tetap di situ, mengapa badan ketuhanannya tidak dapat menolong Yesus, sehingga ia berteriak-teriak minta tolong.

    AW: Saya tidak mengerti bagaimana soal ini sebenarnya.

    BM: Bukan itu saja, malah kita masih bisa meneruskan lagi di Matius pasal 26 ayat 38 yang menyebutkan: “Kemudian kata Yesus kepada mereka itu: ‘Hatiku amat sangat berduka cita hampir mati rasaku; tinggallah kamu di sini dan berjagalah sertaku.’” Mengapa badan Ketuhanan Yesus tidak berkuasa menghilangkan duka cita yang dirasakan olehnya. Malah ia berkata kepada muridnya minta berjaga bersama dia. Pantaskah Tuhan minta-minta kepada manusia.

    AW: Kalau saya berpegang pada ayat Injil tersebut, bahwa kedatangan Yesus untuk Bani Israil saja, maka apakah salahnya kalau kita mengajak manusia diluar Bani Israil supaya percaya kepada Yesus.

    BM: Kalau saudara konsekwen berpegang pada ayat Injil itu mestinya tidak demikian pendapat saudara. Kalau saudara telah menyimpang dari langkah Yesus oleh karena Yesus sendiri mengatakan bahwa kedatangannya hanya untuk menebus dosa Bani Israil semata-mata, bukan manusia lainnya.

    AW: Taruh kata kedatangan Yesus itu hanya untuk Bani Israil saja, dan andaikata ada orang dari luar Bani Israil yang masuk Kristen, maka hal tersebut tidak berarti ayat Injil dan ajaran Kristen itu ada kesalahan.

    BM: Kalau begitu apakah orang Bani Israil yang menyalibkan Yesus itu sudah tertebus dosanya?

    AW: Entahlah.

    BM: Mengapa dalam kitab Injil tersebut Yesus berkata bahwa kedatangannya untuk menebus dosanya Bani Israil. Dengan demikian maka orang Bani Israil yang menyalibkan Yesus mestinya sudah tertebus dosanya. Terlebih lagi berdasarkan keterangan saudara mestinya manusia yang menyalibkan Yesus itu tidak berdosa, malah menerima pahala besar, kalau kedatangannya Yesus memang untuk disalib. Andaikata tidak ada orang yang bersedia menyalibkan Yesus, tentu tidak terlepas dosanya Bani Israil dan kedatangannya Yesus tidak dapat lagi disebut selaku penebus dosa. Mestinya orang yang menyalibkan Yesus itu menerima pahala besar, tidak dilaknat, karena mereka telah berjasa menyalibkan Yesus, karena perbuatan mereka itulah, dosa-dosa Bani Israil tertebus semuanya. Jawaban ini sebagian telah saya sampaikan pada pertemuan kita yang lalu.

    AW: Dalam hal ini saya belum bisa menjawab sekarang, tetapi mungkin dilain waktu.

    BM: Saya akan ulangi lagi pertanyaan saya: Betulkah lantaran Yesus disalib, dosa bisa terhapus.

    AW: Ya, betul begitu menurut ayat Injil.

    BM: Alat apakah digunakan untuk menyalibkan Yesus.

    AW: Kalau saya tidak salah, ialah kayu yang disebut: “Kayu Salib”

    BM: Kalau begitu Yesus tergantung pada kayu pada waktu disalibkan.

    AW: Ya, demikian, sebagaimana kita sering melihat gambar Yesus disalib.

    BM: Silahkan saudara periksa di Galatia pasal 3 ayat 13.

    AW: Baik, disini disebutkan: “Maka Kristus sudah menebus kita dari pada kutuk Torat itu dengan menjadi satu kutuk karena kita, karena ada tersurat: ‘Bahwa terkutuklah tiap-tiap orang yang tergantung pada kayu.’”

    BM: Menurut keterangan saudara, Yesus rela untuk di salib, sedangkan menurut Galatia yang saudara baca menyebutkan: Terkutuklah tiap-tiap orang yang tergantung pada kayu, dan kalau begitu apakah bisa menebus dosa manusia.

    AW: Terima kasih, saya sudah menyadari. Apakah tidak sebaiknya kita pindah kepada pasal-pasal yang lain. Tetapi di lain malam, karena sekarang waktunya sudah terlalu larut malam.

    BM: Baiklah terserah saudara.

    BERSAMBUNG KE EPISODE 5.

  • tn yesus says:

    EPISODE 5

    MALAM YANG KELIMA
    Dosa Waris
    AW: Saya ingin menerima penjelasan dari bapak kyai, tentang kepercayaan kepada dosa waris yang disebabkan karena dosanya Adam dan Hawa.

    BM: Baiklah, saya akan berikan jawabannya, tetapi sebelumnya saya ajukan pertanyaan: Betulkah menurut kepercayaan Kristen bahwa anak cucu Adam dan Hawa dari sejak dilahirkan sudah membawa dosa.

    AW: Betul begitu, karena Adam dan Hawa berdosa, maka cucunya menerima warisan dosa dari keduanya.

    BM: Mengapa dosa Adam dan Hawa diwariskan kepada cucunya, mestinya setiap manusia memikul dosanya dari perbuatannya sendiri, bukan memikul dosanya orang lain.

    AW: Tetapi menurut ajaran Kristen, setiap manusia pada sejak waktu dilahirkan sudah memikul dosa, atau menerima warisan dosa dari dosanya Adam dan Hawa. Oleh karena kedatangan Yesus itu adalah untuk menebus dosa-dosa manusia dari warisan Adam dan Hawa tersebut.

    BM: Kalau keterangan saudara benar pada ajaran Kristen, silahkan saudara periksa kitab Nabi Yehezkiel pasal 18 ayat 20.

    AW: Pasal dan ayat tersebut menyebutkan: “Orang berbuat dosa, ia itu juga akan mati; maka anak tiada akan menanggung kesalahan bapaknya, dan Bapa pun tiada akan menanggung kesalahan anak-anaknya; kebenaran orang yang benar akan tergantung atasnya dan kejahatan orang fasik pun akan tergantung atasnya.”

    BM: Jelas Bibel sendiri menyebutkan bahwa setiap manusia akan menanggung sendiri perbuatan baik maupun buruk, tidak boleh dibebankan atau diwariskan kepada orang lain. Berdasarkan ayat tersebut, maka dosa Adam dan Hawa harus ditanggung sendiri oleh keduanya. Tetapi mengapa dosa Adam dan Hawa harus diwariskan atas anak cucunya, sehingga anak cucunya ikut serta menanggung dosanya; padahal kitab Injil sendiri tegas menyebutkan bahwa setiap perbuatan baik atau buruk yang dikerjakan oleh seseorang tidak dapat dibebankan atas orang lain. Baiklah, saya teruskan pertanyaan saya pada saudara; sejak umur berapa saudara dibaptis.

    AW: Kata orang tua saya, sejak umur tiga bulan dibawa ke gereja dan di sana dibaptis, oleh karena setiap manusia sejak dilahirkan sudah membawa dosanya Adam dan Hawa yang disebut Dosa Waris, jadi sejak bayipun sudah membawa dosa; oleh karenanya saya dibaptis waktu masih kecil.

    BM: Apakah perbuatan demikian itu berdasarkan kitab Bibel

    AW: Saya berkeyakinan demikian. Sebagaimana saya terangkan bahwa bayi yang baru dilahirkan itu tidak suci, yakni sudah membawa dosanya Adam dan Hawa.

    BM: Kalau begitu, bayi yang belum dibaptis sekiranya ia meninggal dunia (mati) tentu tidak akan masuk surga, sebab matinya ada membawa dosanya Adam dan Hawa.

    AW: Ya, mestinya demikian.

    BM: Silahkan periksa Matius pasal 19 ayat 14.

    AW: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Tetapi kata Yesus. ‘Biarkanlah kanak-kanak itu, jangan dilarangkan mereka itu datang kepadaku, karena orang yang sama seperti inilah yang empunya kerajaan surga.’”

    BM: Nah, … perhatikanlah di ayat itu nyata-nyata Yesus sendiri yang berkata ia mengakui kesuciannya kanak-kanak. Sedangkan mereka belum mengakui kesalibannya Yesus dan juga belum dibaptiskan, tetapi mempunyai kerajaan surga. Jadi berdasarkan pengakuan Yesus sendiri bahwa kanak-kanak itu tidak membawa dosa waris dari Adam dan Hawa, oleh karena itulah Yesus berkata: Mereka adalah suci dari dosa dan dengan sendirinya masuk surga. Saya ingin bertanya lagi, Saudara waktu umur tiga bulan itu sudah membawa dosakah atau belum.

    AW: Kalau berdasarkan perkataan Yesus yang bapak katakan tadi, tentu tidak.

    BM: Jadi masih suci dari dosa walaupun tanpa dibaptiskan.

    AW: Ya betul demikian.

    BM: Kalau begitu, apakah gunanya saudara dibaptis pada waktu umur tiga bulanitu?

    AW: Waktu umur tiga bulan tentu saya tidak tahu apa-apa.

    BM: Saya bertanya sekarang, bukan bertanya kepada saudara diwaktu saudara berumur tiga bulan. Jadi apakah sekarang saudara sudah menyadari tentang tidak adanya dosa waris.

    AW: Seperti bapak terangkan tadi, berdasarkan pengakuan Yesus sendiri tentu saya menyadarinya. Karena, Yesus sendiri yang mengatakan bahwa anak-anak itu suci pada waktu dilahirkan.

    BM: Nah, bagaimanakah sekarang, masih adakah pandangan saudara terhadap dosa waris.

    AW: Tentu saja harus menyadari berdasarkan perkataan Yesus sendiri bahwa anak-anak yang baru dilahirkan itu suci tidak membawa dosa sedikitpun.

    BM: Tidak membawa dosa yang bagaimana?

    AW: Ya, tidak membawa warisan dosa dari Adam dan Hawa.

    BM: Kalau begitu saudara telah mengakui bahwa dosa waris itu tidak ada?

    AW: Ya, demikianlah harus saya akui berdasarkan Kitab Bibel sendiri.

    BM: Syukur saudara telah mengakui tidak adanya dosa waris, kalau dosa waris itu turun-temurun, maka anak yang baru lahir yang belum tahu apa-apa belum bisa memisahkan antara yang baik dan buruk, kalau bayi itu mati ia membawa dosa dan masuk neraka, dan dimanakah letaknya keadilan Tuhan kalau demikian.

    AW: Ya, saya bisa terima keterangan Bapak.

    BM: Nah, coba pikirkan dengan penuh kesadaran. Kalau ada seorang tua dari beberapa orang anak, dan orang tua itu menjadi penipu, pencuri, penghianat, berbuat aniaya, kejam, dan bermacam-macam dosa ia kerjakan, lalu ia dihukum masuk penjara, apakah anak-anaknya juga diharuskan menanggung dosa orang-orang tuanya, lalu anak-anak itu harus dihukum juga masuk penjara dengan alasan dosa waris. Apakah pengadilan semacam itu akan dikatakan penegak keadilan.

    AW: Terima kasih, saya sudah menyadari, bahwa dosa itu tidak bisa diwariskan atau dioperkan kepada orang lain.

    BM: Syukur kalau begitu.

    AW: Akan tetapi kalau dosa itu tidak bisa diwariskan mestinya pahala juga tidak diwariskan. Bagaimanakah menurut ajaran agama Islam dalam hal itu.

    BM: Tidak bisa, malah tidak boleh; baik pahala maupun dosa dioperkan pada orang lain.

    AW: Jawaban “tidak boleh” itu apakah menurut pendapat bapak sendirikah atau menurut ajaran Islam.

    BM: Menurut ajaran Islam, pahala seseorang tidak boleh diwariskan atau dioper kepada orang lain, begitu juga dosanya seseorang tidak boleh diwariskan kepada orang lain. Setiap orang menanggung sendiri pahala dan dosanya atas perbuatannya sendiri.

    AW: Akan tetapi saya pernah membaca sebuah buku agama Islam yang menerangkan bahwa Nabi Muhammad pernah berkorban seekor kambing buat umatnya sekalian dan buat familinya. Ini berarti bahwa Nabi Muhammad mewariskan atau mengoperkan pahala kepada orang lain, yakni kepada umatnya dan familinya. Yang demikian itu bukan dosa waris, tetapi jelas pahala waris. Jadi di dalam ajaran Islam ada juga pahala waris, maka saya kira bapak tidak perlu urus tentang dosa-dosa waris dalam ajaran Kristen, kalau didalam ajaran Islam terdapat ajaran pahala waris atau ajaran oper pahala.

    BM: Kalau buku agama Islam yang saudara baca mau dijadikan pokok tentang bolehnya warisan pahala, mestinya orang Islam boleh sembahyang dan berpuasa, lalu diwariskan pahalanya buat sekalian umat Islam yang masih hidup dan yang mati, tetapi tidak ada umat Islam yang berbuat demikian, kalaupun ada, mungkin karena mereka tidak tahu, bahwa perbuatan yang demikian itu, bertentangan dengan kitab sucinya Al-Qur’an. Jadi bukan kitab sucinya yang salah, tetapi penganutnya sendiri, dan berbeda dengan kitab Bibel yang mengandung banyak perselisihan antara satu ayat dengan yang lain. Di dalam kitab suci Al-Qur’an, tidak terdapat ajaran pahala waris maupun dosa waris. Akan tetapi dalam kitab Bibel (Kristen) antara satu ayat dengan ayat yang lain bersimpang siur.

    AW: Saya pernah membaca kitab terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia, kalau tidak keliru di dalam surat Ath Thurr ayat 21 ada menyebutkan yang maksudnya bahwa anak-anak orang mukmin akan dimasukkan surga lantaran ibu bapaknya. Jadi lantaran amalan ibu bapaknya anak-anak itu masuk surga. Kalau yang demikian itu bukan pahala waris, lalu apakah namanya.

    BM: Ayat Al-Qur’an yang saudara maksudkan itu bunyinya akan saya bacakan sebagai berikut: Yang artinya: “Dan mereka yang beriman dan diikuti oleh anak-anak cucunya (keturunannya) dengan keimanan pula. Kami (Allah) kumpulkan anak cucu itu dengan mereka dan tiadalah kami kurangi pahala amalan mereka sedikit juapun.” (Surat Ath Thurr ayat 21). Di ayat ini jelas menyebutkan tidak adanya pahala waris, malah tanggungan pun mengenai pahala warispun tidak ada. Yang masuk surga bersama Ibu bapaknya itu adalah anak-anak yang belum baligh, karena yang sudah baligh tentu bertanggung jawab sendiri. Oleh karenanya dalam ayat tersebut ada sambungannya. Yang artinya: “Setiap orang bertanggung jawab (terikat) oleh amalannya sendiri-sendiri (masing-masing).” Jadi setiap orang menanggung dosa dan pahala atas perbuatannya masing-masing bukan warisan dari orang lain.

    AW: Apakah di dalam Kitab Al-Qur’an ada yang lebih tegas menyebutkan bahwa dosa dan pahala itu tidak dapat diwariskan atau dihadiahkan pada orang lain.

    BM: Ada, cukup banyak.

    AW: Maafkan, kami ingin mengetahui di surat apa, dan di ayat berapa, kami akan cocokkan dirumah, karena kami ada mempunyai kitab terjemahan Al-Qur’an Bahasa Indonesia. Mungkin juga saudara-saudara yang hadir di sini juga memerlukan juga.

    HADIRIN: Perlu diterangkan, karena memang penting diterangkan.

    BM: Apakah tidak sebaiknya kita bersama-sama memeriksa di sini saja, kalau saudara menyetujui saya suruh ambilkan Al-Qur’an lalu saya tunjukkan surat dan ayatnya sekali. Bagaimana, apakah sekarang juga.

    AW: Kalau Bapak hafal lebih baik sebutkan sekarang saja ayat-ayatnya, akan kami catat: lalu akan kami cocokkan dirumah dengan Al-Qur’an kami. Tapi kalau bapak tidak hafal kami minta besok malam untuk menghemat waktu.

    BM: Insya Allah saya hafal ayat-ayatnya.

    AW: Baik, silahkan bapak sebutkan, kami akan catat.

    BM: Saya akan sebutkan nama-nama surat dan nomor ayatnya, lalu saya akan beri keterangan dan saudara catat nama Surat dan nomor ayatnya yang sebut, lalu cocokkan lagi dirumah.

    AW: baik, kami setuju.

    BM: 1. Surat Al Baqarah, ayat 286: “Kepada dirinya apa yang ia kerjakan, dan atas dirinya apa yang dia lakukan.” Maksudnya, baik dan buruknya suatu perbuatan, harus ditanggung sendiri oleh yang mengerjakannya, tidak boleh dibebankan atas orang lain.

    2. Surat Al Baqarah, ayat 123: “Dan Hendaknya kamu takut pada suatu hari (kiamat) tidak berkuasa seorang membebaskan sesuatu atas orang lain.” Maksudnya, kelak dihari kiamat, seseorang tidak berkuasa menebus dosanya orang lain, dan pahala tidak diperbolehkan atas orang lain. Masing-masing harus menanggung sendiri perbuatannya baik maupun jahat.

    3. Surat Al Ankabut, ayat 6: “Siapa yang giat berusaha maka usahanya itu untuk dirinya sendiri.”

    4. Surat Yaasiin, ayat 54: “Maka pada hari kiamat, tidak seorangpun akan teraniaya, dan kamu tidak akan dibalas, melainkan apa yang kamu sendiri telah kerjakan.”

    5. Surat Al Isra’, ayat 15: “Dan seseorang tidak berkuasa memikul dosanya orang lain.”

    6. Surat An Najm, ayat 38 dan 39: “Bahwa seseorang tidak berkuasa menanggung dosanya orang lain dan sesungguhnya seorangpun tidak akan menerima pahala melainkan daripada perbuatannya sendiri.”

    7. Surat Luqman, ayat 33: “Hai Manusia hendaklah kamu takut kepada suatu hari (kiamat) seorang bapak tidak berkuasa membebaskan anaknya (dari perbuatan anaknya), seorang anak tak akan berkuasa membebaskan perbuatan bapaknya.”

    Ayat-ayat yang saya sebutkan di atas tadi jelas sekali menunjukkan bahwa seseorang tidak berkuasa menebus dosanya atau mengambil oper pahala orang lain. Jadi dalam Islam, tidak ada manusia yang berkuasa menebus dosa, atau seorang pejabat menebus dosa, perbuatan baik atau jahat harus ditanggung sendiri oleh yang mengerjakannya. Saya kira sudah cukup ayat-ayat yang saya sebutkan, tetapi kalau saudara masih memerlukan, saya akan sebutkan lagi ayat-ayat yang lain.

    AW: Sudah cukup, dan kami sudah mengerti, akan tetapi kami pernah membaca sebuah kitab yang menyebutkan sebuah Hadist Nabi Muhammad, yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang menerangkan bahwa: “Mayit itu disiksa lantaran ditangisi oleh familinya.” Berdasarkan Hadist tersebut berarti bahwa siksaan atas mayit itu, disebabkan perbuatan orang lain, bukan dari perbuatan dirinya sendiri. Mayit itu disiksa lantaran “perbuatan” tangisnya orang lain. Kami telah tanyakan kepada beberapa orang yang kami pandang mengerti tentang agama Islam, dan salah seorang guru agama Islam mengenal susunan Hadist tersebut memberikan jawaban bahwa hadist itu benar (sahih), oleh karena yang meriwayatkan adalah Imam Bukhari dan Imam Muslim.

    BM: Hadist Nabi yang saudara bawakan itu susunannya demikian: “Telah berkata Umar dan Ibnu Umar: Bersabda Nabi Muhammad SAW. sesungguhnya mayit itu disiksa lantaran ditangisi oleh keluarganya (riwayat Bukhari dan Muslim).” Akan tetapi hakekatnya Hadist itu Tidak Sahih, oleh karena berlawanan dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Walaupun oleh karena saudara yang beragama Kristen, mungkin belum mengetahui tentang Hadist-hadist Sahih dan Hadist-hadist Palsu, maka agar saudara yang hadir dipertemuan ini dapat mengikuti juga, merasa perlu saya terangkan bahwa menurut kitab-kitab Ushul Fiqih dan kitab Musthalahul Hadist, yang disebut Hadist Nabi, bukan saja mesti sah riwayatnya malah mesti beres susunannya dan arti dari pada hadist itu HARUS tidak berlawanan dengan kitab Al-Qur’an. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim jelas diterangkan demikian. Maksud Hadist tersebut, tatkala hadist yang menerangkan bahwa mayit itu disiksa lantaran ditangisi oleh familinya, di dengar oleh Siti Aisyah (Istri Nabi), maka Siti Aisyah menolak kebenaran Hadist tersebut. Aisyah berkata: “Cukuplah buat kamu Ayat Al-Qur’an; Dan tidak berkuasa seseorang menanggung dosa orang lain.

    AW: Nah, kalau begitu Pak Kyai, sekarang kami telah mengerti bahwa berdasarkan Kitab Bibel sendiri dan Kitab Al-Qur’an pada hakekatnya dosa waris dan pahala waris itu tidak ada. Yakni setiap manusia menanggung sendiri dosanya, dan pahalanya menurut perbuatannya masing-masing. Ini adil namanya.

    BM: Ya, seharusnya begitu; sebagaimana tersebut dalam kitab Bibel dan Al-Qur’an yang telah kita baca tadi. Akan tetapi supaya lebih jelas dan tambah meyakinkan saudara, silahkan saudara periksa di Injil: “Surat kiriman Rasul Paulus kepada orang Rum Pasal 2 ayat 5 dan 6.

