8 Mei 2003. Setelah mewawancarai Menteri Komunikasi dan Informasi, Bapak Syamsul Mu’arif di kantornya di Jl. Medan Merdeka Barat selama 1 jam lebih, aku dan sahabatku memutuskan untuk mengikuti kebaktian Batak Bermazmur di Panin Hall, Sudirman jam 18.30. Kami benar-benar tidak menyangka kalau acara ini penuh dengan jemaat bahkan meluber keluar dan ada yang terpaksa pulang. Aku sendiri tidak berharap banyak dengan ibadah ini karena aku sempat berpikir kalau ibadahnya biasa-biasa saja. Keterlambatan kami selama 30 menit memaksa kami harus duduk di ruang lain menyaksikan aktivitas panggung melalui sebuah layar lebar yang telah disediakan.
Lagu-lagu pujian bahasa Batak mulai dinyanyikan dengan semangat dan lantang oleh jemaat. Suara menggelegar dan tiba-tiba dari seorang pengusaha terkenal dari Sumatera Utara, Jhonny Pardede sempat membuat beberapa jemaat terlonjak kaget dari bangkunya. Pak Pardede membagikan kesaksian bagaimana hidupnya yang penuh dengan judi, minuman, dan main perempuan membuat dia jauh terhilang. Baginya kata bertobat itu merupakan sesuatu hal yang sulit dan tidak mungkin.
Namun, setelah dia menderita sakit yang tak kunjung sembuh, Tuhan menjamah hatinya dan dia mulai merendahkan dirinya. Pertobatannya ini dianggap sementara oleh teman-teman dan keluarganya. "Masak si Pardede bertobat!", sahut temannya ketika mendengar berita itu. Sebulan, dua bulan, hingga setahun, orang-orang masih sulit menerima kenyataan itu. Bahkan ada yang berkata, "Lama juga dia bertobatnya." Meskipun orang-orang tidak percaya, perlahan-lahan Tuhan mengajarkan Pak Pardede tentang kebenaran Firman-Nya, belajar untuk merendahkan diri, mengaku dosa – judi dan perzinahan – yang pernah dilakukannya, mengampuni orang lain, dan hidup beriman di dalam Tuhan. Suaranya yang lantang memproklamirkan karya Tuhan dalam hidupnya membuat jemaat serius mendengarkan sambil diiringi tawa mengakak karena jokes dilontarkanya.
Setelah kesaksian Pak Pardede, gaya, gerak-gerik dan lelucon dari Pak Reinhard Amigos membuat suasana semakin seru dan lucu. Sambil menyanyi, ia sekali-kali memoles kepalanya yang botak licin hingga ke arah muka, seperti orang yang sedang cuci muka. Alunan seruling Batak membuat lagu semakin indah didengar. Aku sendiri tertawa terbahak-bahak melihat betapa orang yang wajahnya sangar botak pula, bisa menyanyi dan berseru, "Haleluya!" Benar-benar hal yang luar biasa.
Jangan pikir ibadahnya tidak semarak. Hampir semua, boru-boru(cewek), doli-doli(cowok), inang-inang(ibu-ibu), amang-amang (bapak-bapak), bertepuk tangan memuji Tuhan. Aku sendiri jadi heran, orang Batak udah angkat-angkat tangan. "Orang Batak itu sebenarnya bukan bandal, tapi susah bertobat," kata Pdt. Tohap Sihotang dalam khotbahnya. "Tapi, sekali bertobat, susah dia mengingkari Tuhan Yesus," katanya menambahkan sambil disambut tepukan jemaat. "Makanya, kalau ada anakmu, isterimu, suamimu, siapapun juga, yang sulit bertobat, jangan putus asa. Sebentar lagi kau akan bersukacita karena dia bertobat. Semakin berat pergumulanmu, semakin besar pula sukacitamu nantinya," serunya dengan lantang disambut suara seorang inang yang duduk di sampingku, "Amiin!". Melihat hal itu, aku jadi mikir, orang pantekosta pun kalah semangatnya sama orang Batak. Orang Batak itu kalo nyanyi paling keras, apalagi kalau sudah bertobat.
Aku benar-benar diberkati oleh khotbah Pdt. Tohap Sihotang, Sth. Gayanya lucu, namun tegas. Perkataannya keras, namun mengoreksi. Tidaklah heran, ketika lagu indah ini dinyanyikan,
Yesus jamah, sgnap hidupku
dan bri damai di hatiku
Semua telah berubah
dan aku tahu…..
Yesus jamah kujadi baru
Hampir semua jemaat saat itu sungguh-sungguh berdoa dan bertobat bahwa sesungguhnya Tuhan datang untuk memberikan kita hidup dan memilikinya dalam kelimpahan. Tuhan sanggup mengubah kain sekotor apapun menjadi seputih salju. Betapa buruk dan jahatnya dosa yang kita lakukan, Tuhan selalu mengasihi kita. Kasih-Nya itulah yang akhirnya mengubah banyak orang, mengubah saya, mengubah kamu, mengubah semua saudara-saudari yang hadir dalam ibadah itu. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
Ibadah diakhiri dengan kesaksian pujian oleh Jack Marpaung (anaknya, Dewi Marpaung, manis and funkeh loh), Voice of Praise, Nara’s Sisters lalu ditutup oleh Pdt. Erastus Sabdono, M.Th.
Dengan senyum gembira aku melangkah meninggalkan gedung Panin Hall. Bus 921 jurusan Kp. Melayu akhirnya muncul juga setelah aku menunggu kurang lebih 30 menit. Dalam hati aku berdoa, "Kiranya semua suku Batak dijamah oleh Tuhan dan memuliakan Tuhan. Mungkin, setahun ke depan ibadah ini bukan lagi "Batak Bermazmur" melainkan berubah menjadi "Batak’s Revival". Perutku yang mulai keronjongan memaksaku membeli Martabak Telor di dekat terminal Kampung Melayu. Sambil menenteng sekotak martabak telor, buku acara, dan tas kamera digitalku, aku pulang menumpang ojek menuju ke rumah dan bersyukur kepada Tuhan untuk hari ini.
Popularity: 2% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.