For the Christian, humility is absolutely indispensable. Without it there can be no self-knowledge, no repentance, no faith and no salvation. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Faith

Tinggalkan Masa Depan

Submitted by riel on 16/09/2003 – 9:51 PM | 185 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Ketika kepercayaan mulai luntur, hubungan menjadi hambar, entah itu hubungan bisnis, hubungan antar
teman, atau hubungan keluarga. Boleh dikatakan kepercayaan adalah dasar dari suatu hubungan.

Ada satu hal yang aku amati belakangan ini bahwa kepercayaan juga harus disertai dengan integritas.
Orang lebih menaruh kepercayaan kepada orang yang memiliki integritas. Tanpa integritas tidak mungkin
ada kepercayaan.

Lunturnya kepercayaan karena melemahnya integritas membawa kepada satu hal yang cenderung dihindari
orang yaitu perpisahan. Perpisahan karena tidak ada lagi kesamaan pandangan tentang masa depan. Dalam
sebuah pelayanan, ketika orang-orang dalam sebuah kelompok kehilangan kepercayaan terhadap
pemimpinnya, perlahan-lahan akan timbul gesekan dan terkadang solusi terakhir untuk keluar dari
keadaan itu adalah dengan berpisah.

Ini sudah pernah aku alami beberapa tahun yang lalu. Selama beberapa tahun, kepercayaan yang
semula begitu tinggi, mulai menyurut dan membuat frustasi. Berbagai perasaan curiga dan motivasi
yang tidak murni menjadi hal yang mengemuka dalam sebuah hubungan atau kelompok.
Kekecewaan semakin menumpuk dan akhirnya keputusan untuk berpisah sepertinya menjadi
keputusan yang masuk akal untuk diambil – berpisah secara kelembagaan
namun tidak pernah bisa berpisah sebagai orang-orang yang bersaudara.

Sampai sekarang, hubungan batin antar saudara tidak pernah hilang. Terkadang, aku ingin rasanya meninggalkan
masa depan demi hidup di masa lalu dimana aku pernah merasakan indahnya rasa persaudaraan dan persahabatan. Suka duka sama-sama
dilewati. Hujan dan panas sama-sama dirasakan. Tertawa dan menangis sama-sama dilakukan.

Beberapa kali aku, teman-teman dan beberapa kakak rohani berusaha bangkit membangun kembali
kepercayaan itu bermodalkan kedekatan batin di antara kita dan ‘demi masa lalu’. Namun, itu
tidak pernah terwujud. Kita menjadi tercerai-berai. Ada yang sanggup bertahan di tengah hutan
dunia yang semakin buas penghuninya ini, tetapi tak sedikit pula yang jatuh dan terbawa oleh
arus dunia ini. Ada yang tetap menjadi prajurit-prajurit Allah yang militan tetapi ada juga yang
menjadi prajurit-prajurit berjubahkan pengkhianatan, memakai pakaian prajurit Allah tetapi membelot
kepada musuh.

Selama setengah tahun di tahun 2001, aku terkatung-katung dibelenggu
oleh ketidakpercayaan. Berulang kali aku berusaha menemukan kembali kepercayaan itu namun ia sudah
terbang meninggalkanku. Tiga bulan lebih aku tidak pergi ke gereja. Jiwaku gersang dan tandus. Perasaanku
sedih dan berat. Aku berusaha membangun kelompok kecil di sela-sela ‘perenunganku’ selama
setengah tahun itu. Hingga pada puncaknya, aku benar-benar memeluk erat perpisahan itu.

Masa depan suka tersenyum penuh misteri. Terkadang ia begitu menakutkan sehingga
membuat banyak orang lebih suka meninggalkan masa depan dan terus hidup di masa lalu.
Mungkin ini maksud Tuhan mengapa Ia tidak menciptakan
mata di belakang kepala, supaya kita mengerti bahwa mata ini digunakan untuk
melihat ke depan sedangkan menoleh ke belakang ‘hanya diperlukan’ agar kita berhati-hati tidak
mengulangi kesalahan yang sama. Mata jasmani maupun mata rohani adalah mata yang melihat ke depan, kepada
pengharapan, kepada Kristus Tuhan.

Sama seperti Abraham yang diperintahkan Tuhan meninggalkan negerinya demi sebuah ‘masa depan’. Ia
memilih taat dan melihat ke depan dan apa yang terjadi? Tuhan menjadikannya Bapa segala bangsa yang
karena imannya, keturunannya diberkati sama seperti pasir di laut dan bintang di langit.

Perenunganku selama setengah tahun itu rupanya merupakan bagian dari pendewasaan. Aku semakin
banyak belajar dan mengerti bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang-orang yang bersungguh-sungguh
mencari wajah-Nya dan berserah bahwa masa depan ada di tangan Tuhan.

Kenangan masa laluku bersama sahabat-sahabat pelayananku mungkin tidak akan pernah terlupakan.
Namun yang pasti, aku mau melihat ke depan seraya berdoa, “Tuhan tunjukkan jalan-Mu.” Menyongsong
masa depan, menjadikan masa lalu sebagai proses pendewasaan dan memegang teguh janji Tuhan bahwa
Ia menjamin masa depanku.

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.