    AW: Baik, surat dan ayat ini menyebutkan sebagai berikut: “Tetapi menurut degilmu dan hati yang tiada mau bertobat, engkau menghimpunkan kemurkaan keatas dirimu untuk hari murka dan kenyataan hukum Allah yang adil.” “Yang akan membalas ke atas tiap-tiap orang menurut perbuatan masing-masing.”

    BM: Apakah di ayat ini Bibel menerangkan Dosa Waris.

    AW: Tidak, malah sebaliknya setiap orang akan dibalas menurut amalnya masing-masing.

    BM: Periksa lagi Matius pasal 16 ayat 27.

    AW: Ayat ini menerangkan/menyebutkan: “Karena anak manusia akan datang dengan kemuliaan Bapanya beserta dengan segala malaikatnya; pada masa itu Ia akan membalas kepada tiap orang menurut perbuatannya.”

    BM: Apakah di ayat ini Bibel menerangkan Dosa Waris?

    AW: Tidak ada, menurut ayat ini perbuatan dosa dan perbuatan baik akan ditanggung sendiri, tidak boleh dibebankan atau diwariskan pada orang lain.

    BM: Jadi di Kitab Injil sendiri yang menyebutkan tidak adanya dosa waris.

    AW: Ya, dari mana asalnya ada sebutan dosa waris itu.

    BM: Apakah saudara masih memerlukan penjelasan lebih lanjut?

    AW: Sudah sangat jelas sekali.

    BM: Kalau begitu baiklah kita lanjutkan. Di ayat saudara bacakan tadi ada sebutan “Anak manusia … Bapanya.” Silahkan saudara bacakan sekali lagi.

    AW: Baik, awal ayat tersebut menyebutkan: “Karena Anak Manusia akan datang dengan kemuliaan Bapanya…”

    BM: Bagaimana menurut pengertian saudara yang dimaksudkan dengan “Anak Manusia dan Bapanya.”

    AW: Anak manusia itu tentulah Yesus, sedang Bapa ialah Tuhan.

    BM: Periksa lagi: “Surat kiriman yang kedua kepada orang Kristen ” pasal 5 ayat 10.

    AW: Baik ayat ini menyebutkan: “Karena tak dapat tiada kita sekalian akan jadi nyata dihadapan kursi pengadilan Kristus, supaya tiap-tiap orang menerima balasan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh tubuh itu, baik atau jahat.”

    BM: Ayat Injil sendiri yang menyebutkan, bahwa setiap orang harus bertanggung-jawab atas perbuatannya masing-masing, baik maupun jelek, tidak boleh dibebankan atau diwariskan kepada orang lain.

    AW: Berdasarkan ayat-ayat Bibel yang bapak tunjukkan bahwa perbuatan baik atau jelek seseorang tidak dapat diwariskan kepada orang lain. Oleh karenanya, kepercayaan saya kepada dosa waris itu mulai luntur.

    BM: Kalau begitu lantas bagaimana dosanya Adam dan Hawa, apakah dapat diwariskan kepada orang lain, tegasnya kepada anak cucunya.

    AW: Berdasarkan ayat Bibel tersebut di atas tentu tidak. Jadi dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa, seharusnya ditanggung sendiri oleh keduanya, tidak bisa diwariskan kepada anak cucunya.

    BM: Dalam sejarah Agama Kristen kita kenal yang disebut: “biechten,” ialah orang yang berbuat dosa, dan “de biechtafleggen,” ialah orang yang meminta ampun atas kesalahannya, dan “Biecht-vader,” ialah orang-orang yang diberi wewenang memberi ampun. Setiap orang merasa menyesal atas kesalahannya dapat menerima ampunan dengan jalan membeli selembar surat yang menyebutkan bahwa orang yang berdosa sudah diberi ampun atas dosanya. Surat ampunan itu disebut “Aflaat-brieven” atau Indul gences, yang artinya kemurahan Tuhan.

    AW: Ya, saya menyadari soal itu, keterangan bapak memuaskan saya.

    BM: Bukan hanya demikian, akan tetapi Aflaat-brieven itu pada zaman dulu dipropaganda (gepredicht) di Negara Jerman oleh seorang rabib (nonnik) bernama “Tetzel” dalam tahun 1517 atas perintah Paus Leo, yang menjadi Paus pada tahun 1513-1521. Sebahagian dari pada hasil penjualan Aflaat-brieven itu digunakan untuk pendirian bangunan gereja “Saint Pieter Kerk” di kota Roma. Terlalu panjang kalau saya uraikan sejarah pemerintahan gereja di Eropa pada permulaan abad pertengahan.

    AW: Terima kasih, kita lanjutkan saja soal yang lain, sekarang sudah larut malam, lain kali kami akan datang lagi.

    BERLAJUT KE EPISODE 6

  • tn_yesus says:

    EPISODE 6

    MALAM YANG KE ENAM
    Kitab Al-Qur’an dan Kitab Bibel
    BM: Pembicaraan kita yang berkenaan dengan dosa waris, saya rasa telah cukup.

    AW: Sudah cukup jelas uraian bapak pada pertemuan yang terdahulu. Dan saya telah mencocokkan ayat-ayat Al-Qur’an yang disebutkan bapak kemarin malam lalu dengan kitab terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia kepunyaan saya, semuanya cocok baik tentang surat-suratnya maupun ayat-ayatnya. Semua yang Bapak sebutkan cocok dan tepat serta kami pikir-pikir di rumah tentang ayat Bibel dan Al-Qur’an yang bapak tunjukkan ayat-ayatnya ternyata dosa waris dan oper pahala dan oper dosa itu tidak mungkin ada malah tidak masuk di akal.

    BM: Syukur kalau saudara telah mengakuinya, sekarang kita bicarakan soal-soal lainnya, dan saya serahkan kepada saudara saja mengenai acaranya. Terserah saudara soal yang akan diajukan.

    AW: Baiklah kami mulai; kami pernah membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang tampaknya pada kami ada juga perselisihan antara satu ayat dengan ayat lainnya, sehinga menimbulkan keragu-raguan; apakah mungkin Nabi Muhammad sendiri yang keliru menyampaikan wahyu dari Allah. Kalau betul beliau seorang Nabi, tentu tidak mungkin beliau salah menerimanya atau menyampaikannya, ataukah memang ayat-ayat Al-Qur’an nya yang berselisihan.

    BM: Baiklah saudara terangkan saja ayat-ayat Al-Qur’an yang saudara maksudkan itu.

    AW: Kami telah membaca ayat-ayat Al-Qur’an mengenai asal kejadian manusia dalam kitab terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia, dalam sebuah surat yang nampaknya antara satu ayat dengan ayat yang lain ada berselisihan sehingga timbul dalam pikiran saya bukan Bibel saja yang berselisih ayat-ayatnya, tetapi kitab Al-Qur’an demikian juga.

    BM: Silahkan saudara sebutkan ayat-ayat Al-Qur’an yang akan ditanyakan, Insya Allah yang diragukan oleh saudara itu akan terhapus.

    AW: Baiklah, Saya mencatat ayat-ayatnya, saya akan baca. Dikitab Al-Qur’an:

    1. Surat Ar-Rahman ayat 14 menyebutkan bahwa Allah menjadikan manusia berasal dari tanah yang dibakar.

    2. Di surat Al Hijr ayat 28 menyebutkan: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari tanah kering dan lumpur hitam yang berbentuk (berupa).”

    3. Disurat As Sajadah ayat 7 menyebutkan: “dan Tuhan menciptakan manusia dari Tanah.”

    4. Di Surat Ash Shafaat ayat 11 menyebutkan: “Sesungguhnya Aku (Allah) menciptakan manusia berasal dari tanah liat.”

    5. Disurat Ali Imran ayat 59 menyebutkan: “Sesungguhnya Aku menciptakan manusia daripada tanah.”

    Lima ayat yang saya sebutkan ini antara satu dengan ayat yang lain terdapat perselisihan. Cobalah kita teliti. Di ayat ketiga menyebutkan dari “tanah,”di ayat ke empat menyebutkan daripada “tanah liat.” Di ayat kelima menyebutkan dari pada “tanah.” Bukankah ayat-ayat Al-Qur’an nyata-nyata berselisihan antara yang satu dengan yang lain.

    BM: Ya, nampaknya memang demikian. Saya tidak akan mengecewakan saudara. Teruskan pertanyaan saudara.

    AW: Kami ingin bertanya; yang manakah yang benar tentang asal kejadian manusia itu. Apakah dari tanah yang dibakar, apakah dari tanah kering dan lumpur, atau dari pada tanah biasa, atau dari tanah liatkah?. Jadi menurut pendapat saya, ayat-ayat Al-Qur’an terdapat perselisihan antara satu ayat dengan ayat yang lain. Bukan ayat-ayat Injil atau di Bibel saja terdapat perselisihan. Kiranya Bapak bisa menerangkan dengan jelas dan tepat.

    BM: Di kitab Al-Qur’an ada menyebutkan bahwa asal kejadian manusia terdiri dari 7 (tujuh) macam kejadian. Agar diketahui juga oleh saudara-saudara yang hadir disini, saya sebutkan susunan ayat-ayatnya satu demi satu, sebagaimana yang saudara bacakan artinya tadi.

    1. Di Surat Ar Rahman ayat 14: “Dia (Allah) menjadikan manusia seperti tembikar, (tanah yang dibakar).” Yang dimaksudkan dengan kata “Shal-shal” di ayat ini ialah: Tanah kering atau setengah kering yakni “Zat pembakar” atau Oksigen.

    2. Di ayat itu disebutkan juga kata “Fakhkhar,” yang maksudnya ialah “Zat Arang” atau Carbonium.

    3. Di surat Al Hijr, ayat 28: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat; sesungguhnya Aku (Allah) hendak menciptakan seorang manusia (Adam) dari tanah kering dan lumpur hitam yang berbentuk (berupa).” . Di ayat ini. Tersebut juga “shal-shal,” telah saya terangkan, sedangkan kata “Hamaa-in” di ayat tersebut ialah “Zat Lemas” atau Nitrogenium.

    4. Di surat As Sajadah ayat 7: “Dan (Allah) membuat manusia berasal dari pada ‘tanah’.” Yang dimaksud dengan kata “thien” (tanah) di ayat ini ialah “Atom zat air” atau Hidrogenium.

    5. Di Surat Ash Shaffaat ayat 11: “Sesungguhnya Aku (Allah) menjadikan manusia dari pada Tanah Liat.” Yang dimaksud dengan kata “lazib” (tanah liat) di ayat ini ialah “Zat besi” atau ferrum.

    6. Di Surat Ali Imran ayat 59: “Dia (Allah) menjadikan Adam dari tanah kemudian Allah berfirman kepadanya ‘jadilah engkau,’ lalu berbentuk manusia.” Yang dimaksud dengan kata “turab” (tanah) di ayat ini ialah: “Unsur-unsur zat asli yang terdapat di dalam tanah” yang dinamai “zat-zat anorganis.”

    7. Di surat Al Hijr ayat 28: “Maka setelah Aku (Allah) sempurnakan (bentuknya), lalu Kutiupkan ruh-Ku kepadanya (Ruh daripada-Ku).”

    Ketujuh ayat Al-Qur’an yang saya baca ini Allah telah menunjukkan tentang proses kejadiannya Nabi Adam sehingga berbentuk manusia, lalu ditiupkan ruh kepadanya sehingga manusia bernyawa (bertubuh jasmani dan rohani). Sebagaimana disebutkan pada ayat yang keenam tentang kata “turab” (tanah) ialah zat-zat asli yang terdapat didalam tanah yang dinamai zat anorganis. Zat Anorganis ini baru terjadi setelah melalui proses persenyawaan antara “Fakhkhar” yakni Carbonium (zat arang) dengan “shal-shal” yakni Oksigenium (zat pembakar) dan “hamaa-in” yaitu Nitrogenium (zat lemas) dan Thien yakni Hidrogenium (Zat air). Jelasnya adalah persenyawaan antara: Fachchar (Carbonium = zat arang) dalam surat Ar Rahman ayat 14. Shalshal (Oksigenium = zat pembakar) juga dalam surat Ar Rahman ayat 14. Hamaa-in (Nitrogenium = zat lemas) dalam surat Al Hijr ayat 28. Thien (Hidrogenium = Zat Air) dalam surat As Sajadah, ayat 7. Kemudian bersenyawa dengan zat besi (Ferrum), Yodium, Kalium, Silcum dan Mangaan, yang disebut “laazib” (zat-zat anorganis) dalam surat As Shafaat ayat 11. Dalam proses persenyawaan tersebut, lalu terbentuklah zat yang dinamai protein. Inilah yang disebut “Turab” (zat-zat anorganis) dalam surat Ali Imran ayat 59. Salah satu diantara zat-zat anorganis yang terpandang penting ialah “Zat Kalium,” yang banyak terdapat dalam jaringan tubuh, teristimewa di dalam otot-otot. Zat Kalium ini dipandang terpenting oleh karena mempunyai aktivitas dalam proses hayati, yakni dalam pembentukan badan halus. Dengan berlangsungnya “Proteinisasi,” menjelmakan “proses penggantian” yang disebut “Substitusi.” Setelah selesai mengalami substitusi, lalu menggempurlah electron-electron cosmic yang mewujudkan sebab pembentukan (Formasi), dinamai juga “sebab ujud” atau Causa Formatis. Adapun Sinar Cosmic itu ialah suatu sinar mempunyai kemampuan untuk merubah sifat-sifat zat yang berasal dari tanah. Maka dengan mudah sinar cosmic dapat mewujudkan pembentukan tubuh manusia (Adam) berupa badan kasar (jasmaniah), yang terdiri dari badan, kepala, tangan, mata, hidung telinga dan seterusnya. Sampai disinilah ilmu pengetahuan exact dapat menganalisa tentang pembentukan tubuh kasar (jasmaniah, jasmani manusia/Adam). Sedangkan tentang rohani (abstract wetenschap) tentu dibutuhkan ilmu pengetahuan yang serba rohaniah pula, yang sangat erat hubungannya dengan ilmu Metafisika. Cukup jelas tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang saudara sangka berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain dalam hal kejadian manusia (Adam), pada hakikatnya bukanlah berselisih, melainkan menunjukkan proses asal kejadian tubuh jasmani Adam (visible), hingga pada badan halusnya (invisible), sampai berujud manusia. Apakah belum jelas penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang saya sampaikan pada saudara? Kalau ada waktu saya akan terangkan juga proses asal kejadian tubuh rohani dari segi ilmu metafisika.

    AW: Sangat jelas, malah betul-betul ilmiah dan saya tidak mengira sekali bahwa ayat-ayat Al-Qur’an itu mengandung ilmu pengetahuan yang tinggi. Mengenai kesanggupan bapak yang akan menerangkan atau menguraikan proses asal kejadian tubuh rohani manusia itu, betul-betul menarik. Tetapi saya mohon diberi waktu yang khusus.

    BM: Baiklah sekarang kita lanjutkan: Tentunya saudara pernah membaca biografi Nabi Muhammad. Beliau tidak tahu tulis baca, tidak pernah belajar ilmu kepada siapapun, tidak pernah berguru dan belum pernah sama sekali bergaul dengan orang pandai.

    AW: Ya, saya pernah membaca biografi Nabi Muhammad. Nah, kalau Nabi Muhammad seorang yang buta huruf, tidak pernah belajar ilmu, maka dari siapakah atau dari manakah beliau mengetahui tentang kejadian manusia secara ilmiah yang pada zaman ini dibenarkan oleh ilmu pengetahuan. Nabi Muhammad SAW menerangkan tentang asal kejadian manusia dari segi ilmu urai (Anatomi), Ilmu Kimia, Ilmu hayat (biologi), dan dari segi ilmu alam sampai kepada rohaniahnya.

    BM: Maka dari manakah beliau belajar ilmu urai, kepada siapakah beliau belajar ilmu kimia, ilmu hayat, ilmu alam dan soal-soal kerohanian, kalau bukan wahyu dari tuhan Allah SWT. Dan tidak mungkin beliau menerima wahyu dari Allah sekiranya beliau bukan seorang Nabi dan Rasul.

    AW: Tetapi ada juga orang yang tidak pernah belajar dan bersekolah, buta huruf, tetapi menjadi orang-orang besar.

    BM: Coba saudara sebutkan nama-nama orang yang tidak pernah belajar (buta huruf), lalu mengaku jadi Nabi dan menerima wahyu, dan berhasil membentuk suatu masyarakat dan negara yang mengagumkan para ahli sejarah dan mempunyai pengikut beratus juta manusia setiap masa dan zaman. Sebutkan nama orang yang saudara maksudkan itu.

    AW: Ya, tidak ada.

    BM: Memang tidak ada, baiklah saya tanyakan, kalau saudara berpegang dengan keterangan saudara bahwa Nabi Muhammad itu bukan Nabi dan Rasul, karena ada juga orang yang buta huruf menjadi orang besar, maka kalau Yesus itu anak Tuhan, karena dapat menyembuhkan penyakit kusta, menghidupkan orang mati, dilahirkan tanpa Ayah dan dipenuhi juga dengan ruhul kudus, maka selain Yesus terdapat juga orang lahir tanpa Bapak, dapat menyembuhkan penyakit kusta, menghidupkan orang mati sebagaimana tersebut dalam kitab Injil. Kisah Rasul pasal 6 ayat 5, pasal 5 ayat 31; Kitab Raja-raja kedua pasal 13 ayat 21; Matius pasal 5 ayat 9; Kitab Raja-raja kedua pasal 5 ayat 10 mengapa mereka itu tidak Tuhan juga, mengapa kepada Nabi Muhammad saudara berkeberatan untuk mengakui beliau sebagai seorang Nabi dan Rasul, sedangkan kepada Yesus saudara tidak Berkeberatan mengakuinya sebagai Tuhan, padahal kewajiban-kewajiban yang dilakukan oleh Yesus, orang lain dapat juga melakukannya.

    AW: Baiklah kalau begitu.

    BM: Baik yang bagaimana yang saudara maksudkan.

    AW: Keterangan-keterangan bapak adalah baik dan memuaskan saya dan saya diberi waktu untuk menentukan keputusan saya sampai besok malam atau malam pertemuan berikutnya.

    BM: Baiklah saya serahkan sepenuhnya atas pertimbangan saudara, Kami tidak berhak memaksa saudara, atau mempengaruhi saudara. Kita hanya bermusyawarah dan bersoal jawab tentang hasilnya terserah atas pertimbangan masing-masing.

    AW: Baiklah kita lanjutkan Besok Malam.

    BERLANJUT KE EPISODE 7

  • tn yesus says:

    EPISODE 7

    MALAM KETUJUH
    Mengakui Nabi Muhammad SAW Utusan Allah
    BM: Sesudah saya terangkan pada saudara tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang proses asal kejadian manusia yang saudara tanyakan ayat-ayatnya kemarin malam itu, apakah terdapat pertentangan? Apakah Nabi Muhammad ada kekeliruan menyampaikan sebagaimana saudara sangka semula?

    AW: Tidak ada, Bapak telah menerangkan dari segi Ilmiah yang seharusnya secara jujur saya mempercayainya.

    BM: Jadi Nabi Muhammad Benar, tidak kelirukah penyampaiannya.

    AW: Tidak keliru, malah benar.

    BM: Jadi saudara mengakui bahwa Nabi Muhammad benar sebagai Rasul Allah.

    AW: Saya mengakui, karena beliau benar.

    BM: Terima kasih, Saudara-saudara yang hadir menyaksikan sendiri pengakuan saudara Antonius sendiri atas ke Rasulannya Nabi Muhammad SAW, tanpa paksaan, melainkan dengan kesadarannya sendiri setelah berlangsung dengan diskusi. Betulkah saudara mengakui kerasulannya Nabi Muhammad dan mengakui Nabi Muhammad itu utusan Allah.

    AW: Betul, dengan saksi Tuhan saya mengakuinya.

    BM: Alhamdulillah, saudara Antonius sudah 50% Islam. Saya katakan 50% Islam oleh karena hanya mengerti dan mempercayai atas kerasulan Nabi Muhammad, jadi masih tinggal 50% lagi, oleh karena Saudara belum meyakinkan atas ke Esaan Tuhan yang Maha Tunggal.

    AW: Ya, betul begitu. Keyakinan saya terhadap Trinitas (Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus) masih belum lenyap sama sekali, walaupun Bapak telah menerangkan Kitab Bibel yang tak dapat saya membantahnya. Akan tetapi dengan keterangan-keterangan bapak saya mulai ragu-ragu terhadap Trinitas itu. Sungguhpun begitu, apakah bapak masih bersedia lagi memberikan keterangan-keterangan (alasan-alasan) dalam kitab Bibel yang menyebutkan bahwa Yesus itu bukan Tuhan.

    BM: Sebetulnya pada pertemuan kita yang pertama telah saya sebutkan berdasarkan kitab Injil sendiri bahwa Yesus bukan Tuhan seperti telah Saudara Periksa sendiri dalam Matius pasal 1 ayat 16; Markus pasal 13 ayat 32; Ulangan pasal 4 ayat 33; Ulangan pasal 6 ayat 4; Markus pasal 12 ayat 29. Kesemuanya itu telah kita baca. Tetapi demi untuk memenuhi pengharapan saudara agar lebih meyakinkan, saya lanjutkan lagi. Silahkan baca Lukas pasal 4 ayat 1 dan 2.

    AW: Baik, di sini disebutkan: “Maka Yesuspun penuhlah dengan Rohul Kudus, balik dari Yarden, lalu Roh itu membawa Dia ke padang belantara. Empat puluh hari lamanya dicobai Iblis. Selama itu suatu apapun tiada dimakannya. Setelah genap hari itu ia merasa lapar.”

    BM: 1. Di ayat ini menyebutkan bahwa Rohul Kudus membawa Yesus ke padang belantara. Kalau Yesus itu tuhan, mustahil akan dapat dibawa oleh siapapun juga.

