Aku duduk bersila di ruang sempit itu. Handuk dan tali jemuran menari lemah di atas kepalaku. Hanya di ruang inilah aku bisa menyendiri. Sebuah ruang sejarah tempat ayahku duduk dalam amarah keputusasaan setelah bertengkar hebat dengan ibuku dan nyaris menabuh genderang perceraian. Lantainya yang sudah miring terbuat dari kayu berlapis karpet mulai gerah karena selalu terkena air jemuran. Sebuah pintu jendela kayu di depanku sering membentur-benturkan tubuhnya tiap kali bercakap dengan angin.
Kuhirup napas dalam-dalam bersama embun yang membawa harapan. Butir-butir debu indah beterbangan diterpa sinar matahari pagi yang kemerahan. Kedua tanganku terbuka menopang sebuah buku ajaib yang tahu siapa aku. Bertahun-tahun aku biarkan buku itu sendiri. Berpindah-pindah tempat bak pengemis yang tak pernah mandi. Tubuhnya kotor oleh debu yang konon telah menjadi sahabatnya.
Bertahun-tahun pula buku itu membisu. Hatiku yang terluka diselubungi rasio tanpa ada sedikitpun cahaya yang bisa masuk. Rasio adalah raja yang memerintah kehidupanku. Legalisme adalah senjataku.
Kulihat langit biru dari balik lembaran kawat yang menghiasi ruang itu. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba aku sesunggukan lalu menangis. Sudah dua minggu ini hatiku hancur. Alam pikiranku terkoyak meronta-ronta. Siapa dia? Bagaimana dia mengenalku? Dua tetes air mata jatuh memandikan buku itu.
Dua minggu itu pula aku merasakan keanehan. Kemanapun aku melarikan diri dalam sepi, terus mencoba menemukan arti diri dalam keramaian, aku merasakan seperti ada tangan yang memaksa kepalaku jatuh ke tanah. Lututku lemas enggan berdiri merasakan pijakan telapak kakiku yang masih hangat. Kekuatan itu sangat besar sehingga satu-satunya yang kulakukan saat itu hanyalah menangis dan bersujud. “Aku mengasihimu”, suara itu berulang kali kudengar.
Kupandangi pasar dari dalam bus di siang yang terik itu. Kuminum es kelapa murah di gang itu. Kuberi dua buah logam pada pengemis itu. Kumasuki toko buku rohani di mall itu. Mataku seakan tidak mau berhenti memantulkan cahaya berair tentang siapa diriku yang sebenarnya. Seorang berdosa yang membutuhkan penerimaan dan kasih. Aku yang terhilang …
Detik waktu masih asyik bernyanyi kala aku membolak-balik buku itu. Hatiku gemetar dalam kesadaran baru akan dunia yang menyeringai marah padaku. Indah sekali pagi itu. Dia begitu dekat menatapku dengan senyumannya yang penuh penerimaan. Tiap kali aku melihat matanya, aku tertunduk. Tiap kali kugenggam tangannya, aku terkulai lemas. Tiap kali suaranya menelusuri lorong jiwaku, kesadaranku terlempar jauh jutaan cahaya.
“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Tulisan di atas buku itu membuat retak hatiku yang sudah rapuh. Tidak kuhiraukan lagi saudaraku yang datang masuk hendak mengambil handuk. Cahaya terang menyilaukan memenuhi ruang itu membongkar semua rasa bersalah dan egoku.
Aku ingin berteriak tapi tak mampu. Aku ingin berlari tapi tubuhku terpenjara dikelilingi jeruji cahaya kasih. Aku terperangkap …
Baru kali itu dalam hidupku aku menyadari ada seseorang yang benar-benar mengasihiku. Rasio sombong yang suka berkacak pinggang lari entah kemana. Udara ego yang selalu memenuhi paru-paruku tidak lagi menguasaiku karena aku hidup di alam yang baru.
Terperangkap dalam penjara kasih membuat aku bisa melihat kehidupan. Disesah dan disiksa dalam penderitaan ketidakmampuan, membunuh ego dan kesombonganku. Ribuan harapan bernyanyi-nyanyi menghiburku. Jutaan makhluk surgawi berpakaian indah bersinar membuka mulutnya lebar-lebar penuh kegirangan. Yang terhilang telah kembali …
Sampai kini aku masih tak mengerti. Perjumpaanku yang pertama menumbuhkan cinta pertama yang terukir indah dalam hatiku. Terbebas dari penjara kebinasaan dan terperangkap dalam penjara kasih karunia menjadi kehidupanku setiap hari. Bila aku terbang lagi bersama kenangan dua minggu itu, udara harapan membuat kepak sayapku menjadi ringan membawaku terbang tinggi menjangkau langit. Di sana, aku menemukan dia …
Riel, 30 Mei 2003, tengah hari dalam libur akhir pekan yang panjang merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus, Tuhanku yang senantiasa setia. Mengenang kembali
perjumpaan bulan Februari 1997.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait