Kaca
mobil aku turunkan agar rumah-rumah megah berwarna-warni yang kulewati dapat
terlihat dengan jelas. Kutarik napas dalam-dalam menikmati udara sejuk yang
bernyanyi berkibar-kibar di telingaku. Andai saja aku mempunyai sebuah rumah
di sini. Aku akan mengasingkan diri dari hiruk-pikuk perkotaan yang menyesakkan
pikiran dan jiwaku. Menyepi demi memungut secuil inspirasi dan harapan dalam
keheningan dan kesunyian.
Akhirnya mobil berhenti dan kami tiba di sebuah bukit doa yang dinamakan
House of Blessing di Cipanas, Puncak. Letaknya sepi dan agak menjorok
di dalam komplek perumahan itu. Sebuah lukisan Yesus menggendong seorang anak
kecil menghiasi sebuah dinding bangunan di komplek bukit doa itu. Sesuai dengan
namanya ‘Bukit’ Doa, bangunan-bangunan yang dibangun di atasnya dapat dicapai
dengan melalui jalan setapak menyerupai tangga yang terkadang menanjak dan
menurun. Tidak jauh dari tempatku berdiri, terdapat sebuah sungai yang membuat
suasana sunyi semakin nikmat. Di sana terdapat pondokan-pondokan yang bisa
digunakan untuk menginap. Ruang-ruang doa pribadi berpintu kayu yang berjejer
di sepanjang bukit seakan memanggilku, “Temukan Tuhan di sini, dalam doa yang
sungguh-sungguh dan hancur hati, Dia akan mendekat kepadamu.” Sayang sekali,
kami tidak bisa menggunakan tempat ini, karena sudah penuh. Sembari melangkah
pulang, aku melihat seorang ibu berusia 40-an tahun, keluar dari sebuah pondok
peristirahatan yang terbuat dari kayu, berjalan ke arah ruang doa di bukit
itu, masuk membungkuk ke dalamnya, lalu menggeser pintu kayu yang sudah usang
itu ke arah dalam. Betapa indah bila aku bisa menangis di pangkuan Bapa dalam
sunyi seperti ini. Berdoa agar hidupku dipakai oleh-Nya, meminta ampun atas
segala dosa dan kesalahanku, dan mengijinkan hadirat-Nya menundukkan hati
hingga kepalaku jatuh ke tanah sambil berseru bahwa Tuhanlah segala-galanya
dalam hidupku.
Aku duduk diam dalam mobil sembari sekali-kali mengobrol dengan temanku yang
lain. Kami berempat, dua pria dan dua perempuan, ditemani seorang supir, sedang
survey tempat di sekitar Cipanas, Puncak. Bayangkan saja, acara yang akan
kami adakan tinggal satu minggu lagi, dan tempat belum kami dapatkan. Survey
hari Sabtu, 10 Mei ini adalah yang kedua kalinya setelah survey ke Sentul
seminggu yang lalu. Dengan seksama aku mengamati perumahan-perumahan yang
dibangun indah di Kota Bunga, Cipanas. Kami mencari Bukit Doa Tabor,
yang katanya tidak memungut sewa, cukup dengan memberikan persembahan kasih.
Letaknya yang ada di tengah-tengah Kota Bunga sama sekali tidak memberikan
kesan ‘bukit’ dalam arti yang sebenarnya. Kesan perumahan yang sepi mungkin
lebih tepat untuk menggambarkannya. Untuk kedua kalinya, kami harus kecewa
karena tempat itu sudah penuh untuk tanggal 16-18 Mei, hari libur berturut-turut
yang sengaja akan kami manfaatkan untuk beristirahat, berdoa, dan saling mengakrabkan
satu sama lain.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Walaupun perut kami lapar karena belum
makan dari pagi, untung saja ke dua teman perempuanku, membawa berbagai macam
cemilan khas cewek mulai dari roti keju, coklat, twister, permen karet bahkan
pisang dan sosis babi pun bertebaran di dalam mobil menanti nasib digencet
lambung kami yang mulai gusar karena kosong sepanjang hari, kami berangkat
menuju Bukit Karmel. Letaknya masih di Cipanas berdekatan dengan
Kota Bunga dan Bukit Doa House of Blessing. Udara sekitar kami semakin
sejuk karena lokasi yang kami tuju ternyata masuk ke dalam lingkungan perbukitan.
Rumah-rumah penduduk terbuat dari kayu, plastik-plastik yang di atasnya bertebaran
gabah kering yang tampak di depan rumah-rumah itu, menunjukkan betapa berbedanya
kehidupan di desa dengan kehidupan perkotaan yang dikuasai oleh gedung-gedung
besar bertingkat.
Sebuah tulisan besar bertuliskan ‘Bukit Karmel’ terpampang nyata di samping
gerbang yang sedang dibuka oleh satpam. Aku segera turun dari mobil terpesona
oleh pemandangan yang menyejukkan mata. Posisiku berdiri memungkinkan untuk
melihat rumah-rumah di Kota Bunga yang mengecil, perbukitan hijau yang menghiasi
sekitarnya dan kabut tipis yang menghalangi hangatnya sinar matahari sore.
Tempat yang didirikan tahun 2000 ini milik Ibu Dora Kansil dari Mount
Hermon Ministry. Tempatnya luas, di atasnya berdiri rumah-rumah besar
yang terbuat dari tembok, bambu dan kayu yang dapat dipilih sesuai minat dan
rencana acara panitia retreat.
Tempatnya yang terawat dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti lapangan
basket, bulu tangkis, kolam renang, bahkan meja bilyar pun ada di sana. Beberapa
kali aku nyengir licik mencari kemungkinan apakah aku bisa main bilyar, yang
katanya kena charge per game, seandainya tempat ini bisa kami gunakan.
Kami harus menunggu sekitar 2 jam di sana karena Pak Revli, yang berwenang
memutuskan belum kembali. Kesempatan ini kami gunakan untuk memuaskan hasrat
berfoto yang sejak tadi tertahan karena harus bercakap-cakap dan melihat-lihat
tempat dan kamar yang bisa kami gunakan. Kamar yang kami gunakan nanti dekat
dengan kolam renang. Hal ini sempat membuatku khawatir, jangan-jangan kerjaan
kami selama 2 hari nanti cuma berenang.
Secarik kwitansi yang sudah ditandatangani dan distempel, kini ada di tangan
kami. Kami berhasil mendapat tempat di Bukit Karmel untuk acara minggu depan.
Untung saja keahlian seorang teman perempuanku dalam merayu-rayu sanggup meluluhkan
hati Bapak itu. Enaknya lagi, biaya sewa untuk 3 hari 2 malam setara dengan
140 bungkus beng-beng kesukaanku, 30 bungkus permen mentos, dan 6 bungkus
coklat Tobleron ukuran besar.
Popularity: 6% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.