    2. Di ayat ini menyebutkan bahwa Yesus dicobai oleh Iblis. Pantaskah Tuhan dicobai oleh Iblis atau wajarkah Iblis berani mencobai Tuhan.

    3. Di ayat inipun ada menyebutkan bahwa Yesus merasa lapar. Wajarkah Tuhan itu lapar?

    Kalau begitu sifat-sifat Yesus itu sama saja dengan sifat manusia biasa; bisa dibawa, bisa dicobai iblis dan merasa lapar. Periksa lagi Matius pasal 4 ayat 5.

    AW: Baik, di situ menyebutkan: “Kemudian dari pada itu Iblis itupun membawa Yesus ke negeri suci, lalu ditaruhnya Dia di atas bumbung bait Allah.”

    BM: Di ayat ini ada menyebutkan bahwa Yesus dibawa oleh Iblis. Pantaskah Tuhan dibawa oleh Iblis. Wajarkah Tuhan tunduk kepada kemauan Iblis sehingga dibawa kemana-mana, kesuatu tempat. pantaskah Iblis begitu berani kepada Tuhan. Periksa lagi Matius pasal 27 ayat 1 dan 2.

    AW: Baik, di situ menyebutkan: “Setelah hari siang, maka segala kepala Imam dan orang tua-tua kaum pun berundinglah atas hal Yesus supaya dibunuhkan Dia. Maka diikatnya Dia serta dibawa pergi, lalu diserahkan kepada Pilatus, yaitu wakil pemerintah.”

    BM: Di ayat ini menyebutkan bahwa Yesus diikat; pantaskah Tuhan dapat diikat oleh manusia. Kalau begitu dimanakah kekuatan Tuhan, sehingga dengan rela menyerahkan dirinya kepada manusia? Periksa lagi Lukas pasal 2 ayat 21.

    AW: Baik, di situ menyebutkan: “Apabila genap delapan hari, Ia bersunat, lalu disebut namanya Yesus.”

    BM: Wajarkah Tuhan itu disunat? Perlu apakah Tuhan itu disunat?

    AW: Apakah ada keterangan yang lebih tegas bahwa Yesus itu benar-benar anak manusia bukan anak Tuhan?.

    BM: Silahkan buka Matius pasal 26 ayat 2.

    AW: Baik, disitu menyebutkan bahwa: “Anak manusia akan diserahkan supayadisalibkan.”

    BM: Yang dimaksud anak manusia di situ Yesus. Jadi jelaslah bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan, melainkan anak manusia. Silahkan periksa di Matius pasal 5 ayat 45.

    AW: Baik, di situ menyebutkan bahwa: Supaya kamu menjadi anak Bapamu: … dan seterusnya.

    BM: Di sini menyebutkan bahwa orang-orang yang taat kepada Tuhan, menurut Yesus akan menjadi anak Tuhan. Jadi bukan saya yang mengatakan bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan yang Tunggal, melainkan anak-anak tuhan itu akan bertambah lagi jumlahnya, berdasarkan kitab Bibel sendiri di Matius pasal 5 ayat 45 yang kita baca tadi ialah: “Supaya kamu menjadi anak-anak Bapamu…” Silahkan buka Matius pasal 7 ayat 21.

    AW: Disitu menyebutkan: “Bukannya tiap-tiap orang yang menyeru aku Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam kerajaan sorga, hanyalah orang-orang yang melakukan kehendak Bapaku yang di sorga.”

    BM: Di Bibel sendiri jelas, bahwa Yesus menyangkal malah menolak kepada orang yang menyerukan: “Tuhan, Tuhan” kepadanya, malah orang itu tidak dapat masuk ke dalam kerajaan sorga. Apakah belum cukup bukti-bukti yang telah saya tunjukkan kepada saudara.

    AW: Sudah Cukup. Terima kasih; tetapi kalau masih ada, saya minta, demi kepuasan saya

    BM: Minta yang mana lagi yang saudara maksudkan.

    AW: Yang menyebutkan di kitab Injil bahwa Yesus anak manusia “bukan anak Tuhan.”

    BM: Baik, akan saya penuhi harapan saudara, silahkan saudara periksa di Matius pasal 16 ayat 27.

    AW: Di pasal dan ayat ini ada menyebutkan: “Karena anak manusia datang dengan kemuliaan Bapanya beserta dengan malaikatnya; pada masa itu Ia akan membalas kepada tiap-tiap orang menurut perbuatannya.”

    BM: Di ayat ini ada menyebutkan anak manusia, menurut tafsiran saudara, siapakah yang dimaksudkan dengan anak manusia di ayat ini.

    AW: Ya, tentu Yesus.

    BM: Jadi di kitab Injil sendiri ada menyebutkan bahwa Yesus itu adalah “anak manusia”; bukan anak Tuhan, betulkah atau tidak.

    AW: Ya, betul.

    BM: Nah, kalau betul, mengapa saudara menyebutkan Yesus anak Tuhan?

    AW: Yesus itu Tuhan tapi diserupakan dengan manusia.

    BM: Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa diperanakkan oleh manusia (Maria). Yesus berupa manusia karena diperanakkan oleh manusia (Maria). Terlalu janggal kalau manusia (Maria) memperanakkan Tuhan. Bisakah ilmu pengetahuan lahir maupun ilmu pengetahuan bathin (Kerohanian) menerima bahwa ada Tuhan yang diperanakkan oleh manusia? Bisakah ilmu pengetahuan exact maupun yang abstract (Exact abstract Wetenschap) menerimanya?

    AW: Ya, memang mustahil ada Tuhan yang diperanakkan oleh manusia.

    BM: Bukan itu saja, malah di kitab Injil saudara Yesus sendiri yang berkata bahwa ia bukan anak Tuhan, melainkan Utusan Tuhan. Sebagaimana telah saya tunjukkan ayatnya pada pertemuan kita yang lalu.

    AW: Betul, telah bapak sebutkan. Tetapi saya minta di ulangi lagi ayatnya, oleh karena saya agak lupa susunannya.

    BM: Silahkan periksa di Yahya pasal 5 ayat 30.

    AW: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Suatupun tiada aku dapat berbuat menurut kehendak sendiri, melainkan aku menjalankan hukum sebagaimana aku dengar, dan hukuman itu adil adanya; karenanya bukannya aku mencari kehendak diriku, melainkan kehendak Dia yang menyuruhkan aku.”

    BM: Ayat ini tegas sekali, jelas menunjukkan bahwa Yesus sendiri mengaku bahwa ia bukan Tuhan, melainkan pesuruh Tuhan. Di ayat ini Yesus memberitahukan bahwa ia tidak berbuat menurut kehendak Tuhan, maka wajarkah Tuhan tidak dapat berbuat sekehendaknya, dan pantaskah ada Tuhan disuruh (diutus) menjadi utusan.

    AW: Ya, saya mengaku; Yesus sendiri mengaku bukan anak Tuhan.

    BM: Demi kepuasan saudara silahkan periksa lagi di Yahya pasal 3 ayat 13.

    AW: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Seorangpun tidak naik ke surga, kecuali Ia yang sudah turun dari surga, yaitu anak manusia.”

    BM: Berdasarkan ayat-ayat Bibel yang saya tunjukkan dan saudara sendiri yang memeriksa dan membacanya itu, maka sekali lagi saya bertanya: “Anak manusiakah Yesus itu atau anak tuhan”?.

    AW: Ya, berdasarkan ayat-ayat tersebut saya berkata: “Yesus adalah anak manusia.”

    BM: Di ayat yang saudara baca tapi, Matius pasal 16 ayat 27, selain menyebutkan bahwa Yesus itu anak manusia, juga menyebutkan bahwa akan membalas tiap-tiap orang menurut perbuatannya. Betulkah begitu? silahkan periksa kembali.

    AW: Ya, betul di ayat itu ada menyebutkan.

    BM: Menurut susunan ayat tersebut, jelas: “Menolak adanya dosa waris,” berdasarkan ayat tersebut setiap orang akan dibalas menurut perbuatannya masing-masing, jadi tidak ada penebus dosa.

    AW: Ya, tentang dosa waris telah selesai kita bicarakan dan memang saya telah mengakui “tidak ada dosa waris.”

    BM: Betul, sudah kita bicarakan, saya hanya menambah saja, untuk lebih menguatkan lagi keterangan yang lalu.

    AW: Sudah cukup jelas keterangan Bapak.

    BM: Jelas bagaimana?

    AW: Berdasarkan ayat-ayat Injil sendiri bahwa Yesus itu bukan anak Tuhan melainkan anak manusia. Dan berdasarkan kitab Injil menyebutkan bahwa Yesus sendiri mengakui ia bukan anak Tuhan, melainkan “pesuruh (Utusan) Tuhan”

    BM: Syukurlah kalau begitu. Jadi bagaimanakah kepercayaan saudara sekarang terhadap “Trinitas” (Tuhan Bapa, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus).

    AW: Dengan sendirinya kepercayaan saya terhadap Trinitas terhapus.

    BM: Alhamdulillah, jadi saudara mengakui bahwa Tuhan itu TUNGGAL.

    AW: Sebelum itu saya ingin menyampaikan pertanyaan.

    BM: Baik, tetapi saudara telah mengakui pada pertemuan yang lalu dan saudara-saudara yang hadir juga telah ikut menyaksikan bahwa:

    Pertama, Saudara telah membenarkan kitab Al-Qur’an. Beberapa ayat Al-Qur’an yang saudara kemukakan yang pada mulanya oleh saudara dianggap berselisih antara satu ayat dengan ayat yang lain, setelah saya terangkan dan saya tafsirkan, lalu saudara akui bahwa ayat-ayat tersebut pada hakikatnya tidak ada perselisihannya antara yang satu dengan yang lain. Bukankah begitu pengakuan saudara.

    AW: Ya, betul begitu.

    BM: Kedua, Pada pertemuan yang lalu saudara telah mengakui kebenaran nabi Muhammad SAW selaku Utusan Tuhan, betulkah demikian?

    AW: Ya, betul saya telah mengakuinya.

    BM: Ketiga, Saudara telah membenarkan bahwa ayat-ayat di kitab Injil (Bibel) terdapat beberapa ayat yang berselisih antara yang satu dengan yang lain. Sebagaimana telah saya tunjukkan ayat-ayatnya pada pertemuan yang lalu, benarkah pengakuan saudara itu.

    AW: Ya, saya mengakui. Akan tetapi saya masih memerlukan bukti-bukti yang lain tentang ayat-ayat Injil yang ada perselisihannya antara yang satu dengan yang lain, demi kepuasan bagi saya, walaupun sebenarnya keterangan bapak saya pandang cukup memuaskan. Tetapi mungkin ada lagi ayat-ayat yang lain untuk meresapnya ke perasaan saya.

    BM: Baiklah, saya penuhi pengharapan saudara, silahkan saudara periksa kitab Yahya pasal 8 ayat 14.

    AW: Baik, dipasal dan ayat ini menyebutkan: “Jikalau Aku menyaksikan dari hal diriku sendiripun, benar juga kesaksian itu.”

    BM: Silahkan periksa lagi Yahya 5 ayat 31.

    AW: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Jikalau Aku menyaksikan dari hal diriku, maka kesaksianku tidak benar.”

    BM: Nah, saudara membuktikan sendiri perselisihan di dua ayat ini. Di satu ayat menyebutkan: “Kesaksianku benar,” sedangkan di ayat lain menyebutkan “Kesaksianku tidak benar.” Dua ayat yang berselisih itu, tersebut di kitab suci. Dan yang berbicara adalah seorang. Manakah yang benar antara dua ayat ini. Wajarkah di dalam kitab suci mengandung ayat-ayat yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain.

    AW: Ya, saya akui memang tidak cocok.

    BM: Bukan saja tidak cocok, tetapi adalah satu selisih yang menyolok.

    AW: Tetapi mungkin salah satu dari ayat tersebut salah cetak.

    BM: Sekiranya salah cetak, tentunya ada ralat; tetapi di kitab ini tidak disebutkan apa-apa.

    AW: Bibel ini berbahasa Indonesia, permisi sebentar, saya akan memeriksa Bibel yang berbahasa Inggris.

    BM: Itu lebih baik, sayakah yang akan memeriksa ataukah saudara?

    AW: Oleh karena bapak banyak hafal ayat-ayat Bibel maka saya serahkan agar bapak saja memeriksanya, supaya lebih cepat.

    BM: Baiklah; harap saudara memperhatikan juga saudara-saudara yang hadir, kitab yang saya pegang ini adalah Bibel berbahasa Inggris ialah “The Holy Bible,” “Containing the Old and New Testaments (American Bible Society).” Saya serahkan kitab ini kepada saudara Antonius dan saya akan menunjukkan pasal dan ayatnya untuk diteliti bersama.

    AW: Baik, saya terima kitab Bibel yang berbahasa Inggris.

    BM: Silahkan saudara periksa di Yahya pasal 8 ayat 14 pada halaman 104.

    AW: Baik, dihalaman 104 kitab Yahya pasal 8 ayat 14 disini ada menyebutkan: “THOUGH I BEAR RECORD OF MY SELF, YET MY RECORD IS TRUE.”

    BM: Kalau susunan ayat ini kita salin kedalam bahasa Indonesia, adalah demikian: “Jikalau aku menyaksikan dari hal diriku sendiripun, benar juga kesaksianku itu.” Betulkah begitu artinya?

    AW: Ya, betul begitu.

    BM: Jadi sama artinya dengan Injil yang berbahasa Indonesia di Yahya pasal 8 ayat 14, harap saudara cocokkan dulu.

    AW: Betul, artinya sama kuatnya

    BM: Sekarang silahkan periksa di Yahya pasal 5 ayat 31.

    AW: Disini menyebutkan: “IF BEAR WITNES OF MYSELF, MY WITNES IS NOT TRUE.”

    BM: Ayat ini kalau kita salin kedalam bahasa Indonesia akan demikian: “Jikalau aku menyaksikan dari hal diriku, maka kesaksianku itu tiada benar.” Betulkah begitu?.

    AW: Ya, benar

    BM: Silahkan saudara periksa lebih teliti lagi di kitab Bibel yang berbahasa Inggris ini. Di satu ayat menyebutkan “IS TRUE,” adalah benar, sedangkan di ayat lain menyebutkan “IS NOT TRUE,” adalah tidak benar.

    AW: Ya, memang berbeda

    BM: Kalau begitu, di Injil yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Inggris tidak ada perbedaan arti dan maksudnya?

    AW: Betul Demikian.

    BM: Jadi tidak salah cetak, yang salah ialah yang mengisi kitab suci itu. Kalau betul kitab suci (Injil) itu wahyu dari Tuhan, mustahil ayat-ayatnya akan berselisih antara yang satu dengan yang lain. Jadi kitab itu telah dicampuri oleh tangan manusia.

    AW: Menurut pendapat saya, dua ayat itu bukan berlawanan, mungkin ayat yang satu dicabut, lalu kemudian diganti dengan ayat yang lain. Jelasnya, ayat yang satu di hapus diganti dengan ayat yang lain (yang baru). Setahu saya dalam ayat-ayat Al-Qur’an terdapat apa yang disebut “Nasich dan Mansuch” ialah satu ayat terhapus hukumnya, lalu diganti dengan ayat yang lain (hukum yang baru).

    BM: Di dalam Al-Qur’an terdapat “Nasich dan Mansuch” ada disebutkan ayatnya tetapi di kitab Injil sama sekali tidak disebutkan.

    AW: Dimanakah di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan ayat tentang Nasich dan Mansuch itu

    BM: Sebetulnya sayalah yang harus bertanya kepada saudara, oleh karena dari saudaralah timbulnya ucapan Nasich-Mansuch itu. Akan tetapi sekalipun demikian saya tunjukkan, ialah di surat Al Baqarah ayat 106. Susunan ayat itu ada ulama yang menafsirkan tentang adanya “Nasich dan Mansuch.” Sebagian lagi ada yang menafsirkan bahwa susunan ayat tersebut tidak menunjukkan adanya Nasich-Mansuch. Kalau saudara memerlukan, akan saya terangkan tafsirnya ayat tersebut.

    AW: Hal itu, baiklah kita tangguhkan dulu. Tetapi sehubungan dengan dua ayat di Bibel yang tadi, saya berpendapat bukan berlawanan, melainkan satu ayat digantikan dengan ayat lain, sehingga nampaknya ada berlawanan. Bolehkah saya berikan misal.

    BM: Silahkan, saudara berhak penuh berbicara dengan saya dalam pertemuan kita ini.

    AW: Saya sebutkan misal: Dikeluarkan suatu peraturan, setiap pengendara sepeda diwaktu malam diharuskan memakai lampu. Kemudian datang lagi peraturan tidak boleh pakai lampu, karena ada peperangan misalnya. Disini ada dua peraturan, yang pertama: “Diharuskan memakai lampu.” sedang yang kedua “Dilarang.” Dua perintah itu, yang terpakai adalah yang kemudian. Demikian juga dua ayat di Bibel tadi tidak berlawanan, melainkan salah satu diantaranya sudah tidak berlaku lagi (dicabut). Ini menurut pendapat saya.

    BM: Baiklah, tetapi tentunya saudara mengerti, apabila suatu peraturan yang diganti, mestinya harus diikuti penjelasan, bahwa artikel nomer sekian ayat sekian, tahun sekian dicabut, diganti dengan artikel nomer sekian dan selanjutnya. Akan tetapi dua ayat di Bibel itu, tidak ada sebutan ayat yang satu diganti, dengan lain kata dua ayat tetap berlawanan antara yang satu dengan yang lain. Tidak ada penjelasan bahwa salah satu telah dicabut, atau diganti.

    LANJUT KE EPISODE 8

  • tn yesus says:

    EPISODE 8

    PERTEMUAN YANG KEDELAPAN
    Perselisihan Ayat-ayat Dalam Bibel
    BM: Pada pertemuan kemarin malam saya telah terangkan ayat yang berlawanan dalam Bibel. Pada pertemuan sekarang apakah masih ada pertanyaan saudara yang akan disampaikan kepada saya.

    AW: Kalau masih ada ayat-ayat dalam Bibel yang berlawanan antara satu ayat dengan yang lain, saya minta diterangkan untuk menambah keyakinan saya sampai dimanakah kesucian kitab Bibel itu ada dicampuri oleh tangan manusia.

    BM: Kemarin malam saudara mengakui sudah puas. Apakah tidak lebih baik, kita bicarakan saja pasal-pasal yang saudara pandang terpenting.

    AW: Ya, tetapi keterangan bapak mengenai ayat-ayat yang berlawanan di kitab Bibel itu baru sedikit membuka hati saya. Karena itulah saya bawa lagi kitab Bibel ini.

    BM: Baiklah, saya akan tunjukkan, demi kepuasan saudara.

    AW: Terima kasih. Harapan, Bapak sudi tunjukkan lagi bukti-bukti ayat-ayat yang berlawanan. Saya ingin mengetahui lebih banyak lagi.

    BM: Silahkan saudara periksa di Yahya pasal 1 ayat 18.

    AW: Dipasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka Allah belum pernah dilihat oleh seorang juapun, tetapi Anak yang tunggal yang diatas pengakuan Bapa, ialah yang sudah menyatakan Dia.”

    BM: Bagaimanakah menurut tafsiran saudara susunan ayat ini.

    AW: Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak pernah dilihat oleh siapapun juga, melainkan hanya Yesus saja yang pernah melihatnya.

    BM: Kalau begitu silahkan saudara periksa di kitab Kejadian pasal 18 ayat 1.

    AW: Disini menyebutkan: “Hatta, maka kemudian dari pada itu kelihatanlah Tuhan kepada Ibrahim hampir dengan pohon jati mamre tatkala duduklah di pintu kemahnya ketika hari panas.”

    BM: Nah, disini saudara membuktikan sendiri perselisihan di dua ayat ini, di satu ayat menyebutkan Tuhan hanya dinyatakan oleh Yesus saja, tidak seorang juapun melihatnya. Sedang di ayat yang lain ada menyebutkan bahwa Ibrahim juga melihat Tuhan. Bukankah dua ayat ini berlawanan. Yang manakah yang benar di dua ayat ini.

    AW: Ya, saya mengakui memang tidak cocok.

    BM: Saya lanjutkan. Silahkan periksa lagi di kitab: “Kejadian pasal 32 ayat 30.”

    AW: Ya, di sini menyebutkan: “Maka dinamai oleh Yakub akan tempat itu Peniel karena katanya: ‘Sudah kulihat Allah muka dengan muka, maka nyawaku selamatlah.’”

    BM: Perhatikan: di satu ayat menyebutkan, tidak seorangpun melihat Tuhan, melainkan Yesus. Di ayat yang lain menyebutkan bahwa Ibrahim melihat Tuhan. Di ayat yang lain lagi ada menyebutkan Yakub melihat Tuhan malah bertemu muka dengan muka. Yang manakah yang benar diantara tiga ayat tersebut? Mustahillah benar semuanya, karena jelas sekali susunan ayatnya yang nyata-nyata mengandung ayat yang berselisih antara yang baru dengan yang lain. Kalau dikatakan salah satu dari pada ayat-ayat itu yang benar, maka yang dua ayat tentunya salah semuanya. Pantaskah suatu kitab suci mengandung ayat yang salah? Dan kalau dikatakan salah semuanya, maka apakah kitab itu dapat dipertahankan kesuciannya, kalau ayat-ayatnya terdapat berlawanan.

    AW: Ya, saya mengakui ayat-ayat tersebut tidak cocok antara yang satu dengan yang lain.

    BM: Pengakuan saudara itu memang penting, tetapi lebih utama kalau diikuti dengan kesadaran.

    AW: Saya harap tunjukkan lagi ayat-ayat di kitab Injil yang berselisih.

