God saves men to make them worshipers. - A.W.Tozer
Bible Study

Kumpulan Bahan Belajar Alkitab dalam format file pdf.

Computer & Internet

Semua tips komputer dan internet yang wajib untuk diketahui

Download

Wallpaper, Clipart, semua yang gratis ada di sini.

Jokes

Tempat melepas penat dengan tertawa.

Renungan

Tempat merenungkan kebaikan dan kasih setia Tuhan.

Home » Tips & Thoughts

Konsekuensi Keputusan

Submitted by riel on 03/09/2003 – 1:32 PM | 363 views
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading ... Loading ...

Obrolanku tadi siang dengan seorang teman meninggalkan kesimpulan bahwa
setiap keputusan entah itu baik atau buruk mempunyai konsekuensinya
masing-masing. Namun, tidak sedikit pula orang memilih tidak mengambil
keputusan, padahal tidak mengambil keputusan pun termasuk keputusan yang
diambil, dan tak jarang justru merupakan keputusan yang salah.

Takut/tidak mengambil keputusan bisa disebabkan oleh banyak faktor entah
itu faktor keluarga, finansial, masa lalu, pekerjaan, dsb-nya. Cara untuk
bersikap terhadap pengambilan keputusan pun bisa beraneka ragam. Pernah sewaktu
aku masih kuliah, aku harus memutuskan apakah aku akan ikut presentasi yang ketiga
dalam mata kuliah Komunikasi Bisnis atau tidak. Untuk presentasi yang pertama dan
kedua sudah aku lewati. Tapi untuk presentasi yang terakhir ini, aku merasa takut
karena bagianku dalam mengerjakan paper belum selesai.

Bukannya aku datang ke kampus lalu berkata secara ‘jantan’ kepada kelompokku
tentang masalah ini, aku malah memutuskan ‘kabur’ dengan tidak datang dalam presentasi
kelompokku. Tak usah ditanya lagi, aku mendapat tiga paket konsekuensi karena keputusan
itu. Paket pertama, aku dianggap tidak bertanggung jawab oleh teman-teman kelompokku.
Paket kedua, aku mendapat nilai C. Paket yang ketiga – paket yang paling berat
bebannya – aku menyesal selama beberapa semester karena keputusanku itu.

Orang berpikir tidak mengambil keputusan adalah lebih baik. Ternyata tidak!
Tidak mengambil keputusan sering kali melahirkan konsekuensi yang lebih buruk
daripada mengambil keputusan yang buruk.

Perubahan bisa terjadi karena sebuah keputusan. Kemajuan bisa diperoleh karena
sebuah keputusan. Apapun permasalahan atau pergumulan kita, entah kita mau berlari
atau bersembunyi sampai ke ujung bumi supaya tidak mengambil keputusan, pada akhirnya
juga kita harus mengambil keputusan. Kecuali kita rela membiarkan jiwa kita merana
karena takut atau lari dari pengambilan keputusan. Atau mungkin kita merasa ‘nyaman’
dengan keputusan untuk tidak mengambil keputusan?

Selama kita hidup, apapun keputusan yang kita ambil – keputusan baik,
keputusan buruk, atau keputusan untuk tidak mengambil keputusan – akan terus
menuntut kita mengambil keputusan-keputusan baru yang tiada berakhir, lengkap
dengan paket konsekuensi yang akan kita terima.

Ada seorang pemuda yang memutuskan berbohong demi gengsi kepada keluarga dan
teman-temannya. Ia berbohong soal pekerjaan, studi, keluarga, gaya hidup, dsb-nya.
Lalu apa yang terjadi? Dia terjebak dalam belenggu lingkaran setan kebohongan yang
dia buat sendiri, dimana dia terus berulang-ulang mengambil keputusan yang dibungkus
oleh kebohongan. Ketika ia memutuskan untuk jujur, ia mulai kewalahan karena masalah
yang ditimbulkan oleh kebohongannya sudah seperti benang kusut yang sulit sekali
dirapikan kembali.

Apapun keputusan yang kita ambil, pastikan kita bersikap ksatria, jujur
dan tidak lari dari tanggung jawab.
Orang yang tegas lebih bahagia hidupnya
daripada orang yang ragu-ragu atau mendua hatinya. Sekarang pertanyaannya,
kita mau yang mana?

Popularity: 1% [?]

  • Share/Bookmark

Tulisan Terkait

3 Comments »

  • JOHN says:

    Setelah saya membaca artikel Anda(berjudul:konsekwensi keputusan) yang dimuat di unitedfool,saya semakin bingung.Setelah saya gumulkan,maka saya ambil keputusan UNTUK MENANYAKAN ANDA kembali.Ini adalah cuplikan kalimat yang saya ambil dari artikel yang dimuat di unitedfool:
    Orang berpikir tidak mengambil keputusan adalah lebih baik. Ternyata tidak! Tidak mengambil keputusan sering kali melahirkan konsekuensi yang lebih buruk daripada mengambil keputusan yang buruk.

