Tidak ada seorangpun yang pernah bisa mengerti pemuda sederhana itu kecuali seorang gadis
sederhana yang sudah beberapa tahun dikenalnya. Cinta datang dengan tiba-tiba yang kemudian
membuat hati keduanya bertukar posisi, hati pemuda itu menjadi hati gadis itu dan hati gadis
itu menjadi hati pemuda itu.
Pemuda itu tergolong pemuda sempurna dalam arti jalan hidupnya lurus-lurus saja. Di mata
beberapa temannya ia termasuk pemuda tanpa cacat cela, kecuali sikapnya yang terkadang
menghakimi, ucapannya yang ketus dan terkadang jayus.
Namun di balik semuanya itu, dari berbagai kelemahan, kegagalan,
dan didikan Tuhan yang didapatnya, pemuda ini semakin yakin, bahwa the most perfect man has
the most perfect weakness.
Ia tidak memiliki apapun untuk dibanggakan kecuali Tuhannya. Ia tidak memiliki
prestasi apapun kecuali itu semua karena kebaikan Tuhan. Pemuda ini tahu benar
apa yang menjadi duri dalam dagingnya, dan itu membuat ia semakin menyadari
dan mengerti mengapa Paulus dalam pergumulannya, justru mendapat jawaban Tuhan,
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah, kuasa-Ku
menjadi sempurna.” Oleh sebab itu, pemuda itu lebih suka bermegah atas kelemahannya
supaya kuasa Kristus turun menaunginya. Sebab jika ia lemah, maka ia kuat.
Pemuda ini sudah beberapa kali menghadapi beberapa pencobaan dan pergumulan yang boleh dikatakan
seperti telur di ujung tanduk. Ia pernah mengalami kesulitan membayar uang sekolah, tidak bisa kursus karena
tidak punya biaya, terpaksa berjualan majalah dan menjaga warung, terpaksa jalan kaki karena
tidak punya uang. Tapi anehnya, ia bisa membelikan sahabat-sahabatnya buku, mentraktir makan,
bahkan ia bisa melupakan kebutuhan dirinya sendiri agar orang lain bisa senang.
Namun sayang, tidak ada seorangpun yang mampu mengerti pemuda itu. Ratusan kali ia sudah
berkorban demi cinta yang sudah didapatnya dari Tuhan. Tapi ia belum bisa mengerti, ketika
ia diminta berkorban demi cinta seorang manusia yang sarat dengan kelemahan. Ketika ia memutuskan
untuk mencintai, cinta itu selalu menghindarinya. Sepertinya tidak ada yang menginginkannya.
Pemuda itu adalah pemuda yang baik, yang selalu berusaha menjadi orang yang baik. Tetapi sebelum
mendapat yang baik itu, pemuda itu selalu mendapat yang tidak baik terlebih dahulu. Pemuda itu
selalu dipaksa untuk mengosongkan dirinya. Lalu apa yang ia dapatkan? Ia hanya mendapatkan cinta
agape, cinta yang tidak mengenal batas, jarak, waktu dan ruang. Cinta tanpa syarat yang lebih sering
menyiksa jiwa pemuda itu siang dan malam. Tidak pernah dicintai tetapi selalu dituntut untuk
mencintai, melampaui ekspresi cinta manusia biasa yang hanya mampu mengerti cinta eros.
Mungkin Tuhan sedang menghukumnya. Mungkin pula Tuhan sangat sayang kepadanya. Tidak ada yang
tahu kecuali waktu yang sedang menjauh darinya berusaha menyembunyikan cerita masa depan.
Di mata dunia, ia tahu kalau ia termasuk pemuda yang malang. Namun, ia tidak bisa mengeluh, marah,
atau menggerutu karena ia tidak mempunyai apa-apa untuk disombongkan. Ia hanya pemuda biasa yang sarat
dengan kelemahan, yang tiap-tiap hari mengharapkan belas kasihan Tuhan.
Bersambung …
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.