    BM: Baiklah, silahkan periksa di kitab Samuel yang ke-II pasal 8 ayat 9, 10.

    AW: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Bermula, maka setelah kedengaranlah kabar kepada TOI, raja Hamat, mengatakan Daud sudah mengalahkan segenap balatentara Hadar Ezar, disuruhkan TOI akan YORAM anaknya menghadap raja Daud akan bertanyakan selamat baginda dan menyampaikan berkat selamat kepada baginda …”

    BM: Cukup dibaca sampai disitu, bagaimana menurut pendapat saudara maksud ayat itu, siapakah nama raja Hamat?

    AW: Menurut ayat ini, raja Hamat bernama “Toi”

    BM: Sekarang silahkan periksa Kitab Tawarikh yang pertama, pasal 18 ayat 9.

    AW: Di sini menyebutkan: “Hatta apabila kedengaranlah kabar kepada TOHU, raja Hamat, mengatakan Daud sudah mengalahkan segenap balatentara Hadar Ezar raja Zoba itu.”

    BM: Di ayat ini siapakah nama raja Hamat.

    AW: Menurut ayat ini, nama raja Hamat ialah “Tohu.”

    BM: Nah, perhatikanlah: disuatu ayat menyebutkan nama Raja Hamat ialah “Toi” sedangkan di ayat lain menyebutkan “Tohu.” Yang manakah namanya benar Tohukah atau Toi.

    AW: Ya, namanya memang berselisih. Akan tetapi hanya selisih tentang nama saja. Jadi hanya perselisihan yang kecil saja.

    BM: Kalau kesalahan dari manusia biasa, tentu kita tidak keberatan, akan tetapi ini adalah kesalahan “Wahyu” atau “Ilham.”

    AW: Betul juga pendapat bapak, Ini adalah kesalahan wahyu atau ilham. Mustahil wahyu atau ilham dari Tuhan terdapat kesalahan walaupun kesalahan yang sedikit dan sekecil-kecilnya. (pada halaman ini terdapat footnote: Al Kitab edisi 1994, kata Tohu diganti Tou. Mungkin pada tahun berikutnya kata Tou akan diganti dengan Toi)

    BM: Bukan itu saja, Silahkan periksa lagi kitab Samuel yang kedua pasal 8 ayat 9 dan 10.

    AW: Di sini menyebutkan: “Bermula, maka setelah kedengaranlah kabar kepada TOI, raja Hamat, mengatakan Daud sudah mengalahkan segenap balatentara Hadar Ezar, disuruhkan TOI akan YORAM anaknya menghadap raja Daud …”

    BM: Cukup dibaca sampai disitu dulu, di ayat itu ada tersebut seseorang bernama Yoram, siapakah Yoram menurut ayat tersebut?

    AW: Menurut ayat tersebut Yoram itu anaknya Toi, raja Hamat.

    BM: Betul, sekarang lanjutkan periksa di Kitab Tawarikh yang pertama pasal 18 ayat 9 dan 10.

    AW: Di sini ada menyebutkan: “Hatta apabila kedengaranlah kabar kepada TOHU, raja Hamat, mengatakan Daud sudah mengalahkan segenap balatentara Hadar Ezar raja Zoba itu. Disuruhnyalah Hadoram puteranya pergi menghadap baginda raja Daud …”

    BM: Cukup dibaca sampai disitu. Di ayat itu ada disebutkan seorang bernama Hadoram, Siapakah Hadoram itu menurut susunan ayat tersebut?.

    AW: Menurut susunan ayat tersebut orang yang bernama Hadoram itu adalah anak Tohu, raja Hamat.

    BM: Buktikan, di satu ayat menyebutkan bahwa Yoram itu anaknya Toi, sedangkan di ayat lain menyebutkan anaknya Toi itu bukan Yoram, melainkan Hadoram.

    AW: Saya tidak tahu

    BM: Saya bertanya bukan tentang tahu atau tidaknya, melainkan tentang kebenaran di dua ayat itu.

    AW: Saya tidak tahu yang mana yang benar.

    BM: Bukan saudara saja yang tidak mengetahui kebenarannya, malah yang menulis ayat itupun tidak bisa menunjukkan yang tepat tentang kebenarannya nama anaknya Toi itu; padahal yang dinamakan kitab suci pasti benar isinya, bersih dari segala macam kesalahan, sampai kepada kesalahan yang sekecil-kecilnya, sesuai dengan pengakuan saudara tadi.

    AW: Mestinya begitu.

    BM: Tetapi kenyataannya tidak begitu. Buktinya, silahkan saudara periksa lagi di Kitab Samuel ke II pasal 8 ayat 8.

    AW: Baik, di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Maka dari dalam Betach dan dari dalam Berotai, dua buah negeri Hadar Ezar, diambil raja Daud akan banyak Tembaga.”

    BM: Bagaimana maksud ayat ini menurut tafsiran saudara?

    AW: Maksudnya ialah raja Daud mengambil banyak tembaga dari dua tempat bernama Betach dan Berotai.

    BM: Silahkan periksa di Kitab Tawarich yang pertama pasal 18 ayat 8.

    AW: Baik disini ada menyebutkan: “Maka dari dalam Tibchat dan dari dalam Chun, negeri Hadar Ezar itu diambil Daud amat banyak tembaga.”

    BM: Buktikan di satu ayat menyebutkan dua tempat yang diambil tembaganya oleh Daud ialah Betach dan Berotai, sedangkan di ayat lain menyebutkan dua tempat itu ialah Tibchat dan Chun. Di dua ayat itu tempat manakah yang sebenarnya diambil tembaganya oleh Daud. Kalau betul kitab Injil itu mestinya suci dari pada kesalahan dan perselisihan atau berlawanan tentang ayat-ayatnya.

    AW: Betul, dua ayat ini memang tidak cocok, yang satu dengan yang lain bertentangan.

    BM: Apakah saudara masih memerlukan lagi ayat-ayat yang berlawanan didalam Bibel.

    AW: Saya merasa beruntung kalau bapak masih bersedia menunjukkan demi untuk meningkatkan kesadaran saya.

    BM: Baiklah saya ikuti kehendak saudara. Silahkan periksa lagi di Kitab Raja-raja kedua pasal 8 ayat 26.

    AW: Baik, dipasal dan ayat ini menyebutkan: “Adapun umur raja Ahazia pada masa ia naik raja itu dua puluh dua tahun, maka kerajaanlah ia Jerusalem setahun lamanya, adapun nama bunda-bunda baginda itu Atalia anak Omri raja orang Israil.”

    BM: Menurut susunan ayat ini, berapakah umur raja Ahazia pada waktu ia menjadi raja.

    AW: Berdasarkan ayat ini diwaktu umur 22 tahun.

    BM: Silahkan saudara periksa lagi di Kitab Tawarikh ke II pasal 22 ayat 2.

    AW: Di pasal dan ayat ini menyebutkan: “Adapun pada masa ia naik raja itu empat puluh dua tahun, dan kerajaanlah ia di Jerusalem setahun lamanya, maka nama bunda baginda itu Atalia anak Omri.”

    BM: Di ayat ini menyebutkan berapakah umur Ahazia diwaktu menjadi raja?

    AW: Di ayat ini menyebutkan diwaktu berumur 42 tahun.

    BM: Nah Di dua ayat ini yang manakah yang benar, diwaktu berumur 22 tahunkah atau berumur 42 tahun. Di satu ayat menyebutkan Ahazia menjadi raja di waktu berumur 22 tahun, dan di ayat yang lain menyebutkan pada waktu berumur 42 tahun. Bukankah ini menunjukkan perselisihan yang menyolok sekali di kitab Injil yang dikatakan suci itu.

    AW: Ya, perselisihan di dua ayat ini tak dapat dipungkiri lagi.

    BM: Supaya makin bertambah tak dapat dipungkiri lagi oleh saudara tentang ayat-ayat yang berlawanan di kitab Bibel itu. Silahkan saudara periksa lagi di kitab Raja-raja II pasal 24 ayat 8.

    AW: Baik, disini ada menyebutkan: “Jojachin pada masa ia naik raja itu delapan belas tahun, maka kerajaanlah ia di Jerusalem tiga tahun lamanya dan nama bunda baginda itu Nehusta anak Elmatan dari Jerusalem.”

    BM: Siapakah nama raja di ayat ini?

    AW: Namanya Jojachin.

    BM: Silahkan saudara periksa di Kitab Tawarikh yang kedua pasal 36 ayat 9.

    AW: Di sini ada menyebutkan: “Adapun umur Jehojachin pada masa ia naik raja itu delapan belas tahun, maka kerajaanlah ia di Jerusalem tiga bulan dan sepuluh hari lamanya, maka diperbuatnya barang yang jahat kepada pemandangan Tuhan.”

    BM: Buktikan perselisihan yang menyolok pada dua ayat ini; di satu ayat menyebutkan Jojachin dan di ayat yang lain menyebutkan Jehojachin. Selanjutnya di satu ayat menyebutkan kerajaan Jojachin di Jerusalem tiga tahun lamanya dan di ayat yang lain menyebutkan 3 bulan 10 hari. Yang manakah yang benar di dua ayat ini, Jojachinkah atau Jehojachin, dan kerajaan Jerusalem selama 3 tahunkah atau 3 bulan 10 hari? Harap saudara periksa lagi dengan teliti susunan dua ayat yang saudara baca tadi.

    AW: Betul, memang tidak cocok antara dua ayat ini. (Catatan kaki: Al Kitab yang diterbitkan tahun 1994, Kata “Yehoyakhin” diganti dengan “Yoyakhin” dan di Alkitab edisi tahun 1994, kata “tiga tahun” diganti “tiga bulan.”)

    BM: Aneh, lagi-lagi tidak cocok dan memang tidak cocok.

    AW: Memang mustahil di kitab suci mengandung ayat-ayat yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain.

    BM: Supaya lebih nyata kemustahilannya, teruskan saudara periksa di kitab Saul yang kedua pasal 23 ayat 8.

    AW: Di ayat ini tersusun sebagai berikut: “Bermula, maka inikah nama segala pahlawan yang mengiringi Daud, Josech Basjebet bin Tachkemoni, kepala segala penghulu iapun bergelar penyucuk dan penikam lembing, sebab ditikamnya akan kedelapan ratus orang dalam sekali saja berperang.”

    BM: Berdasarkan ayat ini saya ingin bertanya pada saudara siapakah nama pahlawan yang mengiringi Daud menurut ayat ini?

    AW: Namanya Josech Basjebet bin Tachkemoni.

    BM: Menjabat apakah ia?

    AW: Kepala segala penghulu

    BM: Berapa orangkah yang ditikamnya dalam sekali berperang?

    AW: Delapan ratus orang.

    BM: Kalau begitu, silahkan saudara periksa di Kitab Tawarikh yang pertama pasal 11 ayat 11.

    AW: Di ayat ini susunan kalimatnya seperti berikut: “Maka inilah bilangan segala pahlawan yang mengiringi Daud, Yasobam bin Hachmoni, kepala orang tiga puluh, yang melayangkan lembingnya kepada orang tiga ratus, ditikamnya akan mereka itu sekalian dalam sekali berperang.”

    BM: Berdasarkan ayat ini saya ingin bertanya pada saudara siapakah nama pahlawan yang mengiringi Daud menurut ayat ini?

    AW: Namanya Yasobam bin Hachmoni.

    BM: Menjabat apakah ia?

    AW: Kepala dari orang tiga puluh.

    BM: Berapa orangkah yang ditikamnya dalam sekali berperang?

    AW: Sebanyak Tiga ratus orang.

    BM: Cocokkan dua ayat ini antara yang satu dengan yang lain?

    AW: Terlalu tidak cocok malah dalam dua ayat ini terdapat 3 macam selisih yang jelas sekali.

    BM: Memang. Di satu ayat menyebutkan pahlawan yang mengiringi Daud bernama Josech Basjebet bin Tachkemoni dan di ayat yang lain bernama Yasobam bin Hachmoni. Di ayat inipun menyebutkan Kepala orang tiga puluh. Di ayat itupun ada menyebutkan lagi Menikam 800 (delapan ratus) orang dalam sekali berperang dan di ayat yang lain menyebutkan menikam 300 (tiga ratus) orang dalam sekali berperang.

    AW: Intermezzo sedikit pak Kyai.

    BM: Ya, boleh intermezzo jenis apa?

    AW: Saya merasa sungguh kagum, karena Bapak Kyai hapal diluar kepala tentang ayat-ayat Bibel. Padahal kalau tidak salah ayat-ayat dikitab Bibel itu ada ribuan. Dengan cara bagaimana Bapak menghafalnya.

    BM: Lain waktu saya bisa terangkan pada saudara.

    AW: Menghafalkannya saja tentu amat berat, Yang betul-betul mengherankan saya, dapat bapak menunjukkan dengan tepat letaknya ayat-ayat di Bibel dan tambah mengherankan lagi hafalnya ayat-ayat Bibel yang berlawanan antara satu dengan yang lain. Baik tentang nama-nama suratnya, pasalnya, maupun ayat-ayatnya, kesemuanya dengan tepat sekali bapak menunjukkannya. Betul saya bertanya; malah diantara saudara-saudara yang hadir kemarin malam ada yang membisikkan pada telinga saya, memberikan dorongan supaya menanyakan kepada bapak.

    BM: Supaya tidak banyak makan waktu, saya jawab dengan singkat saja, saya kalau menghafalkan sesuatu tidak hanya menggunakan alat pancaindera lahir (sensus exterior) semata-mata, akan tetapi juga alat-alat pancaindera bathin (sensus interior). Keterangan mengenai soal ini cukup panjang, membutuhkan antara dan waktu tersendiri. Kalau saudara ada hasrat, lain waktu akan saya jelaskan.

    AW: Baiklah kalu begitu, sekarang kita lanjutkan.

    BM: Sebagai bukti, bahwa alat pancaindera bathin itu dapat menembus, maka saya tembuskan pandangan bathin saya ke dalam kitab Bibel, untuk saya tunjukkan lagi pada saudara ayat-ayat di Bibel yang berlawanan.

    AW: Terima kasih.

    BM: Silahkan saudara periksa lagi di kitab Samuel yang kedua pasal 24 ayat 1.

    AW: Di pasal dan ayat ini ada menyebutkan: “Bermula maka kembali pula bangkitlah murka Tuhan akan orang Israil, diajaknya Daud akan lawan mereka itu katanya: ‘Bilangkanlah olehmu akan orang Israil dan akan orang Jehuda.’”

    BM: Menurut ayat ini, siapakah yang mengajak Daud membilang dan melawan orang Israil?

    AW: Menurut susunan ayat ini yang mengajak Daud ialah Tuhan.

    BM: Betul, sekarang silahkan saudara periksa di kitab Tawarikh yang pertama pasal 21 ayat 1.

    AW: Baik, dipasal dan ayat ini ada menyebutkan: “Sebermula, maka pada masa itu, berbangkitlah syetan akan celaka orang Israil, diajaknya Daud supaya dia membilang banyak orang Israil.”

    BM: Menurut ayat ini siapakah yang mengajak Daud membilang orang Israil.

    AW: Berdasarkan ayat ini yang mengajak Daud, ialah Syetan.

    BM: Nah, perhatikan; di satu ayat menyebutkan yang mengajak Daud adalah Tuhan. Kemudian di satu ayat yang lain menyebutkan, yang mengajak Daud adalah Syetan. Yang manakah yang benar diantara dua ayat ini, Tuhankah atau syetan.

    AW: Ya, betul; ini adalah suatu perselisihan yang menyolok sekali.

    BM: Kalau demikian tentunya saudara dapat membayangkan, apakah Bibel yang sekarang ini masih tetap dikatakan sucikah atau sudah dicampuri oleh tangan manusia.

    AW: Kalau sudah terang-terangan begini, tentunya sulit untuk dipertahankan kesuciannya.

    BM: Apakah saudara masih belum merasa puas bukti-bukti yang saya tunjukkan tentang ayat-ayat Bibel yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain itu?

    AW: Sudah cukup jelas.

    BM: Jangankan di kitab suci itu sampai terdapat beberapa ayat yang berlawanan malah satu ayat saja terdapat ayat yang berselisih dengan ayat lain, sudah cukup alasan untuk tidak dapatnya dipertahankan dan diyakinkan tentang kesuciannya.

    AW: Kalau begitu kitab Bibel yang dianggap suci oleh penganutnya itu lantas bagaimana?

    BM: Sebetulnya pertanyaan saudara itu harus dijawab oleh saudara sendiri karena saudara saudara sendiri masih mempunyai kitab itu. Tetapi saya tolong menjawabnya. Setiap agama mempunyai kitab suci. Akan tetapi kalau di kitab sucinya itu ternyata terdapat beberapa ayatnya yang berselisih atau berlawanan dan tidak cocok antara yang satu dengan yang lain, apakah penganut-penganut agama itu masih berkeyakinan bahwa kitab sucinya itu tetap suci. Padahal yang dinamai kitab suci adalah wahyu, ilham dari Tuhan. Mustahil sekali kalau wahyu Tuhan itu tidak cocok. Di satu ayat Tuhan berkata YA lalu di ayat yang lain lagi menyatakan TIDAK. Di satu ayat Tuhan berkata “A” lalu di ayat lain Tuhan berkata lagi bukan “A” tetapi “B.” Kalau sampai terjadi demikian, tidak mustahil bahwa tangan manusia sudah ikut campur di dalamnya.

    AW: Betul begitu, Tetapi maaf. Kalau Bapak tidak berkeberatan, saya minta lagi.

    BM: Minta yang mana lagi yang dimaksudkan oleh saudara?

    AW: Minta satu ayat lagi yang berselisih di Bibel.

    BM: Agaknya saudara akan menguji saya tentang Bibel.

    AW: Tidak, betul-betul tidak. Hanya minta satu saja. Betul-betul saya hanya minta satu ayat saja lagi.

    BM: Saudara minta satu ayat lagi atau lebih, saya bisa tunjukkan. Tetapi waktunya sudah jauh malah. Kecuali kalau saudara suka menerima sampai pagi.

    AW: Tidak, betul-betul hanya minta satu ayat lagi. Setelah itu kita lanjutkan pasal-pasal yang lain. YANG HADIR: Teruskan sampai waktu subuh, kita setuju dan akan tetap tenang.

    BM: Baiklah saya penuhi pengharapan saudara Antonius. Silahkan saudara periksa di kitab Samuel yang kedua pasal 10 ayat 18.

    AW: Baik, di pasal dan ayat ini ada menyebutkan: “Tetapi kemudian, larilah segala orang syam itu dari hadapan orang Israil, maka daripada orang Syam itu dibinasakan Daud tujuh ratus ekor kuda kereta dan empat puluh ribu orang berkuda, tambahan pula dikalahkannya Sobach, panglima perang mereka itu, sehingga matilah ia di sana …”

    BM: Cukup dibaca sampai disitu dulu, saya akan bertanya pada saudara, di ayat ini ada berapakah jumlahnya kuda kereta yang dibinasakan oleh Daud.

    AW: Di ayat ini menyebutkan 700 (tujuh ratus) banyaknya yang dibinasakan oleh Daud.

    BM: Di ayat itu juga ada berapakah jumlahnya orang berkuda yang dibinasakan oleh Daud?

    AW: Menurut ayat ini ada 40.000 (empat puluh ribu) orang berkuda yang dibinasakan oleh Daud.

    BM: Dan di ayat itu juga, siapakah namanya panglima perang yang dibunuh?

    AW: Menurut ayat ini panglima perang yang dibunuh bernama Sobach.

    BM: Betulkah semuanya itu, silahkan periksa lagi.

    AW: Betul demikian jawaban-jawaban saya berdasarkan ayat ini.

    BM: Kalau begitu silahkan saudara periksa di Kitab Tawarikh yang pertama pasal 19 ayat 18.

    AW: Di sini ada menyebutkan: “Maka larilah segala orang Syam dari hadapan orang Israil, maka dibinasakan Daud daripada orang Syam itu tujuh ribu ekor kuda kereta, dan empat puluh ribu orang yang berjalan kaki, tambahan pula dibunuhnya Sofach panglima perang itu…”

    BM: Saya akan bertanya; Ada berapakah jumlah kuda kereta yang dibinasakan oleh Daud menurut ayat ini?

    AW: Menurut ayat ini, menyebutkan ada 7000 (tujuh ribu).

    BM: Di ayat ini juga yang dibinasakan oleh Daud apakah 40.000 orang yang berkuda atau 40.000 orang yang berjalan kaki.

    AW: Di ayat ini yang dibinasakan oleh Daud ada menyebutkan 40.000 yang berjalan kaki, bukan orang berkuda.

    BM: Pun di ayat ini juga, disebutkan siapakah namanya panglima perang, apakah bernama Sobach-kah atau Sofach?

    AW: Di ayat ini disebutkan bernama Sofach.

    BM: Coba saudara perhatikan dengan seksama perselisihan di dua ayat ini. Satu ayat saja sudah terdapat 3 macam selisih. Di kitab Samuel yang kedua pasal 10 ayat 18 menyebutkan; yang dibinasakan oleh Daud sebanyak 700 (tujuh ratus) kuda kereta, sedangkan di kitab Tawarikh yang pertama pasal 19 ayat 18 menyebutkan 7.000 (tujuh ribu) kuda kereta. Yang manakah yang benar di dua ayat itu. Di kitab Samuel yang kedua itu juga ada menyebutkan 40.000 (empat puluh ribu) orang berkuda, sedangkan di kitab Tawarikh I, 40.000 orang berjalan kaki. Yang manakah yang benar, 40.000 orang berkudakah yang dibinasakan oleh Daud atau 40.000 orang berjalan kaki. Di kitab Samuel yang kedua itu juga ada menyebutkan panglima perangnya bernama Sobach sedangkan dikitab Tawarikh yang pertama menyebutkan panglimanya bernama Sofach. Yang manakah yang benar, Sobach-kah atau bernama Sofach?

