Christianto Wibisono
PERINGATAN hari ulang tahun (HUT) ke-476 Jakarta berarti juga ulang
tahun Bang Ali, the most popular governor yang umurnya mudah diingat
karena beda 400 tahun dengan kota yang dipimpinnya selama 11 tahun sejak
1966-1977. Ali Sadikin adalah salah satu manusia langka Indonesia yang tidak
termanfaatkan secara optimal akibat rezim Sultanistik Soeharto yang mengangkangi
kekuasaan Indonesia secara absolut.
Indonesia yang akan berusia 58 tahun pada 17 Agustus 2003 nanti sebetulnya
punya segala macam potensi untuk menjadi bangsa keempat terbesar di dunia. Bukan
hanya dalam jumlah penduduk tapi juga dalam kualitas. Karena sumber daya alamnya
kaya dan sumber daya manusianya juga bukan kelas tempe atau kelas kuli. Tapi
bisa menghasilkan tokoh kelas global seperti Soekarno, Soedjatmoko, Gus Dur,
Habibie (dalam teknologi pesawat terbang), Pramoedya Ananta Toer dan Adam Malik
(anggota Komisi Willi Brandt untuk Masalah Utara-Selatan).
Generasi Ali Sadikin sebagai angkatan pendiri Republik memang mengalami
“perang saudara” yang selalu bersifat zero sum game. Soeharto tidak ingin
ada orang kedua atau putra mahkota atau pewaris yang bisa menyaingi dan
merenggut kepresidenan. Karena itu, selama 32 tahun banyak oposan yang mampu dan
energik, seperti Ali Sadikin menjadi korban tidak bisa mengabdikan diri dalam
pembangunan bangsa. Sementara itu, faktor waktu mendorong Ali Sadikin hanya jadi
“kakek” tanpa jabatan publik. Dan orang seperti Dr Syahrir, sampai umur
mendekati 60 tahun, di-bypass oleh Rizal Ramli dan AS Hikam yang umurnya
baru 30-an dan 40-an.
Di banyak negeri Amerika Latin dan Dunia Ketiga lain, juga berlangsung pola
kepemimpinan dinastik model Soeharto. Mulai dari Juan Domingo Peron yang
mengorbitkan istrinya Evita Peron sampai Houari Boumedienne yang menguasai
Aljazair sebagai presiden seumur hidup dan klik diktator model Mobutu Sese Seko,
Idi Amin, Robert Mugabe.
Semuanya mengibarkan bendera antikolonialis, antiimperialis, dan berslogan
membangun untuk rakyat. Tapi dalam praktik terjadi diktator, fasisme, yang
mengatasnamakan rakyat jelata kecil miskin melarat, untuk memperkaya kelompok
elite yang saling menyingkirkan lawan politik. Demikianlah Ben Bella digulingkan
dan dipenjarakan oleh Boumedienne, Soekarno ditahan rumah oleh Soeharto, Aung
San Su Kyi dipenjarakan oleh junta militer Myanmar, Aquino dibunuh tanpa
peradilan terhadap pembunuhnya.
Sementara itu, rakyat kecil jadi korban mulai jadi anggota organisasi mantel
PKI sampai masyarakat korban penjarahan dan pembantaian Mei 1998 dan adu domba
SARA di pelbagai daerah dari Ambon, Poso sampai Sampit, dari ujung Aceh sampai
Papua.
Seluruh mekanisme pembantaian sesama bangsa dan sesama elite itu berlangsung
dengan dalih kedaulatan nasional, tidak boleh ada intervensi asing. Jumlah anak
bangsa yang terbunuh oleh sesama bangsa Dunia Ketiga lebih besar daripada perang
kemerdekaan mereka melawan kolonialisme.
Generasi seperti Ali Sadikin dan dua tiga generasi berikutnya yang lahir
kemudian di zaman Orde Baru, bahkan generasi yang lahir dalam krismon terancam
akan menjadi sumber daya manusia (SDM) yang rapuh dan cacat. Kalau tidak secara
fisik biologis, maka akan mengalami cacat mental dari frustrasi, paranoid sampai
bersifat pendendam dan culas model Machiavelli, Ken Arok dan Brutus. Elitenya
saling menjilat untuk berkhianat dan saling berkoalisi dan bermanuver untuk
saling menjatuhkan secara zero sum game.
Elite negara berkembang selalu berdalih bahwa nepotisme dan dinasti bukan
hanya penyakit negara berkembang. Di AS misalnya keluarga Kennedy dan Bush
dianggap dinasti, dan juga kalau nanti Hillary Clinton jadi mencalonkan diri
menjadi presiden AS.
Tapi negara berkembang lupa bahwa di AS penerapan kontrol terbuka oleh media
massa demikian transparan dan cepat sehingga siapa pun akan segera menerima
sorotan publik secara tajam bila terjadi skandal terutama yang berkaitan dengan
conflict of interest.
