MARYATI terus saja mengupas kulit bawang putih yang diletakkan di atas tampah di pangkuannya. Anak perempuannya, Lela (6), ikut membantu. Gerak tangan Lela tidak kalah gesit dari ibunya. Dia bahkan terlihat sudah mahir memegang pisau lipat kecil yang menjadi alat kerjanya.
Siung demi siung dipisahkannya. Kulitnya dikupas. Dalam sehari., seorang buruh biasanya dapat mengupas 10 hingga 20 kilogram.
“Bayarannya Rp 500 , untuk satu kilogram,” kata Sartini, buruh lain. ltu berarti, maksimal hanya Rp 10.000 yang didapat setiap harinya.
“Cukup untuk menambah penghasilan. Kami ini perempuan sudah tidak zamannya lagi meminta uang kepada suami.
Kami harus bisa memenuhi kebutuhan kami sendiri,” kata Tikom, buruh asal Solo yang baru empat bulan bekerja.
Perempuan-perempuan yang mungkin tidak tahu makna emansipasi itu setiap hari bekerja. Mengupas bawang putih dan bawang merah. Mereka bagian dari ratusan buruh pengupas bawang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.
Masih ada lagi kelompok pekerja perempuan di pasar itu. Mereka adalah pemetik kelopak cabe. “Honornya” Rp 5.000 untuk satu karung.
“Kalau mau terus hidup, pekerjaan apa saja bisa dilakukan. Sebelum ini, saya juga pernah
menjadi buruh panggul. Lalu suami saya meninggal dan saya harus menghidupi tiga anak yang masih SD dan SLTP. Jika sedang butuh uang, saya lakukan apa saja, mengupas bawang, memanggul karung,, atau menjadi pemulung sekalipun,” papar Tikom.
Pengupas bawang kebanyakan adalah para ibu yang bersuamikan buruh panggul dan buruh bongkar muat di Pasar Induk Kramat Jati. Mereka mengupas bawang di kios-kios kosong atau di lapak-lapak di dalam pasar. Puluhan ton bawang didatangkan setiap hari dari Brebes, Jawa Tengah.
TIAP kelompok pengupas mempunyai bos sendiri. Delapan pengupas bawang merah di salah satu kios di gang sempit di belakang pasar, misalnya, tiap hari bekerja urituk Sihotang. Mereka terus mengupas sampai kehabisan tenaga. Jika tempat tidak mencukupi, bawang biasanya diantarkan ke rumah kontrakan buruh. “Kalau sudah selesai, baru kami kirim ke bos dan ditimbang,” kata Tikom.
Pada tahun 1990-an, buruh pengupas bawang hanya dibayar Rp 250, lalu naik menjadi Rp 300 beberapa tahun kemudian, dan naik lagi Rp 500.
Seorang pedagang bawang merah, Maruli, mengatakan, tiap hari dipasok puluhan karung bawang untuk dikupas. Bawang lalu dijual kembali ke pedagang eceran di pasar-pasar di Jakata. Harga per kilogramnya Rp 6.500.
Di tengah sempitnya lapangan kerja, mengupas bawang adalah sebuah pilihan. Meski sedikit uang yang diperoleh, pengupas bawang terus bertahan.
Sumber Kompas, 30 April 2003
Popularity: 1% [?]
Tulisan Terkait
- Tidak ada tulisan terkait.