    AW: Sudah cukup puas; saya sudah menyadari dan saya sudah mulai insyaf.

    BM: Mulai sadar dan insyaf yang bagaimana yang saudara maksudkan?

    AW: Jiwa dan kesadaran saya mulai terbuka. Besok malam saya akan lukiskan kandungan hati saya, setelah saya menerima jawaban-jawaban pertanyaan-pertanyaan saya yang lain pada Bapak.

    BM: Baiklah saya persilahkan.

    AW: Apakah sebabnya orang-orang pandai (sarjana) di negeri Barat banyak yang memeluk agama Kristen? Kalau agama Islam suatu agama yang benar dan ajran-ajarannya sesuai dengan Ilmu pengetahuan dan modern, tentunya mereka masuk Islam.

    BM: Sebelumnya saya memberikan jawaban, saya akan bertanya, saudara sendiri termasuk sarjana. Mengapa saudara memeluk (tertarik pada, red) agama Islam?

    AW: Ya, karena hasil diskusi ini yang membawa saya lebih menyelami dan memilih ajaran-ajaran agama Islam.

    BM: Sekiranya tanpa diskusi yang menghasilkan tambahnya meneliti ajaran-ajaran Islam, apakah mungkin saudara menjadi pemeluk agama Islam yang sadar?

    AW: Menurut pikiran saya tidak mungkin.

    BM: Orang-orang di negeri barat yang saudara sebut itu sekiranya seperti saudara pula dalam menganut suatu agama.

    AW: Ya, betul.

    BM: Memang betul, Karena di zaman ini dari mereka ada banyak yang sudah memeluk agama Islam atas hasil penyelidikan dan penelitian yang mendalam.

    AW: Akan tetapi ada orang-orang Islam yang berpindah agama menjadi pemeluk agama Kristen.

    BM: Dari manakah saudara ketahui.

    AW: Di negeri kita sendiri. Buktinya dengan bertambahnya pembangunan Gereja, sekolah Kristen nampaknya sementara senantiasa bertambah jumlahnya.

    BM: Apakah orang-orang Islam yang masuk agama Kristen itu terdiri dari sarjana-sarjana Islam.

    AW: Saya tidak mengetahuinya, hanya dari kata-kata saja. Akan tetapi saya sendiri sampai saat ini belum menemukan malah belum mendengar sarjana-sarjana Islam masuk Kristen.

    BM: Kalau begitu orang-orang Islam di Indonesia yang berpindah agama bukan dari hasil penelitian; jadi masuknya bukan karena keyakinannya.

    AW: Mengapa bapak berpendapat demikian.

    BM: Saudara membuktikan sendiri bahwa orang-orang Islam di Indonesia ada banyak sekali, yang miskin, melarat dan menderita dalam hidupnya. Mereka butuh uang, makan, pakaian dan obat-obatan, Kesempatan ini dipergunakan oleh beberapa orang penganut Kristen untuk mempengaruhi mereka dengan jalan membagi-bagikan makanan, pakaian, obat-obatan dan lainnya kalau tidak keliru.

    AW: Ya, saya pernah baca di majalah Kiblat.

    BM: Di zaman ini ada beberapa orang di negeri barat yang mulanya beragama Kristen setelah menyelidiki dan meneliti ajaran-ajaran Islam, yang menunjukkan kebenaran ajaran Islam mereka berterusterang berpindah menjadi penganut Islam; mereka itu golongan sarjana, malah diantaranya terdapat pendeta Kristen yang menjadi pemeluk agama Islam.

    AW: Betul, saya sendiri pernah membaca di Majalah Kiblat.

    BM: Jadi sudah jelas, bahwa orang-orang di negeri yang beragama Kristen lalu berpindah menjadi pemeluk Islam disebabkan dari hasil penelitiannya tentang kebenaran ajaran-ajaran Islam, umumnya orang-orang yang di negeri barat kalau melakukan sesuatu penelitian dan penyelidikan menggunakan kecerdasan otaknya secara ilmiah. Mereka menjadi penganut Islam dengan kesadaran dan keyakinannya.

    AW: saya menerima keterangan bapak.

    BM: Sedangkan orang-orang Islam di Indonesia yang berpindah agama menjadi pemeluk agama Kristen umumnya bukan dari hasil penyelidikan dan penelitiannya yang tentunya bukan di atas dasar kesadaran dan keyakinannya, melainkan karena perut lapar, karena hidupnya yang Senin Kamis, butuh makan, uang, pakaian, maupun obat-obatan. Dengan keterangan saya ini Saudara bisa bandingkan sendiri sebab musababnya orang-orang Kristen di negeri Barat yang masuk Islam dan orang-orang Islam di Indonesia yang masuk agama Kristen.

    AW: Tetapi tentu ada juga orang-orang Indonesia yang tidak miskin masuk agama Kristen

    BM: Tetapi tentu itu umumnya bukan berasal dari penganut agama Islam, mungkin dari agama yang lain lagi. Jadi masih ada yang akan ditanyakan lagi.

    AW: Ya, sedikit, besok malam saja. Sekarang sudah jauh malam.

    BM: Baiklah, besok malam, agar lebih sempurna.

    ——————————————————————————–

  • ex-Atheis says:

    Aduh… udah dihentikan deh temen-temen… ingat Firman Tuhan ini nggak Matius 7:6 :
    ” Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melempar mutiaramu kepada babi, supaya jagan diinjak-injaknya dengan kakinya….”

    Jangan Firman Tuhan yang kita bagikan ke mereka diinjak-injak! Hati Nurani mereka akan menjadi hakim atas mereka sendiri… biarlah Roh Kudus yang berbicara pada keresahan hati mereka akan keinginan dan keyakinan tentang akan kemana jiwa mereka setelah mati!! OK… so mari kita berdoa buat temen-temen kita yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan!!OK? buat temen-temen Moslem ada web bagus buat anda belajar agama Anda : http://www.the-good-way.com

    Salam!!
    P.S : halo temen-temen yang dah Lahir baru!! keep up the good work in Him yah!! and met ketemu di Surga!!!

  • akuIslam says:

    Islam sebagai agama yang dipilih Allah adalah agama yang ditunjuk Allah bagi penyembah-penyembah-Nya.
    Banyak agama-agama lain, tetapi apakah ada di antara agama itu yang lebih baik dari pada Islam?
    Jika memang ada, apakah yang anda pikirkan tentang ucapan Allah: “Sesungguhnya agama yang diridohi Allah adalah Islam”.
    A.G. Marocco.

    Dalam bukunya, “The spirit of the Islamic Religion”, Afif Tabbara, seorang cendikiawan Islam menjelaskan asal mula kata Al-Islam dari kata “Salima” yang berarti:

    Dibebaskan dan dimerdekakan dari kesalahan-kesalahan yang terbuka atau terselubung.
    Perdamaian kembali dan keselamatan.
    Ketaatan dan penyerahan.
    Pengertian rohaninya dia tidak membatasi diri kepada agama yang diproklamasikan Muhammad, anak Abdullah tetapi ia memasukkan setiap agama surgawi yang menegaskan tentang keesaan Allah.

    Al-Qur’an sendiri menyaksikan kebenaran ini, dengan berkata: “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan bukanlah dia dari golongan orang-orang musyrik” (S.3 Ali Imran 67).

    Seperti diketahui, Abraham hidup ribuan tahun sebelum masa Islam. Namun demikian Al-Qur’an menganggap dia sebagai seorang Muslim, karena dia percaya Allah itu esa.

    Jalaleyan dalam exposisi Al-Imran 67 ini kami membaca: “Ibrahim meninggalkan diri dari semua agama lain untuk memeluk iman yang benar, percaya dalam keEsaan Allah karena ia bukan dari golongan musyrik”.

    Selain itu Al-Qur’an mengindikasikan bahwa kata “Islam” diterapkan juga kepada orang-orang Yahudi, pemilik Taurat, sebagai berikut: “Sesungguhnya, kami telah menurunkan Kitab Taurat berisi petunjuk dan cahaya. Dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri kepada Allah”. (S.5 Al-Maa’idah 44).

    Penafsiran Jalaleyan untuk kata “Aslamtuu” dalam hubungan ini berarti “menyerahkan diri” dalam pimpinan Allah. Hal ini berlaku juga bagi orang-orang Kristen seperti yang dikatakan Al-Qur’an: “Tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka berkatalah dia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah. Kaum Hawariyin menjawab, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah, saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri”. (S.3 Ali Imran 52).

    Para hawariyin disini adalah ke 12 murid Isa yang telah mengikuti dia sejak awal pelayanannya, hal itu terjadi sebelum masa Muhammad beberapa abad yang lampau. Walaupun demikian Al-Qur’an menyebut mereka Islam (penyerahan diri).

    Allah telah menetapkan untuk kamu agama yang sama, seperti yang diwasiatkanNya kepada Nuh dan yang telah kami wahyukan kepada Ibrahim, Musa dan Isa: “Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya”. (S.42 Asy Syuura 13).

    Jadi menurut ayat ini Islam harus percaya kepada Musa dan Isa, sambil menegakkan Taurat dan Injil. Di halaman lain Al-Qur’an memerintahkan umatnya untuk mempercayai agama Ibrahim, Musa dan Isa yaitu agama Taurat dan Injil. Kami dapat membacanya dalam S.2 Al-Baqarah 136 “Katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami. Kepada apa yang diturunkan pada Ibrahim, Ismail, Ishak dan Yakub dan anak cucunya. Kami beriman kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan apa yang diberikan kepada Nabi dari Tuhannya. Kami tidak beda-bedakan yang satu dari yang lain antara mereka dan kami menyerahkan diri kepada (Tuhan)”. Dan S.6 Al-Anaam 89-90: “Itulah orang yang kami beri Alkitab, hikmat dan kenabian. Maka jika (keturunannya) mengingkarinya, Kami percayakan kepada kaum yang tiada mengingkarinya. Mereka itulah (nabi-nabi) yang menerima petunjuk Allah. Maka ambillah teladan akan petunjuk yang mereka terima”.

    “Maka berimanlah sebagian dari bani Israil dan sebagian lagi tiada beriman. Maka kami beri kekuatan kepada orang yang beriman untuk melawan musuh-musuhnya. Lalu mereka menjadi orang-orang yang menang”. (S.61 Ash-Shaf 14c).

    Tujuan utama dari ayat-ayat ini adalah Al-Qur’an mengakui orang-orang Yahudi sebagai pengikut Musa dan kemudian mereka yang mengikuti Al-Masih dengan menyebutnya sebagai “Muslim”. Ayat-ayat ini memerintahkan Muhammad untuk dituntun oleh pengalaman mereka dan memerintahkan dia untuk memohon kepada mereka bagaimana caranya untuk meninggalkan keragu-raguan agama, seperti ada dalam (S.10 Yunus 94): “Maka jika kamu ragu tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, tanyakanlah orang yang membaca kitab sebelum kamu. Kebenaran telah datang kepadamu dari Tuhanmu; Maka janganlah masuk golongan orang yang ragu-ragu”.

    Sahabatku,
    Anda telah mengatakan bahwa Al-Qur’an menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diridohi Allah, tetapi kamu lupa bahwa Al-Qur’an sendiri menegakkan Injil dengan mengatakan dan “Hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya tidak memutuskan perkara dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik”. (S.5 Al-Maidah 47).
    “Wahai orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya dan kepada Kitab yang Allah turunkan sebelumnya.. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat”. (S.4 An-Nisa 136)

    Mungkin dua ayat terakhir akan mendesak anda utnuk mempertimbangkan posisi anda terhadap agama Allah dalam Injil. Sejak Al-Qur’an memerintahkan anda untuk mengikutinya, yang mana diutamakan percaya kepada Al-Masih yang bersabda: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”. (Yoh 14:6).

    “Akulah kebangkitan dan hidup, barang siapa yang percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati”. (Yoh 11;25).

    “Dan tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya. Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, “Aku akan memberi kelegaan kepadamu”. (Matius 11:27-28).

    Sudah jelas tidak ada agama yang lebih mulia selain agama yang mengalir dari Injil yang dicintai Allah. Injil ini dikenal bukan sebagai sebuah surat yang diturunkan Allah ke bumi, tetapi melalui seseorang yang bersifat keallahan yang pada waktu yang tepat, berinkarnasi menjadi manusia untuk menyatakan kasih Allah dalam penebusan dan menyelamatkan dunia oleh anugerahNya.

    Injil bersabda: “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

    Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia.

    Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya. Ia datang kepada milik kepunyaanNya, tetapi orang-orang kepunyaanNya itu tidak menerimaNya. Tetapi semua orang yang menerimaNya diberinya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah yaitu mereka yang percaya dalam namaNya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki melainkan dari Allah.

    Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

    Yohanes memberi kesaksian entang Dia dan berseru katanya: “Inilah Dia yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Karena dari kepenuhanNya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Al-Masih. Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi anak Tunggal Allah yang ada dipangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya”. (Yoh 1:1-18).

    Rasul Paulus, seorang prajurit iman berkata:
    “Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia. Tetapi setelah genap waktunya maka Allah mengutus anakNya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak”. (Galatia 4:3-5).

    Agama Kristen adalah agama penebusan, tanpa penebusan itu seseorang tetap tak berdaya di bawah beban dosa, tanpa pengharapan di dunia dan dimasukkan ke api neraka.

    Tetapi Allah yang maha penyayang merencanakan keselamatan manusia melalui korban kematian Al-Masih sebagai bukti dari KasihNya yang sangat luar biasa dan tidak terbatas itu.

    Al-Masih mengungkapkan kasih ini dengan berkata: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. (Yoh 3: 16).

    Agama Budha berkata: “Kebaikan dan keadilan/kebajikan merupakan jalan menuju Nirwana (surga) yang terbesar adalah kebaikan”.
    Agama Yahudi berkata: “Musa menuliskan kebenaran Hukum, barangsiapa memeliharanya akan hidup oleh hukum itu”.
    Agama Islam berkata: “Berat pada hari itu adalah kebenaran. Mereka yang beratnya lebih besar adalah yang sukses”.

    Semua ungkapan-ungkapan ini sungguh indah, tetapi semuanya mengharuskan manusia berbuat sesuatu tetapi manusia tidak sanggup melakukannya. Hal ini seperti menyuruh orang lumpuh berjalan atau orang mati untuk hidup.

    Berkenan dengan kebenaran ini Raja Daud berkata dengan ilham Roh Kudus: “Tuhan memandang ke bawah dari surga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan mencari Allah. Mereka semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak”. (Mazmur 14:2-3).

    Untuk mentaati Hukum, perintah Allah yang pertama dan yang utama ialah memerintahkan manusia: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan perintah kedua ialah kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. (Lukas 10:27).

    Pengalaman mengajar kita bahwa tidak ada satu manusia pun yang sanggup memenuhi Hukum tersebut. Berdasarkan alasan inilah semua manusia yang berusaha melakukan Hukum tersebut jatuh di bawah kutukan seperti tertulis dalam Alkitab:
    “Karena semua orang yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis “Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat”. (Galatia 3:10).

    Mengenai amal kita, tentang timbangan, melalui hambanya Daud Allah bersabda: “Hanya angin saja orang-orang yang hina, suatu dusta saja orang-orang yang mulia. Pada neraca mereka naik ke atas, mereka sekalian lebih ringan dari pada angin”. (Mazmur 62:10).
    Nabi Yesaya bersabda: “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin”. (Yesaya 64:6).

    Rasul Paulus berkata:
    “Tidak seorangpun berakal budi, tidak seorangpun” mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak”. (Roma 3:11-12).
    Memang benar bahwa Hukum Taurat itu kudus dan perintahnya suci, adil dan benar, tetapi tidak dapat memberikan keselamatan total bagi manusia berdosa.
    “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus AnakNya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh” (Roma 8:3-4).

    Hal inilah yang membedakan iman Kristen. Kepercayaan inilah merupakan agama penebusan yang tidak membiarkan manusia kehilangan keselamatannya. Karena Allah telah membuat perjanjian dengan manusia berdasarkan kasih karunia, apabila manusia menanggapi pengorbanan Al-Masih di kayu salib.

    Karena Hukum Taurat tidak mampu membebaskan manusia dari kuasa dosa dan maut ataupun gagal untuk menyelamatkan dan menguduskan atau membuat manusia tetap dalam Kerajaan Allah. Maka Al-Masih dari surga berinkarnasi menjadi manusia untuk mempersembahkan dirinya sebagai korban penghapus dosa, menghancurkan dosa mematahkan kuasa dosa atas manusia dan menanggung hukuman ganti manusia. Dengan karya penebusan dan penggantian ini, Ia memenuhi semua tuntutan Hukum Taurat dan menggenapi nubuatan:
    “Tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”. (Yesaya 53: 4-6).

    Mungkin anda sulit untuk menerima gagasan penebusan yang demikian karena gagasan ini berdasarkan pada kematian Al-Masih yang memalukan di kayu salib. Itulah yang menjadi persoalan sehingga sering ditolak dan diserang oleh Muslim. Tetapi bukti Al-Masih wafat oleh penyaliban itu banyak dan tidak terbantahkan. Saya sudah mengumpulkan semua fakta tentang penyaliban di dalam buku “Salib dalam Injil dan Al-Qur’an” yang bisa dipesan dari JALAN AL RAHMAT.

    Di antara pengenalan akan iman dari Injil adalah ajaran-ajaran sosial yang luhur dan yang pantas bagi setiap generasi, umur, manusia, bahasa dan bangsa. Ajaran-ajaran didasarkan atas dasar “Hukum Emas” yang diletakkan oleh Al-Masih. Dia bersabda: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”. (Matius 7:12).

    Ajaran ini melarang pementingan diri yang picik, kebencian, dendam, tipu daya, ketidakjujuran, penipuan dan membangun kesatuan umat manusia, kesatuan semua anggotanya dan menuntut bahwa setiap umat untuk saling memberi/mencari kesejahteraan bersama.

    Ajaran singkat ini kalau dipelihara akan meniadakan dan mengakhiri perselisihan dan peperangan dan akan membuat dunia ini sebagai Firdaus kebahagiaan.

    Karena ajaran-ajaran itu adalah penyulingan dari ajaran-ajaran hukum para Nabi, sebab tujuannya ialah membuat manusia saling mengasihi seperti dirinya sendiri.

    Sebenarnya ajaran mulia ini, mengajarkan bagaimana kita memenuhi perintah Allah yang bersabda “Hendaklah kamu mengasihi musuhmu seperti dirimu sendiri”. Rasul Paulus memberikan komentarnya: “Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat”. (Roma 13: 8-10).

    Dan agar supaya Al-Masih dapat menghapuskan dari jiwa-jiwa orang-orang pilihanNya segala pengaruh -pengaruh yang menghindari manusia untuk mencapai puncak kasih yang mulia ini, ia berkata kepada mereka: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudara saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna”. (Matius 5: 44-48).

    Kemudian prinsip-prinsip ini, di dalam transdensinya memiliki panjang, lebar, dan dalamnya mendemonstrasikan kelebihan mereka terhadap kasih dan kebajikan yang didasarkan pada prinsip-prinsip kasih diri sendiri yang slogannya adalah mengharapkan balas budi. Karena itu, Al-Masih mengajarkan mengasihi untuk kepentingan kasih itu sendiri dan menginginkan kesejahteraan orang lain dan berpegang teguh pada kebenaran dan kebaikan demi kebenaran dan kebaikan itu sendiri.

    Murid-murid Al-Masih menjelaskan ajaran Gurunya tentang kasih dalam tafsiran yang indah sekali dan diilhami Roh Kudus, seperti:

    1. Rasul Yohanes:

    “Saudara-saudara yang kekasih bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya. Barang siapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barang siapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barang siapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya”. (1 Yoh 2: 7-11).

    “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus AnakNya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup olehNya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang mengasihi kita dan yang telah mengutus AnakNya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan KasihNya sempurna di dalam kita. Demikianlah kita ketahui, bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan Dia di dalam kita: Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian dalam RohNya. Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus AnakNya menjadi Juruselamat dunia. Barangsiapa mengaku, bahwa Al-Masih adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita.
    Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dalam kasih inilah Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, Ia tidak sempurna di dalam kasih.

    Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata ‘Aku mengasihi Allah’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: “Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus mengasihi saudaranya”. (1 Yoh 4: 7-21).

    2. Rasul Petrus:

    “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu”. 1 Petrus 1: 22).

    “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab menutupi banyak sekali dosa”. (1 Petrus 4: 7-8).

    “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita”. (2 Petrus 1:5-8)

    “Dan di atas semuanya itu; kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kolose 3: 14).

    3. Rasul Paulus:

    “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

    Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

    Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak berdukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

    Kasih itu tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. ( I Kor 13:1-8).

    Inilah Kristen yang sejati. Inilah agama yang berdasarkan roh penebusan, mengampuni kesalahan 70×7 kali setiap hari.

    Inilah agama Kristen, yang menonjol di antara agama-agama dunia. Karena kebaikan darah Al-Masih “Lebih berperan dibandingkan darah Habel”. Darah Habel berbicara kepada Tuhan untuk balas dendam, tetapi darah Al-Masih berbicara untuk memohon pengampunan Allah atas orang-orang yang menyalibkanNya.
    Kita telah membaca bahwa Al-Masih berseru di atas kayu salib “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. (Lukas 24: 34).

    Pertanyaan:
    Table of Contents

    Islam adalah wahyu terakhir dan adalah agama untuk semua umat manusia berlaku pada setiap waktu dan tempat, tidak seperti agama Kristen yang terbatas hanya pada kesalehan dan kehidupan biara.

