Seminggu yang lalu, gua baru selesai membaca 3 buku Kahlil Gibran bertemakan cinta berjudul Atas Nama Cinta, Kidung Cinta, dan Air Mata Kekasih. Meskipun dalam buku-buku ini masih ditemukan kesalahan ketik, buku ini terbilang cukup baik diterjemahkan mengingat penerjemah harus memiliki perbendaharan kata yang luas dan daya imajinasi yang tinggi.
Tidak semua cerita dalam buku-buku ini mudah dicerna. Banyak cerita yang menurut gua, hanya si penulislah yang paling tahu makna cerita itu – saking membingungkannya waktu gua baca. Cerita-ceritanya banyak mengolah dan mempermainkan kata-kata sehingga bermakna tidak langsung alias pembaca harus punya daya nalar dan imajinasi yang tinggi. (plus jiwa melankolis kelas kakap …
)
Dalam buku Air Mata Kekasih, dari 16 judul cerita, gua suka 7 cerita yang di antaranya berjudul ‘Air Mata Kekasih’, ‘Kisah Duka Martha’, ‘Kata Jiwa Tentang Cinta’, ‘Menjenguk Masa Depan’, ‘Waktu’, ‘Gigi Busuk’, dan ‘Kebebasan’. Dalam buku Kidung Cinta (rada pusing bacanya), gua suka cerita berjudul ‘Panggilan Cinta’, ‘Cinta Sepanjang Zaman’, dan ‘Cinta Sejati’. Sedangkan dalam buku Atas Nama Cinta, boleh dikatakan hampir semua ceritanya bagus, namun dari semuanya itu, ada satu cerita yang sangat menggugah emosi dan menggetarkan romantisme pembaca berjudul ‘Balada Cinta Seorang Pengantin’. Kisahnya memilukan hati dan lebih mudah dicerna dibandingkan kisah-kisah lainnya.
Setelah gua selesai baca tiga buku itu, gua nggak nyangka kalau ternyata Kahlil Gibran termasuk seorang yang ‘gagal’ dalam hidupnya. Kegagalan itu dapat dilihat dari hubungan-hubungan asmaranya yang selalu berakhir dengan air mata duka: perpisahan, ditolak, diabaikan dan ditinggalkan. Berikut ini gua kutip beberapa paragraf tentang Gibran di halaman terakhir buku Air Mata Kekasih.
Hidup tanpa cinta yang hakiki dari seorang perempuan yang ia damba telah memberinya inspirasi untuk mengisahkan cerita duka anak manusia. Putus asa, hilang harapan dan kehancuran hati menjadi tema yang sangat sering muncul dalam balada cinta dalam buku-bukunya.
Selain itu, tak heran bila ia sering kali menangisi dirinya tanpa kekasih, atau selalu ditolak oleh perempuan yang ia inginkan. Dan itu telah membuatnya putus asa di hari akhir dalam hidupnya.
Setelah ditinggal pergi oleh orang-orang yang ia kasihi, ia menjadi pemabuk dan terlena dalam ilusi cinta yang sangat mengerikan dan ia pun berakhir di pusara kematiannya yang menggairahkan. Usianya tak panjang, 1883-1931, hanya empat puluh delapan tahun, telah meninggalkan sejuta air mata dan selaksa duka bagi para pecintanya. Buku-buku yang ditulis olehnya kini menjadi monumen cinta yang abadi.
Orang pun kini mengenalnya sebagai sastrawan yang melankolis dan romantis dengan puisinya yang merajuk dan menggetarkan jiwa.
Popularity: 3% [?]
Tulisan Terkait