Obrolanku tadi siang dengan seorang teman meninggalkan kesimpulan bahwa
setiap keputusan entah itu baik atau buruk mempunyai konsekuensinya
masing-masing. Namun, tidak sedikit pula orang memilih tidak mengambil
keputusan, padahal tidak mengambil keputusan pun termasuk keputusan yang
diambil, dan tak jarang justru merupakan keputusan yang salah.
Takut/tidak mengambil keputusan bisa disebabkan oleh banyak faktor entah
itu faktor keluarga, finansial, masa lalu, pekerjaan, dsb-nya. Cara untuk
bersikap terhadap pengambilan keputusan pun bisa beraneka ragam. Pernah sewaktu
aku masih kuliah, aku harus memutuskan apakah aku akan ikut presentasi yang ketiga
dalam mata kuliah Komunikasi Bisnis atau tidak. Untuk presentasi yang pertama dan
kedua sudah aku lewati. Tapi untuk presentasi yang terakhir ini, aku merasa takut
karena bagianku dalam mengerjakan paper belum selesai.
Bukannya aku datang ke kampus lalu berkata secara ‘jantan’ kepada kelompokku
tentang masalah ini, aku malah memutuskan ‘kabur’ dengan tidak datang dalam presentasi
kelompokku. Tak usah ditanya lagi, aku mendapat tiga paket konsekuensi karena keputusan
itu. Paket pertama, aku dianggap tidak bertanggung jawab oleh teman-teman kelompokku.
Paket kedua, aku mendapat nilai C. Paket yang ketiga – paket yang paling berat
bebannya – aku menyesal selama beberapa semester karena keputusanku itu.
Orang berpikir tidak mengambil keputusan adalah lebih baik. Ternyata tidak!
Tidak mengambil keputusan sering kali melahirkan konsekuensi yang lebih buruk
daripada mengambil keputusan yang buruk.
Perubahan bisa terjadi karena sebuah keputusan. Kemajuan bisa diperoleh karena
sebuah keputusan. Apapun permasalahan atau pergumulan kita, entah kita mau berlari
atau bersembunyi sampai ke ujung bumi supaya tidak mengambil keputusan, pada akhirnya
juga kita harus mengambil keputusan. Kecuali kita rela membiarkan jiwa kita merana
karena takut atau lari dari pengambilan keputusan. Atau mungkin kita merasa ‘nyaman’
dengan keputusan untuk tidak mengambil keputusan?
Selama kita hidup, apapun keputusan yang kita ambil – keputusan baik,
keputusan buruk, atau keputusan untuk tidak mengambil keputusan – akan terus
menuntut kita mengambil keputusan-keputusan baru yang tiada berakhir, lengkap
dengan paket konsekuensi yang akan kita terima.
Ada seorang pemuda yang memutuskan berbohong demi gengsi kepada keluarga dan
teman-temannya. Ia berbohong soal pekerjaan, studi, keluarga, gaya hidup, dsb-nya.
Lalu apa yang terjadi? Dia terjebak dalam belenggu lingkaran setan kebohongan yang
dia buat sendiri, dimana dia terus berulang-ulang mengambil keputusan yang dibungkus
oleh kebohongan. Ketika ia memutuskan untuk jujur, ia mulai kewalahan karena masalah
yang ditimbulkan oleh kebohongannya sudah seperti benang kusut yang sulit sekali
dirapikan kembali.
Apapun keputusan yang kita ambil, pastikan kita bersikap ksatria, jujur
dan tidak lari dari tanggung jawab. Orang yang tegas lebih bahagia hidupnya
daripada orang yang ragu-ragu atau mendua hatinya. Sekarang pertanyaannya,
kita mau yang mana?
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.