    Karena itu anda ditantang untuk berpikir, dan berusaha dan membandingkan antara Al-Qur’an dan apa yang anda sebut sebagai Injil.

    Kami merasa bahwa Al-Qur’an itu adalah firman Allah, kiranya Dia ditinggikan, sedangkan Injil terdiri dari perkataan manusia, seperti tulisan Paulus dan Yohanes dll.

    Akhirnya, saya ingin mengajak anda menuju jalan lurus karena untuk karangan kacau semacam itu (yang tak masuk akal) tak dapat lepas dari peringatan.

    Anda telah berusaha berkali-kali dan untuk menarik orang-orang Muslim, tetapi anda gagal memenangkan seorangpun, sedangkan banyak orang Kristen masuk memeluk Islam.

    A.A.A.
    Arab Saudi

    Dari ekspresi surat anda, cukup jelas bahwa anda seorang yang sangat bersemangat terhadap agama. Bagi seorang muda sangat baik sepanjang semangat ini tidak membawa dia melampaui batas-batas yang ditetapkan dalam berdialog antara seorang Muslim dan Kristen.

    Apabila anda menantang kepercayaan “orang Ahli Alkitab”. Dengan cara demikian anda melanggar amanat Al-Qur’an: “jangan berdebat dengan para ahli kitab melainkan dengan cara yang paling baik”. (S.29 Al Ankabuut 46).

    Tentu saja, semangat anda yang berlebihan telah menempatkan anda di suatu sudut di mana anda tidak dapat mengerti maksud Injil. Karena itu saya tidak terperanjat apabila anda memandang traktat-traktat yang kami kirim kepada anda sebagai sampah atau omong kosong belaka.

    Saya tidak ingin masuk dalam suatu perdebatan tentang pernyataan anda bahwa Islam adalah wahyu Allah terakhir. Tetapi saya ingin menarik perhatian anda kepada masalah kebenaran yang sangat penting yaitu pernyataan anda yang menyatakan Islam telah menggantikan semua agama termasuk agama Kristen. Pernyataan anda itu bertentangan dengan Al-Qur’an yang menegaskan dan memperkuat adanya agama Taurat dan Injil.

    Mungkin anda memperoleh pandangan ini dari buku yang berjudul “Guidance of Seekers, into the Origins of Religion” oleh Mawia Mohammad Takieddine Al Kashani, seorang Persia yang berkata bahwa Muhammad adalah nabi sebelum zaman ini dan agamanya telah membatalkan semua agama dan Nabi-nabi sebelumnya.

    Menjawab pernyataan seperti ini, saya ingin katakan bahwa Al-Qur’an sendiri tidak menyatakan Al-Qur’an diturunkan untuk menggantikan Taurat dan Injil, juga Hadits Nabi tidak pernah berbicara dalam arah ini. Berarti pernyataan anda itu lucu dan lemah, tidak berdasar, sekedar gagasan untuk mencemooh dan membangkitkan fanatisme. Meskipun pernyataan ngawur ini tidak mengubah pengajaran Al-Qur’an tetapi paling tidak mengacaukan dan mengajarkan sesuatu yang tidak termuat di dalamnya.

    Setiap orang tahu bahwa pembatalan (sesuatu menggantikan yang lain) secara khusus berlaku bagi Al-Qur’an dan terdapat dalam 2 tempat.

    S.2 Al Baqarah 106.
    “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan atau Kami jadikan manusia lupa kepadanya. Kami datangkan yang lebih baik dari padanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu ?”.
    S.22 Al Hajj 52.
    “Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak pula seorang nabi ….. melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh syiatan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayatNya. Dan Allah Maha mengetahui, lagi Maha bijaksana”.

    Ayat-ayat itu tidak menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk membatalkan Alkitab, tetapi ayat itu membatalkan ayat lain dalam Al-Qur’an itu sendiri.

    Cendikiawan Al-Bardawi telah memberikan bahasan yang lengkap tentang pembatalan ini dari surat Al Haj dan menyebutkan bagaimana beberapa surat Al-Haj telah dibatalkan.

    Cendikiawan yang lain juga telah memperlihatkan gejala ini seperti Yahya dan Jalal Ed Din. Mereka membahas kehidupan Nabi dari Ibnu Hisham, sampai Ibnu Ishaq. Penulis lainnya, Al-Tabari membahas masalah ini dalam penafsiran yang lebih luas.

    Ibnu Hatem mendasari keterangan dari Ibnu Abbas yang menyatakan: “Tidak mungkin Ilham itu turun kepada nabi di waktu malam dan hari berikutnya dia lupa. Dan kemudian ayat itu diturunkan untuk membatalkan atau melupakan”.

    Begitu juga Al-Baidani, ia berkata ayat ini diturunkan ketika penyembah-penyembah berhala (kafir) atau Yahudi menuduh: “Tidakkah anda melihat bahwa Muhammad memerintahkan pengikut-pengikutnya kemudian ia berubah pikirannya dan memerintahkan kebalikannya”. Jadi, kejadian dari ayat ini adalah jelas untuk menjawab keragu-raguan tentang tulisan dan keraguan orang-orang Muslim berhubungan dengan perubahan ayat dalam isi Al-Qur’an itu sendiri.

    Lebih lanjut, Jalaleyn mengemukakan penafsirannya: “Nabi sedang membaca surat Al-Najm di hadapan sebuah sidang. Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al-Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian”. (S.53 An Najm 19-20).

    Setan telah memasukkan ucapannya pada titah nabi tanpa disadarinya. Semua makhluk surgawi tersebut kelihatan muda rupawan, kami berharap mereka akan memohon pengampunan bagi kami. Ini membuat mereka bahagia. Tetapi Jibril memberitahukan kepada Nabi bahwa Setan telah menggunakan lidahnya. Ia menyesal dan berusaha menghibur mereka dengan ayat-ayat. Tetapi Allah telah membatalkan apa yang telah setan buat dst. Menurut Al-Sayauti, pembatalan merupakan sesuatu yang khas bagi bangsa ini, yaitu Islam.
    Kesimpulan yang kami tarik dari penjelasan-penjelasan yang dibuat oleh para ahli itu pernyataan Al-Qur’an menggantikan Injil atau Islam menggantikan agama lain tidak beralasan.

    Dalam bukunya “Revealing the Truth” Al-Hajj Rahmat Allah Al-Hindi berkata, “Pendapat yang mengatakan bahwa Taurat dibatalkan oleh adanya Zabur dan Zabur dibatalkan ketika Injil hadir dan Injil dibatalkan Al-Qur’an tidak memiliki alasan baik dalam Al-Qur’an maupun Hadits”.

    Sungguh benar ucapan ahli ini, Al-Qur’an itu bertentangan dengan penganjur “pembatalan” dan menolak klaim mereka. Al-Qur’an berkata: “Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya”. (S.42 Asy Syuura 13).
    Dengan demikian anda melihat, sahabatku, bahwa anda sedang menyerang agama Islam sendiri dengan menyatakan agama surgawi sebelum Islam telah dibatalkan.
    Disamping itu dapatkah anda menjelaskan kepada saya bagaimana menikmati apa yang kamu percaya pada isi Al-Qur’an, kemudian membuat suatu pernyataan yang tidak berdasarkan fakta kebenaran?

    Apakah anda sudah lupa, bahwa Al-Qur’an memanggil anda bersama setiap orang Arab untuk berpedoman kepada ajaran-ajaran Ahli Alkitab, karena Al-Qur’an berkata: “Allah hendak menerangkan hukum, syariatNya kepadamu dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan hendak menerima taubatmu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana”. (S.4 An Nisaa 26).

    Sebaliknya, anda seharusnya bertanya dapatkah agamaku menggantikan selama Al-Qura menyuruh Muhammad sendiri mengikuti petunjuk Alkitab, ketika Al-Qur’an berkata: “Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan Alkitab, hikmat dan kenabian. Jika orang-orang itu mengingkarinya maka Kami akan serahkan kepada kaum yang tidak mengingkarinya.
    Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuknya”. (S.6 Al An’aam 89-90).

    Sebaliknya anda seharusnya bertanya bagaimana mungkin agamaku digantikan agama lain selama Al-Qur’an menganjurkan Muhammad supaya ia meminta pertolongan orang-orang sebelumnya apabila ia ada dalam keragu-raguan, seperti Al-Qur’an berkata: “Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu”. (S.10 Yunus 94a).

    Coba ceritakan bagaimana mungkin agama Islam menggantikan agama sebelumnya, sebab Al-Qur’an justru menyuruh kita untuk meneguhkan pemberitaan Injil. Al-Qur’an menulis: “Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang fasik”. (S.5 Al Maaidah 47).

    Salah satu keistimewaan yang dapat membedakan Alkitab adalah kenyataan ajaran pada surat-suratnya menunjukkan suatu harmoni dan bergerak menuju satu arah yaitu tentang pernyataan maksud Allah. Bagi manusia hal itu tidak ada dan tidak perlu adanya pembatalan ataupun suatu pemeriksaan pembatalan di antara ajaran-ajarannya.

    Kitab Allah adalah Kitab untuk semua generasi dan segala zaman. Dan agama yang diabadikan merupakan agama Allah dari kekal sampai kekal dan di dalamnya ada pernyataan surgawi.
    “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataanKu tidak akan berlalu”. (Matius 24: 35).
    Dan bukankah Al-Qur’an sendiri berkata dalam S.6 Al An’aam 34b “Tak ada seorangpun yang dapat merubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah”. Dan dalam S.10 Yunus 64 “Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah”. Dan dalam S.15 Al Hijr 9 “Sesungguhnya kami yang menurunkan Alkitab dan kami pulalah yang memeliharanya”. Dalam S.16 An Nahl 43 kita dapat juga membaca: “Bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”.
    Ayat-ayat ini membuat kita bertanya: Seandainya sekelompok Muslim yang saleh dan yang setia menerapkan Al-Qur’an dan pergi kepada Ahli-ahli Alkitab untuk bertanya mengenai berbagai masalah rohani yang belum mereka ketahui.

    Dalam perjalanan mereka bertemu dengan kelompok lain yang menuntut “pembatalan”. Mereka bercerita “Kami akan pergi kepada ahli-ahli Alkitab untuk menanyakan perihal yang tidak kami ketahui”.

    Saya meragukan apakah kelompok lain, yang menantang berani membalas: “Jangan pergi, karena Alkitab mereka telah dibatalkan”.

    Dan seandainya meeka berani melarang, apa jadinya kedudukan mereka yang saleh itu? Apakah mereka akan mempercayai kelompok yang lain tersebut atau mempercayai Al-Qur’an yang berkata: “Tanyalah para ahli Alkitab apabila kamu ada dalam keragu-raguan”.

    Tentu saja, kalau mereka menerima tuntutan kelompok pembatalan tersebut akan menimbulkan suatu pengakuan kepada pihak mereka bahwa Allah telah gagal memelihara janjinya yang berkata: “kami menurunkan Alkitab dan kami akan menjaganya (memelihara)”.

    Saya tidak akan menyalahkan anda apabila anda menganggap bahwa kekristenan adalah agama penyembahan dan kepercayaan yang berkaitan dengan biara. Ungkapan ini menunjukkan pengetahuan anda tentang kekristenan masih terbatas.

    Untuk kepercayaan yang berhubungan dengan biara ini bukanlah pokok yang penting dari Injil, tetapi tumbuh sebagai usaha manusia dan saya tidak dapat memberikan penjelasan karena keterbatasan ruangan ini.

    Nah kalau begitu apa yang akan saudara katakan, jika saya mengambil usaha dari beberapa kelompok Islam Moderat yang tidak terlalu berpegang penuh kepada Al-Qur’an untuk menyerang dan mengkritik Islam sendiri?

    Apakah wajar? silahkan jawab sendiri. Sebagaimana pernyataan yang anda kemukakan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah sedangkan Injil terdiri dari perkataan-perkataan manusia seperti Paulus dan Yohanes. Ungkapan menunjukkan bahwa pengetahuan anda tentang kekristenan masih kurang.

    Cobalah mengerti sahabatku bahwa inti ajaran Injil bukanlah perkataan yang ditulis Paulus atau Yohanes. Bukanlah pula perkataan yang diilhamkan langsung oleh malaikat Jibril dan kemudian ditulis oleh manusia.
    Tetapi Injil adalah seorang pribadi Ilahi yang menjadi manusia seutuhnya dalam kegenapan waktu untuk menyatakan bahwa Allah itu kasih. Selanjutnya, perwujudan kasih inilah Dia mengerjakan penebusan untuk menyelamatkan dunia melalui kasih karunia.

    Sambil menanti penerimaan isyarat yang ramah dari anda, kami mengucapkan kiranya kebaikan dan damai sejahtera Allah beserta anda. Kami berdoa khusus bagi anda kiranya kasih anda akan bertumbuh, mungkin kasih ini akan membuat anda untuk lebih menerima dan percaya kepada kami. Mungkin kasih ini akan membuat anda menyelidiki kebenaran secara lebih teliti dan cerdas. Kemudian anda akan menguji semuanya dan memegang kebenaran yang sempurna.

  • tn_yesus says:

    EPISODE 9

    PERTEMUAN YANG KESEMBILAN
    MASUK ISLAM
    BM: Pertemuan kita sudah berlangsung beberapa kali dan berjalan lancar. Pada pertemuan yang sekarang ini, apakah masih ada pertanyaan-pertanyaan saudara yang akan diajukan.

    AW: Sejak siang tadi, saya telah pikirkan dan pertimbangkan secara mendalam tentang hasil-hasil pertemuan kita yang menimbulkan kesadaran saya untuk menentukan pendirian saya agar memilih agama yang mana yang harus saya ikuti.

    BM: Alhamdulillah, kalau saudara sudah dapat menentukan sendiri. Jadi bagaimana kepercayaan saudara sekarang ini terhadap Trinitas (Tuhan Bapak, tuhan Anak dan Ruhul Kudus).

    AW: Memang soal inilah yang sedang saya renungkan sejak tadi siang, oleh karena saya masih merasa terikat oleh satu “Patokan” yang hingga saat ini belum dapat saya pecahkan. Padahal keterangan bapak sangat memuaskan sejak semula kita bertemu.

    BM: Sekiranya saudara tidak berkeberatan, cobalah saudara terangkan. Mungkin saya dapat membantu saudara.

    AW: Ialah soal Trinitas. Soal ini masih berbekas dalam jiwa saya.

    BM: Baiklah, saudara terangkan saja.

    AW: Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Rohul Kudus itu walaupun tersusun dari tiga oknum, tetapi tetap pada hakekatnya Tunggal juga. Karena yang satu tidak dapat terpisah dengan yang lain. Persoalan inilah yang masih berbekas dalam keyakinan saya. Sedangkan soal-soal lain, mengenai ayat-ayat di Bibel, dosa waris, kebenaran Al-Qur’an, Kebenaran Nabi Muhammad selaku utusan tuhan, teristimewa perselisihan ayat-ayat di Bibel dan keterangan-keterangan serta penjelasan-penjelasan bapak yang berdasarkan fakta objektif dan interesant itu bagi saya sudah beres dan saya menyerah.

    BM: Baiklah, lanjutkan.

    AW: Tetapi soal Trinitas itu masih terlukis saja dalam keyakinan saya. Sehingga belum dapat secara bulat (ikhlas) bagi saya untuk mengorbankan keyakinan saya begitu saja tanpa penjelasan-penjelasan yang cukup luas yang sungguh mengatasi keyakinan saya.

    BM: Jadi yang tiga oknum itu, saudara masih mempercayai bahwa ketiga-tiganya itu adalah Tuhan semuanya.

    AW: Ya, begitulah, tetapi sudah mulai tipis.

    BM: Jadi Tuhan Bapak itu Tuhan?

    AW: Ya.

    BM: Tuhan Anak, Yesus, apakah Tuhan?

    AW: Ya.

    BM: Apakah Rohul Kudus juga Tuhan?

    AW: YA, semuanya tiga tetapi tetap satu (tunggal), seperti telah saya terangkan tadi. Supaya lebih jelas, saya buatkan misal.

    BM: Baiklah, silahkan saudara buatkan misal.

    AW: Bapak sekarang sedang menghisap rokok

    BM: Ya sekarang sedang merokok. Saudara-saudara yang hadir melihat juga. Saya sekarang sedang merokok.

    AW: Rokok yang bapak isap itu, terdiri dari tiga susunan ialah: Batang Rokoknya, Apinya, Merah api pada rokok

    BM: Ya betul, teruskan.

    AW: Batang rokok, apinya dan merahnya itu menjadi satu juga walaupun terdiri dari pada 3 susunan, akan tetapi pada hakekatnya satu juga, ialah rokok, ketiganya tidak dapat terpisah, melainkan berpadu menjadi satu (tunggal). Demikian juga halnya dengan Trinitas itu.

    BM: Misal atau perumpamaan yang saudara berikan walaupun dianggap benar, tetapi tidak tepat.

    AW: Jadi bagaimana, saya minta dibantah kalau tidak tepat.

    BM: Saya tidak akan membantah, malah saya hargai pendapat saudara itu. Saya hanya ingin bertanya mengenai perumpamaan yang saudara kemukakan tadi. Tetapi pertanyaan saya ini, minta diberi jawaban yang tepat.

    AW: Baik, semoga saya bisa menjawabnya.

    BM: Tadi saudara memberikan perumpamaan tentang rokok dalam hal persamaan dengan Trinitas.

    AW: ya, betul begitu.

    BM: Saya ingin bertanya, dan saya sekarang sedang merokok. Apakah batang rokok ini, rokok-kah atau bukan.?

    AW: Ya. Betul batang rokok

    BM: Apakah apinya rokok ini, rokok-kah atau bukan?

    AW: Bukan.

    BM: Apakah merahnya api pada rokok ini rokok-kah atau bukan?

    AW: Bukan.

    BM: Nah, sekarang saya tanyakan lagi: Apakah Tuhan Bapak itu Tuhan atau Bukan?

    AW: Ya, betul Tuhan.

    BM: Apakah Anak Tuhan (Yesus) itu Tuhankah (Tuhan bapak) atau bukan?

    AW: Bukan

    BM: Apakah Rohul Kudus itu Tuhankah atau bukan?

    AW: Mestinya bukan juga.

    BM: Kalau saudara mengatapan apinya rokok itu bukannya Rokok dan merahnya rokok ini bukan rokoknya, maka jelaslah bahwa Yesus itu bukan Tuhan dan Rohul Kuduspun bukan Tuhan.

    AW: Ya,

    BM: Kecuali sekiranya saudara ada menyebutkan: Apinya rokok ini adalah rokok, maka adalah saudara berkata: Yesus itu adalah Tuhan dan Rohul Kudus itu pun Tuhan juga.

    AW: Ya, betul tepat sekali jawaban bapak.

    BM: Sekarang bagaimana kepercayaan saudara, apakah Yesus itu Tuhan atau bukan.

    AW: Bukan!

    BM: Apakah Rohul Kudus itu Tuhankah atau bukan.

    AW: Terang bukan Tuhan!

    BM: Kalau begitu masihkah saudara berkeyakinan terhadap Trinitas.

    AW: Sudah Lenyap!

    BM: Kalau sudah lenyap, lantas bagaimana?

    AW: Ya, keyakinan saya sekarang, hanya ada SATU TUHAN.

    BM: Jadi saudara mempercayai bahwa TUHAN TUNGGAL?

    AW: Seharusnya demikian; saya percaya bahwa Tuhan itu Tunggal, Tidak ada Tuhan yang lain lagi.

    BM: Yang dimaksudkan Tuhan oleh saudara, apakah Tuhan Allah atau bagaimana?

    AW: Tentu saja Tuhan ALLAH

    BM: Pada pertemuan yang lalu, saudara telah mengaku kebenaran Nabi Muhammad SAW selaku utusan Allah.

    AW: Ya, saya tidak berdusta

    BM: kalau begitu saudara telah mengakui bahwa: “Tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah Utusan Allah.”

    AW: Betul, saya mulai saat ini masuk Islam, menjadi penganut Agama Islam, dan termasuk ummatnya Nabi muhammad SAW.

    HADIRIN DENGAN SUARA SERENTAK: Alhamdulillah, Alhamdulillah, saudara Antonius sekarang menjadi saudara kita.

    BM: Saudara yang hadir ikut menyaksikan sendiri, bahwa pada malam ini tangal 18 Maret 1970 jam 10.15 menit malam, saudara Antonius telah masuk Islam.

    HADIRIN: Kami telah menyaksikan.

    BM: Saya minta saudara Antonius membacakan “Kalimah Syahadah,” saya bacakan dulu lalu saudara diharap mengikutinya menyebutkan pengakuan.

    “Asyhadu Anlaa ilaa ha Illallah Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah.”

    Tahukah saudara artinya?

    AW: Ya, tetapi sebaiknya saya minta dituntun membacanya, pertama-tama bapak, supaya tidak keliru. “Saya menyaksikan bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan saya mengaku sesungguhnya Nabi Muhammad adalah Pesuruh Allah.”

    BM: Betulkah saudara-saudara yang hadir?

    HADIRIN: Betul. Cukup, sudah sah Islamnya.

    BM: Marilah kita bersama-sama berdo’a dan memanjatkan syukur kehadirat Allah SWT dan diharap saudara Antonius dan saudara-saudara yang hadir semuanya mengucapkan Amien. Setelah doa dibacakan, saya harap saudara-saudara yang hadir berjabatan tangan dengan saudara Antonius selaku saudara kita yang baru. Apakah nama saudara Antonius masih ada lanjutannya.?

    AW: Nama saya yang sebenarnya “Antonius Widuri.”

    BM: Bolehkah saya tambah tanpa mengubah nama yang asal (aslinya)?

    AW: Ya, saya setuju.

