Hari Minggu ini aku lelah sekali. Setelah hari Sabtu kemarin kelayapan jadi ‘nyamuk’ bareng
2 temanku yang lain, hari ini aku dan teman-teman mampir ke rumah Dino merayakan bersama-sama ulang tahun
dan wisudanya. Met Ultah Dino…
Hari Sabtu kemarin sebenarnya asyik dan menyenangkan. Aku dan dua orang temanku berangkat
bareng menuju Bukit Sentul. Rencananya kita mau naik bus khusus yang disediakan untuk trayek Jakarta-Sentul di
Menara Mulia,
namun karena hari masih pagi sedangkan bus yang ditunggu baru ada jam 12 siang, kita akhirnya
memutuskan untuk naik bus biasa saja. Akhirnya kita ke Terminal Rambutan, dari sana naik bus
jurusan Citeureup lalu naik angkot lagi untuk mengantarkan kami bertiga ke BabakanMadang.
Sampai di sana, karena kebingungan, kami akhirnya naik ojek menuju bukit doa yang akan kami survei.
Kurang lebih 20 menit jalan masih mendatar dan namun setelah itu jalan mulai menanjak dan berbatu-batu.
Di kanan kiri terlihat batang-batang pohon menjulang tinggi yang enak dipandang. Sembari duduk di atas motor yang bersuara riang
aku melihat dari kejauhan perumahan-perumahan baru yang berjejer, bagus, dan tersusun rapi. Berbeda sekali
dengan suasana kampung yang tidak jauh dari sana.
Singkat cerita, kami akhirnya tiba di Pondok Yasmin, sebuah bukit doa alias tempat khusus untuk
menyepi sambil berdoa dan berpuasa. Kalau tidak salah, tempat itu juga akrab disebut GunungPancar.
Di sana ada ruang-ruang kecil yang cukup untuk 2-3 orang. Kemudian ada
juga ruang yang lain yang cukup untuk 5-6 orang, sebuah aula, ruang makan, kantor, ruang tidur, dan kamar mandi.
Tempatnya sederhana namun kurang terawat. Ketika kami
di sana, bukit doa itu sepi tanpa aroma retreat dan kumpulan orang, yang ada hanya beberapa orang karyawan yang bertugas menunggui
tempat itu.
Lingkungannya cukup terpencil, di atas bukit dan berada di dalam hutan. Jalan menanjak menuju ke sana tidak disertai
lampu jalan, sehingga bila sore dan malam tiba, otomatis suasananya menjadi gelap gulita dan angker. Belum lagi
jalannya yang terkadang terlalu curam dan berbatu membuat pengendara motor dan mobil harus berjalan
perlahan-lahan. Dianjurkan mobil yang lewat jalan ini adalah mobil sekelas kijang, jangan
mobil sejenis sedan karena ada kemungkinan terhalang oleh batu-batu kerikil yang besar-besar. Kondisi ini
membuat kita yang ingin pulang lebih dulu atau turun ke daerah perkampungan penduduk di malam hari
harus berpikir tujuh kali karena gelap, jalannya mendaki dan menurun, dan harus diantar menggunakan mobil
pribadi karena tidak ada angkot atau ojek.
Dari pembicaraanku dengan abang ojek, hutan itu masih dipenuhi dengan beberapa jenis ular. Beberapa tahun
lalu masih dihuni oleh binatang buas, namun kini tidak pernah kelihatan lagi. Kira-kira 1,5 km dari Bukit Doa
itu, ada semacam pemandian air panas untuk umum. Biasanya hari minggu tempat itu ramai dikunjungi.
Setelah bertanya-tanya tentang biaya, kepastian tempat, nomor telepon yang bisa dihubungi, dan melihat kamar
yang akan ditempati, akhirnya kami melenggang pergi tanpa kepastian bahwa kami akan menggunakan tempat itu karena
si pemilik tidak berada di sana.
Abang-abang ojek yang menunggui kami akhirnya bernapas lega ketika melihat kami hendak pulang karena kami cukup lama
disana, sempat berfoto-foto dan diskusi tentang tempat itu. Dengan ojek yang sama pula seorang temanku akhirnya membawa
kami ke kawasan elit Perumahan Sentul. Jalannya mulus lebar beraspal. Sekali-sekali mobil-mobil bagus lewat dan mobil angkot
putih yang sedang mencari penumpang. Yah, suasananya mirip-mirip Lippo Karawaci. Temanku mengajak kami mampir ke sebuah
restoran yang menyajikan berbagai macam menu
mulai dari nasi timbel, nasi goreng, hingga soto ayam. Kami tiba di sana sekitar pukul 15.00 sore, setelah dua jam yang
melelahkan bersama abang-abang ojek yang baru saja memeras uang kami sebanyak enam puluh ribu rupiah untuk ongkos ojek bertiga.
Seorang temanku sempat duduk bersila di aspal saking kesalnya dengan abang-abang ojek itu.
Untung makanan yang diantar oleh pramusaji bisa sedikit menghibur perut kami yang sudah keroncongan. Aku lupa nama tempat
itu, namun yang pasti makanan di situ harganya cukup murah, dengan pemandangan lapangan rumput hijau disertai angin lembah
yang bertiup sepoi-sepoi. Pokoknya tempat itu asyik buat nongkrong, pertemuan bisnis, minum teh sore-sore atau mungkin
memadu kasih.
Nah, untuk yang terakhir inilah dua orang temanku mulai beraksi. Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk berfoto lagi
karena tempatnya bagus dan rugi bila dilewatkan. Kedua temanku membawa kamera, sedangkan aku sengaja meninggalkan kamera digitalku
di rumah. Tidak jauh dari restoran
itu ada sebuah taman
bermain untuk bermain ayunan, papan keseimbangan, dsb. Nah, di sinilah aku mulai benar-benar menjadi ‘nyamuk’ tak berdaya. Kedua temanku
asyik berfoto dan bermesra-mesra ria sedangkan aku tiba-tiba berubah menjadi tukang foto, berganti-gantian menggunakan kamera
mereka berdua. Aku jadi geli dan ketawa sendiri melihat tindak-tanduk mereka. Mereka berfoto bak orang yang sudah pacaran padahal
belum jadian.
Sebenarnya aku sudah mencium gelagat mereka sewaktu
masih di bukit doa itu. Aku sendirian saja sibuk bertanya dengan penjaga di sana sedangkan mereka berdua pergi entah kemana
asyik ngobrol dan berfoto ria. Belum cukup sampai di sini saja, setelah puas berfoto di taman, kami sempat juga berfoto dekat sebuah
air mancur di depan pintu masuk restoran itu.
Karena hari sudah sore, kami berencana pulang dengan menumpang bus khusus yang disediakan pihak pengelola Sentul.
Kami bertiga memutuskan berjalan kaki sekitar 5 km menuju tempat pemberhentian bus dan menolak untuk naik mobil
angkot putih yang sekali-sekali melewati kami. Di jalan yang lebar beraspal itu, kami melewati para pedagang pisang yang menjajakan buah pisang yang masih baru
dan besar-besar. Sebuah tanda petunjuk bertuliskan helipad mengingatkan kami bahwa kami sedang melewati
tempat pendaratan helikopter
yang sering digunakan oleh James Riady. Di tengah perjalanan selama satu jam itulah aku kembali menjadi ‘nyamuk’. Kedua temanku
asyik masyuk ngobrol curhat-curhatan sedangkan aku berusaha menghibur diri sambil mengamati langit yang mulai berwarna orannye.
Entah mengapa langkahku semakin berat ketika mereka memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah viewpoint (perhentian) dimana
jarak pandang kita lebih luas mengamati lapangan golf yang diselingi perumahan di sore itu. Beberapa anak muda tampak
asyik mengobrol melewatkan sore bahkan ada juga yang asyik duduk berduaan di dalam mobil. Ke dua temanku asyik mengobrol sementara
aku menikmati suasana sore itu. “Wah, gue jadi nyamuk lagi neh!” kataku sedikit kesal.
Setelah puas di sana, kami kembali melanjutkan jalan kaki dan mendapati sepasang kekasih sedang asyik pacaran di balik pepohonan dan bunga.
Melihat hal itu, sambil ketawa-ketawa aku berteriak-teriak ke arah mereka berulang-ulang, “Asyik nih ye! Uhuy!” Lumayan lah,
untuk mengusir sedikit rasa lelah dan kesalku karena dijadikan ‘nyamuk’ sepanjang hari. Rupa-rupanya kita jalan kaki selama satu jam supaya
mereka bisa ngobrol curhat-curhatan sedangkan aku curhat sama angin.
Hari sudah gelap ketika akhirnya kami tiba di tempat pemberhentian bus Sentul. Aku langsung duduk di kursi tunggu bergabung dengan
calon penumpang lain menonton tayangan profil Inul Daratista, penyanyi dangdut fenomenal di TransTV. Goyang ngebor-nya Inul bisa membuatku
lupa akan peranku sebagai ‘nyamuk’ tadi siang. Sambil nyeletuk bersama orang-orang kampung yang duduk menunggu bus jurusan Bogor, aku
beristirahat menunggu bus yang akan tiba pukul tujuh malam. Kami tiba pukul enam sore di terminal itu yang berarti kami
harus menunggu sekitar 1 jam lagi.
Bus yang ditunggu akhirnya tiba dan dengan ongkos enam ribu rupiah per orang, kami akhirnya tiba di Jakarta menginjakkan kaki di halte Komdak.
Di halte bus itu kakiku mulai terasa pegal-pegal. Uangku habis dan aku kesal karena aku jadi ‘nyamuk’ sembari batinku
merasa bahwa bukit doa yang kami survei
tadi siang, kemungkinan besar tidak jadi kami gunakan. Namun, meskipun demikian, aku sudah menghabiskan hari itu dengan perjalanan baru, pengalaman baru,
wawasan baru dan tentu saja, peran baru sebagai ‘Nyamuk Sentul’ yang malang.
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.