    Dalam hal ini saya berpikir bahwa adalah lebih baik bagi kita untuk mengambil keputusan buruk dari pada tidak mengambil keputusan sama sekali.
    Apakah Anda bermaksud demikian?
    Sebagai contoh sederhana:jika Anda diberikan kesempatan untuk memilih dan mengambil keputusan: a.meminum racun yang akan mengakhiri hidup Anda
    b.menolak meminum racun yang akan mengakhiri hidup Anda.
    Kedua pilihan di atas adalah pilihan dalam kondisi yang sama,yakni:Anda sedang dalam penawanan musuh.Jadi Anda harus mengambil satu di antara dua pilihan tersebut.
    Jikalau menurut statement yang Anda tulis itu maka dalam hal ini penerapannya adalah sebagai berikut:tidak mengambil keputusan seringkali melahirkan konsekwensi yang lebih buruk dari pada mengambil keputusan yang buruk.
    Kalau demikian ,maka kita lebih baik memilih untuk meminum racun itu,karena lebih baik mengambil keputusan sekalipun keputusan itu salah dari pada tidak mengambil keputusan sama sekali.benar demikian?
    Saya tidak menemukan kebenaran dalam statement yang Anda tulis itu.jika Anda meminum racun apakah itu berarti Anda sudah melakukan hal yang benar?atau lebih baik?Sesungguhnya Anda seorang pecundang(looser) jika Anda mengambil keputusan yang suda benar2 100% salah.Bahkan Firman Tuhanpun berkata bahwa kita tidak berhak membunuh diri kita.ANda lebih memilih minum racun?yang benar saja

  • riel says:

    Orang berpikir tidak mengambil keputusan adalah lebih baik. Ternyata tidak! Tidak mengambil

    keputusan sering kali melahirkan konsekuensi yang lebih buruk daripada mengambil keputusan

    yang buruk.

    Maksud saya menggunakan statement ini (cara saya mencernanya) adalah pertama, seringnya kita menunda-nunda bahkan

    tidak mengambil keputusan (tidak mengambil keputusan juga adalah sebuah keputusan) karena

    faktor-faktor yang tidak benar seperti ego, kepahitan, kekecewaan, dsb-nya. Kedua, dalam

    perjalanan kita mengikut Tuhan, ketika kita ‘bodoh’ mengambil keputusan yang buruk kemudian

    kita bertobat sungguh-sungguh dan berbalik kepada Tuhan, ‘keputusan buruk’ yang kita ambil bisa

    menjadi sesuatu hal yang membentuk manusia rohani kita. Ketiga, statement yang saya gunakan,

    berlaku pada kasus-kasus spesifik yang tujuannya untuk mengingatkan kita JANGAN LARI DARI

    TANGGUNG JAWAB.

    Dari kacamata iblis, sesuatu yang buruk menjadi fokusnya dalam menjatuhkan kita, tetapi dari

    kacamata Tuhan, sesuatu yang buruk bisa diubah menjadi sesuatu yang baik. Mohon statement

    ini jangan diputar lagi menjadi “Jadi, boleh dong melakukan/mengambil keputusan yang buruk. Toh

    buat kebaikan kita nantinya.” Well, statement ini cocok bagi orang belum dewasa dan belum

    mengerti benar anugerah Tuhan dalam hidupnya.

    Untuk contoh yang anda gunakan, a.meminum racun yang akan mengakhiri hidup Anda

    b.menolak meminum racun yang akan mengakhiri hidup Anda. Jawaban yang benar sudah jelas,

    yaitu menolak meminum racun yang akan mengakhiri hidup Anda.

    Sedangkan untuk kasus menikah dengan si A dan si B, dengan berbagai kelebihan dan

    kelemahan dari keduanya, tentu keputusan ada di tangan si perempuan. Kemudian Anda

    mengutip statement saya dan menganalogikannya dengan ‘dari pada saya tidak jadi menikah,dan

    saya jadi perawan tua, dan saya menjadi bahan pikiran orang tua, maka saya memutuskan untuk

    mengambil keputusan buruk’. Saya bisa mengerti maksud Anda. Ketika kita melihat seseorang

    mengambil keputusan buruk (dari kacatama kita sendiri) dan tidak menuruti maunya kita, lalu kita

    berpikir, hidup orang itu pasti berantakan. Meskipun begitu, tetap saja keputusan ada di tangan

    perempuan itu, meskipun kita melihatnya sebagai keputusan buruk atau tidak benar.

    Rasanya, statement saya ini tidak relevan dengan contoh anda tentang perempuan itu sebab dia mengambil keputusan dari antara keduanya (meskipun salah menurut pandangan kita). Statement

    saya relevan hanya bagi kasus-kasus yang membuat kita LARI DARI TANGGUNG JAWAB, dasar

    pengambilan keputusan yang salah seperti ego, kepahitan, kebencian, dan yang terpenting, ‘TAHU

    MENGAMBIL KEPUTUSAN YANG BENAR TETAPI TIDAK DIAMBIL.

    Contoh, seorang perempuan harus memilih dari antara dua pria, A dan B, masing-masing punya

    kelemahan dan kelebihannya. Dengan pertimbangan matang dan doa yang cukup, perempuan ini

    TAHU ia harus memilih si A. Namun karena trauma dan sulit percaya kepada laki-laki karena
    pengalaman masa lalu, ia memilih tidak mengambil keputusan (keputusan juga) dan membiarkan

    kedua laki-laki itu berlalu dari kehidupannya.

    Contoh yang lain, seorang laki-laki diperhadapkan pada dua keputusan sulit,

    yaitu memenuhi panggilan sebagai hamba Tuhan sepenuh waktu atau melamar pekerjaan. Dia

    TAHU keputusan yang benar adalah memenuhi panggilannya itu, tetapi dia memilih tidak

    mengambil keputusan apapun. Dia tidak menjadi hamba Tuhan dan tidak juga melamar pekerjaan.

    Seandainya pun dia memilih melamar pekerjaan, saya

    percaya Tuhan pasti mengajar dan membawa orang itu kepada keputusan yang seharusnya dia

    ambil yaitu menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu, yang pasti, Tuhan punya cara yang unik dan

    tidak terbatas untuk membawa setiap kita kembali ke jalan-jalan-Nya, termasuk menggunakan

    hal/keputusan yang buruk menjadi kebaikan dalam kehidupan kita.

    Kira-kira beginilah maksud saya membuat statement itu. Anda tetap bebas untuk bersikap tidak setuju dan saya juga menghargainya. Tuhan memberkati.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.