Bangsa-bangsa Asia segera akan memasuki abad kedua dari gerakan kemerdekaan
dan modernisasi sejak Jepang mengalahkan armada Rusia di Selat Tsushima tahun
1905 yang memicu pergerakan nasional Indonesia 1908 dan Revolusi KMT di Tiongkok
oleh Dr Sun Yat Sen tahun 1911. Sedang bangsa Amerika Latin sudah memasuki usia
dua abad sejak benua itu merdeka dari kolonialisme Spanyol dan Portugal. Afrika
memang baru mulai merdeka sejak 1960-an secara simultan.
Tetapi kinerja negara-negara baru itu sangat mengecewakan. Karena sistem
politiknya yang otoriter feodal, fasis, il-liberal, dan rezim penguasanya tega
menghancurkan lawan politik dan membunuhi sesama bangsa tanpa rasa peri
kemanusiaan. Generasi Dunia Ketiga yang lahir justru pada zaman kemerdekaan
harus mengalami nasib dipenjara atau terbunuh oleh sesama elite. Hal itu
berlangsung bukan hanya satu atau dua generasi melainkan sudah berlangsung
hampir 60 tahun untuk NKRI.
Seandainya pada tahun 1978 Ali Sadikin sudah menggantikan Soeharto menjadi
Presiden RI dan berkuasa hanya dua periode sampai 1988. Maka sejarah Indonesia
barangkali akan lain. Sayang bahwa kesadaran untuk membatasi masa jabatan
presiden baru timbul 20 tahun setelah Soeharto membubarkan Dewan Mahasiswa
seluruh Indonesia tahun 1978.
Pada ulang tahun ke-476 Jakarta dan ulang tahun ke-76 Bang Ali ini, Indonesia
patut merenung telah membuang hamper 60 tahun hanya untuk berurusan dengan elite
yang tidak sportif, kurang jantan dan bukan ksatria. Karena semua masih
berpolitik dengan pola Ken Arok, Brutus dan Machiavelli. Tidak berani secara
terang-terangan mencalonkan diri sebagai lawan politik.
Jabatan Bupati, Wali kota seharusnya menjadi tahapan untuk menjadi calon
Gubernur. Sedang jabatan Gubernur seperti di AS bisa menjadi batu loncatan untuk
mencalonkan diri secara terbuka menjadi presiden. Tapi semuanya menuntut
persyaratan, pemilihan langsung oleh rakyat. Bukan pilihan segelintir oknum DPRD
yang bisa dibeli, disuap dan disogok oleh money politics dari calon
gubernur. Sebab lebih murah menyuap 75 anggota DPRD daripada menyuap jutaan
rakyat pemilih di suatu provinsi, kabupaten atau kota madya.
Bangsa Indonesia telah membuang waktu beberapa generasi untuk hidup di bawah
rezim Sultanistik yang membuat Indonesia terpuruk. Pengalaman pahit Sukarno,
Syahrir, Soeharto, Ali Sadikin dan pembantaian rakyat kecil akibat adu domba
elite, hendaknya merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan yang harus dikutuk,
dikecam dan diharamkan untuk masa depan.
Jangan ada lagi “pemasungan politik” terhadap lawan politik seperti dulu
Soeharto menggusur Ali Sadikin dari medan politik karena takut popularitas dan
karisma Ali Sadikin akan membahayakan posisinya sebagai presiden.
Nama Ali Sadikin memang sempat mencuat menjadi calon presiden tapi dalam
situasi fasis rezim Soeharto maka Mendagri Amir Machmud (sesama Sunda) justru
paling depan “menggusur Ali Sadikin”.
Kilas balik tentang Gubernur Ali Sadikin dan faktor Gubernur dalam percaturan
politik nasional mudah-mudahan dapat menghindari terulangnya fenomena the
Lost Generation. Agar tokoh yang memang mampu bisa muncul jadi Gubernur
tanpa harus selalu direstui oleh Presiden. Atau malah dihambat karena punya
potensi untuk menyaingi Presiden. Di AS justru Gubernur Negara Bagian punya
banyak peluang untuk menantang dan memenangkan kursi Presiden AS, dan bukan
menteri yang sebenarnya hanya “pembantu Presiden”.
Selamat ulang tahun untuk Jakarta, Bang Yos dan Bang Ali! Untuk pemilihan
Gubernur berikutnya harus sudah dipakai cara pemilu langsung tanpa perantara
DPRD kalau Jakarta mau jadi kota modern mandiri dan menebus ketinggalan akibat
kemubaziran The Lost Generation.*
Sumber: Suara Pembaruan, Selasa, 24 Juni 2003
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.