Kemarin malam aku menghadiri Mukernas dan Munas Alim Ulama PKB di Hotel Santika,
Jakarta. Ratusan orang berjas hijau ala PKB begitu antusias di acara ini.
Apalagi ketika Gus Dur mulai angkat bicara, hampir semua orang diam mematung
serius mendengarkan. Gus Dur benar-benar punya kharisma dan pengaruh yang
kuat di kalangan NU.
Aku sendiri belum tahu jelas kapan akan terjadi islah antara PKB Batu Tulis
‘Matori’ dengan PKB Kuningan ‘Alwi Shihab’. Pertikaian antara keduanya masih dicari
penyelesaiannya. Meskipun saat itu aku berada di sarang rekan-rekan muslim,
aku tidak merasa takut dan khawatir karena PKB terdiri dari kumpulan orang
yang menghembuskan kesejukan kerukunan umat beragama di negara ini. Wajah
mereka pun ramah dan intelektual. Sempat aku berpikir hendak membeli stiker
PKB yang dijual sepuluh ribu tiga untuk ditempel di kamar dan di depan rumah.
Kayaknya keren juga kalau di samping lukisan Tuhan Yesus ditempel stiker PKB,
bisa bikin tamu pada bingung. Lagipula, PDIP sudah mulai kehilangan pamor
di mata masyarakat, jadi besar kemungkinan aku malah coblos PKB di Pemilu
2004 nanti. Sembari menunggu orang ke-sekretariat-an, aku melihat Gus Dur,
Santonya NU ini, dari dekat ketika ia lewat menuju toilet sembari dijaga ketat
oleh pemuda-pemuda berpakaian hitam.
Malam ini, aku menyempatkan diri melihat pameran buku di Istora
Senayan. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku tergila-gila pada buku.
Bahkan kalau aku pikir-pikir, bila aku disuruh memilih antara mengejar
buku bagus dengan mengejar cewek, mungkin aku lebih suka mengejar buku.
Baru setelah buku itu kudapat, cewek yang kukejar itu aku berikan buku.
Kemanapun aku menginjakkan kaki, entah itu di mall, berkunjung ke suatu kota,
di manapun itu, tempat pertama yang aku cari adalah toko buku dan perpustakaan.
Mungkin orang lain akan menganggapku aneh atau gila, tapi bagiku tidaklah
masalah sebab buku sudah menjadi surga kedua bagiku. Hanya saja, masih ada
yang kurang, aku belum pernah ketemu cewek yang manis, cerdas, lincah, tapi
juga suka membaca buku. Ada nggak yah?
Di pameran tadi, mataku berkelana mencari buku-buku Sastra berkualitas yang
ingin kubaca di waktu senggang. Di sana aku temukan buku Joko Pinurbo
yang berjudul Telepon Genggam, Supernova karangan Dewi
Lestari, serta berbagai buku puisi karangan Sapardi Purnomo Damono,
Sitor Situmorang, dan banyak penulis sastra lainnya. Aku tidak menemukan
stand komunitas AkuBaca di sana padahal aku sempat bercakap-cakap dengan seorang
dari mereka yang sedang membuka kios di samping gedung Danamon, Sudirman,
sore tadi.
Aku juga berburu buku Leo Tolstoy, namun aku hanya menemukan sebuah
buku karangannya yang sudah diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer dengan
judul ‘Kembali Pada Cinta Kasihmu’. Buku ini menceritakan lebih lengkap
kisah perjuangan mempertahankan cinta antara dua anak manusia yang berbeda
jauh umurnya, Sergei dan Maria. Kisah mereka benar-benar romantis dan puitis,
membuat pembaca terbawa emosi sembari berharap agar kisahnya tidak berakhir
tragis. Tapi untunglah, si penulis masih berbaik hati untuk mengakhiri cerita
ini dengan baik, dimana Maria akhirnya kembali kepada cintanya yang pertama,
Sergei.
Pameran kali ini sudah menunjukkan banyak kemajuan. Bukunya lebih
banyak karena penerbitnya pun lebih banyak. Tapi satu hal yang
disesalkan, kebanyakan buku-buku yang dijual adalah buku terjemahan dan
masih sedikit buku-buku karangan anak Indonesia. Aku berharap
bangkitnya berbagai komunitas pembaca dan taman bacaan di Indonesia
akhir-akhir ini, bisa melahirkan penulis-penulis berbakat yang
produktif dan cinta buku.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.