    BM: Saya tetapkan nama saudara sekarang “Antonius Muslim Widuri.” Jadi ditambah dengan kata Muslim.

    AW: Saya terima namanya menjadi namanya dan cocok buat saya.

    BM: Saudara-saudara yang hadir tentu sudah mendengar juga tambahan nama ini.

    HADIRIN: Nama itu wajar dan cocok, bagus.

    BM: Bersediakah saudara melakukan Shalat, Puasa, Zakat dan ajaran-ajaran Islam lainnya?

    AW: Selaku seorang Islam, saya wajib mentaati ajaran-ajaran Islam menurut kemampuan (kemampuan saya).

    BM: Terima kasih. Apakah saudara ingin memberikan sekedar sambutan atau menyampaikan beberapa buah kata besok malam, karena ada kawan yang akan mengadakan sekedar selamatan?

    AW: Baiklah, saya penuhi besok malam.

  • tn_yesus says:

    TUJUH KEBENARAN ISLAM YANG MUTLAK.

    Doctor Verkuyl, Doctor Kraemer, Rifai Burhanuddin lupa, demikian pula dengan Pater Grunnen, bahwa ada tujuh kenyataan mutlak yang dipunyai oleh Islam, yang tidak dapat dibantah oleh siapapun juga. Ia tidak dapat dibantah oleh sejarah, ia juga tak dapat dibantah oleh Ilmu pengetahuan, ia tidak terpengaruh oleh situasi dan kondisi, oleh iklim dan masa. Mereka, pendeta-pendeta dan pastor-pastor lupa, demikian pula sarjana-sarjana orientalis barat bahwa:
    1. Qur’an dengan bahasanya yang tetap sepanjang masa dan sama dimana-mana telah sanggup menciptakan iklim keIslaman yang merata mutlak. Ia akan dimengerti di Amerika, demikian juga di Inggris. Bila ia dibacakan di Jepang, maka ia juga dipahami oleh orang-orang India dan Pakistan, dan bila ia dibaca di negeri Belanda, maka Mesir, Libya, Indonesia akan
    mengerti, setidak-tidaknya mengenali bahwa itulah ayat-ayat Al Qur’an. Qur’an tidak pernah dirubah bahasanya dan ini saja sudah dapat dijadikan pegangan, bahwa isinya authentik asli. Beda dengan Injil yang telah melalui sedemikian banyak
    terjemahan, sehingga keaslian kata-kata mungkin telah menyimpang dari maksud semula. Ia disalin dari bahasa Ibrani ke bahasa Gerika, lalu ke bahasa Latin, dari Latin oleh Marthen Luther pada tahun 1521 disalin ke bahasa Jerman. Dari Jerman disalin pula ke dalam bahasa Inggris, Belanda,
    Indonesia, Jawa, Minang, Timor dst. Sambil menyalin, maka atas pertimbangan politik(?) sipenyalin menterjemahkannya pula menurut “situasi dan kondisi” setempat. Kita lihat
    misalnya, kalau didalam Injil bahasa Belanda dan Inggris syarat masuk surga adalah Door bidden en fasten atau by praying and fasting, maka didalam Injil bahasa Indonesia mereka mencukupkan hanya dengan doa, sedangkan fasting atau fasten atau puasanya dihilangkan.

    2. Al-Qur’an tidak bertentangan dengan Ilmu pengetahuan. Bacalah theorie La Place & Chamberlin, bacalah theorie kejadian bumi, maka Chamberlin menyebutkan: Bahwa bumi kita ini ialah terjadi dari gumpalan-gumpalan kabut yang
    bergulung-gulung semakin lama semakin padat, sehingga berpijar, dan kemudian mati pijarnya, lalu tumbuhlah kehidupan. Lalu cobalah kita buka Al-Qur’an surat tertulislah disana theorie itu: “Dan ingatlah ketika Aku menciptakan bumi ini dari suatu hamparan yang lalu bergulung-gulung.” Qur’an surat Nuh 14 menulis tentang adanya tingkatan-tingkatan kejadian dari manusia, surat Al
    An’am 97 memuat theorie Astronomi. Dalam surat-surat yang lain dimuat pula theorie perkawinan tanam-tanaman (botani). Qur’an tidak serupa dengan Perjanjian Lama yang menolak theorie Galileo Galilei, Islam tidak seperti Kristen yang
    telah begitu banyaknya membunuhi kaum cerdik pandai seperti Galileo Galilei, Johannis Heuss dan sebagainya.

    3. Al-Qur’an tidak menentang fitrah manusia. Itulah sebabnya didalam Islam tidak diakuinya hukum Calibat atau pembujangan. Manusia dibuat laki-laki dan perempuan adalah untuk kawin, untuk mengembangkan keturunan. Maka itu ajaran Paulus yang mengatakan bahwa ada “lebih baik” laki-laki itu membujang seperti aku dan perempuan itu tidak kawin, ditentang oleh Islam. Bukankah monogami akhirnya melibatkan dunia Kristen dalam lembah pelacuran? Bukankah orang-orang Italia yang monogami itu akhirnya mempunyai juga istri-istr yang gelap? Dan bukankah Amerika, Swedia dll. akhirnya menjadi bejat akhlaknya sebab mempertahankan monogami? Maka dunia akhirnya menetapkan: Poligami adalah bijaksana. Poligami mencegah manusia daripada zinah dan pelacuran. Tidak heran bila surat An Nisa ayat 3 kemudian membolehkan orang untuk Poligami, yaitu poligami yang terbatas: 4.

    4. Qur’an udak bertentangan dengan aqal dan fikiran manusia. Itulah sebabnya Islam sangat menghargai akal dan fikiran yang sehat. Kaidah Islam tidak dapat menerima doktrin “Tiga tetapi satu,” sebab tiga tetapi satu bertentangan dengan ratio. Ummat Islam sama sekali tidak dapat memahami bagaimana Paus, seorang manusia, dapat menjabat Wakil Tuhan(Ficarius Filii Dei). Paus mewakili urusan Allah untuk dunia ini, memberikan amnesti, abolisi dan grasi atas ummat
    manusia yang berdosa dengan mandaat epenuhnya dari Allah. Demikian pula, kalau kami yang tidak tahu menahu akan perbuatan Adam harus memikul dosa Adam. Dan akal lebih tidak
    bisa menerima lagi, kalau Allah yang pengasih penyayang itu akhirnya lalu menghukum mati anaknya sendiri demi menebus dosa Adam dan anak cucu Adam. Maka itulah Islam tidak mengakui dosa keturunan, juga tidak mengakui adanya “Sakramen pengakuan dosa” yang emanjakan manusia dan mengajar manusia untuk tidak bertanggung jawab itu.

    5. Islam tidak bertentangan dengan sejarah. Islampun dengan sendirinya tidak mendustai sejarah. Putih hitamnya sejarah Islam, diakuinya dengan jujur. Ia, misalkan mengalami tragedi pahit seperti “Night of St. Bartolomeus” pastilah ia
    mengakui, dan ummatnya mengetahui. Islam selalu sesuai dengan situasi d.an kondisi, ia bukannya menyesuaikan diri, tetapi diri (dunia maksudnya) yang harus menyesuaikan
    dengannya.

    6. Oleh sebab itulah maka Islam tetap bertahan. Ia selalu maju seirama dengan kemajuannya zaman. Empat belas abad sudah lamanya Islam tetap dalam suatu kesatuan syareat dan hakekat. Seribu empat ratus tahun lamanya hukum-hukumnya, undang-undangnya, shalat dan kiblatnya, puasa dan hajinya tetap berjalan. Ia tidak ambruk setelah ilmu pengetahuan lebih maju, ia juga tidak colaps menghadapi kebangkitan
    humanisme dan sosialisme. Adapun atau kalaupun dikatakan mundur, sebenarnya ialah ummat artinya orang-orangnya apakah itu person atau kelompok. Mengapakah ummatnya mundur? Sebab
    ia telah meninggalkan Qur’annya. Ia berbeda dengan ajaran atau hukum gereja Katolik yang selalu berubah-ubah boleh – tidak boleh dan sekarang boleh lagi kawin. Padahal soal kawin adalah soal keputusan Tuhan. Adalah keputusan Tuhan selalu berubah-ubah dan dapat ditentang oleh manusia?

    7. Qur’an tak dapat disangkal ]agi, adalah pegangan hidup dan mati, dunia dan akhirat. Qur’an ternyata merupakan landasan idiil dan spirituil, landasan hidup di dunia dan di akhirat. Qur’an, tidak hanya memuat perkara akhirat saja,
    tetapi juga perkara dunia. Itulah sebabnya bila kita membaca Al-Qur’an kita akan menemui bermacam-macam hukum, apakah itu hukum pidana, perdata, atau hukum antar manusia dan kemasyarakatan. Demikian pula ia memuat hukum dengan lengkapnya hukum perkawinan dan sopan santun perang.

  • BD says:

    hehehe, ada ada aja, damai aja bung, ngapain sih u ngurusin agama ? gini aja, lebih baik u bantu deh tuh orang yg ada di sana yg busung lapar, yg kelaparan, yg kesusahan, jangan malah demo-demo ttg putri indonesia yg ke Miss Universe, malah bikin laskar jihadlah segala macem, bantuin dong tuh orang2 yg kesusahan, ok?

    Peace for all people on the World

  • tn yesus says:

    Kutipan :

    hehehe, ada ada aja, damai aja bung, ngapain sih u ngurusin agama ? gini aja, lebih baik u bantu deh tuh orang yg ada di sana yg busung lapar, yg kelaparan, yg kesusahan, jangan malah demo-demo ttg putri indonesia yg ke Miss Universe, malah bikin laskar jihadlah segala macem, bantuin dong tuh orang2 yg kesusahan, ok?

    Peace for all people on the World

    BD – May 31, 2005 08:07 PM

    ini adalah pendapat orang yg berotak dangkal…. yg lebih mementingkan dunia daripada akhirat, dan terlihat bahwa anda orang yg suka lari dari kenyataan. biar saja buung… semua itu ada urusannya masing2 dan semua pasti sudah ada yg maha pengatur, yg lebih urgent adalah apakah iman kita akan membawa kita selamat dunia dan akhirat…??????? padahal akhirat adalah kehidupan yg kekal dan kita tak akan kembali lagi kedunia ini. sungguh akan menyesal apabila anda tahu tentang kebenaran yg nyata. amin….

    tapi saya ucapkan terimakasih anda sudah mempunyai perhatian pada semua artikel yg saya buat diatas..

  • tnoez says:

    bakmi emang enak!!! kok jadi ribut yah. anda menghakimi orang lain dengan standart anda sendiri. mana bisa. ibarat ngomong bhs jawa sama oarang batak. mana nyambung? jaka sembung bawa golok!!
    eh di ketapang (jl. zainul arifin) ada bakmi enak. yummy!!!

  • hei tn yesus, yang bego, goblog, dan yang cuma pinter ngomong doang, elo punya pandangan gitu karena pengetahuanmu dangkal sekali, alias tonng kosong enaknya dibuang kelaut, kristen itu ngga nyembah patung, di gereja kristen tidak ada patung sama sekali, yang ada di gerejanya katolik, bedain dong antara kristen dan katolik, karena katolik bukan kristen, liat perbedaannya, salib kristen kosong, sedang salib katolik ada patungnya, ajarannyapun beda, karena katolik ya katolik, kristen ya kristen, cuma ada beberapa aja persamaannya. Moga ini bisa ngebantu nambah elo punya ilmu, biar ngga murahan gitu lo….

  • koko says:

    jujur aja Yesus emang Tuhan yang Luar biasa bagi gw,gw ga omong kosong waktu ngmg ini..n gw dah ngerasaain kebaikan Tuhan gmana enggak klo pribadi yg namaNya Yesus ini udah nebus setiap dosa gw tanpa kecuali,bayangin aja klo dosa gw udah bermilyar-milyar eh cuman ngaku Tuhan Yesus langsung di tebus apa ga keren tuh..gini aja gw mo masuk agama lain tp hidup gw kudu masuk surga coz hidup ini ga bisa ditebak, sapa tau udah ngetik komentar ini gw plg ketabrak mobil trus mati yang jadi pertanyannya gw masuk mana?sorga ato neraka..untungnya gw dah nerima Tuhan Yesus jadi gw pasti masuk surga hehehehehe emang Tuhan Yesus Tuhan yang baek banget gitu loh..oya gw maklumin kmntr dar Sdr Fitri coz dia emang blm kenal Yesus seperti ada pepatah Tak kenal maka tak sayang..Tuhan memberkati kita semua

  • koko says:

    gini aja mudahnya seperti ini,gw ingin tanya ma kalian yang ngisi komentar ini semua..pertanyannya klo kalian pada mati skr jg kalian masuk mana..ok lah komentar yang sy liat rohani banget tapi sekali lg klo kalian pada mati skrg juga pada detik ini klian mo masuk mana neraka ato sorga?coba gw ingin denger pendapat kalian semua n kalian cuman kudu jawab sorga ato neraka jangan pada bertele-tele,oya gw jg pengen nyikapin kmntr klo Yesus tuh ada gak..klo masalah ini masalan iman Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala seuatu yanh kita harapkan dan bukti dari apa yang tidak kita lihat

  • koko says:

    1. Apa di “surga” ada sex?
    2. Apakah nafsu jahat untuk membunuh,mencuri dll hilang dengan seketika ketika kita diterima di”surga”?
    3. Kalau kita membunuh orang tua, adik/kakak,anak sendiri lalu setelah itu kita mengaku salah “(bertobat)” apakah kita diampuni dan masuk “surga”?
    4. Apakah tidak ada rasa/perasaan/pikiran bosan ketika di surga karena semuanya menjadi rutin, semuanya tersedia dan dicukupkan untuk kita? Dan ini berlangsung selama-lamanya “kekal”

    Ini sebagian pertanyaan dari saya. Mudah-mudahan pertanyaan ini mendapat jawaban yang positif dari kalian semua.

    jawab
    1.di sorga eweuh nu ngarana sex
    2.yup pasti hilang tapi klo kita terima Tuhan Yesus sebgai juruselamat pribadi kita
    3.itu tidak cukup hanya bertobat tapi kudu punya niat tuk tinggalin tuh yang namanya dosa n terima Tuhan Yesus sbg Juru selamat pribadi kita
    4.tidak akan pernah bosan n garing di sana gmana gak klo setiap hari kita punya sukacita n damai sejahtera..bosan klo di sana biasa-biasa saja..gitu loh.
    knapa sy ngmng seperti ini seolah-olah kaya sy udah pernah ke sana saja..karna sy cuman percaya yang Namanya Firman Tuhan N Tuhan Yesus jd klo di firman Tuhan n Tuhan Yesus ngmng kaya gitu ya saya percaya tanpa keraguan sedikitpun

  • tn yesus says:

    kutipan dari sdr tuyul :

    hei tn yesus, yang bego, goblog, dan yang cuma pinter ngomong doang, elo punya pandangan gitu karena pengetahuanmu dangkal sekali, alias tonng kosong enaknya dibuang kelaut, kristen itu ngga nyembah patung, di gereja kristen tidak ada patung sama sekali, yang ada di gerejanya katolik, bedain dong antara kristen dan katolik, karena katolik bukan kristen, liat perbedaannya, salib kristen kosong, sedang salib katolik ada patungnya, ajarannyapun beda, karena katolik ya katolik, kristen ya kristen, cuma ada beberapa aja persamaannya. Moga ini bisa ngebantu nambah elo punya ilmu, biar ngga murahan gitu lo….

    Tuyul Muhamad – June 1, 2005 11:59 AM

    rupanya anda membaca semua postingan saya dalam keadaan dendam dan marah… padahal saya menulis berdasarkan apa yg di tulis dalam kitab suci AL Qur’an dan bukan menurut perassaan pribadi saya…. jadi anda kurang memahami betul apa konteks isi semua postingan dari saya… sungguh kasihan pada diri anda yg tidak mengerti kebenaran hakiki…. perhatikan baik2 percakapan dialog : Diskusi antar agama islam dan kristen yg diwakili oleh Antonius- Bahaudin Mudhary. nah kalo anda benar2 mencari kebenaran yg sesungguhnya silahkan di cros check injil punya saudara dengan dialog diatas… apakah postingan saya tsb semua omong kosong atau kebenaran yg hakiki… saya tantang saudara tuyul dan semua rekan2 kristen dan katolik untuk membuktikan semua postingan saya tsb… trims….

    semua ini adalah untuk kebaikan saudara2 sendiri. mari buka hati kalian yg tertutup dan telah tertipu oleh ajaran saulus – paulus (nabi palsu). kalian telah jauh disesatkan olehnya…. mari kita ikuti ajaran Yesus (Nabi Isa) yg sesungguhnya yg menyatakan bahwa tiada Tuhan selain ALLAh (La Illaha Illallah)…..

    wasalamu’alaika

  • martin says:

    sodara tn yesus terhormat. sekedar saran kalo diterima ya sukur kalo gak diterima ya udah, namanya juga saran. gini lho 100 alasan kalo berargumen bahwa agama anda yang benar anda bahwa Yesus bukan Tuhan akan mendapt counter 1000 alasan bahwa Yesus adalah Tuhan. lalu anda pasti akan memberi 100rb alasan untuk membalasnya dan anda akan mendapat counter 1 jt alasan yang laen. bakal terus2an gitchu lho. kapan lesenya. lagian khan dari semuala khan cuma bahas masalah mie. susah amat sih. dari pada berdebat jalankanlah agama anda sebaik2nya. jangan cuma dengan omongan saja anda berargumen tunjukanlah dengan tindakna yang nyata. Iman tanpa perbuatan adalah sia-sia, bohong, dosa dlll. tunjukan dalam tindakan nyata yah. yah mungkin anda akan berkomentar bahwa saya cuma berpikiran singkat cuama memikirkahn yang sementara di dunia bukan yang di akherat yah ntar kita buktikan saja kelak disana siapa yang paling benar. yang penting kami berusaha mengasihi orang lain walaupun berbeda dengan tindakan nyata bukan omongan saja. kalo mau berargumen mulu gak akan lese. marilah kita selesaikan dengan makan mie saja bersama2 hehehe just kidding. saya lihat anda cukup aktif ol di situs ini tentu banyak waktu dan uang yang anda keluarkan yah sekedar saran lagi gunakan tenaga dan uang anda untuk hal2 yang nyata dan berguna. ini cuma debat kusir yang gak akan berkesudahan.
    oh ya pernyataan tentang agama kristen yang anda kemukakan khan hanya pernyataan sebagian orang saja yang mumkin kemampuan berargumennya di bawah anda. yah cuma sekain aja okeh.

    saran saya buat webmaster. mendngan topik ini di cut aja lah. trus buat teman2 yang lain pernyataan yang menyudutkan tidak usah di counter balik. biarin aja toh kalo di di lawan gak bakal ada lesenya. khan kita orang yang berpendidikan. udahlah gitu aja diributin. kita sudah yakin atas keyakinan kita itu yang penting. dan inget tetap lakukan Mat28:18-20. GBU

  • tn yesus says:

    buat sodara martin :

    sarannya saya terima dengan baik, tapi yg namanya dakwah itu tetap jalan terus perkara ada yg mau mengikuti atau tidak itu adalah hidayah ALLAH SWT yg berkuasa dan saya tidak berkuasa sama sekali. manusia cuma berusaha Allah lah yg menentukannya.

    jadi semua saudara2 disitus ini jangan punya anggapan bahwa saya punya ambisi untuk memindahkan keyakinan beragama umat kristen dan katolik disitus ini. ketahuilah bahwa ALLAH telah berfirman dalam AL Qur’an yg artinya kurang lebih :
    - Apabila ALLah memberi pentunjuk kepada seseorang maka tidak ada satupun yg dapat menyesatkannya dan apabila ALLah menyesatkan seseorang maka tidak ada satupun yg dapat memberinya petunjuk.

    Demikanlah, hidaya ALLAH datang kepada seseorang apabila ada kemauan dari hambanya untuk mencarinya (hidayah/petunjuk). tapi apabila orang tsb tidak mau mencari hidayah maka ALLah akan menutup hati dan pendengarannya serta membutakan matanya seperti pada surat AL Qur’an Surat AL Baqarah ayat 6 dan 7 :

    إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ
    [2:6] Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.

    خَتَمَ اللّهُ عَلَى قُلُوبِهمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عظِيمٌ
    [2:7] Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat

    Nah demikanlah sdr2 semua, jadi umat islam cuma berusaha mencari amal sebanyak2nya lewat ladang amal berdakwah, baik kepada sesama muslim atau lain agama, perkara dia mau menurut itu bukan urusannya tapi tinggal tergantung ALLAH apakah akan membuka mata hatinya. La ikraa ha fidzin (tidak ada paksaan untuk masuk ke agama islam). itulah prinsip ajaran islam, tidak ada jebakan dan umpan yg menyesatkan seperti pembagian sembako dan obat2an yg ujung2nya memaksa umat untuk pindah agama. jadi demikanlah sdr2 sekalian prinsif dakwah islamiah… berusah mengajak mencari jalan yg lurus jalan warisan para nabi dan rasul bukan jalan pengikut thogut (syaitan).

    sekian semoga sdr juga mengerti dan maklum.

    wasalamu’alaika….

  • agnes says:

    hai..numpang lewat.dah gak usah ribut soal agama lagi…SMANGAT!! ayo tebarkan kasih dimana-mana. gak usah bingung2 ama komentar2 yang ada. saling mengasihi dan mengampuni.Cheriooo

  • wah wah wah, tn yesus ini benar2 seorang ahli! Saya yakin ia adl seorang cendekiawan yg sdh mempelajari berbagai macam teori agama. Data2 yang disajikan lengkap sekali. Luar biasa!

    Tapi alangkah baiknya seandainya kepandaian saudara jg diikuti dengan kebijaksanaan. Menyebut diri sendiri ‘tn yesus’ tapi menolak ajaran Yesus adalah tidak bijaksana. Malahan membuat diri anda terlihat konyol, seperti anak muda iseng yg kurang konfiden, sehingga tidak berani menampilkan diri sendiri. :-)

    Kekurang bijaksanaan yang kedua adalah tidak mau kalah. Anda mendebat dengan penuh semangat, disertai data2 yang lengkap. Padahal seandainya anda tidak menanggapi, forum ini tentu lebih damai. “Orang pandai bicara berdasarkan pengalaman. Orang yang lebih pandai lagi, berdasarkan pengalaman, tidak berbicara” :-)

    Nah, tn yesus, perlihatkan dong kalo anda selain pandai dan berpendidikan, juga memiliki kebijaksanaan! ;-)
    God Bless All of Us! :-D

  • Eymon says:

    Sdr Tuan.Jesus
    ….. Ada bbrp point yang saya mau bahas nih :
    1. Klo anda mau memahami Allah dan segala karya-Nya dengan akal dan pengertian anda, emangnya bisa? Tolong beritahu saya …. WHY ? Saya anggap akal dan pengertian saudara itu seperti ‘lubang di pinggir pantai yang saudara buat waktu liburan di bali or ancol’ … Anda mau menampung semua air laut bahkan samudera di dalam ‘lubang yang anda buat’. Saya analogikan Allah itu Allah yang Mahabesar (Agama Anda juga mengakuinya,bukan? ) . So ….. tolong jawab saya. So..tolong kalo mau memahami Allah dan karya2-Nya pake standarnya Allah donk…. kan nda adil anda mau bahas semuanya dengan akal dan pengertian anda yang sungguh sangat terbatas….
    2. Saya yakin anda juga punya Alkitab karna setahu saya anda belajar juga tentang itu. Tolong baca dan resapi firman Allah di Efesus 2 : 8-9 :
    2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
    2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
    2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

    Di point ini saya simpulkan : Org kristen( yang sudah mengalami anugerah Allah..ayat 8-9)…perhatikan saya tidak pake agama.Tapi pake org. Kenapa? Urusan keselamatan bukan urusan ortu qta,saudara2 qta,imam qta,etc tapi urusan kamu dengan PenciptaMu.Kenapa bukan agama? Karna agama hanya upaya manusia untuk mencapai Allah.Anda tidak akan pernah mencapai Allah kalo Anda memakai cara anda. Anda harus pake caranya Allah.Betul,nda? Nda usah pake tafsiran,pendapat ahli,etc…. Itu bisa bisa dipikirkan secara logis. Apa sih yang membuat Allah mau menyelamatkan anda? Karna kebaikan Anda,Karna pemberian2 anda? Klo mau jujur…. di hadapan Pencipta qta …. Tidak ada satu hal pun yang bisa kita andalkan untuk selamat dan berkata, “saya pantas diselamatkan”. Org kristen berbuat baik karna dia sudah merasakan anugerah dan kasih setia Allah di dalam hidupnya. Anda bisa berbuat baik tanpa mengasihi ( just tunjukin ke org lain dan cari nama,etc… Sorry).Tetapi anda tidak mungkin mengasihi tanpa berbuat baik.Kalo anda mengasihi, berbuat baik itu sudah menjadi GAYA HIDUP/ LIFE STYLE anda. Tidak ada lagi embel2nya,saudaraku. Itu maunya Allah… jangan melakukan sesuatu agar supaya kamu diselamatkan.Mustahil saudaraku. Kamu hanya mengandalkan Yesus Kristus (jalan yang ditunjukkan Allah kepada manusia untuk selamat). Anda mempelajari semua kitab,saya yakin anda tidak akan pernah menjumpai seseorg yang dengan lantang dan tegas mengatakan :
    Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)
    Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12).
    Saya yakin saudara tahu Siapa yang dimaksud dengan kata Dia.
    Tuhan Yesus Mengasihi dan Menantimu… Esok kan terlambat,putuskanlah sekarang saudaraku….
    Tuhan Yesus Memberkatimu

    Ini pesan Saya : Apapun yang anda pikirkan jangan pernah menghujat. Kamu akan diminta pertanggungjawaban atas semua kata yang kamu ucapkan di hadapan Allah saat kamu bertemu dengan Dia,muka dengan muka. Jangan sampe karna mulut, badan binasa. Siapa qta yang bisa berkata2 kasar dan sombong bahkan menghujat. Qta hanya ciptaan…yang ’seharusnya’ selalu iya terhadap Penciptanya. Qta nda punya hak menentang Pencipta qta. Apapun yang saudara alami,sepahit apapun itu… Ingat : Allah TIDAK PERNAH salah. Datang padaNya, Dia akan beri kelegaan dan hari2mu akan selalu baru tiap pagi.Besar SetiaNya. GBU All.

  • buat tnoez. bakmi yg enak di ketapang bakmi wewe yah? ato mi alim ? hehehehe. aye penggemar bakmi juga neh. ^^

  • tnoez says:

    lebih baik makan mi.lagian dari masalahmi malah bahas islamologi. payah terlalu pinter apa gak bisa baca. wah gw sih lebih suka makan di alim. lebih besar porsinya tuch dengan harga yang sama. eh gw khan asli semarang kalo di semarang ada yang namanya mi titee yah mirip ama yang mi alim. di daerah nggrajen (smg). kalo jkt yang enak mana aja? eh di kelapa gading ada mi baji pamai (kalo gak salah ya tulisannya) itu mi ujung pandang. kemaren gw makan disana tapi buat gw sih kagak terlalu cocok. ini gw lho barang kali aja yang lain doyan. ada rekomendasi mie yang enak dimana?

  • tn yesus says:

    jawaban buat sdr counter_tn yesus :

    kutipan dari anda :

    Tapi alangkah baiknya seandainya kepandaian saudara jg diikuti dengan kebijaksanaan. Menyebut diri sendiri ‘tn yesus’ tapi menolak ajaran Yesus adalah tidak bijaksana. Malahan membuat diri anda terlihat konyol, seperti anak muda iseng yg kurang konfiden, sehingga tidak berani menampilkan diri sendiri. :-)

    langsung saya jawab ya :
    tentu saja saya menggunakan nama Tn yesus bukan karena konyol seperti anak muda, tapi karena menurut keyakinan islam yesus itu hanya seorang manusia (nabi isa), dan seperti nabi muhamad boleh saja orang menggunakan namanya untuk tambahan didepan namanya seperti Muhamad khaerudin. dll. jadi ini juga adalah sebagai pengingat kepada umat kristen bahwa yesus itu manusia bukan TUHAN…. jelas bukan..???
    ———————
    kutipan anda :
    Kekurang bijaksanaan yang kedua adalah tidak mau kalah. Anda mendebat dengan penuh semangat, disertai data2 yang lengkap. Padahal seandainya anda tidak menanggapi, forum ini tentu lebih damai. “Orang pandai bicara berdasarkan pengalaman. Orang yang lebih pandai lagi, berdasarkan pengalaman, tidak berbicara” :-)

    saya jawab :
    didalam agama islam apabila kita berdakwah mestilah harus disertai dalil-dalilnya baik dari dalil Al Qur’an maupun dari Al Hadist. apabila tidak menyertai dalil yg tepat maka hukumnya adalah mengada-adakan hukum sendiri dan ini dikenai sebutan subhat (mengada-ada) dan dalam islam subhat dilarang dalam agama islam bahkan dapat diganjar dosa yg cukup besar.
    saya tidak setuju kepada anda tentang : “Orang pandai bicara berdasarkan pengalaman. Orang yang lebih pandai lagi, berdasarkan pengalaman, tidak berbicara” :-) kalo semua orang sependapat dengan anda maka kebenaran tentu tidak akan sampai kepada semua orang karena banyak orang yg pandai pada tutup mulut alias tidak berbicara. ..nah lho gimana gitu…????
    —————————-

    kutipan anda :
    Nah, tn yesus, perlihatkan dong kalo anda selain pandai dan berpendidikan, juga memiliki kebijaksanaan! ;-)
    God Bless All of Us! :-D
    counter-tn yesus – June 2, 2005 04:39 PM

    jawaban saya :
    masalah kebijaksanaan bagaimana dulu dong penempatannya yg sesungguhnya….??? dan saya merasa diri saya jauh dari pandai dibanding rekan2 semua disini… itu saya akui.. saya hanyalah seorang hamba ALLAH yg mau mempergunakan waktu saya untuk berdakwah dijalan ALLAH. dan saya ridho dan ikhlas. bukankah anda sudah baca kan alasan berdakwah orang muslim yg saya tulis di atas….!!!!! trims…..

  • tn yesus says:

    jawaban buat saudara Eymon :

    kutipan dari anda :
    Sdr Tuan.Jesus
    ….. Ada bbrp point yang saya mau bahas nih :
    1. Klo anda mau memahami Allah dan segala karya-Nya dengan akal dan pengertian anda, emangnya bisa? Tolong beritahu saya …. WHY ? Saya anggap akal dan pengertian saudara itu seperti ‘lubang di pinggir pantai yang saudara buat waktu liburan di bali or ancol’ … Anda mau menampung semua air laut bahkan samudera di dalam ‘lubang yang anda buat’. Saya analogikan Allah itu Allah yang Mahabesar (Agama Anda juga mengakuinya,bukan? ) . So ….. tolong jawab saya. So..tolong kalo mau memahami Allah dan karya2-Nya pake standarnya Allah donk…. kan nda adil anda mau bahas semuanya dengan akal dan pengertian anda yang sungguh sangat terbatas….

    jawaban saya:
    lho ini gimana sih..??? kalo anda cermat membaca semua postingan bakmi ini dari atas sampe bahwah ada pendapat teman kristen yg mengatakan kalo umat islam berpikir tidak menggunakan akal…??? tapi sekarang anda mengungkit2 akal…??? mestinya pertanyaan ini gak perlu ditanggapi karena anda menilai saya dengan standar anda…. tidak perlu diukur lagi kadar bersyukur umat islam dibanding dengan umat kristen. umat islam dari segi ibadahnya 5 waktu sehari semalam, tapi umat kristen cukup 1 kali seminggu… jadi kecintaan umat mana yg lebih mencintai ALLAH ???????? hayo jawab…????
    —————————-

    kutipan dari anda :
    2. Saya yakin anda juga punya Alkitab karna setahu saya anda belajar juga tentang itu. Tolong baca dan resapi firman Allah di Efesus 2 : 8-9 :
    2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
    2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
    2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

    jawaban saya :
    semua ayat2 yg anda tulis diatas saya sangat jelas bertentangan dengan Al Qur’an, dalam islam umat islam tidak diciptakan untuk bermanja-manja diri, karena diwajibkan kepada umat islam untuk berikhtiar dulu (berusaha) barulah hasil usahanya ALLAH lah yg menentukannya. Sesungguhnya manusia harus malu dong kepada langit dan bumi beserta isinya (seluruh alam jagad raya ini), mereka semuanya berzikir dan bertasbih kepada ALLAh (tunduk dan patuh) coba anda bayangkan apabila matahari dan bumi ini tidak berzikir pada ALLAh tentulah semuanya akan saling bertabrakan satu sama lain… coba lihat manusia ini padahal seluruh alam jagat raya ini dipersiapkan untuk hidup manusia (kalifah fil ardh) tapi antar sesama manusia saling bantai dan manusia membangkang kekuasaan TUHAN penciptanya sampai2 seorang manusia (yesus) malahan disembah untuk dijadikan TUHAN-nya…??? betapa ALLAH sangat murka sekali dengan tabiat manusia yg melampaui batas ini…
    coba anda pikir…

    sekedar refrensi :
    Al Qur’an 36 : 11 :
    Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yg mau mengikuti peringatan dan yg takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya, maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yg mulia..
    ———————————————

    kutipan dari anda :
    Di point ini saya simpulkan : Org kristen( yang sudah mengalami anugerah Allah..ayat 8-9)…perhatikan saya tidak pake agama.Tapi pake org. Kenapa? Urusan keselamatan bukan urusan ortu qta,saudara2 qta,imam qta,etc tapi urusan kamu dengan PenciptaMu.Kenapa bukan agama? Karna agama hanya upaya manusia untuk mencapai Allah.Anda tidak akan pernah mencapai Allah kalo Anda memakai cara anda. Anda harus pake caranya Allah.Betul,nda? Nda usah pake tafsiran,pendapat ahli,etc…. Itu bisa bisa dipikirkan secara logis. Apa sih yang membuat Allah mau menyelamatkan anda? Karna kebaikan Anda,Karna pemberian2 anda? Klo mau jujur…. di hadapan Pencipta qta …. Tidak ada satu hal pun yang bisa kita andalkan untuk selamat dan berkata, “saya pantas diselamatkan”. Org kristen berbuat baik karna dia sudah merasakan anugerah dan kasih setia Allah di dalam hidupnya. Anda bisa berbuat baik tanpa mengasihi ( just tunjukin ke org lain dan cari nama,etc… Sorry).Tetapi anda tidak mungkin mengasihi tanpa berbuat baik.Kalo anda mengasihi, berbuat baik itu sudah menjadi GAYA HIDUP/ LIFE STYLE anda. Tidak ada lagi embel2nya,saudaraku. Itu maunya Allah… jangan melakukan sesuatu agar supaya kamu diselamatkan.Mustahil saudaraku. Kamu hanya mengandalkan Yesus Kristus (jalan yang ditunjukkan Allah kepada manusia untuk selamat). Anda mempelajari semua kitab,saya yakin anda tidak akan pernah menjumpai seseorg yang dengan lantang dan tegas mengatakan :
    Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. (Yohanes 14:6)
    Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12).
    Saya yakin saudara tahu Siapa yang dimaksud dengan kata Dia.
    Tuhan Yesus Mengasihi dan Menantimu… Esok kan terlambat,putuskanlah sekarang saudaraku….
    Tuhan Yesus Memberkatimu

    jawaban saya :
    hmmm… anda harus cermat lagi membaca postingan saya tentang : “Diskusi antar agama islam dan kristen yg diwakili oleh Antonius- Bahaudin Mudhary, dari episode 1 sampai 9.
    ——————————–

    kutipan anda :
    Ini pesan Saya : Apapun yang anda pikirkan jangan pernah menghujat. Kamu akan diminta pertanggungjawaban atas semua kata yang kamu ucapkan di hadapan Allah saat kamu bertemu dengan Dia,muka dengan muka. Jangan sampe karna mulut, badan binasa. Siapa qta yang bisa berkata2 kasar dan sombong bahkan menghujat. Qta hanya ciptaan…yang ’seharusnya’ selalu iya terhadap Penciptanya. Qta nda punya hak menentang Pencipta qta. Apapun yang saudara alami,sepahit apapun itu… Ingat : Allah TIDAK PERNAH salah. Datang padaNya, Dia akan beri kelegaan dan hari2mu akan selalu baru tiap pagi.Besar SetiaNya. GBU All.

    jawaban saya :
    saya rasa saya nggak pernah berkata kasar dan menghujat….. coba anda bandingkan dengan postingan dengan jin muhamad dan yg lainnya…diatas, saya berdakwah berusaha dengan ilmu agama yg saya ketahui… anda menilai saya sombong karena anda masih merasa bahwa anda paling benar menurut ajaran anda, tapi menurut saya salah besar, jadi tidak bisa dibilang sombong. kata sombong harus diletakkan pada yg tepat. anda mau tahu arti sombong yg sesungguhnya ??? sombong itu adalah pakaian kebesarannya ALLAH saja. kita manusia, jin dan iblis sekalipun tidak berhak mengenakannya (tidak boleh sombong) dihadapan ALLAH. apakah menurut anda saya telah sombong dan tidak mengakui keesaan ALLAh. padahal anda tahu saya ini islam dan sebagai orang islam wajib mengakui ALLAH yg esa bukan…??? Jadi saya rasa yg paling tepat dikenakan kata sombong disini adalah Anda sendiri karena anda tidak mengakui ke-esaan ALLAH (ahad) karena anda masih menuruti paham TRINITAS……!!! dan hati-hatilah saudara ku … lihatlah iblis yg sombong juga dia telah dijanjikan oleh ALLAh neraka yg kekal…. apakah anda tidak takut..??????
    ———————————————

    - Sekedar refrensi sekilas :
    S. Al-ikhlas 1- 4 :
    بسم الله الرحمن الرحيم
    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
    [112:1] Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
    اللَّهُ الصَّمَدُ
    [112:2] Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
    لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
    [112:3] Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
    وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ
    [112:4] dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.
    ————————————–

    -Wujud manusia yg tidak sombong adalah yg selalu mengingat Tuhannya dimanapun dia berada :

    QS:3:191 : “Yang mengingat Allah sambil berdiri dan duduk atau dalam keadaan berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.
    (mereka itu berkata): “Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau,Maka selamatkanlah kami dari siksa api neraka.

    -Ancaman Allah kepada Manusia yg tidak mau berfikir dan menyia-nyakan hidupnya :
    (QS. 44:38) : “Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya secara bermain-main”.

    wasalamu’alaika…
    moga anda puas….

  • hehehe… muslim yg menyebut diri tn yesus ini bener2 bersemangat dalam berdebat. hal ini sayangnya malah menunjukkan kekeras kepala-an dan kedangkalan nya.

    saya yakin, tidak semua orang muslim seperti satu ini kok.

    well, saran saya kepada teman2 yang lain, baik kristen or non kristen yang membaca posting ini, jangan terpancing pada ulah satu orang ini ;-)

    kalo kita tidak meladeni nya, mau debat ma siapa nih orang? hehehe… biarin aja dia debat sama bini nya or debat deh sama tembok rumah nya…

    GBU to all my brother and sister!

  • Ecobain says:

    sstoppp debat dengan kedengkian, jangan menjadi nafsu dalam memberikan komentar sebab akan ada waktunya dimana akan ada hitungan dimana setiap manusia akan dilihat dari hati dan pikiran yang bersih,
    tidak menjadi jaminan apakah mereka selalu berbuat baik tetapi dari hati-hati merekalah yang tulus dan suci tentang hakekat KeTuhanan yang tanpa batas,
    tanpa kedengkian dalam menjalani hdupnya, marilah kita saling menjalani kehidupan ini tanpa kedengkian yang adalah ciri kas dari setan terkutuk
    hiduplah sebagai manusia yang benar-benar santun dan bersabar, ooookkkkkkeeeee !!!!
    semoga anda-anda semua yang ada disini diberikanNya kesabaran sebab semua ada waktunya, ingat itu !!!!!!!
    Tuhan sendirilah yang akan menunjukan Kemuliaanya dan KebesaranNya, bukan kalian manusia-manusia dengki, fasik dan munafik !!!

  • tn yesus says:

    kutipan dari Sdr counter_tn yesus :

    hehehe… muslim yg menyebut diri tn yesus ini bener2 bersemangat dalam berdebat. hal ini sayangnya malah menunjukkan kekeras kepala-an dan kedangkalan nya.

    saya yakin, tidak semua orang muslim seperti satu ini kok.

    well, saran saya kepada teman2 yang lain, baik kristen or non kristen yang membaca posting ini, jangan terpancing pada ulah satu orang ini ;-)

    kalo kita tidak meladeni nya, mau debat ma siapa nih orang? hehehe… biarin aja dia debat sama bini nya or debat deh sama tembok rumah nya…

    GBU to all my brother and sister!

    counter_tn yesus – June 4, 2005 01:24 PM

    ——————–

    komentar saya :
    - inilah ciri2nya orang munafik yg menghindar dari masalah yg dia buat sendiri, setelah diberitahu kebenaran lalu dia melarikan diri….????????

    refrensi :
    Al Qur’an 2:113 :
    Dan orang-orang yahudi berkata : orang-orang nasrani itu tidak mempunyai suatu pengangan, dan orang-orang nasrani berkata : orang-orang yahudi tidak mempunyai suatu pegangan, padahal mereka (sama-sama) membaca al kitab. Demikian pula orang-orang yg tidak mengetahui, mengatakan ucapan seperti mereka itu. maka ALLAH akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat tentang apa-apa yg mereka bersilisih padanya.

    wasalamu’alaika

  • tn yesus says:

    perlu di ketahui :

    http://www.yesusakankembali.com/

    simak ya situs diatas jangan sampai nggak di ikuti.. rugi lho….!!!

  • riel says:

    Terima kasih atas partisipasi Sobat UF dalam memberikan komentarnya. Meskipun artikelnya tentang bakmi tapi malah diskusi soal agama. Pemberian komentar artikel cukup sampai di sini. Tuhan memberkati.

    Sebagai penutup saya ingin menyampaikan, silakan banyak membaca buku, studi perbandingan agama, apa saja, tetapi sebelum membaca semua itu, bacalah dulu Alkitab hingga selesai bila perlu sampai hapal.

    Kita sudah sepatutnya belajar dari rekan-rekan kita dari muslim yang giat menghapal ayat Al-Quran. Bahkan ada yang mampu menghapal hampir semua ayat Al-Quran.

    Terima kasih utk rekan yang bernama ‘tn yesus’ yang rajin mampir ke UF untuk berbagi pikiran. Teruslah gali ilmu dan hikmat melalui membaca dan belajar dari sekolah kehidupan.

    Saya dan Sobat UF tetap pada keyakinan bahwa Kekristenan identik dengan penebusan. Itu yang membedakan Kekristenan dengan agama lain.

    Kristus Yesus pernah berkata:
    “Aku adalah jalan, dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6)

    —————————————————————–

    “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah Ada.” (Yohanes 8:58)

    —————————————————————–

    “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” (Yoh 16:18-19)

    —————————————————————–

    “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan… Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir jaman. (Yohanes 12: 44-48).